
Alexandre menatap gadis kecilnya yang sedang bersiap-siap untuk datang ke tempat belajarnya dulu, Ia sesekali menghela nafas dan menggerakkan kepalanya pelan melihat kecantikan istrinya yang akan dilihat banyak orang dan dapat dipastikan jika nanti banyak yang akan menyukainya, tadi malam saat Raka datang menghabiskan waktu untuk mengobrol pun membuat nya tidak nyaman.
"ini hari terakhir kamu di sini lho, yang. Kenapa harus ada pertemuan segala" protes Alexandre.
Kirana memakai gaun yang semakin memperlihatkan kecantikannya dipadu dengan sneakers yang membuatnya terlihat tidak memiliki pasangan, tentu saja karena memang umurnya yang masih 19 tahun membuatnya seperti remaja pada umumnya.
"kan udah jauh-jauh hari acaranya diberitahukan, nggak enak juga kalo tiba-tiba nggak bisa datang hanya karena alasan yang nggak masuk akal, kan kak. apa aku sudah bisa pergi sekarang" tanya Kirana melenggang keluar, Alexandre menghembuskan nafasnya mengikuti langkah istrinya.
"Ok, yang..."
Kirana menoleh menghela nafasnya melihat Alexandre yang seperti anak kecil meminta sesuatu yang membuat nya harus membujuknya dulu.
"yang mengantar dan menjemput kan dirimu, yang" kata Kirana, Alexandre mengangguk.
"so, what with that. Oh Gosh... don't do any thing"
"nope" jalan Alexandre tenang, Kirana memandang suaminya dengan tatapan yang tidak bisa menebak apapun.
"siapin hati, dek, roman-romannya ada yang pasang muka cemburu tuh" godain Wilaga yang duduk makan siang, Kirana tergelak mengusap punggung suaminya itu.
"benarkah, makasih kalo masih memperhatikan ku. but it's not that necessary" duduk Kirana meminum air mineralnya.
"widiwh... yang mau ketemu mantan nih" goda Pramana datang, Alexandre menatap kakak pertama Kirana itu tajam. Pramana tertawa lebar melihat ekspresi Alexandre yang tidak enak.
"terusin aja kalian meledekku, ntar kalo udah ketemu sama pawang kalian baru ngrasain gimana" gumam Alexandre. Pramana dan Wilaga tertawa ngakak mendengar gumaman Alexandre.
"ya, tapi nanti. yang penting sekarang masih bisa menggoda mu" kata Wilaga.
"hhmmm" dehem Alexandre.
"berangkat sekarang" anjak Kirana meraih jemari Alexandre agar menuju depan.
"kenapa pake Bumblebee" lihat Kirana berhenti sesaat saat melihat kendaraan yang terparkir di halaman depan.
"Bumblebee" ulang Alexandre.
"pake kendaraan yang biasa aja kenapa, kak" toleh Kirana.
"ini udah biasa aja, yang" buka pintu Alexandre mendorong pelan tubuh Kirana agar masuk kedalam kendaraan. Ia masuk dan segera memasang seat belt Kirana tak lupa mengecup bibir istrinya itu lembut.
"berapa lama ada disana" tatap Alexandre
"mmm... mungkin dua atau tiga jam, tergantung nanti acaranya gimana. Jika bisa mungkin tidak selama itu, I don't know"
__ADS_1
Kendaraan berjalan pelan meninggalkan pelataran rumah keluarga Bagaskara, Kirana meletakkan ponselnya disamping, ia memejamkan netranya dan tertidur. Alexandre tersenyum melihat paras istri kecilnya itu yang terlihat tenang, ia menurunkan seat Kirana agar lebih nyaman, mengusap kepala nya berulangkali.
"katakan" salam Alexandre pelan, seseorang memberikan laporan kepadanya hingga membuatnya mengangguk, sesekali mengatakan sesuatu dan meminta sesuatu untuk segera dikerjakan sebelum waktunya. Seseorang itu mengiyakan apa yang diminta oleh Alexandre.
Kendaraan berhenti tepat didepan tempat Kirana belajar dulu, "yang" ujar Alexandre mengelus pipi istrinya, Kirana bergerak pelan meregangkan tubuhnya.
"dah sampai, honey" lihat Kirana. Alexandre tersenyum mengusap rambut Kirana berulangkali.
"aku masuk dulu, ntar aku kabari jika sudah mau pulang. Kakak mau kemana" tanya Kirana.
"ada perlu bentar dengan yang lain, selalu aktifkan ponsel mu" kata Alexandre, Kirana mengangguk mencium punggung tangan suaminya, beranjak dari seat dan melangkah masuk kedalam bangunan yang akrab menemaninya dulu.
"Kira" panggil seseorang, Kirana berbalik dan melambaikan tangan ke arah gadis yang berlari mendekatinya.
Alexandre menatap mereka yang terlihat seru mengobrol sembari masuk kedalam. Ia segera melajukan kendaraan keluar dari halaman depan sekolah dan berbaur dengan kendaraan lain yang memadati jalanan ibukota, menghela nafas beberapa kali dan menyandarkan tangan kanannya disisi dalam kaca seraya menatap kedepan untuk mencari jalan agar kendaraannya melaju bersama-sama.
Kirana melihat sekeliling ruangan yang berubah menjadi semacam pensi anak high school, seseorang melambaikan tangannya melihat kedua gadis itu berada di pintu hall.
"aku kira kalian nggak jadi datang" senyumnya lebar ketika melihat kedua gadis itu mendekat.
"tadinya iya, lama banget mbujuk orang rumah buat ijin keluar sebentar"
"kamu terlihat berbeda tanpa kacamata tebalmu Kira" lihatnya.
"kapan tepatnya acaranya dimulai" tanya Kirana, mereka memandang sekeliling melihat kedatangan banyak anak muda.
"mungkin sebentar lagi, ini juga udah hampir waktunya bukan, anak-anak yang lain kayaknya sudah mulai datang. Kita tidak terlambat datangnya" angguk nya beberapa kali.
Mereka bertiga terlibat obrolan yang seru hingga tertawa bahagia bersama, beberapa orang menyapa karena melihat Kirana yang berbeda saat masih sekolah dahulu, ia sekarang tampak cantik dan terlihat semakin mempesona hingga banyak yang mendekatinya, ia hanya tersenyum dan menggeleng pelan ketika melihat sikap mereka yang berlebihan. Kedua temannya segera membawanya pergi menjauh dari tempat itu untuk menyelamatkannya dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting.
"thanks guys" senyum Kirana meraih botol mineral yang disediakan di box pendingin.
Mereka duduk di taman samping menatap lalu lalang siswa yang sedang bertugas menyambut para alumni.
"nggak nyangka bisa lulus juga" toleh Sisy, Kirana mengangguk membenarkan.
"kalo Kirana tidak mungkin tidak lulus dengan nilai mendekati sempurna" timpali Arka, Sisy mendengus pelan menggeplak bahu Arka hingga si empunya mengaduh kesakitan.
"kita baru aja lulus Sisy, kenapa kamu masih saja main tangan" seru Arka, Sisy memperlebar netranya menatap Arka kesal.
"nggak usah diperjelas lagi dong, gue juga tau itu"
Arka nyengir, "siapa tau kamu lupa"
__ADS_1
"isshh, belum ada dua bulan juga kita lulus, kenapa bisa lupa"
"siapa tau loe amnesia berkepanjangan jadi tambah halu"
Kirana tertawa pelan melihat keduanya yang selalu saja meributkan hal yang tidak penting. "kalian ini ngangenin tau nggak, moga kalian benar-benar berjodoh" pandang Kirana menaik turunkan alisnya, mereka menoleh satu sama lain dan memajukan bibirnya satu sama lain.
"Ra, tuh ketos" bisik Sisy pelan, Kirana menoleh melihat sesaat.
"lagi sibuk banget kayaknya"
"hhmm, ato merasa patah hati melihatmu tambah cantik gini dan mengabaikan mu selama ini" tanya Sisy sarkas, Kirana tersenyum lebar.
"nah, lho. Kenapa jadi loe yang kepo sih dengan ketos kita, apa jangan-jangan loe ada hati sama dia" selidik Kirana menoel pipi Sisy pelan, Sisy tertawa kecil.
"lha sapa yang kagak seneng liat ketos yang ganteng apalagi tajir gitu, terpesona dong gua"
"kenapa nggak dideketin dari dulu, kalo suka. Kan pengalaman selama sekolah yang takkan terlupakan, ato jangan-jangan loe hanya mau jadi secret admire nya dia"
Sisy tertawa lebar mendengar tebakan Kirana, "hanya dapat memuja dari jauh, apalah daya tidak bisa mendekat hanya karena status sosial" hela nafas Sisy menatap ketos yang sedang mengobrol dengan gadis yang sangat membenci Kirana dulu.
"tuh lihat, ular berbisa yang selalu ngrecoki sedang mengeluarkan bisanya" gerutu Sisy, Kirana tersenyum pelan.
"jangan kalah dong, Sisy cantik. Kamu juga nggak kalah kok dari dia hanya butuh keberanian untuk mendekati ketos sedikit lagi, itu aja kuncinya" tatap Kirana.
"ngomong sih gampang, Ra. Nah elo cantik luar dalam, lha gue cantik kagak, demek iya" kata Sisy, Kirana tertawa mendengar gerutuan Sisy dan menepuk bahunya pelan.
"nah itu loe sadar kekurangan loe banyak, Sy" cibir Arka, Sisy mendengus pelan melihat Arka dengan tatapan ingin menelannya bulat-bulat. Arka mengangkat kedua tangannya nyengir melihat ekspresi mengerikan dari paras Sisy.
"aaahh, ketos meliat kita. Gimana nih, kenapa gue yang jadi salting gini sih" ujar Sisy tak sengaja melihat ketos yang berjalan kearah mereka bertiga duduk.
"ge er amat sih Sy, orang dia nyamperin Kira, bukan nya loe" lirik Arka, Sisy kesal dengan Arka.
"hai, Rana" salam ketos mendekat, Kirana tersenyum melambaikan tangannya pelan.
"kamu kelihatan berbeda hari ini" lihatnya penuh dengan kekaguman, Kirana tersenyum tipis mengangguk pelan.
"kayaknya sibuk banget nih ketos kita" timbrung Sisy, ia mengangguk tanpa melepaskan pandangan nya kearah Kirana, "sedikit lebih sibuk mengurus beberapa hal" angguknya menoleh kearah Sisy yang tersenyum manis kepadanya.
Luv U all sekebon pisang goreng yang hangat dengan secangkir kopi hitam tanpa gula.
Selamat membaca karyaku semuanya...
See U next chapter..
__ADS_1