Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 64


__ADS_3

pagi telah berganti kembali dengan senja yang telah menampakkan siluet orange keemasan di ufuk barat, rumah keluarga Bagaskara sudah kembali ramai dengan orang yang ingin mendengarkan petuah bijak. Kirana dan keluarganya sudah berpakaian rapi untuk menyambut kedatangan para pencari kebajikan dan petuah yang datang dirumah mereka.


"yang, duduk di sana aja. Tidak usah terlalu ditengah" kata Alexandre memberi isyarat tempat yang longgar untuk istrinya duduk, Kirana menggeleng pelan merasakan sesuatu di perutnya.


"honey, deket pintu rumah aja jika aku tidak kuat bisa segera masuk" ujar Kirana mencengkeram erat kedua lengan Alexandre karena merasa kesakitan. "kenapa" tanya Alexandre kuatir.


"perutku tiba-tiba nyeri" ringis Kirana menahan rasa yang tidak bisa ditahannya.


"honey" pegang Alexandre menatap Kirana yang terlihat pucat, Ia segera mengangkat tubuh Kirana dan membawanya keluar dari rumah. Beberapa penjaganya membuka jalan agar keduanya segera keluar dari rumah, Alexandre mengusap paras Kirana yang bermandikan peluh menahan rasa nyeri yang menusuk di perutnya, Ia membisikkan kata-kata yang menenangkan Kirana agar istrinya itu tetap sadar. "kak, sakit" erang Kirana. Alexandre mengusap punggung Kirana dengan cepat.


"yang... Kira..." panggil Alexandre cepat melihat Kirana. "lebih cepat lagi" tatap Alexandre tajam, penjaga mengangguk cepat mengerti dengan kegelisahan tuan muda nya itu.


Kirana menahan nyeri yang teramat sangat, sesampainya dirumah sakit Kirana segera dibawa ke ruang penanganan, Alexandre berdiri bersandar di dinding melihat ke arah ruang tempat Kirana dibawa masuk, Wilaga berlari mendekat di ikuti kedua orangtuanya yang juga tergesa-gesa. "gimana, kak" berhenti Wilaga tepat dihadapan Alexandre dengan nafas yang terengah-engah.


"belum tau, Kirana masih di dalam dan petugas medis belum ada yang keluar" hela nafas Alexandre panjang melihat ke pintu ruangan yang masih tertutup rapat. Pram memeluk Kaila mencoba menenangkannya agar tidak kenapa-kenapa "she will be fine, my love. she is a strong girl" usap kepala Pram, Kaila mengangguk mengusap airmata yang telah turun sejak tadi tanpa diminta. Pram menghapus airmata istrinya dengan jemarinya.


mereka hanya diam selama menunggu Kirana, bolak-balik mengitari sekitar saking cemasnya dengan keadaan Kirana, menunggu dan berharap pintu ruangan terbuka dan mereka segera tahu bagaimana keadaan Kirana.


Seorang pekerja medis membuka pintu pelan, mereka menatap dengan cepat dan melangkah mendekat. petugas medis itu membuka pintu lebar agar brankar yang membawa Kirana bisa keluar, keluarga melihat Kirana yang terkulai lemas menatap mereka satu persatu. Alexandre menatap intens keadaan Kirana yang menitikkan airmata disudut netranya tanpa bersuara, Kaila tersenyum mengusap kepala Kirana memberikan kekuatan, Pram menatap anak gadisnya dengan perasaan yang campur aduk, Wilaga hanya dapat menatap Kirana dengan tatapan menguatkan.


Mereka menuju ruang rawat inap yang diperuntukkan untuk perawatan Kirana, seorang dokter masuk menjelaskan keadaan Kirana, ia menjelaskan jika Kirana baru saja mengalami pendarahan akibat terlalu lelah dan tertekan hingga tidak bisa mempertahankan embrio bayi yang ada. Kaila menutup mulutnya dengan rasa sakit dan tidak percaya mendengar penjelasan dokter tersebut, Alexandre mencengkeram erat pinggir bed pasien Kirana setelahnya. Ia menatap Kirana yang semakin deras mengeluarkan airmata nya. Ia mengambil tissue dan segera mengusap air matanya, menenangkan istrinya dengan kata-kata yang menguatkan hati kembali. Wilaga terhuyung kebelakang menatap adik perempuan nya itu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, Hatinya terasa sakit saat mendengar kabar itu. Kirana perlahan tertidur setelah menangis mengeluarkan rasa di dalam hatinya.


"Kirana butuh istirahat dan sendiri, kak. Biarkan kak Al menemani adek dulu, kita kembali kerumah sebentar, besuk pagi-pagi kita akan kesini seharian. Biarkan para penjaga menemani mereka diluar" tepuk bahu Pram melihat Kirana yang tidur pulas, Wilaga mengangguk melihat Momi nya yang terlihat letih.


"temani adek ya kak" tatap Kaila, Alexandre mengangguk memeluk Momi Kirana itu erat.

__ADS_1


"I Will mom. No matter what" usap punggung Alexandre, Kaila mengangguk dan beranjak mencium pipi anak perempuan satu-satunya itu.


"Momi minta maaf, dek. Tidak mengetahui keadaanmu sebelum nya, maafkan Momi" tatap Kaila mengusap pelan pipi kiri Kirana, Pram mengusap kedua bahu istrinya itu lembut dan membawanya keluar dari ruang rawat inap Kirana.


Pram menatap Alexandre terakhir kalinya sebelum benar-benar keluar dari ruang rawat itu, Alexandre mengangguk mengerti arti tatapan Popi Kirana itu.


Ia menghela nafasnya berbalik menatap keadaan Kirana yang tidak lagi memiliki tenaga tertidur dengan lelap. Ia duduk ditepian bed mengusap rambut istri kecilnya yang terlihat masih cantik walau baru saja mengalami keadaan yang tidak mengenakkan. "maaf, yang. Maafkan aku" ucap Alexandre bergetar hebat hingga bersimpuh menggenggam jemari Kirana dan menangis menyadari betapa Kirana merasakan sakit yang teramat sangat karena kehilangan baby mereka yang masih sangat kecil. Alexandre memeluk dan mengecup rambut Kirana tanpa henti, menyadari sikapnya yang kurang tanggap dan peduli terhadap istrinya sendiri, sikapnya yang tidak mengerti hingga menyakiti istrinya.


"pagi" buka pintu Kaila pelan, dua orang itu masih terlelap saling berpelukan ketika mereka semua datang. Kalai meminta mereka untuk melakukan apapun dengan pelan agar tidak menggangu Alexandre dan Kirana yang sedang beristirahat, mereka mengangguk mengerti dan duduk dengan tenang. Kalai melihat Kirana dari dekat mengusap kepala Kirana lembut dengan Arga berada disisinya, ia memeluk suaminya sembari melihat Kirana yang terlihat tenang dalam tidurnya.


"kak, bangun" tepuk bahu Tania pelan, Alexandre mengerjapkan netranya dan menyadari jika keluarga besar istrinya sudah berkumpul di dalam ruang rawat inap, ia menoleh melihat Kirana yang masih terlelap dalam tidurnya dan dengan pelan ia melepaskan dekapannya, berjalan pelan menuju bathroom untuk membersihkan dirinya, Kaila menyodorkan paper bag untuknya berganti pakaian dan peralatan lainnya.


"kapan sampai" geliat Kirana terjaga dari tidur panjangnya. Kaila tersenyum dan mendekatkan air mineral ke mulut Kirana yang segera meneguknya hingga tersisa sedikit.


"mau ke bathroom" kata Kirana, Kaila mengangguk membantu Kirana turun dari bed pasien


"Al" ketuk Kaila.


"ya Mom" buka pintu Alexandre sedikit.


"Kira mau membersihkan dirinya, apa kamu bisa membantu nya" senyum Kaila.


"Tentu Mom, tidak usah kuatir. Angguk Alexandre memegang pergelangan tanga Kirana membantunya masuk.


"honey, mau apa dulu" tatap Alexandre. Kirana berjalan menuju closet, Alexandre membantunya melepas perlengkapan baju agar ia dapat melakukan apapun dengan bebas.

__ADS_1


"kak" panggil Kirana, Alexandre mengangguk membantu nya untuk berdiri dan mulai menyalakan air shower.


"cepat sembuh, yang" usap punggung Alexandre dengan foam, Kirana mengangguk.


"kamu masih ada aku, kita akan melaluinya bersama. Mungkin ini bukan waktu yang tepat bagi kita untuk memilikinya sekarang" kata Alexandre, Kirana mengangguk pelan.


"jangan terlalu menghukum dirimu sendiri dengan penyesalan, pasti Tuhan telah melihat kemampuan kita" basuh Alexandre pelan, Kirana mengangguk sekali lagi.


"honey, kita bisa selalu mencobanya setelah kamu sembuh. Trust me" tatap Alexandre, Kirana mengangguk melihat Alexandre yang tersenyum kecil penuh dnegan kesedihan.


"aku merasakan sakit yang sama denganmu tapi aku lebih sakit jika melihatmu seperti ini" kata Alexandre, Kirana hanya mengangguk kembali.


"Mom" keluar Kirana dari dalam bathroom bersama Alexandre. Kaila mengangguk mendekati Kirana yang dipapah Alexandre menuju bed pasien.


"mau makan apa dek" tanya Kalai mendekat, Kirana menggeleng bersandar di dinding. Kalai mengusap kepala Kirana lembut, "don't push U self, dek" kata Kalai, Kirana mengangguk dan memejamkan netranya kembali tertidur. Kalai dan Kaila saling memandang dan meninggalkan Kirana di bed sendirian.


"dia hanya masih belum stabil, honey. Mungkin setelah tidur dia akan jauh lebih baik lagi" usap punggung Pram, Kaila mengangguk meminum kopi hitamnya.


"Pop" toleh Kirana setelah lama tidur, Popi mendekat dan duduk disamping putrinya itu.


"pulang" tatap Kirana, Pram tersenyum mengangguk mengiyakan.


"biar kak Al yang mengurus kepulangan mu dek, kapan kamu mau pulang" tanya Pram.


Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya. Selamat membaca sembari ngopi ditemani sepiring pisang goreng bertabur coklat keju...

__ADS_1


luv.... luv.... luv U all readers se kebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....


stay healthy all...


__ADS_2