Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 6


__ADS_3

"Alexandre" teriak Kirana melayangkan tatapan membunuh karena perbuatannya. "aku tidak ingin melihatmu, jangan pernah berada di dekatku" desis Kirana marah.


Wijaya bergegas mendekat ketika mendengar teriakan Kirana saat keluar dari ruangannya. ia berdiri mematung melihat kelakuan keduanya yang sedang bertengkar, tersenyum senang melihat Kirana telah menemukan lawan yang seimbang.


"maaf sweet, refleks"


"pergi... jauh-jauh dari ku mulai saat ini, aku tidak ingin melihatmu" jalan Kirana menuju keluar.


"bang" seru Kirana memanggil penjaganya, seseorang berlari dari ruang belakang.


"ya nona K"


"aku ingin naik motor kecil, siapkan untukku"


"tidak, bahaya" datang Alexandre datar dibelakang tubuh Kirana. penjaga itu memandang keduanya merasa bingung harus menuruti yang mana.


"siapkan" tatap Kirana


"no"


"bang, cepat" tidak sabaran Kirana melihat penjaganya yang seperti lupa siapa yang selalu bersamanya selama ini.


"no, U cann't go. sweet" toleh Alexandre lembut.


penjaga Kirana menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat keduanya yang saling bertolak belakang.


"Aaah" hentakkan kaki Kirana melangkah masuk kedalam rumah dengan kesal, Alexandre segera mengikuti langkah Kirana kembali.


Kirana membanting pintu ruangan pribadinya namun ditahan oleh Alexandre dengan kakinya.


"Kirana, I'll explain everything. can we talk first then you can do anything to me"


"I don't want to, I really hate you. I don't want to see you" frustasi Kirana menyeka airmata yang turun dengan sendirinya. Alexandre spontan bergerak maju ingin meraih tubuh Kirana karena tidak tahan melihatnya sedih.


"biarkan aku sendiri, aku tidak ingin memiliki siapapun saat ini" ujar Kirana lirih. Alexandre seketika mencelos hatinya mendengar perkataan Kirana yang menyayat sembilu dihatinya.


"I can't grant that request sugarbaby" desah Alexandre, ia luruh bersimpuh didepan Kirana yang menatapnya datar.


"aku tidak bisa menjauh darimu lagi, sejauh apapun aku berusaha menyangkal, seberat apapun aku menghilang agar tidak melihat bayang-bayang mu, pada akhirnya hanya dirimu yang menjadi obatku untuk tetap sadar" tunduk kepala Alexandre.


"entah sejak kapan aku mulai menjadi seperti orang gila tanpa arah. hanya dengan melihatmu pertama kali, aku merasakan kedamaian dihati hingga aku tidak peduli dengan orang yang harusnya aku beri pelajaran pada saat itu" katanya terus terang.


Kirana menutup mulutnya dengan kedua tangan saat mendengar perkataan Alexandre, ia tahu apa artinya itu


"apakah kamu tahu, sudah berapa lama aku mencari semua tentang dirimu, mencari keberadaan mu, mencari secuil info mengenai siapa dirimu, betapa sangat rapat keluargamu menyembunyikan identitas mu selama ini"


"aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku atau mencintaiku sugarbaby, tapi ijinkan aku untuk berada berada di dekatmu, beri aku kesempatan untuk melindungi dan melihatmu setiap saat. jika kamu memang tidak mau melihatku maka aku akan berusaha untuk tidak terlihat"


"I don't know why and how, yang aku rasa jika kamu adalah tulang rusukku yang hilang"


Kirana seperti kehilangan seluruh tulang ditubuhnya dan seketika luruh kebawah bersandar didinding.


Alexandre menatap paras Kirana yang sendu. ia ingin membawa gadis itu kedalam rengkuhan tangannya dan menenangkan nya.


"honey"


"sweet"


"sugarbaby"


Kirana menatap Alexandre lekat tanpa suara, mereka memandang satu sama lain dalam diam.


"apa aku begitu penting untukmu" ucap Kirana lirih, Alexandre mengangguk dengan cepat.


"apa aku sangat berarti bagimu"


Alexandre kembali mengangguk.


"kalau begitu, biarkan seperti ini. entah sampai berapa lama aku juga tidak tahu. hanya seperti ini, tanpa ada ikatan tanpa ada paksaan" tekuk lutut Kirana.

__ADS_1


Alexandre mengangguk seperti anak serigala yang lucu. Kirana mengusap air matanya terdiam lama hingga terdengar bunyi dari dalam perutnya.


"aahhh, sudah waktunya untuk makan. ayo kita makan bersama, perutku sudah minta untuk diisi" sentuh perut Kirana, Alexandre tersenyum mengangguk sambil membantu Kirana untuk berdiri.


"apa kamu bisa memasak kak" toleh Kirana, Alexandre terdiam sejenak mendengar panggilan Kirana.


"just simple dish"


"masaklah untukku"


"baik"


mereka menuju dapur bersih yang ada didalam rumah utama.


"non" dekati salah seorang pekerja keluarga.


"mbak, biar dia yang memasak untuk Kira" tatap Kirana. pekerja rumah itu mengangguk mengundurkan diri bersama dengan yang lain.


"oh, ya. apa kak Wijaya sudah makan" tanya Kirana.


"sudah nona dan sekarang ada di kebun"


Kirana mengangguk mengambil air mineral meneguknya cepat. Alexandre melihat bahan yang didalam lemari pendingin untuk membuat hidangan bagi Kirana.


"sweet, coba minuman ini" sodorkan Alexandre, Kirana mengernyitkan keningnya sesaat meraihnya dan menghirup aroma nya.


"it's sweet" cecap Kirana.


"of course sweet, like U"


"don't call me like that"


"I like it"


"I don't likes"


"why, U so sweet. for me U always sweet"


"dek, nanti malam kita menyusul Momi ke Bandung" datang Wijaya dari arah belakang.


"kenapa tidak sekarang"


"kamu mau sekarang" duduk Wijaya disampingnya.


"tentu, kita juga nggak ngapa-ngapain hingga besuk"


"baiklah, aku akan bilang ke penjaga mu agar bersiap segera"


"tidak usah, kita naik chopper aja biar cepat" geleng Alexandre menoleh


"kita" kerut Kirana.


"U promise me kalo aku bisa berada disekitar mu sweet" senyum Alexandre.


Wijaya menahan senyum melihat Kirana yang mati kutu karena perlakuan Alexandre yang sudah bucin parah.


"makanya, jangan suka menolak kalo cowok mengajak kenalan dan minta untuk bertemu lebih jauh" lirik Wijaya. Kirana hanya diam.


"done, sweet" letakkan Alexandre. Kirana menerima sendok dari tangan Alexandre, menyuapi dirinya sendiri. "not bad" angguk Kirana memakan kembali.


Wijaya tergelak melihat tingkah Kirana yang semau gue mengerjai Alexandre. "kebiasaan menjadi satu-satunya cewek di keluarga membuat dia tidak peka akan perhatian cowok lain"


Alexandre menatap Kirana yang sedang asyik mengunyah makanannya tanpa memperdulikan yang lain.


"that's make me fall of her" senyum Alexandre.


"haa, aku siap dahulu" putar kursi Wijaya agar tidak lama melihat adegan bucin adeknya.


"berangkat jam berapa" tanya Alexandre.

__ADS_1


"15 menit lagi" jawab Kirana asal, Alexandre mengetik sesuatu di ponselnya dan meletakkannya kembali.


"aku menyelesaikan separuh lebih urusanku di Inggris dan bergegas menyusul mu kesini" topang dagu Alexandre melihat Kirana yang hanya mengangguk tanpa kata.


"jadi beberapa hari kedepan aku akan kembali kesana sebentar untuk mengurus beberapa hal"


"mungkin agak sulit untuk menghubungiku tapi jika ada waktu longgar, aku pasti akan menghubungimu"


"apakah kamu akan baik-baik saja ketika aku tinggal"


Kirana mengangguk. "done"


Alexandre menyodorkan air mineral kedepan kirana.


"what are U doing" tahan tangan Alexandre.


"wash plate" tepis Kirana,


"biar aku saja"


"biar impas, kakak yang masak, aku yang cuci"


Kirana mengerjakan semuanya dengan cepat.


Chopper mendarat di tengah halaman. Wijaya turun menyerahkan Hoodie Kirana.


"nggak nyangka pewaris keluarga kaya bucin gini sama adek gue" kata Wijaya melihat Chopper yang dibawa oleh Alexandre.


mereka segera masuk dan Chopper kembali terbang meninggalkan kediaman Prayoga.


"aku belum pamit bunda" kata Kirana.


"mereka tidak ada dirumah, sudah beberapa hari mereka menginap dirumah kakek dan nenek" jawab Wijaya.


mereka tiba di atap gedung hotel yang ditempati keluarganya.


"apa kamu sudah menerima Al" toleh Wijaya membantu Kirana keluar dari chopper.


"nope, aku hanya tidak ingin suasana buruk selalu berada disekitar ku maka aku yang harus merubah perilaku ku terhadapnya"


"dengan memberinya kesempatan"


"nope, aku ingin hidup damai saja"


"seiring waktu kamu tidak akan bisa sendiri tanpaku sweet" senyum Alexandre menaikkan jumper Hoodie Kirana. Wijaya tersenyum melihat perlakuan Alexandre.


"dilantai berapa"


"1 non K, tuan besar Bagaskara yang memintanya"


"bang, beliin kayak biasanya dong, jika aku keluar maka satu orang ini akan banyak alasan" lirik Kirana, Alexandre tersenyum bersandar di box ajaib yang membawa mereka kebawah.


"tenang, non. sudah tersedia, kata nyonya Momi harus sudah ada sebelum nona K datang kemari"


"hhmm"


"sweetie" lihat granddad ketika Kirana melangkah masuk kedalam ruangan setelah pintu dibuka penjaga.


Kirana memeluk granddad erat mencium punggung tangan nya bergantian dengan kakek dan Mominya.


"aaahh... ternyata cucu menantuku sudah datang" tawa granddad melihat kehadiran Alexandre dibelakang kedua cucunya. Alexandre tersenyum lebar melakukan hal yang sama dengan Kirana dan Wijaya tadi.


"jangan begitu grand, tidak enak dengan pilihan kedua orangtuanya. kita bukan keluarga yang tidak tahu apapun tentang keluarga Berardi bukan" lalu Kirana melihat makanan yang dipesan untuknya. Momi menepuk bahu putrinya itu pelan.


"what, benar kan yang K bilang. jangan bermain api Mom, itu yang Popi bilang" tatap Kirana mencomot cake moist kesukaan nya. Momi memutar boka matanya jengah mendengar ungkapan putrinya itu yang sebelas dua belas dengan suaminya.


Hai... Hai.... Hai... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku uang baru saja rilis.


selalu beri dukungan dengan like dan subscribe yaa... tanpa kalian Kalang bukanlah apa-apa.

__ADS_1


Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya


stay healthy all


__ADS_2