
sesekali penjaga didepan memberi tanda untuk yang dibelakang, Alexandre mengikuti arahan dari depan. Kirana melihat sekeliling yang sunyi dengan beberapa laju kendaraan lain yang saling memberi jalan.
ditengah perjalanan mereka dihadang oleh sekelompok preman yang terlihat gahar.
tanpa banyak kata, mereka berhenti dan segera turun sedangkan Kirana masih setia berada di atas motor menyaksikan mereka saling beradu ditengah sorotan lampu motor.
olahraga yang cukup menguras energi, beberapa lawan tumbang tak bergerak akibat gesekan aktifitas yang mereka lakukan bersamaan. Kirana menurunkan kakinya hingga menapak dengan sempurna diatas aspal yang terlihat lebih hitam dari biasanya. seorang preman melihat kesempatan untuk mengajaknya berolah raga dini hari ini, Kirana menyunggingkan senyum seringainya memberi pelajaran yang sangat dia nantikan dari tadi karena tidak enak rasanya melihat mereka bermandikan peluh sedangkan ia hanya duduk menonton padahal itu olahraga yang disukainya.
"sweet, are U Ok" seru Al sesaat setelah menumbangkan lawan yang cukup merepotkan. Kirana memukul belakang kepala preman hingga pingsan, ia mengibaskan tangannya agar Alexandre tidak usah lebay.
"jangan lakukan sendiri lain kali, aku merasa tidak melindungi mu jika kamu juga turun tangan" usap bahu Alexandre.
beruntung Kirana dari tadi tidak melepas helmet nya hingga musuh mereka tidak melihat parasnya, Al masih bisa bernafas lega karenanya.
beberapa penjaga menyingkirkan para preman yang dibayar untuk menghalangi langkah mereka ke tepi jalan agar tidak mengganggu pengguna lainnya.
Al dan Kirana segera melajukan motor meneruskan perjalanan, "jangan lakukan hal berbahaya itu lagi K, aku tidak ingin orang lain menyentuhmu" toleh Al cepat, Kirana memberikan tanda Ok dengan ibu jemarinya.
beberapa kali lampu merah mereka lalui hingga tidak terasa telah sampai ditempat yang mereka tuju, dari kejauhan tampak keluarganya sedang bersiap-siap untuk pergi ketempat ibadah di kampung itu bersama dengan penduduk yang lain. Alexandre memarkir motor dengan cepat, tak berapa lama Wilaga dan Wijaya juga memasuki halaman rumah.
"kalian sudah datang, ayo kita bersama-sama" senyum kakek melihat kedatangan mereka semua.
Wilaga bergegas masuk kedalam mengikuti langkah ketiga lainnya, Kirana mengganti pakaiannya dan mengambil air suci untuk melaksanakan kewajiban nya sebagai umat beragama.
Wilaga memberikan alas ibadah kepada Alexandre dan memberi isyarat untuk mengikuti langkahnya, mereka semua bersama-sama menuju tempat ibadah. Popi, granddad dan kakek terlibat pembicaraan dengan beberapa laki-laki yang berkumpul sehabis melaksanakan ibadah bersama. beberapa pemuda melirik Kirana yang hanya merupakan gadis satu-satunya ditengah yang lainnya, Al memperhatikan dengan seksama arah pandangan mereka yang melihat Kirana dengan tatapan memuja, "nggak usah gitu amat Al, K juga nggak akan melihat mereka dengan niatan lain" tepuk bahu Wijaya, Al tersenyum "aku tahu, justru aku kuatir apakah bisa menahan diri untuk tidak mencongkel netra mereka"
Wijaya tergelak mendengar perkataan Alexandre yang sudah bucin berat.
"Mom, let's walk around" isyarat Kirana, Momi Kaila mengangguk pelan melihat putranya yang lain.
"pergilah Mom, disini jauh lebih aman. Alexandre juga harus istirahat" senyum Pramana mengusap bahu Momi lembut. Kirana menyerahkan perlengkapan ibadah mereka berdua ke Pramana. "nitip kak" lambai tangan Kirana nyengir meninggalkan para laki-laki yang hanya menatapnya.
"apa tidak apa-apa membiarkan mereka pergi begitu saja" toleh Alexandre, Pramana menepuk bahu Alexandre agar berjalan kembali pulang.
"it's Ok, mereka bisa menjaga diri dengan baik. tidak lihat bapak satu itu segera mengikuti mereka berdua"
Alexandre menatap Popi Kirana yang mengikuti langkah kedua perempuan yang ada di hatinya dengan pelan.
"Popi juga mendapatkan hati Momi tidak gampang, jadi kamu harus punya stok sabar yang lumayan banyak"kata Wijaya.
"apakah sesulit itu"
__ADS_1
"jika ingin mendapatkan orang yang istimewa maka kita juga harus melakukan hal yang istimewa juga bukan. Kirana tahu semua tentangmu karena Popi dan granddad sudah membuka file yang berkaitan dengan dirimu"
"sulit untuk mengetahuinya tapi kami berusaha untuk tahu bagaimana kehidupanmu"
"apalagi untuk mendapatkan K yang hanya satu-satunya di keluarga kami, harus menjadi pejantan tangguh" tepuk bahu Pramana.
"apa kalian berniat mengujiku terlebih dahulu, begitu ?"
"no, karena ujian terberatmu adalah Kirana sendiri. apakah dia mau membuka hatinya untukmu atau tidak" angkat bahu Pramana berjalan cepat meninggalkan Alexandre.
ia menghela nafasnya berat, perjuangan untuk mendapatkan cinta ternyata tidak semudah membalikkan tubuh lawan agar memohon ampun dan melepaskannya.
"sekalinya jatuh hati pada seorang gadis, nggak taunya punya kandang harimau" gumam Alexandre segera mengikuti yang lain.
"baby" usap pipi Popi membangunkan tidur Kirana yang terlihat nyenyak. Kirana diam tidak bergerak saking lelahnya.
"gimana, yang" tatap Popi melihat istrinya meminta persetujuan nya.
"angkat aja Pop, seharian dia sudah tidur. kita harus ke kota lain kan, nanti dia merasa kita tidak mengajaknya. anak gadismu ini agak susah kalo udah tidur" angguk Momi Kaila melihat usaha suaminya yang berusaha membangunkan Kirana yang sudah tidur dari pagi hingga petang.
"tante, biar aku yang membawanya kedalam chopper" dekati Alexandre. Popi dan Momi saling pandang,
Popi bergeser menjauh agar Alexandre mengambil tubuh Kirana untuk dipindahkan ke dalam kendaraan yang menanti mereka untuk berpindah tempat lagi.
"anggap saja kita sedang memindahkan koala yang lamban" senyum Popi, Momi tertawa pelan mengikuti langkah yang lain. Alexandre segera meletakkan Kirana bersandar di kursi penumpang chopper.
"kenapa kalo bawa K serasa bawa karung beras" tatap Wilaga, Momi menepuk bahu putra keduanya itu pelan.
"apa kamu mau dia ditinggal aja" tanya Momi Kaila, Wilaga menggeleng menyandarkan badannya kebelakang.
"hanya dia satu-satunya beban yang menyenangkan" desah nafas Wilaga.
"kapan dia jadi beban, A. kalo kamu kelahi dia juga yang paling depan menemanimu membasmi lawanmu" tatap Popi Pram dingin. Wilaga tersenyum menatap Kirana yang masih tidur dengan lelap.
"jadi teringat Momi jika naik gunung akan tidur seharian" senyum popi Pram melirik istrinya.
mereka menatap Momi segera, "aahh... itu hanya karena rasa suka dan membuat Momi merasa tenang" kata momi Kaila.
"trus kenapa adek tidak boleh naik gunung juga" tanya Wijaya penasaran.
"hhmmm, itu karena Popi belum bisa melihat anak gadisnya mengikuti keinginannya sendiri" sandar kepala Momi dibahu suaminya. Popi Pram tergelak mendengarnya.
__ADS_1
"ada rasa yang sulit diungkapkan ketika melihat belahan hatimu dan anak perempuan satu-satunya berada dengan bahaya" ujar Popi pelan.
"apanya yang bahaya" tegak Momi kembali.
"You guys are always the same when it comes to things like this" kerut popi Pram menatap istrinya tercinta. Alexandre menatap Kirana yang masih tertidur dengan lelap.
"apa bedanya, biarkan dia menikmati masa remajanya" sandar Momi Kaila.
"honey" protes Popi Pram, Momi Kaila menoleh menatap paras suaminya dengan tenang.
"kalo begitu biarkan dia menikah dan suaminya yang akan menjaganya dan membiarkan Kirana melakukan yang dia suka" jawab Momi Kaila santai. Popi Pram berdecih melirik Alexandre yang menyunggingkan senyum mendengar perkataan Momi Kirana barusan.
"jangan harap membawa Kirana" tatap Popi Pram. Alexandre menggeleng mengangkat kedua jemari tangannya tanda tidak akan melakukan apapun.
Momi menepuk dada suaminya pelan. "kenapa Popi membuat takut semua cowok yang mendekati anak perempuan mu, apa mau dia sendiri sampai tua sedangkan kakak laki-laki nya berumah tangga semua" tanya Momi kesal.
"no, tapi tidak sekarang juga, yang. umur dia baru 17 besuk" jawab popi Pram.
"well, that Popi knows so let him do whatever she want to do while she's with her family. that's it" kata Momi pelan.
"Ok, yang. akan aku pikirkan dulu" kata Popi Pram. Wilaga tertawa pelan sembari memejamkan mata mendengar jawaban Popinya yang tidak bisa berkutik.
"Al, masih mau lanjut nggak, lihat calon Popi mu terlalu posesif dengan anak perempuannya" kata granddad.
"tentu, granddad. wajar jika om memperlakukan Kirana seperti itu. karena K adalah mutiara" angguk Alexandre tersenyum cerah.
"hhhmmm, satu lagi pria bucin yang datang" gumam Pramana.
"cari istri bukan cari pacar, maka kalian bertiga juga akan menemukan mutiara yang berharga" tepuk pundak granddad.
"ya grand" jawab mereka bertiga kompak.
"aisshh, jangan buru-buru. jangan buat Popi pusing" ujar Popi membulatkan netranya lebar. mereka tertawa melihat reaksi Popi yang tidak rela anak-anaknya telah tumbuh dewasa.
"ingat Pop, adek nggak mau perayaan yang besar. maunya makan bersama dan di panti" ingatkan Wijaya, Popi mengangguk paham.
Hai.... Hai..... Hai..... All readers, terimakasih telah mengapresiasi karya baruku. selalu beri dukungan untuk karyaku ya...
Luv.... Luv..... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all
__ADS_1