
"adek"
"hhhmmm..."
"kita ada acara malam ini, tidak enak karena kita udah mengundang semua tetangga belakang untuk acara ini. Mereka pasti akan kecewa jika tidak melihatmu" elus kepala Popi, Kirana bergerak pelan mengubah posisi tidurnya.
"bentar lagi" sahut Kirana, Popi mengusap kepalanya hingga ia terbangun.
"dah bangun kan, yang" senyum Kaila, Pram mengangguk memeluk istrinya.
"temui bapak-bapak yang lain, nanti akan aku susul" usap punggung Kaila, Pram mengangguk berjalan pelan ke rumah tengah, Kaila menghela nafasnya menyeka air mata yang turun tanpa disadari melihat situasi rumah.
"Mom, let's join there. apa yang membuat Momi sedih" tangkup pipi Pramana saat melintas melihat Mominya yang berdiam diri.
"Momi tau kak, hanya sedikit sentimentil" kata Kaila tersenyum.
"adek akan baik-baik saja, Mom. Kakek juga akan menemani kita lebih lama, jadi jangan berpikir Momi merasa sendiri" usap airmata Pramana, Kaila mengangguk memeluk putra tertuanya itu.
"makasih kak, selalu ada buat Momi"
"tentu saja Mom, kita berempat akan selalu ada buat Momi dan Popi. Kita akan selalu bersama-sama menemani Popi dan Momi" peluk erat Pramana.
"Mom" buka pintu Kirana, mereka berdua menoleh menghampiri Kirana.
"make pakaian apa, apa samaan semua" tanya Kirana memeluk lengan Momi nya berjalan bersama, Pramana memeluk lengan Momi di sisi yang lain juga dan bersama-sama melangkah menuju ke rumah tengah.
"sama dek, kita akan mendengar petuah dari pemuka agama malam ini dan besuk pagi kita akan bergabung dengan tetangga belakang rumah untuk jingkrak-jingkrak" naik turunkan alis netra Kaila, Kirana menoleh menatap Mominya tidak percaya.
"banyak banget Mom" kerut Kirana.
"kita tidak ada seminggu disini, dek. Kan harus menetap di Jerman beberapa tahun" jawab Kaila, Kirana mengusap keningnya.
"anggep aja healing dek, kan asyik tuh serasa nonton konser bareng tetangga" tawa Pramana kecil, Kirana menghela nafas mengangguk.
"baiklah, nanti kita menggila bersama" semangat Kirana, mereka tertawa bersama.
"baby" senyum Alexandre, Kirana mengangguk dan merapikan pakaian Alexandre. "aku ganti baju dengan yang lain dulu. Kakak sama yang lain kedepan aja, pasti udah banyak yang datang" senyum Kirana mengusap dada bidang Alexandre.
"cincinmu mana" tahan tangan Alexandre melihat jemari Kirana yang polos.
"lupa, tadi aku copot sebelum membersihkan badan" cengir Kirana merasa tidak bersalah, Alexandre menatap paras istrinya datar.
__ADS_1
"aku ambil di kamar dulu, bawa ponsel kan, ntar aku hubungi" jalan Alexandre keluar, Kirana menghembuskan napas menaruh tangannya di dada.
"bakalan nggak selamat kalo teledor gini" tepuk kening Kirana melangkah berganti pakaian.
"udah" ketuk Kalai, Kirana membuka pintu ruang ganti.
"kenapa belum dipakai" senyum Kalai memakaikan penutup kepala Kirana. Tania membantunya, "tau sendiri kan bunda kalo nggak sempurna" cibir Tania, Kirana tertawa pelan.
"dah, yuk kita keluar ditunggu sama yang lain" kata Kalai melihat semuanya sudah rapi.
"honey" berdiri tegak Alexandre ketika melihat mereka bertiga keluar dari ruangan.
"lho kak, nunggu disini. Kenapa nggak masuk tadi" terkejut Kirana mendapati suaminya sedang berdiri menunggunya. Alexandre meraih jemari Kirana dan memasangkan cincin pengikat mereka berdua.
"jangan dilepas lagi, aku tidak ingin mendengar alasan apapun. Dibalik batu kecil ini ada pendeteksi keberadaanmu" usap pipi Alexandre, Kirana mengangguk. Mereka beriringan menuju ke tempat acara.
Kirana tampak terkejut melihat lautan orang yang memadati rumah keluarga, "kenapa jadi begini" gumam Kirana.
"yang, aku disebelah sana. Ntar ketemu lagi" kata Alexandre, Kirana mengangguk mengambil tempat untuk duduk mendengarkan petuah bijak dari pemuka agama. "Mom, kenapa banyak banget"
"nggak tau, dek. Kenapa melebihi yang dikatakan. tapi kakek dan granddad terlihat senang dan bahagia" isyarat Kaila, Kirana melihat keduanya tertawa lebar mengobrol dengan para tetangga.
"berbeda rasanya melihat kakek dan granddad seperti itu, lama banget melihat tawa bersama tetangga" senyum Kirana, Kaila tersenyum menepuk punggung tangan Kirana.
"Mom, don't"
"no, Momi benar-benar beruntung memiliki kalian berempat yang selalu membuat kami semua bangga. Kakek dan granddad selalu kalian utamakan" geleng Kaila mengusap buliran air disudut netranya. Kirana memeluk Mominya, "kalian adalah yang terpenting, Mom. Apapun yang Popi dan Momi lakukan pasti untuk kebaikan dan kebahagiaan kami berempat, kakek selalu menemani tanpa pernah mengeluh, granddad selalu memberikan semuanya untuk kami berempat. Jadi bagi kami kakek, granddad, Momi dan Popi adalah yang terpenting" usap airmata Kirana, Kaila tersenyum mengangguk menggenggam erat jemari Kirana.
Waktu Sudah hampir jam 2 pagi, namun lautan orang yang memadati rumah keluarga Bagaskara masih saja banyak, padahal acara sudah berakhir satu jam yang lalu.
"yang, mau ke hotel saja" usap punggung Alexandre menatap Kirana yang terlihat letih.
"tidak kak, para penjaga sudah mengamankan rumah. Hanya halaman dan sekitarnya yang masih tidak bisa diamankan" geleng Kirana mengusap pipi Alexandre.
"nona, apa mau dibuatkan minuman hangat" datang pekerja rumah Bagaskara.
"makasih, mbak. Tidak usah, istirahat saja sudah waktunya untuk kalian semua beristirahat" geleng Kirana, mereka mengangguk meninggalkan Kirana dan Alexandre yang masih menatap kepergian orang-orang yang mendengarkan petuah bijak dari pemuka agama tadi.
"pekerja taman akan bekerja giat besuk" senyum Kirana memperhatikan tanaman yang terinjak-injak oleh mereka yang melewatinya. Alexandre menatapnya datar.
"besuk akan ada acara lagi kan" tanya Alexandre
__ADS_1
"hhmmm, acara kesukaan orang-orang sekitar" senyum Kirana memeluk pinggang Alexandre, Alexandre mengecupi ubun-ubun rambut istrinya.
"adem liatnya kalo banyak orang yang mendoakan" dongak Kirana, Alexandre mengangguk.
"ibu dan ayah langsung ke hotel"
"iya" tawa Alexandre kecil.
"syukurlah kalo mereka sudah bisa istirahat, Momi dan Popi malah masih bersemangat"
"kakek dan granddad benar-benar bahagia, yang"
"iya, sangat"
"hello" salam Alexandre.
"Popi dan Momi meminta kita kesana lagi" tutup Alexandre setelah selesai berbicara melalui ponselnya. Mereka melangkah menuju rumah tengah yang masih sangat padat.
"ini putra-putri kami, kyai. Mohon doanya agar selalu diberkahi" senyum kakek. Pemuka agama tersenyum dan membacakan beberapa doa kepada mereka berdua, Alexandre mencium punggung tangan pemuka agama setelahnya.
"jaga istri mu dengan baik karena dia adalah pakaian mu" senyum pemuka agama, Alexandre mengangguk patuh. Kirana hanya berdiri diam berada di jarak yang cukup jauh dari laki-laki yang ada di rumah tengah. Suasana rumah yang tidak terlihat seperti dini hari karena orang-orang masih antusias mendekat ke pemuka agama yang hadir.
"Mom, let's take a rest. Momi harus istirahat sekarang, ada banyak orang yang akan membereskan semuanya. Jangan kuatir" usap bahu Pramana menuntun Mominya menuju rumah depan Bagaskara.
"ini jahe hangat untuk mu, Mom" sodorkan Wilaga dari arah dapur, Kaila meraihnya dan menyeruputnya sembari jalan menuju ruangan pribadinya.
"ada puluhan penjaga yang masih siaga Mom, ada om Tigor dan Alexandre yang mengawasi semuanya" senyum Pramana.
"Popi sebentar lagi akan menyusul" kata Wilaga. Momi Kaila mengangguk menyerahkan gelas minuman jahe hangatnya.
"makasih putra ku. Momi istirahat dulu jika ada apa-apa kabari Momi" buka pintu Kaila.
"we will Mom, don't worry" angguk Wilaga.
"adek udah di jaga oleh Al, Mom. Jadi jangan kuatir" ingatkan Wilaga kembali. Kaila tersenyum menempuk pipi Wilaga sebelum menutup pintunya.
Kirana meringkuk dalam bed besarnya, masih tertidur dengan nyenyak setelah semalaman begadang hingga kewajiban paginya selesai. Matahari yang bersinar terik tidak membuatnya terusik dalam mimpi indahnya. Ketenangan membuatnya semakin dalam untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah.
Selamat beristirahat all reader, sehat selalu yaa...
Luv U all sekebon pisang goreng yang hangat dengan secangkir kopi hitam tanpa gula.
__ADS_1
Selamat membaca karyaku semuanya...
See U next chapter..