Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 62


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah penjual rujak mereka bertiga mengobrol dengan diselingi candaan hingga membuat Kirana sering tertawa lebar mendengar jokes-jokes receh pak erte.


"non dek kapan pulangnya" tanya pak erte.


"tadi siang pak erte"


"enak nggak naik pesawat ke luar negeri"


"biasa aja pak, lha gimana. Pak erte mau ikut naik" senyum Kirana.


pak erte menggeleng dan tertawa, "nggak, non dek. Takut nyungsep bapak mah, nggak tega juga ninggal anak istri. Kalo ketemu mas Londo banyak kayak gini yang keder bapak non..."


Kirana dan Alexandre tertawa bersama. "nggak papa lho pak mau ngajak anak istrinya ikut. Ayo" angguk-angguk Kirana.


"ya elah, non dek. Becanda aja sih ya orang nya. Kalo kita kesana was-was nggak bisa pulang. Keder kalo ditinggal" senyum pak erte lebar, Alexandre dan Kirana tertawa lebar.


"ngomong-ngomong siapa nih yang pingin rujak malam-malam kagak biasanya" kata pak erte menoleh menatap kedua nya.


"Kirana pak erte, lama nggak ngerasain buah disini jadi kangen banget. Kudu malam ini juga katanya" kata Alexandre, pak erte tersenyum.


"lha tokcer nih mas Londo. Nggak lama langsung jadi" tawa pak erte.


"apanya pak" tanya Alexandre bingung.


"lha non dek bunting ituh, pasti lagi ngidam. Nggak salah lagi mah itu tandanya, kalo suka yang masam-masam sama minta yang jarang ada biasanya tanda-tanda orang hamil, itu udah" terang pak erte, Kirana tersenyum tipis.


"semoga pak erte, biar tambah rame disini" kata Alexandre, pak erte tertawa manggut-manggut.


Pak erte mengetuk pintu rumah seorang warga yang sudah tertutup rapat, seorang perempuan paruh baya membukakan pintunya lebar-lebar.


"ada apa pak erte malam-malam begini kesini" tanya nya terkejut melihat kedatangan tiga orang malam-malam kerumahnya.


"maaf mak, ini ada non dek Kirana sama suaminya nyari rujak. Abis pulang dari luar negeri, kangen buah Indonesia katanya. Apa mak masih ada sisa rujak hari ini buat besuk, kalo boleh bikinin satu buat non dek Kirana" senyum pak erte. Perempuan paruh baya yang dipanggil mak itu mengerutkan dahinya menoleh menatap Kirana dan Alexandre bergantian.


"non dek Kirana, udah pulang tho... Oalah... Sehat tho non dek, lama tidak kelihatan. Bisa... Bisa... Tentu saja, duduk dulu sebentar saya siapkan" angguknya antusias melihat Kirana dengan jelas, ia segera mengeluarkan bangku kayu untuk diletakkan diluar.


"makasih mak. Maaf ngerepotin" angguk Kirana segera duduk, mak pedagang rujak menggeleng tertawa lebar segera menyalakan lampu penerangan agar terang benderang.


"mau makan disini apa mau dibawa pulang non dek" tanya mak pedagang rujak.


"makan disini aja mak, nggak usah banyak-banyak. Yang penting ngrasain" kata Kirana. Mak pedagang rujak tersenyum mengangguk, "siap non dek. Rebes pokoknya"

__ADS_1


"Momi baik-baik aja kan non" tanya mak.


"baik, mak. makasih atas doanya buat keluarga saya" angguk Kirana tersenyum.


"kenapa nggak hubungi aja, nanti kita nganter kesana" kata mak.


"dadakan soalnya mak, pulang langsung pingin rujak" kata Kirana. Mak melongok sedikit keluar memperhatikan keadaan Kirana yang duduk di luar bersama pak erte dan Alexandre.


"apa udah isi, non dek" mak, Kirana menggeleng tersenyum.


"kelamaan sekolah di luar mak jadi pingin makan makanan sini. Lidahnya nggak bisa makan roti terus, harus nasi" kata Kirana bercanda. Mereka tertawa kecil mendengarnya.


"iya... Bener. Nggak nendang kalo nggak nasi kan non" kata mak, Kirana manggut-manggut.


"kalo begitu saya permisi dulu non dek. Mau lanjut keliling" pamit pak erte sebelum pergi.


"pak erte nggak ikut makan rujak" toleh Kirana cepat, pak erte tertawa menggeleng.


"nggak non dek, denger rujak aja bikin ngilu ini giginya, perut malah mules" kibas tangan pak erte di udara. Alexandre tersenyum melihat pak erte


"makasih banyak pak erte udah nganter ke tempatnya mak, sehat-sehat selalu ya pak. main kerumah kalo senggang" salam Alexandre memberikan lembaran uang kepada pak erte.


"siap mas Londo, makasih banyak. Semoga rejekinya tambah lancar, banyakin stok sabar ngadepin kemauan istri kalo lagi ngidam gini" tawa pak erte menerimanya, Alexandre tersenyum lebar mengangguk.


"honey minum dulu" sodor Alexandre, Kirana meneguknya pelan.


"kak, bilang sama orang rumah, bawain kendaraan kesini. Pegel banget kakinya" kata Kirana, Alexandre tersenyum menunjuk dua penjaga yang sudah menunggu mereka dari kejauhan. Kirana menatap mereka melambaikan tangan agar mereka mendekat.


"ada yang mau rujak juga nggak" tanya Kirana, mereka menggeleng cepat membayangkan masamnya rujak Kirana nanti.


"ini non dek, rujaknya udah jadi" letakkan mak di depan Kirana sepiring buah beserta sambal rujaknya. Kirana tersenyum menatap rujak yang terlihat menggoda, ia segera mencobanya satu.


"gimana rasanya non dek" senyum mak melihat Kirana yang terlihat sumringah, Kirana manggut-manggut sembari memakan buah dengan tenang.


"makasih banyak mak, saya sangat menghargai nya" kata Alexandre mewakili istrinya, mak tersenyum mengangguk.


"bukan apa-apa nak, mak malah senang kalo mau makan di tempat mak. Keluarga nya orang baik banget. Nggak bisa bales kalo nggak gini, udah banyak ngasih" kata mak, Alexandre tersenyum mengangguk.


"ngomong-ngomong apa non dek, bunting" lihat mak seksama ke arah Kirana yang sedang menikmati makanan rujaknya.


"semoga mak, disegerakan" kata Alexandre tersenyum.

__ADS_1


"waahhh... Selamat ya non dek, nggak nyangka udah mau diberi anugerah yang tak terkira. Sehat-sehat yo non, jangan terlalu capek. Apalagi pas hamil muda gini, dijaga bener-bener" ujar mak, Alexandre mengangguk tersenyum.


"kapan pulangnya kemari, nak" tanya mak.


"nyampe sini siangan mak, menjelang senja" kata Alexandre.


"jauh amat sih non, sekolahnya. Disekitar sini kan ada, nggak usah jauh-jauh ke luar" kata mak.


"lha nanti saya sendirian mak, nggak enak kalo sendirian" kata Alexandre, mak tertawa kecil manggut-manggut.


"iya, bener. emang harus ngumpul kalo sama bini"


"mak, udah selesai" kata Kirana. Mak menatap Kirana yang cepat sekali menghabiskan rujaknya.


"mau dibungkusin lagi nggak non dek" tanya mak, Kirana menggeleng.


"nggak mak, besuk pagi kalo mak udah buka warungnya, bilang ke orang rumah biar ngambil kesini"


"oh gitu, baik. Besuk kalo mak udah buka, mak kabarin dah" kata mak, Kirana mengangguk meminum air mineral dengan cepat.


"udah kak, pulang" toleh Kirana, Alexandre tersenyum membantu Kirana untuk berdiri.


" makasih banyak mak, besuk biar ada yang ngambil pesenan Kirana kesini. Ntar banyakin bumbu nya ya mak, pedesin dikit lagi" kata Kirana, mak tersenyum mengangguk.


Alexandre memberikan lembaran uang kepada mak pedagang rujak sebelum melangkah menyusul Kirana.


"ati-ati non dek, salam buat Momi sama bunda" kata mak, Kirana tersenyum mengangguk naik ke Boogie car yang dibawa penjaga nya.


"non dek, mau kemana lagi" tanya penjaga.


"pulang, bang. Besuk pagi kita makan di pengkolan" sandarkan punggung Kirana ke belakang. Penjaga mengangguk menjalankan kendaraan dengan pelan.


"suasananya masih rame aja" lihat Alexandre, Kirana menatap kesamping.


"hhmmm, jadi pingin nongki juga" kata Kirana.


"angin malam, yang" ingatkan Alexandre. Kirana menatap suaminya kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Alexandre.


"iya" pejam netra Kirana.


Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya. Selamat membaca sembari ngopi ditemani sepiring pisang goreng bertabur coklat keju...

__ADS_1


luv.... luv.... luv U all readers se kebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....


stay healthy all...


__ADS_2