
"kenapa tiba-tiba kamu memutuskan untuk bertemu dengannya" topang dagu Bian.
"karena Jack memberi nasehat untuk menemuinya maka aku mengabulkannya" jawab Alexandre pelan. mereka tertawa terbahak-bahak mendengar alasan yang tidak masuk akal.
"berapa kali kami menyarankan untukmu menemuinya dan memberinya pengertian tapi kamu tidak pernah mendengarkan, kenapa sekarang kata-kata Jack kamu dengerin" tanya yang lain.
"karena aku sudah menunggu dia lebih dewasa maka aku dapat segera menikahinya" jawab Alexandre menatap keluar melihat kegelapan.
"hhmmm, kenapa tidak dengan yang lain. ada Celine diantaranya" tanyanya lagi.
"Seth" potong Bian cepat.
"aku hanya memberinya beberapa pilihan lain, ada banyak wanita yang ingin menjadi istrinya. kenapa dia tidak memilih saja satu diantara mereka" kata Seth mengendikkan bahunya.
"jika aku bisa melihat wanita lain maka aku akan melakukannya Seth, tapi hanya dia yang membuatku tidak bisa melihat yang lain. hanya dia gadis yang membuatku tidak punya kekuatan" hela nafas Alexandre menatap keempat teman baiknya sekaligus orang-orang kepercayaannya.
"aku tahu, aku juga merasakannya dengan Resha. jika kalian sudah menemukan gadis yang benar-benar membuatmu hilang kendali maka kamu tidak akan bisa lagi melihat yang lain" angguk Damian menyesap kopi hitamnya sedikit. Alexandre manggut-manggut mendengar perkataan Damian barusan.
"aahh, mana ada gadis seperti itu" kata Seth mengibaskan tangannya ke udara.
"karena kamu belum menemukan gadis itu" tatap Damian. Jack dan Bian hanya diam mendengarkan perdebatan kedua sahabatnya itu jika bertemu. Alexandre memejamkan netranya untuk mengistirahatkan tubuhnya agar bugar saat mendarat nanti. Ia tidak mau membuang waktu beristirahat lagi setiba disana dan menunda untuk bertemu Kirana.
jet pribadi yang membawa mereka sudah memasuki bandara Stuttgart, mereka memakai mantel panjang karena hawa dingin menusuk kulit mereka. sebuah kendaraan telah menanti kedatangan kelima pemuda matang dan tampan itu.
"aku langsung menemui Kirana dengan Jack, kalian bebas kembali ke hotel" kata Alexandre sebelum masuk kedalam mobil yang akan mengantarnya. mereka mengangguk dan segera berpisah menuju ke tujuan masing-masing.
Jack meminta driver segera ke tujuan karena bos nya ini sudah tidak bisa ditahan lagi untuk melihat gadisnya dari dekat.
"itu dia disana sedang menikmati sarapan dengan Pramana" isyarat kepala Jack, Alexandre menatap lekat interaksi Kirana dengan kembaran pertamanya itu. ia tertawa lepas mengobrol dengan Pramana sembari makan, tak lama Wijaya dan Wilaga mendekat dan bergabung dengan mereka berdua, Alexandre tersenyum lebar menatap keempat nya mengobrol bersama.
"jika aku kesana apakah dia akan tertawa lepas seperti itu lagi" hela nafas Alexandre.
"entah, dia selalu ceria jika berkumpul begitu" gumam Jack menatap kearah yang sama.
"apa sebaiknya kita pulang saja. aku merasa tidak pas waktunya" kata Alexandre lirih, Jack menoleh menatapnya kesal
"ayolah Al, mana orang yang selalu membuat orang lain babak belur setiap hari tanpa lelah. jangan jadi pengecut, kamu tidak tau jika tidak mencobanya. siapa tau jika dia melihatmu sekarang malah membuatnya jauh lebih bahagia karena lengkap berlima" ucap Jack memberi semangat.
Alexandre mengangguk dan keluar dari kendaraan dan melangkah mendekat ke arah mereka berempat.
"hello" berdiri Alexandre tegak disamping Kirana yang sedang berbincang dengan ketiga saudara kembar laki-laki nya.
__ADS_1
"aahh, hai. silahkan duduk kak" sapa Pramana tersenyum setelah melihat paras Alexandre yang dikenalnya. Alexandre tersenyum mengangguk dan duduk di tempat yang masih kosong.
"sarapan" sodor Wilaga memberikan roti isi dan segelas coklat hangat kedepan Alexandre.
"terimakasih" angguk Alexandre meminum coklat hangatnya.
"hhhmmm, jadi bagaimana endingnya tadi" tanya Wilaga kembali ke percakapan mereka sebelumnya yang belum selesai karena kedatangan Alexandre barusan.
"aku jawab sekenanya hingga dia terlihat kesal dan kata-kata yang bikin aku geleng-geleng kepala adalah 'dasar orang udik' gitu katanya" kesal Kirana, ketiga kakak laki-laki nya tertawa lebar mendengar cerita Kirana.
"berarti dia benar, karena kamu orang udik jadi nggak ngikutin gaya dia" tunjuk jemari Wilaga, Kirana menatap Wilaga datar.
"belain adiknya kenapa, tidak salah juga karena dia berasal dari Inggris, U know. Inggris gaes, beda sama Indonesia yang tentram" angguk-angguk Kirana pada akhirnya setelah memikirkan hal itu lebih lama. mereka mengobrol sembari menikmati sarapan mereka.
"datang kapan kak dari Inggris" tanya Wijaya.
"tadi dan langsung kesini" senyum Alexandre menatap Kirana sekilas.
"apa bersama yang lain" toleh Wijaya, Alexandre mengangguk.
"sudah lama kita tidak bertemu, apa sering bepergian" tanya Pramana, Alexandre mengangguk.
"apa kak Al mau ikut kita atau mau sama yang lain" toleh Kirana.
"aku ikut denganmu" angguk Alexandre menatap manik netra Kirana, "ayo".
"Kirana" teriak seseorang dari arah belakang, mereka menoleh kebelakang.
"aaahh, akhirnya ketemu juga" dekatnya sambil mengatur nafas yang tersengal-sengal.
"Doni kan, kamu Doni kan" ulang Kirana membulatkan netranya melihat pemuda yang menyusulnya. Doni manggut-manggut seraya memegang perutnya.
"aku mencarimu setelah kamu pindah sekolah, ternyata malah ketemu disini. di negeri orang" kata Doni antusias, Kirana tersenyum lebar.
"apa kabar, kamu kuliah disini juga" tanya Doni merasa senang, Kirana mengangguk.
"aahh, tentu saja kamu melanjutkan disini, kalo nggak kenapa kamu ada disini. bodohnya aku" ketuk kening Doni spontan, Kirana mengibaskan jemarinya ke udara "kamu terlihat berbeda sekarang, kenapa Wijaya ikut juga" tanya Doni heran. Kirana menatap ke empat laki-laki yang disampingnya sekarang.
"aahh, mereka bertiga adalah saudara kembar ku. Wijaya, Wilaga dan Pramana. kami kuliah di universitas yang sama hanya beda jurusan" angguk Kirana. Doni melebarkan netranya seperti tidak percaya dengan perkataan Kirana barusan.
"begitu rupanya, itu kenapa kamu selalu bersama Wijaya" angguk Doni lega.
__ADS_1
"aku akan mengurus masuk universitas dulu. kapan lagi kita ketemu, bolehkah aku meminta nomor ponselmu" tanya Doni antusias.
"aku belum mengurus nomer untuk disini karena baru ngurus untuk masuk, jika kita bertemu lagi kita dapat bertukar nomer nanti, maafkan aku Don" hela nafas Kirana.
"it's Ok. see U next time" angguk Doni tersenyum lebar melambaikan tangannya meninggalkan Kirana dan yang lain.
"ingat anak kelas ujung lorong yang selalu bertemu di perpus kak" toleh Kirana, Wilaga mengangguk.
"kenapa dia langsung bisa mengenali mu, K. kamu memakai kaca mata dan tompel tidak seperti sekarang" toleh Wilaga, Kirana mengendikkan bahunya.
"apa diam-diam dia menyukai dan mengikutimu" tepuk bahu Pramana.
"mungkin, nggak usah mbahas yang beginian. nggak asyik" geleng Kirana.
"tapi yang sebelah juga sama lho" goda Pramana.
"masa, banyak yang lebih baik di luaran sana daripada aku. ya kan, udah pantes untuk jadi penerus keluarga" tatap Kirana sekilas.
"duh, potek hati abang dek" lagak Wilaga, Kirana memukul bahu Wilaga. Alexandre tersenyum melihatnya.
"besuk kita balik dulu kan" tanya Wijaya melihat jadwal mereka.
"woke, sore aja kalo begitu. aku ketemu seorang teman"
"aku akan kabari Popi agar mengatur jadwalnya" angguk Pramana.
"berapa lama kalian disini" tanya Alexandre, "3 weeks" jawab Kirana.
"kakak berapa lama tinggal disini" tanya Kirana.
"just to see you, sweet" jawab Alexandre.
"aahh, I see. jadi mau ikut kita balik juga" tanya Kirana mengerti.
"tentu, jika kamu mengijinkan untuk selalu ada di dekatmu lagi" angguk Alexandre.
"don't start again" senyum Kirana menggelengkan kepalanya. Alexandre tersenyum.
Hai.... Hai.... Hai.... all readers, terimakasih telah setia menanti kelanjutan perjalanan cinta Kirana, selalu tunggu kelanjutan kisahnya yaa...
Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya. stay healthy all
__ADS_1