
Pagi-pagi buta rumah keluarga Bagaskara dan Bimantara telah terlihat terang benderang, semua pekerja berjibaku mengerjakan pekerjaan rumah lebih cepat dari biasanya, mereka bergerak lebih cepat untuk mempersiapkan kenyamanan para penghuni rumah dan tamu nanti nya.
granddad mengetuk ruangan Kirana, tidak terdengar ada pergerakan di dalamnya. ia membuka pintu pelan dan mendapati Kirana baru saja keluar dari bathroom.
"granddad" senyum Kirana lebar melihat laki-laki tua yang seumuran dengan kakeknya berdiri didepan pintu ruangannya.
"granddad kira malah belum bangun" peluk granddad mencium kening cucu perempuan satu-satunya itu. Kirana memeluk nya erat mengusap punggungnya.
"granddad pagi sampai disini dan langsung kemari" duduk granddad di sofa panjang Kirana.
Seorang pekerja rumah masuk dan membawakan secangkir teh panas, meletakkannya di meja kecil didepan granddad dan segera undur diri.
"tunggu Kira sebentar, ganti baju. Jangan kemana-mana" lihat Kirana sebelum menghilang dibalik walk closet nya. Granddad tertawa pelan melihat tingkah gadis kecil yang sudah menemaninya selama 19 tahun ini. Ia menanti cucunya berganti pakaian dengan menyeruput teh manis panas yang menyegarkan kepalanya.
"granddad" seru Kirana.
"ya, granddad masih disini" jawabnya tak kalah seru.
Kirana segera menyelesaikan semuanya, "sudah. Kenapa waktu berjalan sangat cepat hari ini" gumam Kirana pelan menghampiri granddad dan membantunya untuk berdiri.
"sudah bertemu kakek" toleh Kirana memastikan granddad nya nyaman berjalan.
"sudah, dia ada didepan. Melihat para pekerja yang sibuk menata rumah agar terlihat lebih artistik" senyum granddad lebar, Kirana tersenyum melihat granddad nya antusias dan exciting.
"mbak, tolong teh panas nya granddad di ruangan Kirana, bawa kedepan" senyum Kirana, pekerja rumah mengangguk tersenyum segera melaksanakan tugasnya.
Mereka menuju rumah tengah dimana kakeknya sedang duduk melihat kesibukan diluar dan di dalam rumah.
"kakek, sudah minum" datang Kirana melihat kakeknya berdiri didekat pekerja taman.
"sudah, itu dia" angguk kakek menunjuk minuman yang ada di meja kecil, Kirana mengangguk ketika pekerja meletakkan minuman granddad nya.
"masih terlalu pagi untuk berisik seperti ini" hela nafas Kirana menatap kesibukan mereka semua.
granddad dan kakek tertawa kecil melihat dengan sukacita, dimana rumah terlihat lebih hidup, "kakek merasa senang jika rumah selalu meriah seperti ini. Banyak orang yang datang silih berganti agar rumah tidak sepi" kata kakek, Kirana melihat mereka yang bekerja merapikan tempat perhelatan acara.
"ini tidak sesuai dengan konsep hanya keluarga saja" kata Kirana.
"ini lah keluarga kita, keluarga yang besar" tawa granddad dan kakek. Kirana ikut tertawa pada akhirnya melihat keduanya.
"adek" datang Kalai, Kirana menoleh dan nyengir melihat bundanya sudah menaruh kedua tangan di pinggangnya.
"siap bund, dah selesai membersihkan diri nih. Tinggal menunggu apa yang harus dilakukan" angguk Kirana mengerti.
"kek, granddad. Kirana harus dibikin cantik dulu jadi jangan kemana-mana nanti Kirana kembali" peluk Kirana bergantian.
__ADS_1
"Ok, sudah sana selesaikan urusanmu dulu. Bunda udah menunggu dengan sabar dari tadi" usap pipi granddad, Kirana tersenyum melambaikan tangan meninggalkan keduanya.
"siap" senyum Kalai menggenggam jemari Kirana yang sudah dingin.
"harus bund, sudah sampai sejauh ini perjalanan Kirana masak harus rewind lagi" angguk Kirana menghela nafasnya, Kalai menepuk-nepuk pelan punggung tangan Kirana.
"semua akan baik-baik saja, kalian harus saling memahami kesulitan maupun kekurangan satu sama lain" ingatkan Kalai, Kirana mengangguk.
"jam berapa nanti mereka datang bund"
"menurut perkiraan jam 9, setelah itu jam 10 akan diadakan akad" kata Kalai, Kirana mengangguk. Mereka sampai diruangan untuknya mempersiapkan diri sebelum acara.
Kirana duduk disamping kedua kakaknya yang terlihat tegang menunggu keluarga Berardi sampai di kediaman Bagaskara, "ini udah jam 8 lebih"
"tenang kak, masih ada waktu kan. Jangan bikin Kirana sakit perut nih" kata Kirana ikutan tegang.
"jangan-jangan mereka nggak jadi datang karena menganggap mu jelek banget" toleh Wilaga, Kirana memukul punggung Wilaga keras hingga si empunya punggung berteriak kesakitan.
"jangan deket Kirana, yang jauh sana" kata Kirana kesal
"jangan godain Kirana, kenapa sih" lerai Pramana.
"tau nih kak Wilaga. Bawaannya pingin dibikin babak belur tubuhnya"
"mungkin kak Al baru aja sadar sekarang kalo kamu itu jelek banget dek, makanya dia dan keluarga nya secara mendadak ngebatalin acara pagi ini" tambahi Pramana, Kirana menghela nafasnya panjang dan menyemburkannya kuat-kuat agar tidak terpancing emosi melihat kedua kakak nya yang tertawa lebar mengerjai nya.
"mereka sudah terlihat memasuki jalan masuk kesini, bentar lagi mereka sampai dan kita akan diarahkan oleh pekerja wedding untuk jalannya prosesi acara"
Tak berapa lama iringan kendaraan masuk memenuhi halaman rumah keluarga, puluhan orang keluar dari dalam kendaraan. Keempatnya melihat dari jendela yang bisa memandang langsung kedepan halaman.
"keluarganya besar juga" gumam Pramana.
"udah ah... karena mereka jarang ke Indonesia jadinya acara ini paling dinantikan oleh keluarga besar mereka disini. Kakek dan granddad menyambut kedatangan mereka, ayo kita kesana. Nggak sopan kalo telat" tepuk bahu Kaila, Pramana dan Wilaga mengikuti langkahnya meninggalkan Kirana sendirian.
"tunggu disini dulu kak, jika sudah waktunya untuk keluar akan kami dampingi pergi ketempat acara" senyum pekerja wedding menemani Kirana didalam ruangan.
"Ok" angguk Kirana pelan.
"semuanya akan berjalan lancar, semuanya akan baik-baik saja" senyum pekerja wedding kembali mencoba menenangkan Kirana yang terlihat tegang.
"apakah terlalu kentara" tatap Kirana cemas, ia tersenyum lebar mengangguk.
"wajar karena ini moment istimewa buat anda berdua"
"ya, benar" angguk Kirana pelan.
__ADS_1
"semua calon pengantin pasti akan merasakan hal yang sama, cemas, tegang. Semuanya campur aduk, hal itu karena hari yang dinanti datang dengan penuh kegembiraan. Kami berusaha mewujudkannya dengan baik dan spesial untuk anda berdua" senyumnya. Kirana tersenyum tipis mengangguk.
"mereka tiba sesuai dengan rencana, jadi semuanya akan berjalan dengan baik"
"semoga" gumam Kirana menatap keluar jendela besar yang mengarah ke halaman depan.
"wow, kak" datang mama Icha melihat Kirana yang dibalut kebaya terlihat sangat cantik dan berbeda, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan menatap tak percaya gadis di depannya. Kirana tersenyum lebar melihat mama Icha yang heboh.
"U're really beautiful"
"thanks ma" angguk Kirana pelan.
"no, sweetie. U are really beautiful" ulang Icha.
"ternyata waktu tidak akan berjalan mundur, tubuh yang dulu sangat kecil ketika lahir sekarang menjadi gadis yang sangat cantik sekali dan segera akan menjadi pengantin" tak percaya Icha menatap Kirana lekat.
"c'mon ma"
"let me hug you for a while"
Kirana berdiri dan memeluk pelan mama Icha.
"mama sangat bangga memiliki anak gadis seperti mu, dek" ucap Icha bergetar. Kirana mengusap bahu mama Icha pelan.
"makasih ma, makasih telah menjadi bagian terpenting dalam hidup Kirana"
Icha menerima tissue dan menghapus airmata nya pelan.
"mama akan menemanimu disini, sebentar lagi mereka akan memintamu menjadi bagian dari keluarga Berardi" duduk Icha disamping Kirana.
"apakah semuanya baik-baik aja ma"
"tentu, dek. Semuanya baik dan lancar berkat Tuhan yang melancarkan segala urusan umatnya" angguk Icha.
Kirana menghembuskan nafasnya beberapa kali menetralisir debaran jantungnya yang berdetak lebih kencang.
"pernikahan mu sama seperti Momi mu dulu, dek" senyum Icha, Kirana menoleh.
"benarkah"
"tentu, Popi mu juga tiba-tiba menikahi Momi mu tanpa memberitahu Momi sebelumnya, kejutan katanya" tawa kecil Icha mengingat pernikahan Kaila dan Pramudya saat itu.
Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya.
luv....luv....luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....
__ADS_1
stay healthy all...