
Kirana menggeliat saat jemari Alexandre mengusap pipinya pelan, "Sweet, aku pergi"
"hhmmm" gumam Kirana.
"ponselmu sudah terhubung denganku, jadi aku akan mengetahui apapun tentang mu" kecup kening Alexandre pelan dan segera meninggalkan Kirana yang masih terlelap dalam mimpi.
Alexandre keluar bungalow dan menghampiri dua orang kepercayaannya yang menjemputnya. mereka segera naik kedalam chopper dan bergegas meninggalkan bungalow.
pagi hari
Tania menatap tanpa berkedip sosok penjaga Kirana yang baru. Kaila mengelus kepala Tania pelan, "ngapain"
"siapa dia, kenapa tidak ada pemberitahuan jika ada orang baru dari uncle Tigor" tanya Tania pelan.
"memang tidak, itu permintaan Alexandre agar hanya dia yang mengawal Kirana" jawab Kaila tenang, Tania membelalakkan netranya tidak menyangka jawaban Momi Kirana yang terlihat biasa-biasa saja.
"Mom" seru Tania
"what, sweetie. Mom hanya bisa menghela nafas saat dia memintanya begitu" jawab Kaila. Tania mengerucutkan mulutnya menatap penjaga itu sekilas.
Kirana melangkah mendekati penjaga Al yang membungkuk sedikit saat dirinya mendekat, ia berbincang sedikit lama sebelum menemui Momi dan saudarinya.
"sangat tampan" senyum Kaila melihat penjaga Kirana.
"hhmmm. bikin potek hati Hayati" angguk Kalai yang segera duduk disamping Kaila
"emak-emak kalo liat yang bening dikit kagak sadar kalo punya laki" tatap Tania
"makanya pas nggak sadar kita liat yang bening gini bikin hati mak nyess" senyum Kalai. Tania memutar bola netranya pelan.
"kak, yang lain gimana" tanya Tania kepo.
"oper kontrak" jawab Kirana asal, Tania ngakak mendengar jawaban Kirana.
"mau dong kak oper yang itu" ujar Tania pelan.
"lha anak ini masih junior school kelas 2 lho" tatap Kalai.
"nggak kuat lihat dingin banget orangnya" jawab Tania, mereka tertawa bersama.
"banyak bicara bisa-bisa malah nggak boleh dekat dengan Kirana oleh Al" kata Kaila, Kirana menghembuskan nafasnya panjang.
"benar-benar membuat repot, apa bedanya coba dengan penjaga dari uncle Tigor" topang dagu Kirana.
"pertama, dia tidak bisa menaruh mata-mata disampingmu kak. kedua, jika penjagamu jatuh hati maka hukumannya akan jauh lebih berat dari yang lain dan ketiga, tidak akan ada laki-laki yang berani mendekatimu lagi mulai dari sekarang karena akan langsung disikat habis" kompori Tania. Kirana memukul bahu Tania.
__ADS_1
"dibilangin ngeyel sih kak, jangan nangis kalo kejadian nanti" tatap Tania. Kirana menutup kedua telinganya dengan jemarinya agar tidak mendengar Tania
"mau pada kemana hari ini" datang Popi.
"pulang aja Pop, enakan rebahan dirumah. bisa selonjoran pake daster" rajuk Kirana, Popi mengusap bahu Kirana dan mengangguk.
"kuy, berangkat sekarang aja" semangat Kirana beranjak dari duduknya.
"makan dulu, nggak usah buru-buru" tatap Kaila, Kirana beringsut kembali ketempat nya semula setelah melihat Mominya berucap barusan.
"nggak ada nyalinya" goda Tania segera berlari keluar, Kirana melempar makanan kecil kearah Tania yang berlari sambil menjulurkan lidahnya meledek Kirana.
"makan yang banyak, badan kayak papan penggilesan gitu, kurus banget" tatap Kaila.
"udah gemoy ini Mom, berat kalo olahraga jika tambah" protes Kirana.
"he em, pipinya aja tembem banget gini" cubit Popi keras. Kirana menggeplak tangan Popi nya yang menarik pipi tembem nya.
"kalo diliat-liat kenapa Kirana lebih mirip Popi nya yaa" tatap Kalai melihat dengan seksama.
"wajar bund, anak perempuan satu-satunya jadi hanya bisa mewarisi bentukan Popi, nggak bisa minta request yang lain" jawab Kirana kesal, Pram mengacak rambut hitam anaknya itu.
"bikin lagi Mom, biar dapet tiga yang kayak dia" lirik Pram, Kirana berdehem berat. "udah tua Pop, mikir yang udah gede-gede gini mau diapain" kata Kirana.
"isshh, apaan sih Pop. nggak ada yang mikir gitu" tatap Kirana menggeleng.
setelah beberapa hari berlalu keluarga Bagaskara bersiap untuk pergi ke negara kincir angin mengunjungi keluarga mereka.
Kirana merentangkan kedua tangannya keatas setelah mendarat di bandara Schiphol setelah berjam-jam hanya duduk didalam kabin.
"sungguh menyenangkan" teriaknya senang karena akhirnya ia dapat berdiri dan melemaskan badannya, "anginnya agak dingin pake sweater mu dengan benar" ulangi perkataan Momi, Kirana meraih sweater dengan meringis. "makasih Mom, U are the best"
mereka bergantian keluar dan berjalan di lorong yang sudah diperiksa oleh beberapa penjaga mereka.
"apa mereka baik-baik saja ya" toleh Kirana, Wijaya mengangguk pelan.
"tentu saja, nanti kalo bertemu pasti heboh, terutama Devina yang senang melihat Wijaya" angguk Wilaga. mereka bergegas masuk menuju kendaraan yang akan membawa mereka menemui sepupu mereka yang lain.
"Mom, apakah Momi sakit" sentuh Kirana memperhatikan paras Kaila yang terlihat pucat.
"sedikit lelah, dek. jika sudah sampai Momi akan tidur terlebih dahulu" angguk Kaila, Pramana berpindah duduk didekat mominya memberi pelukan untuk meredakan nyeri di kepala.
"terimakasih kak" sandarkan kepala Kaila dan memejamkan netranya kembali. Popi melihat mereka berdua dengan tenang, "seharusnya itu bagianku lho kak" protes Pram pada akhirnya.
"hhmm" dehem Pramana pelan. Kirana mengeluarkan minyak aromaterapi untuk diusapkan di kaki, punggung tangan dan pelipis Mominya.
__ADS_1
"dek, temani Momi di sana" tatap Pram, Kirana melihat netra Popinya yang terlihat tegas.
"baik, Pop" angguk Kirana segera tidak membantah perkataan Popinya yang sudah mengeluarkan aura seorang ayah.
"kalian berempat jagain disamping Momi, semuanya. nanti ada yang akan mengurus semuanya" kata Popi, Wijaya menganggukkan kepalanya.
"satu bulan lagi, Popi yang akan menjemput kalian berdua" kata Popi, Kirana dan Wijaya kembali menganggukkan kepalanya.
sesampainya dikediaman Saka dan Icha. Kaila segera merebahkan dirinya di ranjang besar dan segera tertidur dengan lelap.
"Momi merasa badannya lelah ma, jadi harus tidur. karena kemarin kita dikejar waktu berpindah dari satu ketempat yang lain" peluk Kirana.
"kasihan Kai, apakah sudah minum penghilang pusing" usap kepala Icha. Kirana menggeleng, "Mom hanya butuh tidur katanya"
"baiklah tidak apa, besuk mama akan melihatnya kembali" senyum Icha.
"apakah kamu betah di Indonesia" tanya Icha. Kirana mengangguk membuat minuman coklat dingin untuknya.
"sebulan lagi harus balik ke Inggris karena Popi ingin berkumpul" hirup aroma coklat Kirana lama.
"hhhmmm, mama tau bagaimana rasanya. jadi mama tidak akan berkata apapun" senyum lebar Icha. Kirana mengulas senyum tipis.
"jadi ketemu terus dengan Alexandre dong nanti" kedip netra Icha berulang kali.
"jangan suka gitu ah, ma. kasihan anaknya diledekin terus. jadi, kapan papa pake baju adat saat upacara pernikahanmu kak" datang Saka tiba-tiba, Kirana memutar bola netranya jengah mendengar ledekan sepupu popi dan sahabat mominya itu.
Icha tertawa melihat Saka yang memeluk Kirana hangat. "iihh, papa suka bener kalo ngomong. jadi pingin mereka jadi kecil lagi jangan cepet-cepet gede" tatap Icha.
"apa kamu baik-baik saja kak, nggak diapa-apain Wilaga, kan" tanya Saka memutar badan Kirana.
"memangnya aku apain sih pa" tanya Wilaga, Saka nyengir melambaikan tangan menepuk bahu ponakannya itu pelan.
"jailmu itu yang terkadang bikin geregetan. liat aja ntar devina" senyum Saka lebar.
"mama jadi ada temennya untuk ngerjain Devina" tawa Icha membayangkan ekspresi anak perempuannya dengan Wilaga nanti.
"apa Alexandre tidak ikut" tanya Saka.
"dia akan olahraga dengan kelompok lain beberapa hari lagi. takutnya mereka sudah mengetahui keberadaan Kirana" jawab Wilaga pelan, Saka menoleh dengan cepat kearah Wilaga meminta kepastian.
"dia adalah penjaga bayangan Alexandre selama ini, sekarang menjaga Kirana. berarti lawannya sudah mengendus keberadaan K. makanya popi meminta kami berempat ngumpul jadi satu di Inggris" ucap Wilaga, Saka mengusap rahangnya pelan.
Hai.... Hai.... Hai.... all readers, terimakasih telah setia menanti kelanjutan perjalanan cinta Kirana, selalu tunggu kelanjutan kisahnya yaa...
Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya. stay healthy all
__ADS_1