Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 42


__ADS_3

Mereka saling berpandangan dengan status yang berbeda sekarang, Alexandre menatap Kirana yang terlihat berbeda dalam balutan kebaya melekat sempurna ditubuhnya. Ia mengulas senyum menerima ciuman tangan dari Kirana yang telah menjadi pendamping hidupnya dengan status resmi, yang akan menemaninya dalam suka dan duka. Dibalasnya dengan mencium kening gadis kecilnya itu pelan dihadapan semua orang, mereka berdua saling memakaikan cincin pengikat di jari manis masing-masing.


Kirana mencium punggung tangan dan memeluk keluarganya secara bergantian. "selamat menjalani hidup dengan Alexandre, Kira. selalu menurut apa kata suamimu" usap punggung kakek pelan, Kirana mengangguk berkaca-kaca. Granddad memeluk Kirana lembut. "be like U grandmom and Momi" senyum granddad, Kirana mengangguk tersenyum meneteskan air mata. Kaila menatap Kirana lama sebelum memeluknya, "be good wife" tangkup pipi Kaila, Kirana manggut-manggut tidak bisa berkata apapun lagi, Popi Pram memeluk keduanya dan ketiga kakak laki-laki nya memeluk mereka bertiga.


"kita akan selalu ada untuk mu, dek. Tidak akan berkurang sedikitpun, ditambah dengan Alexandre yang juga akan selalu menjagamu" bisik Popi. Kirana mengangguk berulangkali tanpa kata.


"selamat, dek" senyum Kalai memeluk Kirana lembut, "bunda, ayah dan Tania juga selalu ada". Kirana menghapus pelan airmata nya melihat semua keluarga berkumpul di hari spesialnya.


Alexandre mengusap bahu istrinya berulangkali untuk memberinya kekuatan, semuanya larut dalam kebahagiaan sampai tidak terasa mengeluarkan airmata kebahagiaan.


"ayo, kita abadikan moment bersama keluarga besar. Hari ini adalah hari besar yang patut untuk dikenang dimana keluarga Berardi dipersatukan dengan keluarga Bagaskara dan Bimantara" senyum ayah Alexandre membuat semuanya ceria. Mereka tertawa dan segera mengabadikan moment yang istimewa itu bersama.


Kekompakan dua pembawa acara membuat suasana menjadi semakin ceria siang itu, beberapa kali mereka membuat keluarga besar ketiga keluarga itu tertawa dan bernyanyi dengan riang gembira.


Alexandre selalu menggenggam erat jemari Kirana tanpa mau melepaskannya, kemana Kirana bergerak menghampiri semua keluarga maka Alexandre akan dengan setia berada disisinya.


"kesana dong, kak. Ngumpul bareng temenmu yang lain. Masak ngekor mlulu sih" tatap Kirana memperlihatkan jemarinya yang bertautan dengan jemari Alexandre.


"kita barusan resmi dimata agama dan negara lho, yang" tolak Alexandre, Kirana mengerucutkan mulutnya tak suka.


"nggak gini juga kan, kak. Nggak enak sama yang lain" alasan Kirana, Alexandre menggeleng pelan.


"Al, biarin Kirana bertemu dengan yang lain. Dia nggak akan hilang" tepuk bahu ibu mengerti.


"makasih, bu. Kadang kak Al terlalu protektif hingga susah bergerak" angguk Kirana berbisik pada ibu Alexandre yang tersenyum lebar.


"udah, temui teman-teman mu yang lain. biarkan Kirana bersama yang lainnya juga" kata ibu Alexandre melepaskan genggaman jemari Alexandre cepat hingga Kirana segera menjauh sembari melambaikan tangan. Alexandre menghembuskan nafasnya melihat Kirana yang bergabung dengan saudara-saudaranya. Ia segera menghampiri keempat teman baik sekaligus bawahan nya yang sedang berkumpul di meja paling pinggir.


"aahh, selamat big, ternyata kamu menikah duluan diantara kami. Nggak nyangka jika malah duluan nikahan" salute Seth, mereka melakukan salute bersama-sama.


"jika berpisah selama dua tahun lebih membuat cepat menikah maka aku mau agar tidak usah lama-lama menderita" gumam Demian.


"sabar, bro. Jika sudah bertemu jodoh kita akan tau" angguk Jack tiba-tiba.


"tumben kata-kata mu bisa menenangkan jiwa" toleh Demian, Jack mengukir senyum tipis disudut bibirnya melihat keluarga Kirana yang tengah berkumpul.


"lama tidak pulang ke Indonesia, apa kamu tidak pulang, jack" tanya Seth, Jack menghela nafasnya panjang.


"big ingin ikut pulang jika nanti aku akan pulang" kata Jack.


"kenapa, apa karena tempatmu bisa dijadikan honeymoon" selidik Seth, Alexandre tersenyum smirk.


"Kirana harus ke Jerman seminggu lagi, dengan waktu segitu tidak akan cukup untuk membuatnya diam dirumah" jawab Alexandre.


"istrimu sangat berbeda, sampai aku tidak mengenalinya tadi" kata Seth.


"makanya dia hanya milikku"

__ADS_1


"wow, easy, big. aku tidak bermaksud apapun" angkat tangan Seth mengerti batasnya.


"gadis yang bersama Kirana" isyarat dagu Jack, Alexandre menoleh sesaat.


"dia sepupu Kirana, anak dari saudara kembar Mominya, masih school. Dan hanya dia satu-satunya saudara perempuan" kata Alexandre, Jack tersenyum tipis.


"don't ever think" mengerti Alexandre, Jack tersenyum mengangguk.


"no, aku seperti mempunyai adik perempuan, mengerti maksudku" tatap Jack.


"dia seperti Kirana, hanya lebih ceria" angguk Alexandre pelan.


"siapa laki-laki yang baru saja sampai" isyarat Bian.


"teman dekat Tania, dia teman dari Wilaga. Kakak kedua Kirana" jawab Alexandre.


"ibu, ayah. Mau istirahat di dalam" senyum Kirana duduk disamping ibu Alexandre.


"tentu, apakah sudah boleh" angguk ibu Alexandre, Kirana mengangguk tersenyum.


"mereka yang akan membawa ibu dan ayah ke ruangan untuk beristirahat" kata Kirana ketika dua pekerja rumah keluarga Bagaskara mendekat. Ibu mengangguk berdiri mengajak ayah Alexandre untuk segera beristirahat sebentar. Kaila menemani langkah ibu Alexandre menuju ke ruangan untuk mereka beristirahat.


"yang" dekati Alexandre, Kirana menoleh.


"aku akan melepas kebaya ini dulu kak, bersama dengan mereka. nanti aku akan menyusul" mengerti Kirana.


Alexandre membantu Kirana untuk berjalan menuju ruang ganti, Tania mengambil alih membantunya duduk. Kedua asisten stylist segera mencopot aksesoris yang menempel di tubuh Kirana.


"kak, nanti malam akan ada acara dengan belakang rumah" toleh Tania, Kirana mengangguk menghela nafas setelah asisten stylist mencopot kebaya yang dipakainya.


"apakah harus memakai kebaya lagi" tanya Kirana.


"tidak, memakai gaun biasa" senyum asisten menggeleng.


"Kira"


"ya, granddad" senyum Kirana saat melintas diruang tengah setelah melepas kebayanya.


"dimana yang lain"


"entah, granddad. Kirana habis melepas kebaya dibantu dengan asisten stylist barusan, jadi Kira belum bertemu dengan yang lain selain Tania"


"baiklah, granddad melihat kerumah tengah dulu"


Kirana mengangguk dan berjalan menuju ruangan pribadinya untuk membersihkan badannya.


Alexandre sedang mengelap badannya saat Kirana masuk ke dalam, "sudah selesai, baby" senyum Alexandre, Kirana mengangguk dan masuk ke dalam bathroom untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


"segarnya" hela nafas Kirana keluar dari bathroom.


"ada juice mangga tadi diantar kemari" tunjuk Alexandre, Kirana menghampiri dan meminumnya sampai habis.


"aku akan istirahat sebentar kak, karena nanti malam masih ada acara mengundang tetangga belakang rumah" tatap Kirana, Alexandre mengangguk.


"aku akan menemani mereka di luar nanti. Kamu istirahatlah dulu"


Kirana seger merebahkan dirinya di ranjang besar miliknya, "nyaman banget, punggungku serasa mau copot" gumam Kirana memejamkan netranya. Alexandre tersenyum mengecup kening istri kecilnya itu dan berjalan keluar ruangan, Kirana segera tertidur dengan nyenyak setelah kepergian Alexandre.


Alexandre berkumpul dengan keluarga besar Kirana di rumah tengah dimana sedang duduk santai beristirahat. "Kirana mana" tanya Popi pram melihat Alexandre yang hanya sendirian.


"tadi bilang mau tidur, Pop. Karena kecapekan, nanti kalau acara nya mau mulai, Al bangunin" senyum Alexandre, Pram menghela nafasnya panjang, "iya, Popi mengerti"


"akan ada acara musik jadi mungkin berisik, tapi itu permintaan para kepala rumah tangga belakang agar lebih meriah katanya" kata Kaila.


"ya"


"nyonya, ada tamu" datang seorang pekerja rumah Bagaskara, Kaila menoleh mengangguk.


"adakah yang kamu undang" tanya Pram, Kaila menggeleng pelan.


Alexandre beranjak menjauh ketika menerima panggilan di ponselnya, "ya" sapa nya pelan.


"apakah tidak bisa kamu tangani sendiri"


"hari ini tidak bisa, baiklah. Aku beri waktu 4 hari untuk menyelesaikan, hhmm.." tutup Alexandre menatap layar ponselnya yang telah meredup sesaat, Bian tampak berjalan dari rumah belakang menghampiri Alexandre, ia mengangguk hormat tersenyum melihat keluarga Alexandre yang baru berkumpul.


"big" salam Bian pelan, Alexandre mengangguk mengajaknya untuk menjauh ke rumah depan yang lebih sepi.


"apakah kita harus kesana sekarang" tanya Bian, Alexandre menggeleng.


"tidak usah, dia sudah bisa mengatasinya. Karena ini bukan pertama kali buatnya untuk melenyapkan hal ini"


Bian mengangguk mengerti, "apa jack juga sudah tau" tanya Bian.


"seharusnya" angguk Alexandre.


"aku tidak bisa membayangkan bagaimana Jack akan menghukum mereka jika salah melangkah" hela nafas Bian.


"mereka sudah belajar banyak dari sebelumnya jadi beri mereka kepercayaan" angguk Alexandre pelan.


Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya.


luv....luv....luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....


stay healthy all...

__ADS_1


__ADS_2