
Alexandre keluar dari ruangan pribadi Kirana, ia melihat sekeliling namun tidak ada sosok yang dicarinya.
"nona Kirana ada dirumah bunda, tuan muda. Berkumpul bersama karena tuan Alexandre belum bangun jadi nona Kirana menitip pesan" jawab seorang pekerja rumah, Alexandre mengangguk dan segera pergi kesana.
Kirana terlihat penuh dengan coretan bedak basah dan rambut yang di ikat sembarangan, Alexandre tertegun sesaat dan terlihat menahan ketawa, Kirana mengerucutkan mulutnya melihat suaminya yang ikutan meledeknya.
"apa liat-liat"
Alexandre menggeleng mengangkat kedua tangannya ke atas melihat istri nya seperti boneka panda imut.
"Luv U" gerak bibir Alexandre menatap lekat istrinya itu, Kirana memutar bola matanya jengah.
"dia kalah terus jika bermain seperti ini" kata Wijaya, Tania manggut-manggut.
"dan itu merupakan kesempatan langka" tambah Pramana mencoret paras adek perempuannya. Kirana menatap tajam kakak pertamanya tidak rela.
"apa liat-liat" naik turunkan alis Pramana, Kirana menghela nafasnya tak berdaya melihat saudaranya yang selalu senang mengerjainya.
"istriku" dekati Alexandre, Wilaga menahan langkah nya mendekati Kirana. "hanya cukup melihat saja dari sini, dia tidak dalam bahaya jadi turunkan penjagaan mu" senyum Wilaga, Alexandre tertawa pelan.
"aku tau, aku hanya ingin memeluknya saja dan tidak akan mengganggu permainan kalian. Aku berada di luar jangkauan" angguk Alexandre mengangkat kedua tangannya. Kirana mengibaskan tangan di depannya melarang Alexandre mendekat.
"disitu aja, jangan mendekat" kata Kirana, Alexandre tetap mendekat dan memeluk Kirana erat.
"aku hanya bisa mendoakan mu dari situ" bisik Alexandre, Kirana memukul bahu Alexandre tidak senang, mereka tertawa melihat Kirana yang menderita.
"akan aku beri balasannya nanti" tatap Kirana lekat kearah empat saudaranya.
"hhmmm... Jangan banyak bicara, selalu saja akan memberi balasan tapi tidak pernah terlaksana" ujar Pramana. Kirana tertawa pelan manggut-manggut.
__ADS_1
"mau berangkat jam berapa" lipat kedua tangan Momi Kaila memandang mereka berenam, Pramana tertawa melihat Momi yang selalu menyelamatkan Kirana saat mereka seperti ini.
"ini baru pukul berapa, Mom. C'mon" kata Pramana, Kaila menggeleng. Mereka merapikan peralatan yang dipakai mengerjai Kirana dan segera beranjak.
"ini baru jam 8 Mom" peluk Wilaga, Kaila mengangguk berjalan menuju rumah Timur. Kirana melepas ikatan rambutnya yang tidak beraturan dibantu Alexandre, "kliatan lucu, yang" senyum Alexandre. Kirana melebarkan netranya tidak suka.
"beneran, seperti anak panda" senyum Alexandre. Kirana beranjak mencuci parasnya di bathroom luar. Alexandre merapikan paras Kirana "wanna be carried" senyum smirk Alexandre, Kirana segera meloncat dibelakang Alexandre yang tertawa pelan.
"kebiasaan udah gede" tepuk pantat Wijaya, Kirana menjulurkan lidahnya merasa senang.
"berapa hari di sini" bisik Kirana
"hhmmm, about a week. apa tidak apa-apa" toleh Alexandre, Kirana berdehem pelan memejamkan netranya yang lelah.
"dia tidur" lihat Pramana mengusap kepala Kirana pelan, Alexandre menoleh melihat Kirana yang tidak bergerak lagi. "dia sudah nyaman dengan keberadaan mu kak, jangan sakiti dia" toleh Pramana, Alexandre mengangguk pelan. "I won't"
Alexandre meletakkan tubuh istrinya dengan pelan agar tidak bangun, ia merapikan tubuh Kirana agar tidak sakit badannya. "temani aku tidur" tahan pergelangan tangan Kirana, Alexandre tersenyum mengusap pipi Kirana dengan lembut.
"hhmmm" gumam Kirana melepaskan pegangan tangan nya, Alexandre mengecupi pipi Kirana pelan. Ia keluar dengan senyap agar Kirana tidak terbangun.
"apa dia tidur" tengok Kaila melihat anak menantunya keluar dari ruangan, Alexandre mengangguk menempati kursi kosong disamping kedua orang tua istrinya. "jika akan keluar pasti dia akan tidur dan harus membawanya dalam keadaan tidur" senyum Kaila, Alexandre tersenyum.
"apa dia menyusahkan mu, Al" tanya Kaila, Alexandre menggeleng.
"justru dia membuat Al menjadi orang yang tetap sadar, Mom. Jika tidak ada Kirana mungkin Al bukan lagi manusia, mungkin menjadi mesin pembunuh" hela nafas Alexandre, Kaila mengusap punggung anak laki-lakinya itu. "terkadang seseorang menjadi sandaran hati untuk orang yang benar-benar berarti, Kirana jarang memperlihatkan perasaan kepada orang lain, apalagi dengan di luar keluarganya. Entah, kenapa dia bisa menahan itu" topang dagu Kaila, Alexandre menatap paras Momi Kirana.
"dia sama seperti mu, yang. Terkadang senyuman menghiasi hati yang pedih agar jangan terlihat oleh orang lain, mungkin terlihat tidak berarti bagimu dan Kirana. Atau karena dia hanya anak perempuan satu-satunya yaa... Jadi langsung menurun dari Mominya. Kalau begitu, kita harus buat tiga lagi anak perempuan, honey. agar seperti diriku" senyum Pram menaik turunkan alis netra nya menatap istri cantiknya, Kaila tertawa terbahak-bahak menggelengkan kepalanya.
"Ok, berarti melihatku mengeluarkan banyak darah dan puasa 1 bulan it's Ok" tatap Kaila, Pram menutup mulut istrinya dan menggeleng.
__ADS_1
"tidak, sudah cukup bagiku. Melihat keempat bocah tengil itu sudah cukup bagiku walau mereka lebih banyak membuat jantungku berdetak lebih kencang mengkuatirkan keadaan mereka jika jauh. But it's Ok with me" angguk-angguk Pram, Kaila tertawa lebar melihat Pram.
"eehhmm" angguk Kaila kembali. Alexandre tertawa lebar tanpa suara melihat kedua orangtua istri kecilnya sedang mengobrol. Wilaga datang dari arah depan dan segera duduk bersandar di punggung kursi.
"dari mana kak" senyum Kaila melihat anak laki-laki keduanya terlihat letih
"dari pamit kepada nya sebelum pergi lama"senyum Wilaga meminum dengan cepat air mineral yang diberikan kepadanya.
"and.." tunggu Kaila menopang dagunya mendengar cerita Wilaga yang menggeleng pelan.
"no and, Mom. Dia tidak ingin memiliki seseorang dulu sebelum selesai study, just like my only sista" senyum Wilaga, Kaila tersenyum menepuk bahu anaknya keras.
"fighting, kak. if she is U soul mate then it will be yours" Wilaga tergelak mengunyah buah potong di meja.
"jika kak Al aja bisa, maka aku juga bisa, Kirana yang jelek kayak gitu aja punya kak Al" kata Wilaga, Pram memukul bahu Wilaga satunya dengan keras hingga empunya mengaduh kesakitan.
"siapa bilang anak perempuan ku jelek haa... Enak aja, anak perempuan ku itu paling cantik, banyak yang mau sama dia. Tapi laki-laki ini buru-buru untuk mengikatnya agar tidak dilirik laki-laki lain" kata Pram. Ketiga laki-laki itu tertawa lebar saling memandang satu sama lainnya. Kaila menggelengkan kepalanya melihat kelakuan ketiga laki-laki itu kesal.
"nggak yang tua dan yang muda, sama aja suka bercanda"
"no honey, not old but mature" gerakkan jemari telunjuk Pram ke kanan dan ke kiri menanggapi perkataan istrinya itu, Kaila memejamkan netranya menganggukkan kepalanya sekali lagi.
"Kai" hampiri Kalai dari box ajaib yang menghubungkan rumah keluarga, mereka menoleh dan melihat bersamaan.
"apa sudah mau berangkat" duduknya didepan mereka, Kaila menggeleng menyodorkan buah potong kepada saudara kembarnya itu.
"belum, jika kita akan berangkat mereka akan menemui mu untuk berpamitan" senyum Kaila, Kalai mengangguk mengunyah buah potong.
Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya.
__ADS_1
luv....luv....luv U all readers se kebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....
stay healthy all...