
Gadis yang bersama ketos tadi juga bergerak mendekati bangku mereka bertiga, "duh, ngapain kesini sih" ketusnya.
"lha situ yang ngapain kemari, kita mah kagak ngapa-ngapain. Duduk anteng aja banyak yang datang, apalagi kalo kita ngider kemana-mana tambah banyak yang ngantri" celutuk Sisy, gadis itu menggerutu menatap tajam Sisy tidak suka namun Sisy tidak menanggapi nya.
"apa kabarmu Rana" tanya ketos tidak memperdulikan keduanya, Kirana mengangguk pelan menatap ketos yang berdiri dihadapannya saat ini. "baik, tos. As U can see"
"hhmm, nglanjutin kuliah dimana. Tidak ada kabar darimu setelah kelulusan, apalagi waktu kita ada acara kamu juga tidak datang" kata ketos, Kirana tersenyum tipis.
"ada acara keluarga"
"alah, paling-paling juga makan di kaki lima" sindir gadis yang berada di samping ketos.
"lho, kok loe tau Del. Pantesan waktu itu gue liat loe juga" angguk-angguk Sisy membela Kirana, Arka tertawa lebar melakukan hi five dengan Sisy. Gadis yang dipanggil Delia itu terlihat kesal menatap dua makhluk yang berada disamping Kirana.
"apa mau ke depan, kayaknya acara sudah akan dimulai, Rana" kata ketos, Kirana menggeleng.
"ntar aja, tos. Masih pingin disini menikmati lalu lalang yang lain. Hal yang nanti akan sangat ku rindukan" kata Kirana pelan, Delia berdecih menatap Kirana.
"ya pasti, orang dikampung sepi kagak ada kayak beginian"
"loe itu serba tau deh Delia. Tapi kenapa kalo sekolah kagak ada pintar-pintar nya, nggak pernah denger kalo loe pernah masuk 10 besar" cibir Sisy, ketos melangkah menjauh dari mereka segera, Delia melebarkan netranya semakin kesal melihat Sisy yang selalu menjawabnya, Sisy melihat Delia dengan tatapan menantang namun Delia segera mengikuti langkah ketos yang semakin jauh.
"sana ngekor, emang ketos mau sama gadis ganjen kayak loe" sumpahi Sisy, Kirana menepuk bahu Sisy menggeleng.
"semoga yang dapat ketos, dirimu deh. Biar nggak bertepuk sebelah tangan" harap Kirana, Sisy tertawa ngakak mengamini permintaan Kirana. mereka berjalan keliling gedung sekolah setelah lama duduk di bangku.
"kenapa lagi itu anak" geleng-geleng kepala Sisy melihat ke bawah dimana Delia sedang beradu argument dengan seorang gadis lain.
Kirana memperhatikan dengan seksama di samping Sisy, "yuk kita lihat yang lagi perform tuh" ajak Kirana tidak mau terlibat terlalu jauh dengan Delia karena dia tidak mau memperlihatkan sisi liar nya.
"Kirana" teriak seseorang, mereka menoleh bersamaan dengan Delia yang melihat mereka juga.
__ADS_1
"kamu balik ke Indonesia rupanya, pantas aku tidak melihatmu disana" katanya berlarian ke arah mereka bertiga, Kirana tersenyum menepuk bahu Doni pelan.
"nanti malam aku akan balik karena sudah selesai urusan disini. Apakah kamu barusan datang" tanya Kirana pelan, Doni mengangguk.
"kalo begitu kita nikmati hari ini" jalan Kirana mendekat kearah panggung, ketiganya juga segera mendekat. Mereka menirukan pengisi acara bersama dengan yang lainnya. Mereka berjingkrak-jingkrak mengikuti irama dan nada yang dimainkan oleh pengisi acara hari itu, semuanya larut dalam euforia lagu yang sedang digandrungi anak muda saat ini.
Hari semakin beranjak sore, Alexandre menatap tubuh Kirana yang masih tetap semangat bersama yang lainnya mengikuti irama musik, ia tersenyum melihat istrinya tertawa bahagia bersama sahabat perempuan nya. Urusannya sudah selesai lebih cepat dari jadwal yang sudah diatur. Bian menatap para gadis yang masih muda itu dengan tenang, "apa Tania tidak sekolah disini juga" tanya Bian, Alexandre menggeleng.
"mereka tidak mau satu sekolah. Nggak seru kalo selalu ketemu katanya" topang dagu Alexandre ditepian pagar menatap gadisnya yang belum menyadari keberadaannya.
"serasa sudah tua kalo begini" lihat Damian.
"lebih matang kalo para lelaki tua di keluarga Kirana bilang" ralat Alexandre, Damian mengangguk. "benar, lebih matang" ulangnya.
"apa ada yang tidak suka dengan Kirana" lihat Bian dengan seksama, Alexandre mengamati sekitar dan mendapati beberapa gadis sedang bergerak mendekati Kirana dan temannya diantara lainnya.
"hhmmm" gumam Alexandre pelan melihat situasinya, beberapa gadis itu sengaja berjingkrak-jingkrak terlalu dekat dengan Kirana agar Kirana hilang keseimbangannya karena terdorong dari beberapa arah. Kirana seketika berhenti dan menatap lekat Delia dan beberapa orang temannya itu. Ia menepuk bahu Sisy untuk beranjak dari tempat itu menuju ketempat yang lainnya, Sisy mengangguk dan mengikuti Kirana keluar dari kerumunan penikmat musik.
"kenapa" datang Arka melihat Kirana dan Sisy menjauh, memastikan keadaan keduanya baik-baik saja
"Delia and the genk sudah mulai nggak sportif noh" jawab Sisy kesal, Arka melihat dimana Delia juga sedang memandang mereka sesaat.
"biarin aja, emang sukanya seperti itu. Kalian tunggu disini sebentar aku akan ambil air mineral dulu" kata Arka bergerak kesamping hall mencari box pendingin. Kirana dan Sisy tetap bergerak mengikuti irama walau berada jauh dari arena panggung.
Alexandre tersenyum melihat tingkah Kirana. "apa kamu sanggup, big. beberapa hari tidak melihat istri mu" ledek Damian, Alexandre diam tidak bersuara. "tidak, tapi akan lebih baik jika dia tidak melihat ku melakukan hal yang dibencinya yaitu menyakiti orang" kata Alexandre tenang, Damian menghela nafasnya menatap mereka yang terlihat tanpa beban.
"keluarga Bagaskara dan Bimantara juga tidak lepas dari hal itu, big. Aku juga mengerti hal itu, ada bang Tigor yang selalu setia. Memback up itu untuk keluarga mereka, sekarang mereka mempunyai dukungan dari mu maka tidak akan ada yang berani menyakiti keluargamu" kata Damian.
"tentu"
"aku juga tidak ingin ada yang menyentuh istriku" kata Alexandre, Damian mengangguk.
__ADS_1
"terkadang perangaimu yang posesif kepadanya membuatnya tidak nyaman, kau tau. Big"
"aku tidak ingin dia berpaling ke lain hati"
"Kirana bukan gadis yang gampang luluh hanya karena melihat paras maupun harta" bela Damian.
"nggak gampang membuatnya melihat laki-laki dengan cinta" kata Damian
"aku tau, makanya hanya dia yang aku lihat"
Damian tertawa kecil menatap Alexandre, "ya, aku lupa kamu adalah laki-laki yang tidak bisa dengan sembarangan perempuan, tapi kenapa harus Kirana. Gadis baik yang jadi pujaan laki-laki" hela nafas Damian, Alexandre menatap tajam sahabatnya itu walau dia tahu Damian tidak bermaksud macam-macam.
"Luv will guide U home, right" jawab Alexandre pada akhirnya, Damian mengangguk mengiyakan.
Di arah sana terlihat Kirana sedang menahan tangan seorang gadis yang akan menyentuh kulit nya, Alexandre segera berdiri tegak di ikuti yang lainnya berjaga-jaga. Ia segera melesat turun menghampiri istrinya.
"don't u dare with me" senyum smirk Kirana mencengkeram erat lengan tangan Delia yang terlihat sangat marah dengan perlakuan Kirana.
"dasar ****" teriaknya keras hingga beberapa orang melihat mereka. Kirana melepaskan dengan kasar tangan Delia dan meninggalkan hall dengan tenang namun Delia mengejarnya ingin menjambak rambutnya dari belakang, secara refleks kaki Kirana menendang perutnya hingga ia terjatuh.
"maaf, aku tidak bermaksud begitu" ujar Kirana mendekat.
Delia berteriak keras memaki Kirana dengan kata-kata kasar, Kirana hanya menatap Delia dengan tatapan datar. Alexandre bergerak cepat berada tepat dibelakang Kirana dengan Bian dan Damian. Delia seketika berhenti melihat ketiga laki-laki yang sangat tampan berada di belakang Kirana, ia dibantu beberapa temannya berdiri dengan memegangi perut yang baru saja terkena pukulan.
Sisy segera berdiri di samping Kirana. "kamu yang melakukan hal-hal yang tidak baik lebih dulu, jangan memutar balikkan apa yang terjadi, Delia" seru Sisy berang.
"kami diam bukan berarti kami tidak tau cara membalas perlakuanmu yang semena-mena kepada orang lain. Kamu pikir kami takut padamu hah... Apa kamu pikir kamu aja yang cantik di sekolah ini, heh... Jangan mimpi terlalu tinggi Del kalo jatuh akan sakit" sinis Sisy menatap Delia yang terlihat tidak terima.
Semakin kesini semakin panas nih gengs.... Cerita nya semakin seru kan hehehe...
Luv U all sekebon pisang goreng yang hangat dengan secangkir kopi hitam tanpa gula.
__ADS_1
Selamat membaca karyaku semuanya...
See U next chapter..