
Hingga menjelang senja, tidak ada kesibukan yang berarti dari para penghuni rumah selain para pekerja yang membersihkan dan membereskan rumah yang terlihat berantakan karena aktivitas semalaman, mereka masih terlelap dalam tidur karena kelelahan.
Kirana merasakan berat di bagian perutnya seperti ada sesuatu yang menimpanya, Ia bergerak pelan memicingkan netranya melihat sesuatu itu. "kak, ngapain disini" secara refleks Kirana menjauh, Alexandre membuka netranya sesaat.
"tidur, capek banget. Seperti olahraga berhari-hari" serak Alexandre menjawab pertanyaan Kirana.
"iya, tapi nggak disini juga kan tidurnya. Popi dan Momi akan menegur kakak nanti" tepuk bahu Kirana pelan.
"kenapa"
"apanya yang kenapa"
"kita udah nikah kemarin, yang"
"masak sih, beneran" buka netra Kirana.
Alexandre berdehem melanjutkan tidurnya lagi, "besuk malam masih ada acara, jadi kita bisa istirahat seharian. Diundur besuk sore karena permintaan tetangga" jelaskan Alexandre, Kirana bangun kemudian berjalan menuju bathroom.
"nona" sapa pekerja rumah Bagaskara, Kirana mengangguk berjalan ke tempat air mineral dan meminumnya sekali teguk.
"ada yang bangun nggak, mbak"
"belum ada non, hanya nona Kirana yang terlihat keluar dari kamar" senyumnya, Kirana mengangguk dan melihat para pekerja sedang menyingkirkan tanaman yang sudah rusak dan merapikan yang masih bisa diselamatkan. Ia berjalan menyusuri ruang tengah hingga menuju rumah tengah dimana kakek dan granddad nya berada namun keadaan di sana juga tampak sunyi maka dapat dipastikan bahwa keduanya masih beristirahat, ia kembali berjalan menuju rumah belakang dimana keluarga bunda dan ayahnya tinggal di sana. Kirana menghela nafasnya karena tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.
"berasa sendirian" celingukan Kirana keluar dan menyusuri rumah dari halaman.
"non" hampiri penjaganya.
"apa semuanya sibuk" jalan Kirana.
"ya non"
"apa nggak capek seharian ini mengurus rumah" lihat Kirana.
"tidak non, kami dibantu pihak luar untuk membereskan semua kerusakan" geleng nya sembari berjalan mengikuti Kirana.
"apa makanan nya tercukupi untuk energi bekerja"
"tentu, non. Tidak ada yang kurang, semua telah dipersiapkan sesuai arahan nyonya Kaila dan nyonya Kalai"
__ADS_1
"baguslah, jadi mereka tidak akan sakit"
Kirana berjalan menuju garasi kendaraan yang ada di rumah tengah, ia segera mendekati motor kecil dan menaiki nya.
"aku akan keluar sebentar, hanya dari jalan masuk sampai kembali kesini" kata Kirana tersenyum smirk memakai jaket dan helmet nya.
"nona" seru penjaga tidak menduga tindakan Kirana yang sudah melesat pergi meninggalkan halaman rumah. Penjaga itu segera menghubungi penjaga yang ada di depan agar menghentikan laju Kirana sebelum para penjaganya menyusul namun mereka kalah cepat dengan gerakan gesit Kirana yang telah melajukan motor kecil klasik itu.
Kirana tersenyum menang melintasi jalanan ibu kota yang masih saja penuh sesak dan padat, ia mengikuti arus pengguna jalan hingga ke kawasan tempat nongkrong anak muda, ia berbelok dan akhirnya memarkirkan motor nya didepan cafe dimana gerombolan muda-mudi juga menghabiskan sore itu disana.
"hot Chocolat" pinta Kirana duduk di kursi single depan meja panjang, bartender yang mengangguk mendengar pesanan nya.
"ini dia" letakkan mug berisi coklat panas didepan Kirana.
"thanks" angguk Kirana meminumnya pelan agar tidak membakar lidahnya sembari mengamati sekitar dengan lirikan netranya pelan.
"apa baru datang ke sini" sapa bartender ramah, Kirana menoleh dan mengangguk.
"apa mau mencoba food disini, tidak terlalu berat, tapi cukup mengenyangkan. Biasanya anak-anak muda yang datang kesini menikmati dan menyukainya" senyumnya ramah.
"benarkah, kalo begitu. Buatkan satu" angguk Kirana, bartender itu mengangguk meminta rekannya yang lain untuk membuatkan makanan pesanan Kirana.
"rame" gumam Kirana pelan.
"bukan weekend tapi masih rame aja, benar-benar tipikal anak muda" gumam Kirana pelan merasakan kesendirian yang benar-benar sendiri tanpa ponsel ataupun penjaga, tanpa memikirkan ada bahaya ataupun tidak disekitarnya. Ia kembali menyesap coklat nya sambil menunggu makanan yang dipesannya.
Tidak butuh waktu lama bagi Alexandre untuk menemukan keberadaan gadis kecilnya itu berada, ia keluar dari kendaraan yang diparkir tepat disamping motor Kirana. gadis itu melambaikan tangan tersenyum lebar melihat kedatangannya dari dalam cafe, ia menghembuskan nafasnya panjang segera melangkah menghampiri istri yang kemarin pagi resmi dinikahinya.
"ponsel dan kartumu ketinggalan" letakkan Alexandre dimeja panjang depan Kirana dimana bartender berada di seberangnya.
"makasih, apa mereka segera memberitahumu" tanya Kirana menyodorkan coklat panasnya yang berubah menjadi coklat hangat, Alexandre mengangguk duduk disamping istrinya itu dan meminum coklat hangatnya.
"tentu saja, aku juga merasa bosan jika harus berada dirumah hanya untuk tidur" senyum smirk Alexandre menatap Kirana lekat, Kirana bergidik ngeri mendengar jawaban Alexandre barusan.
"kamu selalu main kabur-kaburan begini, yang" topang dagu Alexandre menoleh menatap paras Kirana yang tanpa make up keluar dari rumah namun terlihat imut dan cantik seperti anak gadis yang masih sekolah, ia menyadari beberapa pemuda melihatnya dan mencoba untuk menghampirinya tadi namun gagal ketika Alexandre datang.
seorang penjaganya segera datang mendekat, Kirana menyerahkan kunci motor untuk dibawanya pergi, "maaf bang, lain kali aku lebih jauh lagi mainnya hehehehe... Yang, jaketku ambilin" senyum Kirana, Alexandre beranjak mengikuti langkah penjaganya untuk mengambilnya.
"kak"
__ADS_1
Alexandre menoleh melihat Kirana yang sedang mengobrol dengan bartender yang dari tadi berada didekatnya.
"mau coba makanan ini, bartender yang menyarankan untuk mencobanya karena banyak customer yang datang memesannya. Tadi makanan yang aku makan juga atas recommended nya" perlihatkan Kirana antusias.
"apa kamu ingin mencobanya" tanya Alexandre, Kirana manggut-manggut, ia mengangguk mengiyakan.
"apa orang rumah tau kalo aku pergi diam-diam, yang" pegang jemari Kirana, Alexandre mengangguk.
"tentu saja, pekerja rumah sedang banyak-banyak nya dan baru sibuk jadi semuanya akan langsung terdengar hingga ujung"
Belum selesai Alexandre berucap, dentingan ponsel tanda panggilan dan pesan masuk berebutan saking banyaknya.
"dah ada kak Al" perlihatkan Kirana tanpa melihat lawan bicaranya karena nanti akan panjang kali lebar kali tinggi jika dia menampakkan parasnya di layar ponsel.
"barusan Mom, ponsel dan kartu nya ada di her room" angguk Alexandre mengambil alih ponsel Kirana karena anaknya sedang menikmati makanan, Ia memperlihatkan Kirana yang terlihat makan dengan lahap.
"tadi masih pada tidur, cuman Kirana doang yang bangun. Lainnya sibuk, kecuali bang ipat yang ngekorin Kirana mlulu" cerita Kirana sampai menggembung pipinya penuh dengan makanan.
"nggak ada yang diajak main, jadi ketika melintas di garasi ayah, ada motor nganggur"kata Kirana.
"kebiasaan" kata Popi.
"iya, kebiasaan ama Momi kalo nggak ngapa-ngapain bisa motoran kemana-mana" cengir Kirana, Momi Kaila melebarkan netranya mendengar penuturan Kirana.
"kenapa Momi dibawa-bawa sih. ntar mama riding sendirian aja kalo gitu ama Tania"
"lah, emang Tania udah boleh bawa. Kenapa Kira kagak tau" julurkan lidah Kirana bernada mengejek.
"lah, benar-benar nih anak. Motornya udah dibawa pulang belum sama bang ipat" tanya Kaila berkacak pinggang. Alexandre hanya mengangguk mendengar perdebatan ibu dan anaknya tanpa bermaksud memotong atau menengahi karena akan fatal akibatnya.
"isshh, udah Momi cantik. Bang ipat noh, udah main pergi aja" isyarat dagu Kirana.
"mamam dulu, dek. Biar jadi daging. Momi tidur lagi" lambai Kaila memutuskan hubungan.
"kenapa yang jadi anak kesayangannya dirimu sekarang" tatap Kirana, Alexandre nyengir tidak bisa berkata apa-apa.
Selamat beraktivitas all reader, sehat selalu yaa...
Luv U all sekebon pisang goreng yang hangat dengan secangkir kopi hitam tanpa gula.
__ADS_1
Selamat membaca karyaku semuanya...
See U next chapter..