Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 35


__ADS_3

kendaraan berhenti tepat disisi dalam rumah samping keluarga Bagaskara, Alexandre mengangkat tubuh Kirana yang tertidur setelah dari klinik tadi, Wijaya dan Pramana benar-benar telah menunggu di depan pintu samping seperti yang dikatakannya tadi, "she sleep" buka pintu lebar Pramana, Alexandre berjalan masuk melewati keduanya dengan tenang, box ajaib terbuka lebar dengan Popi di dalamnya yang sedikit terkejut saat mengetahui putri nya dalam pelukan laki-laki pilihan Kirana.


"dia sedang sedih, Pop. Hingga tadi harus ke klinik agar bernafas normal kembali saat dalam perjalanan pulang" tunduk hormat Alexandre masuk dengan Kirana yang masih dalam dekapannya. Popi mengangguk mengusap kepala Kirana pelan.


"apa Momi kalian sudah tau" tanya Popi Pram pelan, Pramana menggeleng.


"Popi aja yang ngasih tau, itu kewajiban Popi" jawabnya santai, Popi menatap Pramana putra pertamanya itu dengan kesal.


"urusan sama Momi, kalian menyodorkan Popi. Giliran senang-senang sama Momi, Popi belakangan taunya" sungut Popi Pram, Wijaya menepuk bahu Popi nya pelan. "itu udah takdir Popi"


Pramana menahan senyum dibalik tangannya, Pram menghela nafasnya panjang merasa ke empat anaknya selalu begitu. Alexandre meletakkan Kirana di tempat tidurnya yang besar dan mengatur kenyamanan tidur Kirana.


"biarkan pintunya terbuka, kita ada di ruang tengah masih bisa melihat nya dengan jelas" isyarat dagu Pram kepada ketiga anak muda itu yang mengikuti langkahnya keluar dari ruangan pribadi Kirana.


"adek baik-baik aja kan" datang Momi Kaila dari arah rumah ayahnya.


"tidur mom, setelah mengeluarkan emosinya dan berujung nafasnya tersengal-sengal hingga harus pake nafas buatan, dibawa ke klinik terdekat oleh kak Al tadi saat perjalanan pulang ke rumah" usap bahu Wijaya.


"begitukah, syukurlah kalo sudah membaik. Anak itu berpikir terlalu dalam hingga tidak bisa mengontrol emosinya" hela nafas Momi duduk disamping suaminya.


"mau aku pijat honey" senyum Pram memberikan pijatan di punggung istrinya agar lebih rileks. Kaila tersenyum mengusap pipi suaminya dan menciumnya pelan. "makasih sayang, U are the best" gombal Kaila. Pram tergelak mendengar ucapan istrinya hingga membuat ketiga anak muda muda itu memutar bola netranya melihat kemesraan yang diberikan kedua orangtuanya itu.


"kalian juga akan bersikap sama dengan Popi saat bertemu tulang rusuk kalian nanti" kata Momi Kaila. Pram mengangguk sambil memberikan pijatan dipunggung istrinya.


"Mom, Pop" duduk tegak Alexandre dengan serius, Kedua suami istri itu menoleh dan saling berpandangan.


"ada yang ingin dibicarakan kayaknya nak Al" senyum Momi Kaila, Alexandre mengangguk mengiyakan hingga kedua saudara Kirana mendengarkan dengan serius juga, Pramana meminum dengan cepat jeruk dinginnya.


"jika boleh meminta, saya ingin mengikat Kirana menjadi pendamping hidup saya dan jika diperbolehkan dalam waktu dekat ini kita berdua bisa secara sah dimata agama dan negara. Mumpung semua keluarga besar berkumpul di Indonesia, jadi tidak perlu saling menunggu. Kemarin Kira mengiyakan permintaan saya itu, menyetujuinya dengan kesadaran penuh" kata Alexandre tenang. Pram menghela nafasnya sebentar, "apa kamu benar-benar menginginkan Kirana baik dan buruknya"


"iya, Pop. Baik dan buruknya, sehat dan sakitnya, jelek dan bagusnya. Sampai maut memisahkan kita berdua, semua yang ada di Kirana akan Al jaga seperti Al menjaga ibu dan kakak perempuan Al" angguk Alexandre mantap. Ia kemudian memperdengarkan percakapan antara dirinya dan Kirana saat itu.


"Al tidak akan membatasi Kirana melakukan apapun, karena Al percaya, Kira tidak akan membiarkan laki-laki lain mendekatinya" senyum Alexandre. Kaila menopang dagunya menatap Pram sembari tersenyum menaik turunkan alis netranya serasa dejavu melihat Alexandre meminta putrinya seperti dirinya dulu saat pram memintanya kepada ayah.

__ADS_1


Pram terdiam sebentar menatap istrinya dan kedua anak laki-laki nya itu. "Wilaga belum ada disini" ujar Pram. Pramana, Wijaya dan Kaila menggerakkan badannya seperti orang yang lelah menunggu jawaban yang nggak penting.


"jangan menggunakan ku sebagai alasan Popi untuk menunda sesuatu yang baik untuk Kirana, Pop. Popi sudah tau jawaban kami bertiga jika kak Al meminta kirana, bukan" datang Wilaga sedikit tergesa-gesa dari luar rumah. Mereka menoleh lega karena yang dijadikan alasan sudah datang, Pram terlihat tidak bisa berkutik.


"apa tidak bisa ditunda lagi hingga beberapa tahun" tanya Pram mencoba bernegosiasi mengulur waktu sebisa mungkin.


"pop, c'mon. Apa mau anak perempuan Popi satu-satunya jadi yang terakhir menikah" tanya Pramana.


"umurnya baru 19, belum ada" bela Pram.


"Kirana tidak akan Al bawa ke rumah sendiri selama dia masih menghendaki untuk bersama Momi dan Popi serta keluarga besar lainnya, Justru Al merasa tenang ketika Kira bersama keluarga saat Al tidak bisa disampingnya selalu" senyum Alexandre mengerti.


"Momi umur 20 saat menikah dengan Popi. Kakek tidak mengatakan tidak boleh kan, Pop" kata Wijaya.


"kenapa kalian jadi membuat Popi merasa sendirian begini" jawab Pram.


"jadi bagaimana, Pop. Apakah Al bisa menemani Kirana selamanya" sentuh jemari Kaila.


"tapi, Popi merestui mereka berdua, nggak" tanya Pramana.


"ya, Popi merestui kalian berdua. Karena Kirana memang hanya bisa dekat dengan Al lebih dari seorang teman dibandingkan anak muda yang lainnya" jawab Pram akhirnya, Kaila menggenggam erat jemari Pram saling menguatkan.


"kita tidak akan kehilangan anak-anak kita, yang. Justru kita akan mendapatkan harta yang lebih berharga ketika mereka semua menjalani kehidupannya sendiri setelah dewasa" tatap Kaila lekat, Pram tersenyum memeluk istrinya lembut.


"benar, mereka akan menjalani kehidupan bersama orang yang mengerti dan menyayangi mereka. Kita akan terus bersama menemani sampai Tuhan memanggil kita, seperti ke tiga orang tua kita menemani kita hingga nanti" kata Pram mengerti, Kaila mengusap punggung Pram pelan.


"kita masih tetap akan bersama Pop, Mom. Seperti Popi dan Momi menjaga granddad dan kakek selama ini. Kami tidak akan lupa bagaimana Popi dan Momi membesarkan dan menyayangi kami berempat. Itu adalah anugerah terindah bagi kami berempat bisa menemani Popi dan Momi hingga akhir kami nanti" kata Pramana yang di iyakan oleh kedua adiknya yang lain. Alexandre juga menganggukkan kepalanya.


"benar, apa yang dikatakan kak Pramana" kata Alexandre, Pramana memicingkan netranya merasa ada yang aneh dengan perkataan Alexandre barusan.


Kaila tertawa kecil mendengar panggilan Alexandre kepada ketiga anak laki-laki nya itu.


"bentar-bentar kak, ngapain manggil aku dengan kata 'kak'. Aneh tau nggak" geleng Pramana.

__ADS_1


"tapi kan kalian kakaknya Kirana jadi aku harus memanggil kalian bertiga kakak juga, kan" senyum smirk Alexandre.


Popi dan Momi tertawa lebar mendengar perdebatan mereka berdua, "tentu, memang aturannya begitu" angguk-angguk Pram merasa bisa membalas keusilan mereka berdua tadi.


"no, big no" silangkan tangan didepan dada Wilaga


"sekali lagi kak Al bilang begitu maka akan kami cabut dukungan untuk menikahi Kirana" kesal Pramana, "tapi itu panggilan yang bagus lho, kak" tambah Kaila.


"Mom, nggak ada semenit kami keluar bergantian" sanggah Wilaga tidak terima dengan sebutan Alexandre barusan.


"rasain, makanya jangan tinggalin Popi tadi sendiri" balas Popi merasa senang.


"Pop" geleng kepala Wilaga agar Popi nya tidak meneruskan untuk mengerjai mereka bertiga.


"udah ah, bercandanya" tepuk Kaila di bahu suaminya.


"apa keluarga mu sudah tahu tentang rencana mu Al" tanya Kaila.


"ya Mom, ibu sudah memberitahu ayah semuanya, dan jika sudah pasti maka mereka akan datang langsung ke sini dari negara X" garuk-garuk tengkuk Alexandre.


"what, berarti kemarin kamu pergi menemui mereka" terkejut Wilaga. Alexandre mengangguk.


"juga ada sedikit urusan sebelum ayah dan ibu datang, jadi sekalian"


"Kirana meminta hanya keluarga kecil aja yang menghadiri, dia menginginkan kesakralan acara" hela nafas Alexandre pelan.


Mereka saling berpandangan setelah mendengar penjelasan Alexandre barusan.


Hai.... hai.... hai..... all readers dukung terus karyaku yaa.... terimakasih banyak sebelumnya.


luv....luv....luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak sudah selalu mendukung karyaku. terimakasih.....


stay healthy all...

__ADS_1


__ADS_2