Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah

Gadis Kecil Ketua Bawah Tanah
chapter 45


__ADS_3

"bayar kak" kata Kirana


"udah kenyang" tanya Alexandre memastikan keadaan Kirana.


"udah, ntar lagi kalo laper" cengir nya berdiri disamping suaminya sembari meraih ponsel dan kartunya.


"kemana"


"kedepan, nunggu didalam" senyum Kirana.


"ikut bentar" geleng Alexandre meraih jemari Kirana agara mengikutinya membayar makanan yang dimakannya tadi.


"mau pesen apalagi, yang. mau dibawa pulang" toleh Alexandre, Kirana menggeleng membalas beberapa chat yang masuk kedalam pesannya.


"kak, lusa ada acara dengan anak-anak school dulu. ketemuannya di school karena ada acara sekolah" perlihatkan chat Kirana.


"berarti dengan Wijaya berangkatnya"


"tidak, makanya Kirana minta ijin berangkat bertemu dengan lainnya karena kak Wijaya tidak mau datang"


"baik, ntar pulang pergi aku antar"


"Ok" angguk Kirana membalas chat dari teman-temannya. Alexandre menuntun Kirana untuk keluar dari cafe dan masuk ke dalam kendaraan yang dipakai Alexandre tadi.


"yang, ada perlu lain nggak" jalankan kendaraan Alexandre.


"hhmm, nope" lihat keluar kaca Kirana tanpa berniat untuk berbicara lebih jauh, Alexandre menatap sekilas istri nya yang terlihat diam saja.


"aku belum bertemu dengan kakak perempuan mu" toleh Kirana tiba-tiba.


"mungkin dia sibuk hingga tidak bisa datang"


"atau memang dia tidak mau datang" ralat Kirana, Alexandre menggeleng.


"Tidak, karena dia juga mempunyai keluarga mungkin belum pas waktunya, apalagi kita menikah hanya dalam hitungan hari. Aku lebih takut jika kamu menghilang lagi" sentuh jemari Alexandre.


"apa dia menentang pernikahan kita" tanya Kirana, Alexandre terdiam lama.


"sepertinya begitu, ketika aku memberitahunya jika kita akan menikah dia terlihat tidak baik-baik saja" angguk Alexandre pada akhirnya. Kirana menarik tangan nya dari genggaman Alexandre.


"yang" tahan Alexandre tidak mau melepaskan tangan Kirana.


"apapun yang terjadi kita sudah menikah dan aku tidak mau kamu merasa aku tidak akan membelamu atau mempertahankan mu. Sudah cukup bagiku kehilanganmu saat itu dan itu karena kebodohanku" seru Alexandre.

__ADS_1


"kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal, jika aku tau dia tidak menyukai ku, apapun alasannya aku tidak akan mau menikah denganmu" seka airmata Kirana, Alexandre segera menepikan kendaraan ke bahu jalan yang kosong.


"K, aku tidak mau kamu menangis hanya karna orang lain. Ini pilihanku, pilihanmu. Kita berdua yang menjalaninya, aku tidak bisa memaksa dia untuk itu. Aku mencintaimu, menyayangi mu lebih dari apapun, kamu adalah tanggung jawab ku mulai dari kemarin ketika Popi menjabat tanganku saat aku mengikrarkan janji suci, kita akan lalui apapun bersama kamu akan selalu aku lindungi, aku akan selalu ada membelamu, berada di sisimu selalu" dekap Alexandre erat.


"aku tidak bisa kak" geleng Kirana mencoba melepaskan dekapan suaminya.


"yang" tangkup pipi Alexandre menghapus airmata Kirana.


"kita bersama sekarang, ayahku merestui pernikahan kita, ibuku selalu memberiku semangat untuk terus mendekatimu dan akhirnya doanya membawaku untuk meminang mu kemarin secara sah dimata agama dan hukum"


"dan satu lagi, kamu dilarang untuk mengeluarkan airmata lagi hanya boleh tertawa bahagia, aku akan selalu ada. Kamu adalah istriku, tulang rusukku yang hilang" senyum Alexandre, Kirana menangis semakin deras. Alexandre mengusap pipinya dengan tissue berulang kali sembari mengatakan kata-kata yang menenangkan jiwa belahan hatinya.


"apa yang kamu kuatirkan" toleh Alexandre mengusap pipi kanan Kirana yang hanya diam setelah percakapan mereka tadi.


"yang"


"baby"


"honey"


"let me be U happiness" senyum Alexandre, Kirana memejamkan netranya tidak menanggapi perkataan Alexandre.


"kita ketemu ayah dan ibu sekarang, mereka akan kembali malam ini" kata Alexandre membelokkan kendaraan ke hotel tempat kedua orang tuanya menginap. Kirana tidak peduli lagi dengan penampilannya saat ini yang berantakan karena terlalu lama menangis. Alexandre memarkir kendaraan di basement bangunan, ia membuka pintu Kirana agar istrinya itu segera keluar, dengan enggan Kirana beranjak dari seat penumpang mengikuti langkah Alexandre yang pelan, ia memakaikan topi istrinya agar tidak terlihat netranya bengkak, digenggamnya jemari Kirana erat. Kirana merebahkan kepalanya di bahu Alexandre saat berada di dalam box ajaib yang akan membawa mereka menuju ruangan kedua orangtuanya.


"kenapa, dek" tangkup pipi ibu melihat netra Kirana yang sembab, Kirana tersenyum menggeleng pelan.


"kamu apakan dia, Al" tatap ibu kepada putranya.


"kakak"


Ibu Alexandre tersenyum menatap Kirana dan memeluknya erat. "tidak usah terlalu dipikirkan, terkadang tidak semua orang menyukai hal yang sama. Kakak hanya belum bisa melihat kebaikan mu saja" usap punggung ibu.


"ada apa" datang ayah dari dalam bathroom.


"tidak apa, yah. Al baru saja mengobrol dengan Kirana mengenai kak Alexandra tentang hatinya yang belum tersentuh oleh pernikahan Al dan Kirana kemarin" senyum ibu.


"Oh, tidak usah terlalu dipikirkan, dek. Anggap itu sebagai penyemangat hidup untuk lebih baik lagi, kita harus tetap ke depan apapun yang terjadi. Dalam bisnis, orang tidak akan menyukai keberhasilan kita karena itu mereka akan melakukan cara apapun untuk menjegal langkah kita" senyum ayah, Kirana mengangguk.


"ayah memang tidak bisa memberikan waktu lebih untuk mereka berdua karena ada tanggung jawab besar lainnya yang menunggu ayah lakukan, mereka juga harus membuat keluarga nya bahagia, bukan" senyum ayah Alexandre mengusap bahu Kirana.


"jadi ayah merasa senang saat kamu menolak Alexandre saat itu dan membuat nya menjadi laki-laki yang lebih kuat sekarang" lirik ayah, Alexandre tersenyum tipis.


"didekati gadis lain sama sekali tidak peduli ternyata sudah menjatuhkan pilihan pada anak gadis keluarga Bagaskara" tawa ayah kecil.

__ADS_1


"ayah hanya bisa berpesan, apapun yang terjadi kalian harus saling memahami, saling berkomunikasi. Memang sulit untuk melakukannya namun ini adalah cara untuk mempertahankan pernikahan seumur hidup kalian. Ayah dan ibu juga tidak selalu baik-baik saja tapi sebisa mungkin kita masih saling memahami satu sama lain tanpa diutarakan" kata ayah, Kirana mengangguk mengerti.


"tidurlah sana, jangan biarkan Momi mu melihat keadaanmu sekarang, dia pasti akan sedih jika tahu" elus punggung ibu. Alexandre meraih bahu Kirana menuju bed besar.


"atur waktu kapan aja memperkenalkan kalian berdua ke kolega keluarga, ayah pasti akan mengosongkan jadwal" minum obat ayah dibantu ibu Alexandre.


"tidurlah disini saja dulu, nanti tengah malam, baru akan berangkat" tatap ayah, Alexandre mengangguk mengerti, Ia berbaring miring menatap istrinya yang juga menatapnya, mengusap-usap punggung nya agar Kirana lebih rileks.


"tidur, yang. Netramu terlihat bengkak, tidak usah terlalu berlebihan dalam memikirkan apapun, ada aku disini untukmu mengatakan apapun yang ada dihati" kata Alexandre.


"Ayah dan ibu biar aku yang mengantar ke atas, kamu disini saja menungguku"


"aku tidak mau keluarga mu bertengkar karena aku datang" ucap Kirana lirih, Alexandre mengusap bibir istrinya.


"tidak, seiring berjalannya waktu pasti akan berubah. Pernikahan kita adalah yang aku inginkan"


"seperti Popi memiliki Momi maka aku juga akan menjagamu lebih dari itu" senyum Alexandre, Kirana memejamkan netranya, Alexandre mengusap rambut Kirana agar tidur.


"Al" sentuh bahu ibu pelan, Alexandre membuka netranya menatap ibunya yang duduk ditepian bed.


"ibu harus pulang menemani ayah" usap bahu ibu, Alexandre bangun menuju bathroom.


"keatas" keluar Alexandre, ibu mengangguk mengusap kepala Kirana


"jaga dia, Al. Pilihan hatimu jangan kamu sakiti" pesan ibu, Alexandre mengangguk menemani langkah ibu nya keluar dari ruangan besar hotel tempat mereka menginap.


Alexandre melambaikan tangannya melihat Chopper bergerak meninggi, ia segera bergegas kembali ke tempat Kirana berada.


Alexandre mematikan penerangan agar tidak menyilaukan netra, Ia menemani Kirana kembali diatas bed.


"apa sudah berangkat" geliat Kirana terjaga, Alexandre mengusap punggung Kirana yang membelakanginya


"ya, ini jam 2 pagi" jawab Alexandre, Kirana berdehem pelan kembali tertidur saking lelahnya Alexandre mendekap erat tubuh Kirana.


"Aku nggak bisa tidur, yang" bisik Alexandre. Kirana berdehem pelan kembali tidur, Alexandre tertawa kecil melihat kelakuan Kirana.


Selamat beristirahat all reader, sehat selalu yaa...


Luv U all sekebon pisang goreng yang hangat dengan secangkir kopi hitam tanpa gula.


Selamat membaca karyaku semuanya...


See U next chapter..

__ADS_1


__ADS_2