Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Bramantyo Murka


__ADS_3

Keyla berusaha untuk tetap tenang ketika tatapan Gerry selalu mengarah padanya. Tatapan seperti malam itu ketika mereka kembali bertemu setelah lima tahun berlalu. Tatapan yang seolah meminta Keyla untuk tetap tinggal disampingnya.


Selesai pertemuan resmi sesama pemegang saham yang tidak terlalu banyak yang dibicarakan, hanya memperkenalkan Presiden Direktur yang baru di SN Company dan tentu saja tidak ada sistem yang berubah. Kontrak dan pembagian hasil dengan para pemegang tetap berjalan sebagaimana mestinya.


Keyla beranajak terlebih dahulu dari ruangan tempat pertemuan diselenggarakan ketika pertemuan tersebut dinyatakan selesai, sebelumnya sempat menyapa beberapa kolega yang juga bekerja sama dengan HG Group.


Berjalan tidak terlalu terburu - buru, karena setelah ini dia hanya akan mampir ke Rumah Sakit tempat Bagas bekerja untuk menyapa Oma juga Orang tua dari Rosa dan Bagas...


" Key." Panggil seseorang ketika Keyla mulai berjalan ke arah lobi kantor, karena memang ruangan tempat di adakannya pertemuan tersebut berada di lantai dasar kantor tersebut.


Keyla menoleh lagi - lagi dengan wajah datar, dia sudah sangat hafal suara yang kali ini membuatnya berhenti.


Keyla berhenti membalik badanya menghadap pada Gerry namun tidak mengatakan apapun. dia masih menunggu apa yang ingin laki - laki ini katakan padanya...


Gerry hendak meraih tangan Keyla, namun dengan cepat Keyla melangkah mundur kebelakang...


"Jangan melebihi batas Gerry, kita sedang di kantor." Kata Keyla yang berjalan munduremberi jarak antara dirinya dan Gerry.


" Aku tidak perduli Key." Jawab Gerry lirih.


" Tapi aku perduli Gerry ! Jangan merusak reputasimu yang baru saja menjadi pimpinan di depan para pegawaimu." Kata Keyla tegas bersikaplah seperti semestinya, bersikaplah profesional "Jangan mencampur adukkan urusan pribadimu dengan pekerjaan. Ayo menjadi rekan yang baik dan bekerja sama." kata Keyla yang kali ini tidak bisa lagi menahan sesak didadanya ketika menatap Gerry lekat. Tatapan mata memohon Gerry sedikit membuatnya tidak tega.


"Aku ingin bicara Key." Kata Gerry lagi kali ini sedikit memaksa.


"Aku harus pergi Gerry, hubungi aku kapan kamu ingin bertemu tapi jangan hari ini, aku sudah punya janji dalam satu jam." Kata Keyla sambil melihat kearah jam tangan branded yang melingakar indah di pergelangan tangannya.


"Janji dengan dokter yang ada di depan apartemenmu tadi ?" Tanya Gerry sarkas. Sunggid dia sangat kesal ketika bayangan adegan yang sempat dilihatnya tadi pagi kembali melintas.


"Bukan urusanmu Gerry." Jawab Keyla kesal dan segera membalik tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar.


Namun bukan Gerry namanya jika akan melepaskan Keyla begitu saja ketika dia sudah mulai kesal. Gerry akan melakukan apapun untuk melampiaskan kekesalannya, seperti kejadian di dalam mobil ketika Keyla tidak memeperdulikan kekesalannya.. Gerry berjalan tidak kala cepat dan menarik tubuh mungil Keyla masuk ke dalam pelukannya. Tubuh bagian belakang Keyla menabrak tepat didada bidang Gerry. Keyla sangat terkejut dengan sikap Gerry kali ini. mereka masih berada di tempat umum dan juga beberapa wartawan yang baru saja keluar dari ruangan yang sama untuk meliput acara resmi hari ini..


Keyla menutup matanya menahan gemuruh didalam dadanya ketika Gerry mencium kepalanya, sedangkan beberapa wartawan yang memang masih berada disana ikut mengabadikan moment langka ini.


Keyla berusaha melepaskan diri dari pelukan Gerry, namu Gerry tetap menahannya dengan kuat.. "Kau milikku Key, tidak ada yang boleh memilikimu selain aku. Jika aku tidak bisa memilikimu maka orang lainpun tidak boleh memilikimu." kata Gerry tenang namun tegas.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga Keyla melepaskan diri dari rengkuhan Gerry, dan Gerry melepaskannya. dengan langkah cepat tanpa menoleh lagi Keyla segera keluar dari gedung SN Company menuju parkiran.. Para wartawan sialan mengikutinya hingga ke mobil sport miliknya dengan kamera juga berbagai pertanyaan namun Keyla tetap bungkam, tidak ada kata apapun yang keluar dari mulut Keyla..


Dengan bantuan beberapa petugas keamanan Keyla berhasil keluar dari kerumunan wartawan dan berlalu dari halaman SN Company. di dalam mobil yang sedang melaju, Keyla terus memaki Gerry dengan air matanya yang terus merembet keluar dari tempatnya.


Dia tidak akan lagi pergi ke Rumah Sakit hari ini, juga tidak balik ke apartemennya karena mungkin beberapa menit kemudian berita ini akan mencuat di berbagai stasiun TV, Bram dan Rosa pasti akan ke apartemennya dan dia belum ingin menjelaskan apapun pada mereka.


Satu - satunya tempat yang menjadi tujuan Keyla adalah rumah Gerry, dia akan menunggu Gerry disana dan memakinya sampai puas.


Rumah Gerry memang tidak jauh dari SN Company, setelah sampai di depan pagar besi seorang satpam sudah membukannya tanpa Keyla meminta izin terlebih dahulu.. mungkin mereka sudah mengenali mobil yang memang kemarin di kendarai oleh Gerry ..


Keyla segera keluar dari mobilnya dan berjalan kearah pintu mendorongnya pelan dan kembali menutupnya..


Tidak ada siapapun disana mungkin asisten yang kata Gerry akan datang pagi ini sudah pergi.. Dengan langkah cepat Keyla segera masuk kedalam kamar Gerry, membuka hels yang membalut kakinya dan meletakkan tas tangannya di atas nakas samping ranjang kemudian masuk kedalam selimut yang ada di ranjang.


"Sialan Gerry, kamu benar - benar brengsek." Umpat Keyla dengn air mata yang masih terus menetes di balik selimut putih milik Gerry..


Sedangkan Bram dan Rosa langsung kaget melihat berita di beberapa website resmi milik stasiun TV yang ada di tab Bram. Bram segera meraih kunci mobil melangkah cepat dengan diikuti Rosa di belakangnya.. Tujuan mereka adalah apartemen Keyla, gadis itu pasti sedang menangis sendirian di sana.


Baru saja turun dari lantai dua rumahnya Handoko dan Ratih merjalan dengan cepat untuk menemui Putra mereka ingin memastikan berita yang mereka lihat di TV di dalam kamar mereka pagi ini..


" Bram belum tahu pasti Yah, Bun. Untuk sementara jangan melakukan apapun dulu yah, Aku dan Rosa baru akan pergi mengunjunginya ke aparteman." Kata Bram yang seakan sudah tahu apa yang ayah dan Bundanya ingin tanyakan padanya..


"Tentu bunda, bunda sangat tau aku sangat menyayanginya dari dulu. Jangan khawatirkan apapun bund tetaplah tenang, tunggu kabar dari aku dan Bram yaa." Jawab Rosa menengkan mertuanya. "Titip Flora bunda," sambung Rosa dan diangguki oleh mertuanya.


Bram dan Rosa segera berlalu dari kediaman mereka dan memacu mobil dengan cepat menuju apartemen Keyla. Sampai di halaman Apartemen Bram memarkirkan mobilnya, dan segera keluar dari mobil bersama istrinya masuk kedalam lift kemudian naik menuju lantai tempat unit Keyla berada..


dengan cepat Rosa memasukkan password dan masuk kedalam. Rosa langsung berjalan memeriksa kamar sedangakan Bram menuju dapur namun tidak mendapati Keyla disana. Entah sudah berapa kali Rosa menghubungi nomor Keyla namun selalu di abaikan oleh gadia itu..


"Sayang mungkin dia kembali lagi ke kantor." Kata Rosa pada sang suami karena tidak mendapti Keyla di apartemen.


"Sebentar aku akan menghubungi Vivian untuk memeriksa apa Keyla ada di sana atau tidak." Kata Bram dan Rosa mengangguk.


"Sial Gerry aku akan membunuhmu jika sesuatu terjadi dengan adikku." Umpat Bram setelah mengakhiri pembicaraan dengan pegawainya yang bernama Vivian namun lagi - lagi Keyla tidak berada disana.


" Sayang mungkin dia ke Panti." Kata Rosa lagi.

__ADS_1


" Kamu sangat tahu sayang, dia tidak akan mau membawa masalahnya ke Panti tempat anak - anak asuhnya berada." Jawab Bram.


"Lalu kita harus bagaimana Bram ? kasian dia sendirian entah dimana sekarang." Kata Rosa lirih.


"Kita tunggu sebentar disini, dia pasti akan kembali lagi kesini setelah semua sudah tenang." Kata Bram menengkan istrinya.


Sudah berapa jam terlewati namun Keyla belum juga kembali ke apartemennya, sedangakan Rosa sudah mulai membongkar - bongkar isi dari kulkas milik sahabat sekaligus adik iparnya karena sang suami sudah mengeluh lapar. Mereka sudah melewatkan jam makan siang.. Bram memilih duduk di meja makan di dapur apartemen Keyla menunggu sang istri menghangatkan beberapa lauk yang sudah tersedia di dalam kulkas.


Mendengar pintu apartemen terbuka, Bram segera berlalu dari dapur menuju ruang tamu, rahangnya mengeras melihat siapa yang kini berdiri di pintu Keyla yang masih terbuka.


Masih menunggu jika adiknya akan muncul di balik pintu, namun sampai Gerry menutup pintu tersebut Bram tidak mendapati gadis yang sudah ditunggunya sejak pagi tadi.


Buughh


Seketika tubuh Gerry hilang keseimbangan dan terduduk dilantai dekat pintu masuk


"Sialan Gerry aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu dengan adikku aku sudah memeperingatimu untuk menjauh darinya." Kata Bram murka. Gerry bangun perlahan dengan darah segar sudah menetes dari sudut bibirnya mengotori kemeja putih miliknya.. Pakaian yang sudah tidak serapai pagi tadi, tidak ada lagi jas yang menempel disana..


Rosa datang menengkan sang suami dan membawa tubuh Bram untuk duduk di sofa dan Rosa kembali berjalan mendekati Gerry yang tetap bergeming di dekat pintu keluar.. Gerry melihat kearah Bram yang juga menatapnya dengan tajam.. Tidak ada lagi tatapan hangat yang biasa Gerry lihat ketika Bram menatap Keyla.


"Sebenarnya apa yang terjadi Gerry ? sejak kapan kamu mengenalnya ?" tanya Rosa. "Aku tidak akan percaya kalian baru saja kenal dua hari yang lalu dan kau sudah melakukan hal seperti itu padanya di depan umum." Sambung Rosa panjang lebar.


Gerry masih diam, tidak berniat menjawab apapun yang Rosa tanyakan padanya.. Tatapannya hanya mengarah pada laki - laki yang juga menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Aku mencintai adikmu Bram, Aku sungguh mencintainya." Kata Gerry lirih.


Dengan cepat Bram bangkit dari sofa dan berjalan kearah Gerry, memukul Gerry dengan membabi buta. Jika Rosa tidak berada disana dengan teriakan histerisnya entah apa yang sudah terjadi pada Gerry kali ini.


Memar di wajah tampannya, dan jangan lupa darah yang sudah mengalir dari kedua sudut bibir dan juga hidungnya.


Rosa sudah frustasi dengan Bram yang selalu hilang kendali jika menyangkut Keyla. "Aku akan marah padamu jika terus seperti ini Bram, kita dengarkan dulu apa yang ingin Gerry katakan." Kata Rosa tegas.


"Tidak ada yang ingin aku katakan Rosa, kata Gerry dengan susah payah bangkit dari lantai.


"Lalu dimana Keyla ?" Tanya Rosa frustasi pada laki - laki yang dengan tiba - tiba mencintai Keyla ini.

__ADS_1


"Jika aku tahu dia tidak berada di apartemenya, aku tidak mungkin kesini, aku tidak tahu dimana dia sekarang." Jawab Gerry yang kemudian membalik tubuhnya namun kembali berhenti.


"Aku sungguh mencintainya Bram, aku mencintai adikmu, aku butuh kalian untuk membantu meyakinkan Keyla jika aku benar - benar mencintainya dan ingin bertanggung jawab sepenuhnya pada apa yang terjadi padanya dari lima tahun lalu." Kata Gerry tanpa berbalik lagi dia segera keluar dari apartemen Keyla dengan keadaan yang sangat mengenaskan.


__ADS_2