Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Jujur


__ADS_3

Senja di ufuk barat sudah terlihat membuat langit cerah di Jakarta begitu indah di pandang mata. Keyla masih menatap warna jingga yang terlihat di antara puncak gedung-gedung pencakar langit yang ada di daerqh khusus ibu kota ini.


Fikiran dan hatinya kini mulai kembali berperang. Egonya yang setinggi langit menguasai fikirannya untuk mempertahankan dua bayi mungil yang sudah berusia hampir enam minggu ini tanpa Gerry tahu penyakit mematikan juga ikut tumbuh di sana. Namun di sisi lain, dia ingin menceritakan semuanya dan membagi rasa sakit yang mulai dia rasakan bersama suaminya ini.


Gerry masih fokus mengendarai mobilnya dengan diam hingga mobil itu mememasuki gerbang yang sudah di buka lebar oleh petugas keamanan lalu berhenti di pelataran rumahnya.


Gerry masih duduk diam didalam mobil, ingin menanyakan hal janggal yang dia dapati di dalam kamar mandi tadi, namun melihat Keyla hanya diam sejak mereka meninggalkan halaman kantor, membuatnya takut untuk memulai pembahasan yang mungkin tidak ingin di bahas oleh istrinya.


Kekahawatirannya semakin bertambah saat mendapati darah di inti tubuhnya saat membersihkan sisa percintaan mereka di dalam kamar mandi tadi. Dengan perlahan dan hati-hati Gerry membawa tangannya lalu meraih tangan Keyla, menyelipan jemarinya diantara jari-jari lentik itu lalu membawa tangan kecil itu untuk di kecupnya dengan sayang.


"Aku sangat takut kehilangan kamu Key." Ucap Gerry lirih. Keyla tersentak, dan akhirnya air mata yang tertahan di pelupuk matanya sejak di perjalanan luruh membasahi pipinya.


Gerry semakin khawatir ketika Keyla sudah terisak pelan namun masih menatap kearah luar jendela.


"Hey, kamu kenapa Key ?" Tanya Gerry sambil memegang kedua bahu istrinya untuk di bawa menghadap padanya.


"Aku takut Gerry." Ujar Keyla.


"Apa yang kamu takutkan ?" Tanya Gerry semakin gusar dan khawatir.


Keyla masih diam dengan air mata yang semakin bercucuran membasahi dress cokelat selututnya. Melihat air mata yang terus saja membasahi pipi mulus istrinya. Gerry segera membawa tubuh mungil itu kedalam dekapannya.


"Ceritakan yang membuatmu takut Key, aku tidak akan bisa membantumu jika kamu tidak menceritakan padaku." Ucap Gerry lagi saat Keyla tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Bawa aku ke kamar Gerry, aku ingin istirahat." Ucap Keyla pelan.

__ADS_1


Dengan cepat Gerry keluar dari mobil lalu meraih tubuh mungil istrinya masuk kedalam dekapannya. Dengan perasaan yang masih tidak karuan Gerry membawa Keyal yang terus sesegukan di dalam dadanya ke dalam kamar mereka dan membaringkan Keyla dengan nyaman di tempat tidur, selimut putih bersih itu ditariknya hingga menutupi bagian dada istrinya..


Kecupan Gerry di kepalanya semakin membuat keyla bergemuruh, hingga akhirnya dia memberanikan tangannya untuk kembali menggenggam tangan kokoh suaminya, saat Gerry ingin beranjak dari tempat tidur mereka.


"Peluk aku." Ujarnya membuat Gerry kembali duduk menatap istrinya. "Aku butuh pelukan hangat olaf." Ujarnya lagi sambil terkekh namun butiran bening di matanya masih terlihat disana.


Gerry masih diam, namun dia ikut merebahkan tubuhnya di samping Keyla, lalu membawa tubuh kecil itu kedalam pelukannya. Memberikan kehangatan pada tubuh mungil yang kini sudah terasa jauh lebih tenang.


"Ada kangker yang ikut tumbuh bersama mereka di dalam rahimku Gery." Kata Keyla berusaha untuk setenang mungkin.


Gerry menegang, pelukannya di tubuh mungil itu melemah saat mendengar kata yang begitu tenang keluar dari mulut istrinya. Sungguh dia ingin segera melihat raut wajah yang biasanya datar itu sekarang juga. Bagaimana Keyla menyebutkan penyakit yang mematikan itu dengan begitu tenangnya.


Saat Gerry akan melepaskan pelukannya dari tubuh mungil itu, Keyla segera mengeratkan tangannya di belakang Gerry. Sungguh dia tidak akan sanggup menatap mata yangbakan kembali melihatnya dengan penuh kesedihan.


"Belum mengkhawatirkan, kata kak Robby ini masih tahap awal aku masih bisa menjalani pengobatan Gerry. Jangan menkhawatirkan apapun."Ucap Keyla mencoba setenang mungkin. Deru nafas berat suaminya terdengar jelas di telinganya, dia tahu Gerry sedang gusar sekarang.


Keyla menggeleng tegas di dada bidang Gerry, dia tahu apa maksud dari suaminya ini. "Jangan egois Gerry, sudah seharusnya melindungi anak-anaknya dengan nyawa mereka." Ucap Keyla yakin.


"Ngga Key, aku siap kehilangan apapun asal itu bukan dirimu." Lieih Gerry dengan suara serak menahan air mata.


Keyla melepaskan dekapannya, lalu mendongak menatap suaminya.


"Kamu harus berusaha untuk memastikan kami selamat hingga waktunya tiba, itulah alasan aku memberitahumu soal ini." Ucap Keyla yakin. "Aku percaya kamu akan melindungi kami bertiga." Sambungnya lagi.


Gerry tidak lagi berbicara, hanya membawa tubuh Keyla kembali masuk kedalam dekapan hangatnya. Mengecup kepala istrinya berulang sambil menikmati kegundahan yang kini menyelimuti hati dan benaknya.

__ADS_1


Seperti mengkonsumsi obat tidur, Keyla sudah terlelap dengan nenyaknya di dada bidang suaminya. Gerry perlahan melepaskan tubuh mungil itu dan merebahkan dengan hati-hati. Setelah memastikan Keyla tertidur dengan nyaman di atas ranjang, Gerry mengecup seluruh wajah Keyla, tangannya mengusap perut yang masih terlihat rata milik istrinya.


Masih dengan perasaan yang dilingkupi kekhawatiran dan kesedihan, Gerry membawa tubuhnya beranjak dari ranjang mereka lalu duduk di atas sofa di dalam kamar mereka.


Sama seperti suasana lima tahun lalu, suasana gundah menyelimuti hati sambil menatap ke arah wanita yang sama sedang terbaring di ranjangnya. Namun kali ini perasaan takut kehilangan yang dia rasakan lebih besar dari lima tahun lalu.


Dulu mungkin hanya di pisahkan oleh jarak dan waktu, namun jika perpisahan yang kali ini benar-benar terjadi, maka dia akan kehilangan Keyla selamanya.


Gerry merogoh ponsel dari dalam kantong celana kain miliknya lalu keluar dari kamar mereka menuju ruang tamu rumahnya.


"Ada apa Gerry ?" Tanya Anggun di ujung telepon.


"Kangker rahim apa itu sangat berbahaya ?" Tanya Gerry.


"Sangat berbahaya dan mematikan, namun berbeda dengan kasus Keyla. Kangker rahimnya belum berada di stadium yang parah, ini baru gejala awal. Jangan terlalu khawatir."


"Sejak kapan kalian tahu soal ini ?" Tanya Gerry marah.


"Aku baru mengetahuinya pagi ini Gerry, kak Robby sudah tiga hari yang lalu. Namun dia belum memastikannya, karena itu bukanlah bidangnya. Tenanglah, aku sudah meminta teman aku untuk memriksanya lebih lanjut." Ucap Anggun menenangkan adiknya yang sudah terdengar marah.


"Kapan dia akan memeriksa keyla ?" Tanya Gerry lagi.


"Jadwalnya sangat padat Gerry, namun dia akan mengusahakannya secepat mungkin dan mengabariku. Jangan terlalu khawatir, dengan kehamilan ini akan membantu mencegah bertumbuhnya sel kangker jadi jangan terlalu khawatir. Hanya beri dia dukungan yang dia perlukan, jangan memintanya untuk menggugurkan anak kalian, itu akan membuatnya down dan mempengaruhi kesehatannya." Kata Anggun panjang lebar agar adiknya ini tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan.


"Kabari aku secepatnya kak, aku benar-benar akan ikut mati bersamanya jika dia meninggalkan aku." Lirih Gerry.

__ADS_1


"Aku tahu itu, untuk itu aku akan berusaha keras membantumu untuk memastikan Keyla dan anak kalian baik-baik saja." Ucap Anggun penuh keyakinan.


__ADS_2