
** Kemarin aku ngga sempat update, jadi seperti biasanya aku akan up dua episode hari ini. Oh iya aku juga sedang melanjutkan novelku yang lama ^ Everything About You^ mamapir ya ππΌππΌ dan selamat membaca semuanya π€π **
Ibu kota Jakarta semakin hari semakin padat penduduknya, entah itu penduduk aslinya atau memang hanya orang-orang yang sengaja datang dari luar untuk mengadu nasib di kota metropolitan ini. Polusi juga sampah yang tidak pada tempatnya, sudah tidak heran lagi didapati hampir di setiap sudut ibu kota negara tropis ini.
Namun berbeda di Rumah Sakit Medika Permata, tidak ada sampah yang terlihat disana. Petugas kebersihan disana selalu siap siaga menjaga kebersihan di area Rumah Sakit.
Rachel dengan celana jeans dipadukan dengan kemeja putih juga sepatu kets berwarna putih, sedang duduk di taman Rumah sakit. Pandangannya terus menyusuri Rumah Sakit yang terdapat banyak kenangan bersama mendiang sang ibu. Sudah seminggu sejak mereka pulang dari Bali, meskipun belum dikatakan sebagai hubungan manis seperti pasangan yang akan menikah pada umumnya, namun Rachel merasa hubungannya dengan Bagas semakin baik. Mereka sudah seperti seorang teman. Tatapan hangat dari laki-laki itu belum dia dapati, namun tatapan dingin yang selalu tertuju padanya kini tidak lagi dia dapati di manik Bagas.
" Apa ibu senang ? apa ibu dan ayah bahagia disana ? Sebentar lagi aku akan menikah, do'akan semua hal-hal yang baik akan selalu datang di kehidupan pernikahanku." Lirih Rachel di dalam hatinya.
Dua minggu lagi pernikahannya, pemberkatan pernikahan yang kata Bagas hanya akan dilaksanakan sederhana di salah satu tempat ibadah yang tidak jauh dari kediaman keluarga besar calon mertuanya.
Semua keluarga Bagas menyambut baik dirinya dalam keluarga, Papi Manaf yang selalu memastikan dirinya tidak lagi kekurangan apapun, selalu memprioritaskan dirinya dari siapapun. Terkadang Bagas mendapat omelan dari sang papi jika didapati masih berbicara ketus padanya.
Mami Diana yang tidak henti-hentinya mengajari banyak hal tentang dapur, resep makanan juga cemilan kesukaan Bagas sudah menjadi temannya di rumah bersama sang calon mami mertua.
Oma dengan cerewetnya selalu memberitahu untuk menjaga pola makan sehat, agar tubuhnya tetap sehat menjelang hari pernikahan.
Kini Rachel masih sedang dengan tatapannya pada rerumputan dan pohon-pohon cemara kecil yang tumbuh di taman rumah sakit. Menunggu laki-laki yang kesibukannya melebihi rata-rata karena begitu banyak pasien membutuhkannya. Sudah hampir dua jam dia berada disini, dia sudah memberitahukan pada asisten calon suaminya untuk menunggu di taman namun laki-laki itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Hari ini mereka akan menjemput gaun pengantin dan cincin pernikahan yang sudah mereka pesan saat tiba dari Paris.
"Jangan melamun, nanti kemasukan setan baru tahu kamu." Ketus Bagas sambil menempelkan minuman kaleng dingin di pipi gadisnya. Ah gadisnya, dia tidak tahu sudah sejak kapan kata itu begitu membuatnya senang ketika menyebutkan di dalam hatinya.
Rachel terkejut, bukan karena kehadiran tiba-tiba dari laki-laki selalu dengan snelli yang selalu menutupi kemeja polosnya, melainkan rasa dingin dari kaleng minuman yang menempel di pipinya.
"Minum." Ucap Bagas lagi.
"Terimaksih." Balas Rachel sambil meraih sekaleng minuman dari tangan Bagas lalu meminumnya. Dia sudah sangat kehausan sejak tadi.
"Mau berangkat sekarang atau makan siang dulu ?" Tanya Bagas tidak lagi dingin seperti biasanya.
__ADS_1
" Kamu lapar ?" Bukan menjawab, Rachel justru kembali bertanya dan membuat laki-laki di sampingnya berdecak.
"Ck, selalu saja seperti itu. Bisa ngga sih kalau di tanya itu jawab saja, ngga usah balik bertanyavd." Ketus Dimas sambil meraih tangan Rachel kedalam genggamannya menuju halaman parkir rumah sakit. Rachel tersenyum samar saat Bagas menariknya menuju mobil putih miliknya.
"Kita makan siang dulu, aku lapar pagi tadi tidak sarapan dengan benar karena mami terus saja berceloteh tentang gaun pernikahan." Keluh Bagas saat mobil mulai masuk ke kerumunan mobil-mobil yang sama-sama bergerak pelan di jalanan padat Jakarta.
Rachel menatap kearah Bagas, lalu kembali mengalihkan pandangannnya pada jalanan ketika Bagas juga ikut menatap kearahnya.
"Kenapa ?" Tanya Bagas.
"Tidak apa." Jawab Rachel.
"Mulai naksir padaku." Tanya Bagas lagi.
"Buat apa ? lagipula kamu tetap akan jadi suamiku aku rasa hal seperti itu tidak lagi perlu." Jawab Rachel membuat Bagas menginjak pedal rem mendadak hingga membuat pengemudi di belakang mobilnya berteriak memaki.
"Ya Tuhan,, apa yang kamu lakukan ? kita berada di tengah jalan loh." Kesal Rachel ketika hampir saja wajahnya terbentur di dasbor mobil, untung saja sabuk pengaman itu menahan tubuhnya.
" Ngga usah lebay, Rosa sudah memberitahuku apa yang sudah aku lakukan di malam acara pernikahan Keyla dan Gerry. Dan aku sudah tahu dari mami jika malam itu tidak terjadi apapun dengan kita, aku tidak melakukan appun padamu." Ucap Rachel panjang pebar. Beberapa kali dia merutuki kebodohannya saat itu, dan sampai sekarang mau di taruh dimana wajahnya jika kembali bertemu dengan sepasang suami istri itu.
Bagas terkekeh mendengar suara kesal dari gadis yang kini sudah kembali duduk dengan nyaman sambil menggenggam erat sabuk pengaman yang melingakar di tubuhnya.
Hening kembali mengamibil alih suasan di dalam mobil hanya suara mesin yang terdengar. sesekali Rachel melihat kearah samping jendela mobil, menatap mobil-mobil yang berlalu lalang di jalanan yang sama.
Tidak terasa mobil yang membawa mereka kini sudah terparkir di salah satu pusat perbelanjaan. Bagas mengajak Rachel untuk masuk dan langsung menuju restoran. Baru saja memasuki restorant yang terdapat di pusat perbelanjaan, teriakan Rosa menginterupsi langkah kaki Bagas. Mengitari ruangan restoran yang penuh dengan orang-orang yang ingin mengganjal perutnya di sianh hari ini.
Rachel tersenyum melihat wanita yang sedang melambaikan tangan kearahnya. Bagas mengajak Rachel menuju kearah Rosa, tidak bukan hanya Rosa sepasng pengantin baru juga ada disana. Meskipun rasa tidak nyaman kembali menyeruak, namun Rachel tetap memaksakan langkahnya menuju meja di mana adik sepupu calon suaminya berada.
Bagas masih menggenggam erat jemari Rachel, berjalan menuju Rosa juga keponakan cantiknya yang berada di oangkuan Bram.
__ADS_1
"Sudah selesai makan siang ?" Tanya Bagas pada Rosa.
"Belum kami baru saja memesan." Jawab Rosa sambil melambaikan tangannya pada pelayanan restoran agar datang menerima pesanan Bagas.
Bagas menarik kursi dan duduk di samping Gerry sedangkan Rachel duduk di samping Bram.
"Mau makan apa Gas ?" Tanya Rachel saat pelayan sudah berada di sampingnya.
"Pesan saja seperti biasanya." Jawab Bram singkat.
Rachel menyebutkan makanan yang biasa Bagas makan saat siang hari juga minuman. Rachel juga memesan menu yang sama, entahlah dia mulai terbiasa dengan pola makan yang ada di dalam keluarga penganut kesehatan ini.
"Hi.. Aunti Lahel." Sapa Flora setelah pelayan yang mencatat pesanan Rachel berlalu dari sana.
"Hi.. Flo." Jawab Rachel tersenyum kearah gadis kecil yang berada di pangkuan papinya.
"Sudah terbiasa dengan makanan yang di anjurkqn Oma ?" Tanya Rosa sambil tersenyum pada Rachel.
"Belum, masih belajar membiasakan diri." Jawab Rachel jujur.
"Nanti juga terbiasa." Kata Rosa menyemangati. Dia saja tidak bisa mengikuti pola makan sehat yang sudah sejak dulu berada dalam keluarga besar sang mama.
" Key, maaf soal kecerobohanku di malam pernikahan kalian." Ucap Rachel tulus menatap pada wanita yang kini sedang menatap kearahnya.
"Tidak apa-apa Rachel, aku juga minta maaf." Jawab Keyla dengan senyum bersalah di bibirnya dan di angguki oleh Rachel.
Waktu berlalu begitu saja, Rosa yang dengan keponya bertanya kegiatan dari pasangan calon pengantin baru hari ini, dan Bagas menceritakan untuk mengambil gaun pengantin dan cincin pernikah yang sudah dia pesan sebelumnya.
Gerry juga mengucapkan terimakasih, dia sudah menerima undangan pemberkatan pernikahan dari Rosa dan berjanji akan datang.
__ADS_1
Semua terasa lebih baik sekarang, meskipun mungkin masih ada hati yang menjerit di dalam sana namun semua orang berusaha untuk tidak saling mengusik. Karena memang inilah yang terbaik, inilah jalan yang harus mereka lalui. Memaksakan keadaan hanya akan menyakitakan bukan ? Cinta yang tidak bisa kita raih, tidak boleh membuat kita ikut mengabaikan cinta lain yang sudah Tuhan takdirkan.