
Disebuah kamar hotel berbintang seorang gadis dengan gaun mewah membalut tubuhnya sedang menatap keluar kaca besar yang menampakkan pemandangan kota Paris dengan menara yang menjadi ikon kota ini. Seusai menghadiri acara pernikahan seorang teman, Keyla masih duduk termenung di sofa kamar hotel dengan gaun pesta mewah yang masih melilit di tubuh indahnya.
Keyla kembali menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan untuk mengurangi sesak di dadanya. Tubuhnya sedang berada di Prancis, tapi tidak dengan hati dan fikirannya.
Beberapa kali wajah Gerry melintas di pelupuk matanya, wajah yang begitu memohon bercampur kekecewaan ketika Keyla memilih untuk meminta waktu lebih untuk memikirkan kembali pernikahan yang sudah di depan mata tercetak jelas di ingatannya, membuat hatinya semakin sesak. Pertunangan yang dia batalkan sepihak dan memilih pergi ke kota yang dulu pernah menjadi saksi kehidupan tragisnya.
Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian di Rumah sakit, bohong jika dia tidak merindukan laki-laki itu. Kali ini berbeda dari yang dulu. Dia merindukan Gerry seakan membuat dadanya terasa terhimpit sakit.
tess,, tess... Beberapa tetes butiran bening menetes di wajah cantiknya. Keyla membiarkan air matanya jatuh menetes begitu saja, berharap air mata yang jatuh ikut membawa pergi sesak yang menumpuk di dadanya. Berharap air matanya ikut memebawa pergi perasaan yang tidak bisa dia hapus dengan egonya.
Harusnya dia tidak mementingkan egonya sendiri. Harusnya dia jujur dengan apa yang dia rasakan.. Lagi pula Rosa sudah menjelaskan namun dia memilih menyiksa dirinya sendiri seperti ini karena jauh dari laki-laki itu.
*******
Gerry dan Bram sedang duduk berbincang tentang persiapan pernikahan Gerry dan Keyla setelah selesai makan siang di sebuah cafe yang tidak jauh dari HG Group terganggu karena sebuah dering ponsel yang ada di saku jas Gerry. Gerry merogoh ponsel yang ada di saku jasnya kemudian segera menggeser ikon merah di layarnya ketika melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya.
Gerry yang akan kembali menyimpan ponselnya di dalam saku jas seketika mengurungkan niatnya ketika melihat pesan yang masuk pada ponselnya.
"Angkat bego," pesan dari nomor dengan nama yang sama di aplikasi chatting dengan lampiran gambar gadis kesayangannya sedang menikmati sarapan di restoran hotel. Karena memang perbedaan waktu indonesia yang lebih cepat dari Prancis.
__ADS_1
Gerry langsung kembali menghubungi Reyhan melalu Video Call. Saat sudah tersambung kamera ponsel Reyhan yang langsung mengarah pada Keyla yang sedang duduk tidak jauh dari tempat Reyhan berada. Tubuh mungil dengan dress berwarna kuning selutut itu terlihat jelas di layar ponselnya.
"Kenapa kalian bisa ada di restoran yang sama ?" Tanya gerry masih terus menatap pada layar ponselnya.
"Aku menghadiri pernikahan anak dari klien bokap semalam, dan aku sempat melihatnya di pesta itu. Sebenarnya aku ingin menghubungimu namun aku takut kamu akan murka karena melihatnya begitu cantik dengan begitu banyak lelaki bule yang menyapanya karena saling mengenal. Uh bahasa Perancis yang begitu fasih keluar dari bibir seksi Keyla memebuatku gemas" Ejek Reyhan.
"Sialan Rey." Umpat Gerry pada sahabatnya itu.
"Ceptlah datang dan temui dia sebelum orang lain membuatnya nyaman dan berpaling darimu." Reyhan semakin mengejek Gerry.
"Rey cepat kemeja Keyla, itu siapa yang datang mendekat padanya ? " Gerry semakin gusar ketika melihat satu laki-laki yang ikut duduk di meja yang sama dengan Keyla. Sedangkan Bram hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laki-laki yang selalu saja membuatnya murka namun juga luluh jika itu menyangmut adiknya.
" Ogah,, datang aja sendiri kalau berani." Kata Reyhan dan segera mematikan sambungan videonya dengan Gerry karena tidak ingin lagi mendengar makian laki-laki itu padanya.
"Jika semua sudah siap, kamu berangkat saja lebih dulu. Kami nanti akan menyusul." Kata Bram tenang sambil menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat Hotel juga nomor kamar tempat Keyla menginap. "Jangan sia-siakan lagi." Sambung Bram.
"Aku sama sekali tidak pernah menyia-nyiakn Keyla, kalian saja yang sudah seperti alien dengan tempramen juga egois setinggi langit itu." Dengus Gerry namun tetap meraih kertas itu dengan mata yang berbinar ketika mendengar tawaran dari calon kaka iparnya ini.
" Aku akan berangkat besok, gaun pernikahan akan selesai tiga hari lagi dan nanti mama aku yang akan membawanya ke Prancis bersama Ka Anggun juga Ka Roby." Sambung Gerry senang.
__ADS_1
Bram mengangguk, dia ikut senang karena Gerry yang tidak pernah berhenti untuk memeperjuangkan adiknya. Meskipun gadis itu sama kerasnya dengan sang Ayah namun Bram yakin jika Keyla juga memiliki perasaan yang sama seperti Gerry dan tidak akan lagi menolak dengan rencana yang sudah di susun matang oleh keluarga tanpa sepengetahuan gadis itu.
Setelah itu mereka berpisah di parkiran Cafe kemudian masuk kedalam mobil masing -masing dan kembali ke kantor. Di dalam mobil yang melaju sedang membelah kemacetan jalanan Jakarta, senyum masih terus terukir di wajah tampa Gerry. Dia sudah menyiapkan kejutan untuk gadisnya itu, ah membayangkannya saja sudah membuat Gerry begitu membuncah.
Sampai di perusahaannya, Gerry menyerahkan kunci mobilnya pada petugas keamanan dan masuk kedalam perusahaan. Sapaan hormat dari beberapa pegawainya yang bertemu di lift juga di balas oleh Gerry. Kotak besi yang membawanya sampai di lantai dimana ruangannya berada kini berhenti dan dia segera keluar dari sana.
"Selamat siang pak." Sapa Amanda yang sudah beranjak dari meja kerjanya untuk membukakan pintu untuk Gerry.
Gerry mengangguk membalas sapaan manda yamg menggantikan Rachel untuk sementara waktu kemudian masuk kedalam ruangannya menuju meja kerjanya.
Beberapa kali memutar kursi kebesarannya menghadap keluar melihat pemandangan kota Jakarta dari ruangannya. Masih duduk di kursi kebesarannya dengan setumpuk berkas di atas meja kerjanya, karena dia harus segera menyelesaikan pekerjaan yang akan dia tinggalkan selama beberapa minggu kedepan.
Gerry menarik laci dan mengambil cincin pertunangan dari laci meja kerja tersebut dengan hati-hati. Cincin yang belum sempat dia sematkan di jari Keyla karena gadis itu sudah memilih pergi. Mengecup cincin itu berulangkali, kemudian menaruhnya keadalam saku jasnya agar benda paling penting itu tidak akan ketinggalan. Dia bahagia kali ini, semua dukungan keluarga mengarah padanya, dia hanya perlu meluluhkan kembali gadis keras kepala itu.
Gerry tersenyum miris ketika mengingat kembali kejadian di Bandara. Keyla yang dengan egonya memilih pergi dua minggu lalu, tidak memeperdulikan dirinya yang sudah memohon agar Keyla tidak pergi namun gadis itu sama sekali tidak goyah dengan pendiriannya dan terus melangkah menjauh darinya. Keyla seakan tidak perduli dengan permohonannya dengan tetesan bening di pipnya. Gadis cantik dengan ego luar biasa juga keras kepala yang tidak ada tandingannya itu sudah membuatnya jatuh semakin dalam. Bram Rindu yang todak bisa lagi di bendungnya
" Manda, siapkan tiket ke Prancis untuk penerbangan besok, jangan lupa reservasi satu kamar di Hotel X ." Perintah Gerry pada sekertarisnya dengan menyebutkan nama Hotel yang sama dengan Hotel yang tertera di secarik kertas dari Bram tadi.
"Baik pak," Jawab Manda kemudian kembali meletakkan telefon tersebut ke tempat semula ketika atasannya sudah mengakhiri panggilan.
__ADS_1
Gerry menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesaran miliknya.
"Tunggu aku Key, aku tidak akan pernah berhenti berharap dan berjuang untukmu." Kata Gerry pelan dengan mata tertutup, mengurangi lelah yang menyerang tubuhnya karena tumpukan pekerjaan yang harus segera dia selesaikan agar bisa segera bertemu Keylanya.