Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Kehidupan Tragis Keyla


__ADS_3

Ponsel miliknya yang ada di dasbor mobil terus bergetar, Gerry melihat kearah ponselnya tersebut, ternyata Kak Anggun yang menghubunginya. Sedikit menepi di pinggiran jalan untuk menjawab panggilan dari sang kaka.


Anggun memberitahu terpaksa harus membatalkan pertemuan mereka pagi ini karena ada pasien kecelakaan yang sedang di bawa menuju ke rumah sakit tempatnya bekerja. Anggun akan menemui Gerry saat makan siang nanti di kantin rumah sakit tempatnya bekerja dan Gerry mengiyakan. Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Anggun, Gerry kembali melajukan mobilnya menuju apartemen milik sahabatnya, Reyhan.


Sedangkan Anggun yang sudah sejak pukul enam pagi tiba di Rumah Sakit, dengan jas dokternya keluar dari ruangan bersama satu orang asisten dan beberapa suster untuk menunggu kedatangan ambulance di depan pintu Ruang Gawat Darurat.


Anggun seorang dokter spesialis bedah yang bertanggung jawab dengan ruang Unit Gawat Darurat di rumah sakit Medika Permata, sedangkan suaminya Roby seorang dokter OBGYN dan sudah punya klinik sendiri.


Dengan terburu - buru petugas ambulance di bantu beberapa suster mengeluarkan bed pasien dari dalam mobil ambulance.. Dan Anggun begitu terkejut, jantungnya berdetak cepat ketika melihat wanita yang sangat dia kenal sudah tidak sadarkan diri dengan berlumuran darah.. Jika saja saat ini dia bukan seorang dokter profesional seperti beberapa tahun lalu di Paris pasti sudah ambruk, ketika wanita yang sama kembali berhadapan dengannya dengan keadaan yang sama menegenaskan seperti beberapa tahun lalu.


"Tidak perlu masuk ke Unit Gawat Darurat, kita langsung ke Ruang Operasi pasien sudah banyak kehilangan darah." Perintah Anggun pada teamnya dengan berusaha tetap tenang. Keselamatan Keyla adalah prioritasnya sekarang. Dia harus bisa menguasai dirinya meakipun sekarang dadanya terus bergemuruh. Kenapa kehidupan tragis ini kembali datang menyapa Keyla tepat dihadapannya seperti bebrapa tahun lalu di sebuah tangga darurat apartemen mereka di Paris.


Dengan langkah cepat mereka segera mendorong bed pasien tersebut menuju Ruang Operasi..


Bagas yang saat itu baru sampai di Rumah Sakit berpapasan dengan Anggun juga teamnya yang sedang mendorong bed pasien dengan cepat menuju Ruang Operasi, melihat team medis yang sedang terburu - buru membawa pasien, Bagas berbalik menuju bed tersebut dan ikut mendorongnya dengan kuat agar segera sampai ditempatnya. Matanya terbelalak ketika melihat wanita yang mati - matian dia usahakan untuk membuka hati padanya kini sedang terbaring dengan darah yang sudah melumuri hampir semua bagian tubuh.


"Ya Tuhan Keyla aku mohon meskipun terasa sulit, tetaplah bertahan." Kata Bagas lirih lalu meraih tangan pucat Keyla seakan tidak ada lagi darah yang mengalir di tangan mungil itu. Tangan yang bahkan belum pernah disentuhnya, tangan yang ingin sekali di genggamnya namun sang pemilik tangan seakan memberikan pembatas tinggi di antara mereka.


Sedangakan apa yang Bagas lakukan tidak luput dari perhatian Anggun dan para suster yang ada disitu. mereka sangat kenal siapa laki - laki yang sedang berada di hadapan mereka ini...


"Lakukan yang terbaik untuk membawanya kembali dokter Anggun, dia wanita yang berharga dalam hidupku." Kata Bagas ketika mereka sudah di depan Ruang Operasi dan Keyla sudah di bawa masuk oleh team Anggun untuk disiapkan.


Anggun mengangguk, kemudian masuk kedalam ruangan tersebut..

__ADS_1


Bagas berusaha untuk setenang mungkin kemudian menghubungi adik sepupunya, memberitahukan apa yang sudah terjadi pada Keyla..


Hampir satu jam Bagas menunggu Rosa dan Bram namun belum tiba, tidak perlu dipertanyakan lagi macetnya jalanan jakarta apalagi saat berangkat kantor seperti ini. Sedangkan dokter Anggun yang sedang menangani Keyla juga belum keluar dari ruangan yang ada dihadapannya ini.


Hingga bebrapa menit kemudian dengan langkah cepat Bram dan Rosa menyusuri lorong Rumah Sakit milik keluarga Rosa, Beberapa waktu lalu Bagas menghubunginya, memberitahukan jika Keyla sedang di tangani di RS milik keluarga mereka karena terlibat tabrakan.


Air mata yang terus meluncur di pipi mulus Rosa turut menemani langkahnya dan Bagas menuju Ruang Operasi dimana Bagas sedang menunggu mereka juga tempat Keyla sedang berada.


"Ya tuhan Key," Ucap Rosa lirih.


Perih dalam hatinya ketika membayangkan nasib tragis yang selalu datang di kehidupan sahabat sekaligus adik iparnya itu.


Adik Ipar yang tidak tahu apapun tentang kehidupannya sendiri. Keyla yang tidak tahu jika masih punya orang tua yang utuh, meskipun mereka menyayangi Keyla sebagaimana mestinya keluarga namun tetap saja Rosa merasa bersalah.. sungguh meakipun mereka sangat menyayangi Keyla namun Rosa merasa jika dunia seakan tidak pernah berpihak pada sahabatnya itu..


"Bagaimana keadaanya Gas ?" Tanya Rosa masih dengan air mata yang terus turun membasahi pipinya.


"Jangan terlalu khawatir, Dokter Anggun dan teamnya sedang mengatasinya. Dia dokter yang handal aku yakin dia pasti bisa membawa Keyla kembali pada kita lagi." Kata Bagas.


Rosa segera masuk kedalam pelukan Bram, sungguh dia tidak bisa membayangkan jika sesuatu yang tidak dia inginkan akan terjadi pada Keyla.. dia masih berhutang kejujuran pada Keyla. selama hampir delapan tahun ini menyembunyikan fakta jika Keyla adalah bagian dari keluarga suaminya. Sebagai sahabatnya Rosa ingin sekali menceritakan, namun dia juga menghargai keluarga suaminya karena itu adalah hak mereka untuk menjelaskan...


"Apa lukanya sangat parah Gas ?" Kali ini Bram yang bertanya.


"Tangan bagian kirinya terluka parah, juga kepala samping kirinya. Mungkin pengemudi lain menghantam mobilnya dari samping Bram. dia sudah banyak kehabisan darah, sepertinya tempatnya kecelakaan agak jauh dari Rumah Sakit." kata Bagas dengan mata yang sudah berkaca - kaca..

__ADS_1


"Aku mencintainya Bram, tidak masalah dia tidak bisa melakukan hal yang sama padaku. Melihatnya baik - baik saja sudah cukup buat aku." kata Bagas lirih


"Aku tahu itu, aku senang ada orang lain yang mencintainya


dengan baik selain aku dan Ayah Gas. Aku berterimakasih padamu dengan semua itu." Kata Bram sambil menepuk bahu Bagas.


Hampir enam jam Anggun berada di dalam Ruangan tersebut, dan selama itu juga Rosa, Bram dan Bagas tidak beranjak dari depan ruangan tempat Keyla berada.


Terlihat dengan wajah kelelahan juga raut khawatir di wajahnya, Anggun keluar dari ruangan operasi juga beberapa suster yang mendorong bed pasien dimana Keyla berada...


Anggun tersenyum melihat pimpinan Rumah Sakit tempatnya bekerja masih setia berada ditempatnya. Tersenyum miris mengingat adiknya Gerry harus bersaing dengan seorang pimpinan salah satu rumah sakit terbaik di jakarta. "Sepertinya kamu harus berusaha lebih giat lagi Gerry." batin Anggun kemudian mengulurkan tangannya menyapa sepasang suami istri yang tidak kalah kahawatir juga dengan mata sembab dari sang wanita...


Bram dan Rosa menyambut uluran tangan dari Anggun, mereka sedikit merasa lega setelah mendengarkan penjelasan Anggun Keyla berhasil melewati masa kritisnya.. Namun karena luka di bagian kepalanya sedikit parah Keyla belum bisa langsung di bawa keruangan rawat biasa, dia harus di rawat intensif di ICU terlebih dahulu..


setelah menjelaskan pada mereka Anggun meminta izin untuk pergi dari sana, dia sudah melewatkan jam makan siangnya.. sedangakan Rosa, Bagas dan Bram menuju ICU.


Anggun masuk kedalam ruangannya terlebih dahulu untuk mengambil ponselnya yang dia tinggal.. Ada pesan dari Roby untuk mengingatkan dirinya agar jangan melupakan makan siang juga beberapa panggilan dari adiknya.


Anggun perlahan melangkah menuju cafetaria Rumah Sakit membeli segelas kopi dan beberapa bungkus roti lalu keluar dari gedung Rumah sakit menuju sebuah taman yang biasanya di gunakan oleh para pasien untuk menghirup udara segar.


Memakan roti juga sesekali menyesap kopi yang ada di tangannya. Fikirannya bimbang sekarang, apa dia harus memberitahukan pada Gerry tentang Keyla tapi buat apa ? ada orang - orang yang terbaik berada di samping Keyla sekarang. Orang - orang yang menganggap Keyla berharga..


Anggun kembali tersenyum miris ketika mengingat kemarin ketika dia dan sang suami berkunjung kerumah utama untuk menjemput putra mereka, dan mendengar sang papa memaki - maki dan menghina gadis itu di depan mamanya. gadis yang mati - matian di cintai oleh adiknya.. Selama ini Anggun tidak pernah melihat adiknya dekat dengan siapapun.. Meskipun mereka berasal dari keluarga kaya, namun Gerry tidak sama seperti anak mudah pada umumnya yang dengan senang bermain - main dengan wanita.

__ADS_1


Tatapan hangat Gerry pada Keyla, sama seperti Gerry menatap padanya dan mama sudah bisa memberikan penjelasan jika adiknya mencintai Keyla.. sangat mencintai Keyla..


__ADS_2