Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Bonus 4. Awal Luka


__ADS_3

** Happy reading semuanya **


Seperti hari-hari biasanya, Gama masih setia duduk di atas motor kesayangannya yang di parkir di sisi jalan depan gerbang sekolah menunggu Briana. Namun sudah hampir waktunya masuk kelas, gadis itu belum juga terlihat.


"Kenapa bengong disini, dari tadi aku tungguin kamu di dalam." Ucpa Randi sambil berjalan keluar dari pekarangan sekolah menuju sahabatnya berada.


"Aku masih nungguin Briana, tapi jam segini kok dia belum datang ya ?" Ujar Gama sambil melihat kembali jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Bukannya kata Sasa kamu kerumahnya semalam ?" Tanya Randi bingung. Bagaimana bisa sahabatnya ini tidak tahu apa yang menjadi penyebab gadis incarannya tidak bisa masuk sekolah hari ini, padahal mereka bertemu semalam.


"Iya, tapi dia baik-baik saja kok semalam." Ucap Gama. Tatapannya masih menyusuri jalanan berharap gadis yang sedang di tunggunya akan segera berjalan sambil menundukkan kepalanya seperti biasa.


"Bego, pagi ini ibunya di temukan tewas tergantung di dalam kamar." Ujar Randi.


Gama terdiam, tubuhnya menegang. Otaknya masih mencerna berita yang baru saja di sampaikan sahabatnya ini.


"Ya elah di kasih tahu malah semakin bengong." Ujar Randi lagi.


Tanpa memperdulikan apapun, Gama segera melajukan motornya menuju rumah gadis itu. Sungguh dia sangat takut jika hal yang buruk ikut menimpa Briana.


"Hati-hati bego." Teriak Randi dari tempatnya berdiri saat moge sahabatnya itu berlalu dari sana dengan kecepatan tinggi.


"Ku mohon Briana, kamu harus baik-baik saja." Lirih Gama saat motornya terus melaju di jalanan kota Bali menuju pemukiman kumuh dimana rumah gadis yang membuatnya penasaran itu berada.


Benar saja, saat motornya memasuki pemukiman itu, pekarangan rumah Briana sudah di penuhi banyak orang juga beberapa petugas kepolisian.


Bebrapa petugas kesehatan sudah membawa tubuh yang terbungkus dengan kantung janazah masuk ke dalam ambulance yang terparkir di jalan sempit depan rumah yang menjadi tujuannya.


Gama memberanikan dirinya menerobos orang-orang yang berkerumun disana. Netranya menyusuri rumah yang sudah di pagari dengan dengan garis polisi, dan itu dia gadis yang sedang di carinya terduduk lemas di sudut dinding di samping rumah masih dengan pakaian yang dia lihat semalam.


Gama melangkah mendekati Briana lalu ikut duduk di samping gadis itu. Tidak ada yang bisa dia lakukan, tatapannya hanya terus mengarah pada Briana yang masih tertunduk dalam, wajah gadis itu terbenam di atas lututnya yang terlipat.


Gama Tidak terdengar tangisan atau apapun disana. Gadis itu hanya diam dengan keadaan yang mengenaskan. Rambut panjang terurai berantakan menutupi wajahnya. Pakaiannya sudah di penuhi debu dari lantai tanah yang dia duduki.

__ADS_1


"Ana..." Ucap Gama tertahan. Jujur saja dia tidak punya kepercayaan diri untuk menghadapi gadis ini, namun hatinya meronta untuk tetap berada disini bersama Briana.


Briana mengangkat kepalanya menatap Gama dengan mata yang membengkak. Yah gadis itu sudah lelah menangis, mungkin saja stok air matanya sudah habis terkuras untuk menangisi ibunya yang kini sudah pergi.


"Mamaku Gama." Lirih Briana. Kini buliran bening mulai meluncur kembali dari sudut matanya yang sudah membengakak.


Gama menggenggam tangan Briana yang bergetar. Tangan mungil yang tidak selentik tangan gadis lain yang ada di sekolah itu terasa begitu dingin. Dia ikut merasa sesak saat melihat wajah pucat dengan mata memerah juga masih ada bekas memar di pipinya itu.


"Apa yang terjadi Ana ?" Tanya Gama pelan.


"Mama memilih pergi tanpa mengajakku, aku harus bagaimana Gama ? Dia meninggalkan aku sendirian disini." Ucap Briana di sela-sela isak tangisnya.


Gama segera meraih tubuh Briana lalu memeluknya erat.


"Aku harus apa Gama ? harusnya dia membawaku bersamanya." Ucap Briana masih terbenam di kemeja putih Gama.


Gama menggeleng, sungguh dia tidak ingin gadis ini pergi apalagi harus sejauh itu.


"Aku akan melakukan apapun untukmu, apapun itu asal bisa menahanmu untuk tidak pergi." Ucap Gama pelan sambil mengusap pelan punggung Briana.


" Briana aku bisa meminta orang tuaku untuk membantumu, ku mohon dengarkan aku kali ini saja. Jangan melakukan hal bodoh dalam hidupmu." Ucap Gama risau karena Briana sudah melepaskan diri dari pelukannya.


"Pulanglah Gama, kamu tidak bisa berada disini." Ucap Briana sambil berdiri lalu memilih masuk kedalam rumah. Gama pun ikut berdiri dan berniat mengikuti gadis itu, namun petugas kepolisian yang menjaga disana menahannya.


Gama Masih berdiri dengan perasaan yang kacau di halaman rumah, orang-orang yang ada disana mulai membubarkan diri saat jenazah Karin sudah di bawa ke rumah sakit, tersisia beberapa petugas kepolisian yang masih berada disana untuk melakukan tugas mereka.


Di dalam kamar, Briana membenamkan tubuhnya di atas ranjang lusuh miliknya. Fikirannya kacau, laki-laki yang menjadi neraka dalam hidupnya dan Karin menghilang entah kemana. Laki-laki yang seharusnya mempertanggung jawabkan tragedi yang terjadi pagi ini sama sekali belum tahu keberadaanya dimana.


"Ma, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku benar-benar tidak ingin sendirian." Gumam Briana dan terlelap dalam mimpi buruk yang selalu menjadi temannya setiap hari.


***


"Brengsek, sialan." Maki laki-laki di dalam mobil yang tidak jauh dari rumah dengan luka lebam di mana-dimana saat melihat bocah laki-laki yang semalam datang kerumahnya belum pergi dari halaman rumahnya.

__ADS_1


Hari semakin sore, Gama belum juga beranjak dari halaman rumah Briana. Bahkan beberapa orang polisi sudah keluar dari sana dan menutup rumah itu, namun gadis yang dia khawatirkan itu belum juga terlihat keluar dari sana.


"Iya Mam.." Jawab Gama takut-takut.Tidak biasanya wanita terbaik di dunia ini menghubunginya.


Tidak berapa lama, Gama melangkah cepat menuju motor kesayangannya setelah sambungan di ponselnya berakhir..


Motor kesayangannya kembali melaju di jalanan Bali yang tadi pagi. Kini pagi sudah berganti senja, entah berapa jam waktu yang dia habiskan di halaman rumah Briana tadi.


Untung saja jalanan Kota Bali tidak semacet Jakarta, hingga tidak membutuhkan waktu lama motor kesayangannya sudah terparkir rapi di halaman rumah orang tua keduanya.


"Mama dari tadi loh nungguin kamu." Ucap Keyla dengan binar bercampur khawatir saat melihat putra semata wayangnya memasuki rumah mewah milik kaka iparnya.


"Rindu mam." Ucap Gama mengalihkan topik pembicaraan.


Sungguh dia sangat tidak pintar dalam berbohong, apalagi berbohong pada orang terdekatnya.


"Mama juga rindu." Ucap Keyla riang sambil menyelipkan tangannya di lengan Gama, lalu berjalan menuju ruang keluarga di mana suaminya berada.


"Rindu Gama, tapi ngikutin papa kemana-mana." Ujar Gama membuat Gerry yang sedang duduk di sofa sambil melihat tab miliknya mendongak melihat ke arah putra dan istrinya.


"Papa lebih butuh mama dari pada kamu." Ucap Gerry santai lalu kembali menatap bendah pipih di genggamannya.


bughh...


"Aduh sakit ma.." Ringis Gerry membuat Gama tertawa puas.


Gama beralalu dari sana dengan kekehan puas karena melihat laki-laki tua yang menjadi saingan beratnya dalam memperebutkan sang mama itu kesakitan.


"Kamu tuh, kalau ngomong sama anak di fikir-fikir dong." Omel Keyla.


Gerry tertawa sambil meletakkan tab yang ada di tangannya ke atas meja.


Cup...

__ADS_1


"Iya maaf." Kecup Gerry di bibir istrinya.


"Dasar..." Keyla cemberut namun tetap saja merona saat di perlakukan dengan manis oleh orang yang sudah puluhan tahun ini berasamanya.


__ADS_2