Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Bonus 7. Tragedi


__ADS_3

Angin malam berhembus, menerpa wajah cantik Briana yang kini bersandar di atas bahu Gama, lalu menerbangkan rambut lurus panjang yang terurai di punggungnya.


Gama mengendarai motor gede kesayangannya dengan pelan di jalanan kota Bali, seakan menikmati pelukan tangan Briana di perutnya. Sungguh dia belum ingin sampai ke tempat tujuan mereka, tubuhnya masih ingin menikmati pelukan hangat tubuh gadis yang mendekap erat tubuh bagian belakangnya, juga hembusan nafas dari hidung dan mulut Briana yang terasa di wajah bagian sampingnya.


"Aku mencintaimu." Ujar Gama. Entah sudah berapa kali kata itu keluar dari mulutnya sepanjang perjalanan dari apartemen menuju rumah Briana, Namun gadis yang kini bersandar padanya tidak menjawab apapun, hanya semakin mengeratkan pelukan di perutnya


Motor besar itu mulai memasuki gang menuju pemukiman kumuh lalu berhenti tepat di depan rumah Briana.


Dengan perlahan Briana turun dari motor milik laki-laki yang kedepannya tidak akan pernah lagi dia lihat.


"Terimakasih Gama." Ucap Briana lalu melepaskan jaket yang ada di tubuhnya dengan perlahan. Jaket milik laki-laki yang kini sudah mengisi hati terdalamnya namun perasaannya itu harus dia kubur dalam-dalam bersama kehidupan buruknya di kota ini.


"Nanti saja, kembalikan besok di sekolah." Ucap Gama mencegah Briana melepaskan kain tebal yang menutupi tubuh Briana yang hanya terbalut dress sepaha itu. Resleting yang sudah terlepas kembali di tarik hingga mnutupi leher Briana.


Briana berdiri mematung menahan dada yang bergemuruh. Tidak ada lagi kata besok untuk mereka, tidak akan ada lagi kata nanti untuk kisah mereka, semua akan berakhir malam ini.


Briana mengangguk patuh, biarlah jaket yang membalut tubuhnya ini akan kenjadi kenangan. Jaket yang masih menyimpan wangi tubuh pemiliknya ini akan dia gunakan untuk mengingat jika ada laki-laki sebaik Gama yang pernah hadir dalam kehidupannya buruknya.


"Baikalah, aku masuk Gama. Kamu hati-hati di jalan." Ucap Briana.


"Hm, sampai ketemu besok Ana." Balas Gama sambil mengusap pelan puncak kepala Briana.


Briana semakin terdiam dengan jantung yang semakin menggila saat Gama menyentuh puncak pelanya dengan penuh kasih sayang.


"Sampai ketemu besok Briana." Ucap Gama lagi karena gadis yang terdiam di hadapannya ini belum membalasnya.


Briana hanya tersenyum manis ke arah Gama sambil mengucapkan banyak terimakasih di dalam hatinya. Setidaknya masih ada satu orang yang menginginkan kehadirannya di dunia ini.

__ADS_1


"Hati-hati, sampai jumpa." Ucap Briana pelan.


Gama tersenyum lalu motornya segera berlalu meninggalkan halaman rumah Briana.


Motor mahal itu sudah keluar dari gang pemukiman dan mulai melaju di jalanan.


"Ah sial, aku lupa meminta nomor ponselnya." Umpat Gama lalu menghentikan motornya di sisi jalan. "Ponselku mana ?" Ucap Gama sambil merogoh kantong celana panjang yang dia kenakan.


Gama tersenyum, dia masih memiliki alasan untuk kembali melihat wajah cantik Briana. Dengan cepat Gama kembali memutar arah menuju pemukiman yang baru beberapa menit lalu dia tinggalkan.


***


Setelah kepergian Gama tadi, Briana masih berdiri di halaman rumah. Rasanya dia enggan untuk datang kesini namun tetap saja tidak ada pilihan lain untuknya. Dengan langkah pelan Briana berjalan menuju rumah kumuh yang selalu terlihat mengerikan di matanya. Ditambah lagi beberapa garis polisi yang berwarna kuning hitam itu masih ada di sana, membuat rumah kumuh itu terlihat semakin menyeramkan.


Dengan menarik nafasnya pelan Briana memberanikan diri mendorong pintu rumah itu. Jika saja barang-barang penting miliknya tidak berada di rumah ini, dia tidak akan pernah lagi menginjakkan kakinya di rumah ini.


Karena tidak lagi terdengar suara dari papa sambungnya itu, Briana kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar tidurnya untuk mengemas semua pakaian juga barang-barang penting lainnya yang akan dia bawa besok.


"Ahhh..." Teriak Briana. Kini tubuhnya sudah tengkurap di lantai kamarnya dengan laki-laki brengsek itu sudah duduk di atas tubuh bagian belakangnya.


"Aku tanya bagaimana rasanya di nikmati oleh laki-laki kaya ? Apa benar senikmat itu hingga si ****** sialan itu lebih memilih orang kaya dari pada aku." Teriak Irfan sambil menarik keras rambut panjang Briana.


"Iya, itu sangat nikmat untuk itulah mama lebih memilih melahirkan benih dari orang seperti mereka dari pada orang brengsek seperti mu." Ucap Briana sambil tersenyum sinis. Biarlah mungkin malam ini dia akan segera menyusul sang mama yang baru beberapa jam meninggalkannya karena sengaja memancing emosi laki-laki yang kini menindih tubuhnya.


"Pelacur kecil sialan." Geram Irfan lalu membenturkan kepala Briana ke lantai dengan keras. Darah segar sudah terlihat di pelipis gadis itu, namun tidak ada ringisan yang keluar dari mulutnya saat kepalanya berulang kali menghantam lantai kasar tanpa keramik itu.


Matanya mulai menutup saat pening di kepalanya semakin parah, bahkan saat tubuhnya di balik dan tangan kasar milik papa sambungnya itu mulai menjamahnya sudah tidak bisa lagi di cegahnya.

__ADS_1


Samar dia melihat tubuh papa sambungnya ambruk di atas lantai, lalu ruangan kamar sudah terlihat menggelap seiring kesadarannya menghilang.


"Ana..." Teriak Gama setelah memukul kepala Irfan dengan sekuat tenaganya. "Bangun Ana..." Ujarnya dengan tubuh yang bergetar melihat darah yang kini sudah merembes di lantai. Tangannya yang bergetar ketakutan merogoh kantong jaket yang masih membungkus tubuh gadis yang tidak lagi sadarkan diri di atas pangkuannya.


"Bang tolong aku.." Ucapnya dengan suara bergetar saat ponsel sudah terhubung dengan laki-laki yang kini menunggunya di apartemen.


Ponsel itu masih terhubung namun dia tidak lagi berbicara apapun pada orang yang kini terhubung di ponselnya. Ana, hanya nama itu yang terus keluar dari mulutnya, rambut panjang yang sudah di penuhi darah kini ikut mengotori kaus berwarana putih yang dia kenakan.


"Cepat Bang, aku takut." Ujarnya lagi.


Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, Kevin terus saja mengumpat. Suara adiknya yang terdengar bergetar itu terus terdengar di ponsel yang masih terhubung itu.


"Sialan." Umpat Kevin segera berlari menuju rumah kumuh yang masih terdapat garis polisi itu sata mobilnya sudah berhenti di depan rumah Briana.


Dia tertegun melihat adiknya sudah terduduk di atas lantai kamar yang sidah di penuhi darah di mana-mana. Kaus putih yang melekat di tubuh Gama sudah berubah warna.


Dengan cepat Kevin membawa gadis yang tersandar di pangkuan adiknya itu kedalam dekapannya, lalu membawa tubuh yang sudah di penuhi darah itu keluar dari dalam kamar menuju mobil.


"Cepat Gama.." Panggil Kevin.


Masih dengan tubuh yang bergetar, anak laki-laki itu mengikuti kaka sepupunya lalu masuk kedalam mobil.


"Hubungi ibu." Perintah Kevin saat mobilnya mulai meninggalkan halaman rumah kumuh dan laki-laki yang juga tidak lagi sadarkan diri di dalam rumah itu.


"Sekarang Gama." Sambung Kevin ketika melihat adiknya hanya diam membisu dengan tubuh bergetar sembil melihat ke belakang dimana Briana berada.


"Ibu dimana ?" Tanya Kevin saat ponsel yang ada di tangan adiknya sudah terhubung dengan ibunya.

__ADS_1


"Kami akan kesana sekarang." Sela Kevin cepat lalu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2