
Tidak ada waktu yang terlewatkan begitu saja selama satu minggu ini. Beberapa tempat wisata romantis terkenal sudah mereka datangi. Sungai Seine hingga Ponts Des Arts atau yang biasa di kenal dengan Jembatan Gembok Cinta juga ikon kota Paris Menara Eiffel yang termasuk dari salah satu keajaiban dunia, tidak luput dari agenda mereka berdua.
Jangan lupakan aktivitas menyenangkan di atas ranjang hingga kamar mandi, dan hampir semua tempat di dalam kamar ini, sudah mereka pakai untuk menuntaskan hasrat membara mereka yang seperti tiada habisnya.
Penderitaan selama dua tahun yang di rasakan Keyla di kota ini, sudah terganti dengan kenangan indah. Itulah yang di harapkan Gerry, meskipun semua yang dia lakukan selama satu minggu ini tidak bisa menebus kesalahannya, namun dia berjanji, mulai sekarang hanya akan ada kenangan indah mereka selama sisa di hidup Keyla.
Namun kenyataan kembali menyapa, kini sudah waktunya kembali. Masa bulan madu sudah berakhir, Gerry harus kembali bekerja, ada banyak nyawa yang bergantung di perusahaanya. Lagi pula tidak ada yang perlu dia khawatirkan, Keyla akan selalu bersamanya di sana. Menemani malam panjangnya hingga terbangun di pagi hari di ranjang yang sama, dan itu akan menjadi rutinitas mereka di sisa hidupnya.
Beberapa bingkisan yang sudah Keyla beli untuk anak-anak asuhnya di Panti sudah tertata rapi di sebuah kardus besar. Juga baju-baju miliknya dan Gerry sudah rapi di dalam koper, mereka akan terbang ke Indonesia malam ini. Beberapa jam lagi mereka akan berangkat ke Bandara, namun bukan Gerry namanya jika hanya akan menyia-nyiakan waktu begitu saja. Dan kini berakhirlah Keyla yang terkulai lemas di dalam dekapannya dengan pakaian yang sudah berserakan di lantai kamar.
"Aku ngga sabar untuk tiba di Indonesia, kangen kantor sama anak-anak panti juga." Kata Keyla masih dengan tubuh tanpa sehelai benang yang kini berada di dekapan suaminya.
Seperti biasa, apa saja yang mereka lakukan pasti akan berakhir dengan tubuh polos bermandi peluh di atas ranjang.
"Kamu masih tetap akan bekerja seperti biasa ?" Tanya Gerry, sambil memberika usapan-usapan lembut di punggung telanjang Keyla.
"Tentu saja, aku ngga bisa biarkan Bram bekerja sendirian." Jawab Keyla tanpa memikirkan apa yang di inginkan oleh suaminya.
Gerry hanya diam tidak tahu harus merespon apa dengan keputusan yang sudah Keyla buat sendiri.
"Kenapa ngga boleh ya ?" Tanya Keyla segera menarik wajahnya yang terbenam di dada bidang Gerry, melihat suaminya hanya diam saja yang juga ikut menatap lekat padanya.
"Boleh Key, tapi bisa ngga kamu meminta Bram untuk tidak menggunakan semua waktumu di kantor ? aku juga ingin menghabiskan waktu bersamamu." Ucap Gerry memelas, dan kini tangannya sudah membelai sayang wajah istrinya.
"Tentu saja boleh, aku juga anak pemilik perusahaan, dan jangan lupa aku punya saham pribadi di HG Group. Jadi suka-suka akulah pulang jam berapa." Kata keyla dengan mode sombongnya membuat Gerry terkekeh.
__ADS_1
Cup.. Kecup Gerry pada bibir istrinya.
"Kita akan pergi bersama ke tempat kerja, begitu juga saat pulang kantor, aku akan menjemputmu." Kata Gerry finish dan Keyla mengangguk patuh.
Dengan cepat Keyla kembali membawa tubuhnya kedalam dekapan ternyaman yang mungkin akan selalu menjadi tempat favoritnya.
"Nanti bangunkan aku jika sudah akan ke Bandara, pelukanmu sangat nyaman dan terus memaksaku untuk terlelap." Ucap keyla yang sudah terbenam di dada bidang suaminya.
Gerry hanya tertawa dengan sikap manja yang jarang sekli nampak dari wajah datar istrinya. "Tidurlah, aku akan ada disini, kamu bisa memakai dekapanku kapanpun kamu mau. Semuanya milik kamu." Ucap Gerry dengan terus memberikan kecupan di puncak kepala Keyla.
*****
Bandara Soekarno Hatta Jakarta.
"Auntii.." Dengan cepat Flora turun dari gendongan Bram dan berlari kearah Keyla dan Gerry. Suara menggemaskan itu memenuhi ruangan terminal kedatangan, membuat beberapa orang yang ada disana ikut tersenyum, seakan suara gadis kecil itu ikut menularkan kebahagiaan yang kini sedang di rasakan Keyla. Langkah kaki Keyla semakin bersemangat setelah satu bulan lamanya dia menghabiskan hari-harinya di Paris. Keyla merendahkan tubuhnya, lalu gadis kecil itu langsung menghambur memeluk tubuhnya.
"Aunti juga rindu." Ucap Keyla dengan memberikan hujaman ciuman di pipi yang selalu membuatnya gemas. Keyla yang ingin membawa Flora dalam gendongannya, di tahan oleh Bram karena melihat tubuh adiknya yang terlihat lelah. Penerbangan yang panjang dan melelahkan.
Keyla sudah berdiri kembali setelah Flora sudah berada di gendongan Bram. Rosa segera merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan dari gadis favoritnya semasa SMA itu.
"Muka kamu kok pucat gitu, ngga di kasih istrahat sama Gerry ya." Goda Rosa dan seperti biasanya, wajah datar Keyla yang selalu terlihat tidak akan bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Kamu juga gitu dulu, sampe-sampe ngeluh sama aku di Paris karena Bram ngga kasih waktu kamu istirahat." Kata Keyla tidak mau kalah.
Bram hanya menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan dua wanita yang selalu menjadi priorotasnya sejak dulu. Sedangkan Gerry hanya tersenyum mendengar godaan dari Rosa, dia kembali mensejajarkan langkahnya dengan Bram keluar dari Bandara. Mereka berjalan menuju kafe yang tidak jauh dari Bandara untuk menunggu sopir pribadi Ayah Han membereskan barang-barang Gerry dan Keyla untuk di bawah kerumah mereka.
__ADS_1
"Kalian yakin tidak akan tinggal di rumah Ayah dan Bunda ?" Tanya Bram sambil sesekali menyesap kopi yang ada di tangannya.
"Iya Bram, lagipula Gerry sudah punya rumah dan akupun punya Apartemen kasihan jika tidak di tempati." Jawab Keyla dan Bram mengangguk mengiyakan keputusan Keyla. Dia sangat mengerti dengan sifat adiknya sejak dulu, meskipun mereka sudah menganggapnya keluarga, namun Keyla selalu saja ingin berusaha sendiri tanpa ingin terlalu merepotkan orang lain.
" Baiklah, tapi jangan lupa, sesekali menginap di rumah. Bunda sangat merindukanmu." Kata Bram.
Bram terus saja memberikan petuah sekaligus peringatan pada adik iparnya dan membuat Keyla berulang kali menatap tajam pada Bram. Tidak ada yang berubah, Bram masih sama posesivnya seperti dulu. Meskipun sekarang tidak lagi memberi batasan karena biar bagaimanapun Gerry sudah menjadi suaminya, namun ancaman-ancaman yang terus keluar dari bibirnya untuk Gerry agar jangan menyakiti adiknya membuat Rosa dan Keyla berpandangan dengan senyum geli.
"Udah dong sayang, kapan Flora punya adik jika kamu seperti ini terus pada Keyla." Ucap Rosa ambil mengedipkan matanya menggoda suaminya.
"Cih, mulut kamu itu ngga pernah jauh-jauh dari urusan begituan. Anak kamu itu maaih kecil, dan kamu selalu ngomong yang tidak pantas seprti itu." Kesal Keyla. Entah bagaimana caranya agar bisa merubah kelakuan blak-blakan Rosa.
Rosa hanya terus tertawa dengan kekesalan yang tidak lepas dari wajah Keyla sejak tadi.
"Jangan menundanya karena alasan pekerjaan, soal pekerjaan di kantor ada vivian yang akan membantuku." Kata Bram datar memperingati. Dia tahu bagaimana adiknya, Keyla pasti akan mendahulukan pekerjaan dan karirnya di perusahaan.
"Jadi apa aku di pecat ?" Tanya Keyla tidak senang. Dia sama sekali tidak menunda apapun, namun soal makhluk kecil suci itu, sungguh dia tidak ingin berharap lebih dan akhirnya kecewa.
"Iya, jika itu bisa membuatmu memikirkan dirimu sendiri mulai sekarang." Jawab Bram serius. "Lagi pula semua yang kamu inginkan dulu, sudah kamu miliki jadi, sekarang waktunya untuk memikirkan kehidupanmu setelah menikah. Aku hanya ingin kamu mulai memikirkan kehidupan keluarga kecilmu, menjadi istri juga ibu yang bahagia." Sambung Bram.
"Aku ngga menunda apapun, tapi izinkan aku tetap bekerja. Meskipun tidak dengan waktu yang seperti biasanya dan sudah Gerry mengizinkan, kami sudah membicarakan ini di Paris." Ucap Keyla memohon.
Bram mengehela nafasnya, tidak ada yang bisa dia lakukan jika adiknya ini sudah memohon selain menyetujuinya.
Bram dan Rosa kini sudah berada di dalam mobil mereka, Keyla terus saja melambaikan tangannya pada Flora yang baru saja dia hujani dengan ciuman. Bram akan mengantarkan istri dan putrinya ke toko perhiasan milik Rosa.
__ADS_1
Setelah kepergian Bram dan Rosa, Gerry dan Keyla masuk kedalam mobil yang di sediakan oleh Han. Sopir peibadi Ayah Han akan mengantar mereka kerumah milik Gerry.