Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Rachel ^ Bagas ( Bulan Madu Usai )


__ADS_3


"Sudah cukup, aku tidak kuat lagi. Ini sangat melelahkan Gas" Ucap Rachel terbata, nafasnya masih belum normal karena aktivitas menyenagkan yang baru saja selesai.


Bagas masih menahan tubuh istrinya dengan kedua tangan agar tidak terjatuh. Sedangakan Rachel sudah lemas sambil bersandar pada bahu Bagas. Tubuhnya masih terhimpit di pinggiran kolam renang dengan kaki yang melingkar sempurnah di pinggang suaminnya. Sungguh jika Bagas melepaskan pelukannya, dia yakin akan langsung tenggelam kedasar kolam. Kakinya terasa lemas, tidak bisa lagi menhan beban tubuhnya. Sudah hampir dua jam waktu yang mereka habiskan untuk bercinta hampir di seluruh area kolam renang ini. Entah dari mana kekuatan yang dimiliki oleh suaminya, seakan tidak pernah habis selama tiga hari ini.


Kini tubuh keduanya masih terendam di dalam kolam renang. Setelah mencapai puncak dari surga dunia, keduanya masih berdiri sambil berpelukan di dalam kolam renang.


"Kita akan kembali besok pagi sayang, sangat rugi jika tidak menggunakan waktu dengan baik disini." Jawab Bagas sambil mengecup kepala istrinya.


"Kita kan bisa melakukannya di rumah Gas, kamu menguras semua tenaga aku sampai habis." Kesal Rachel yang kini sudah menatap lekat pada manik suaminya.


Bagas tertawa mendengar rengekan Rachel.


"Iya maafkan aku." Kecup Bagas lagi, kali ini bibir mungil Rachel yang menjadi sasarannya. "Kita akan jarang seperti ini jika sudah kembali ke Jakarta. Aku akan sangat sibuk disana, kamu mungkin akan tertidur lebih dulu sebelum aku pulang." Sambung Bagas sambil merapikan helaian rambut yang sudah basah dengan campuran air kolam dan keringat kebelakang telinga istrinya.


"Aku tidak akan tidur sebelum kamu pulang." Ucap Rachel.


Bagas tidak lagi berkata apapun, dia hanya terus menatap lekat pada mata yang dulu hanya ada kesedihan kini mulai terlihat ada binar bahagia disana. Tangannya terus mengusap lembut pipi istrinya dengan sayang.


"Aku bahagia memiliki kamu." Ucap Bagas tulus.


"Berhenti menggodaku, aku tidak akan terpengaruh lagi cepat bawa aku ke kamar mandi sekarang, aku mau mandi." Ketus Rachel dan membuat Bagas semakin terkekeh.


***


Setelah membersihkan tubuh plus plus bersama istrinya di dalam kamar mandi, kini Bagas sudah duduk bersandar di kepala ranjang sambil memeriksa beberapa laporan dari asistenya di Rumah Sakit.

__ADS_1


Rachel masih mengeringkan rambutnya di depan meja rias, sesekali melihat ke arah suaminya yang sedari tadi sedang fokus dengan benda pipih yang ada dalam genggamannya.


Sudut bibirnya terangkat, senyum bahagia tercetak disana sungguh dia tidak menduga jika takdir hidupnya akan seindah ini. Cinta, ya dia jatuh cinta pada suminya ini. Berharap semua ini tidak akan lagi di ambil oleh Tuhan dari kehidupannya.


Sendainya saja Ibu dan Ayahnya masih sempat mengenal suaminya ini, mungkin mereka juga akan merasakan bahagia sama seperti yang dia rasakan saat ini.


"Masih belum selesai ?" Tanya Rachel sambil ikut duduk di atas ranjang.


"Sedikit lagi, ada bebrapa laporan perkembangan pasien yang harus aku periksa malam ini." Ucap Bagas masih tetap fokus pada layar ponsel pintarnya.


Rachel sudah merebahkan tubuhnya di samping suaminya, tangan Bagas terulur mengusap kepala istrinya dengan sayang, namun tatapannya tetap masih terfokus pada layar ponselnya.


Selang beberapa menit Bagas sudah meletakkan ponselnya di atas nakas di sampingnya lalu ikut merebahkan tubuhnya di sampng Rachel.


"Keyla hamil anak kembar." Ucap Bagas singkat.


"Hm, baru saja Dokter Anggun memberitahuku." Jawab Bagas singkat.


"Gas, kamu ingin punya anak juga ?" Tanya Rachel.


"Tenyu saja, dan aku berharap kerja kerasku tiga hari ini tidak sia-sia." Jawab Bagas dengan senyum jailnya. Tangannya sudah mulai memberikan usapan di paha yang terekspos karena celana piyama tidak bisa menutupi paha mulus istrinya itu. "Dan mungkin kita bisa kembali mencobanya sekarang." Sambungnya dengan mata yang menggoda.


"Jangan aneh-aneh, aku lapar." Tepis Rachel pada tangan jail suaminya.


Bagas tertawa lalu membawa tubuh Rachel kedalam pelukannya.


"Aku ingin anak yang cantik cantik seperti kamu." Gumam Bagas di atas kepala istrinya. Ciuman di kepala beserta harapan yang tinggi, berharap apa yang mereka lakukan selama tiga hari ini paling tidak ada ada satu sel yang berhasil mencapai tempat tujuannya.

__ADS_1


"Ayo kita makan." Ajak Bagas namun masih memeluk erat tubuh istrinya.


"Sebenarnya kamu mau ngajakin aku makan apa tidur sih ?" Tanya Rachel kesal karena suaminya masih belum melepaskan pukannya.


Bagas semakin terbahak melihat wajah menggemaskan istrinya.


"Melihatmu cemberut seperti itu semakin membuatku ingin memakanmu sekarang juga." Kata Bagas segera bangun lalu membantu istrinya ikut bagun dari ranjang sebelum dia benarbenar menerkam istrinya itu sekarang juga.


Mereka keluar dari dalam kamar, menuruni satu persatu anak tangga dengan genggaman tangan mereka yang masih saling bertautan. Sesekali Bagas mencuri kecupan di pipi Rachel dan mendapat delikan mata dari istrinya itu.


***


Kamar dengan lampu temaram kembali di isi nafas yang saling beradu seakan sama-sama mengejar untuk meraup oksigen yang ada di dalam kamar itu. Tidak, Rachel tidak bisa menolak pesona suaminya ini, namun sungguh jika ini aktivitas ini tidak mereka hentikan sekarang juga, dia yakin sebentar lagi dia akan jatuh pingsan karena kelelahan.


Benar-benar tiga hari yang menguras energi dan cairan tubuhnya.


"Air Gas," Minta Rachel pelan. Nafasnya masih belum stabil, kedua matanya maaih terpejam menikmati sisa-sisa puncak kenikmatan yang mereka raih bersama beberapa menit yang lalu.


Bagas beranjak dari tubuh polos istrinnya sambil menarik selimut yang sudah teronggok di bawah kaki mereka. Memungut kembali satu persatu pakaiannya yang sudah berserakan di atas lantai laku melangkah menuju dapur untuk mengambil air untuk istrinya. Langkah yang di iringi rutukan pada dirinya sendiri, laki-lagi melupakan cairan yang paling di butuhkan setelah aktivitas panjang di atas ranjang.


Dengan langkah cepat Bagas kembali masuk kedalam kamar dengan dua botol air mineral dingin di tangannya.


"Aku benar-benar akan pingsan karena dehidrasi." Kesal Rachel sambil menerima air minum yang di spdprkan Bagas untuknya. Sungguh suaminya ini sudah seperti monster saja, baru saja mereka selesai makan malam, dan Bagas sudah langsung menyerangnya di dalam dapur. "Berhenti Gas.." Teriak Rachel.


Namun Bagas tidaj berhenti memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah cemberut istrinya.


"Baiklah-baiklah aku berhenti sekarang." Ucap Bagas masih dengan tawa yang membuat Rachel semakin kesal. Dengan masih memberikan kecupan di bahu polos istrinya, Bagas kembali menarik selimut yang melindungi tubuh istrinya. Tubuh yang sudah penuh dengan noda keunguan karena perbuatanya seharian ini. "Baikalah sekarang istirahatlah." Ucap Bagas lagi sambil meraih botol minuman yang dari tangan istrinya lalu meletakkannya di atas nakas.

__ADS_1


"Selamat tidur wife, terimaksih untuk hari ini." Kecup Bagas lagi pada kepala Rachel, saat wajah kelelahan istrinya sudah terbenam di dada bidangnya. "Bulan madu kita sudah selesai, dan aku harap kamu tetap sabar di sampingku karena setelah kita kembali dari sini akan ada banyak orang yang membutuhkan aku, dan mungkin itu akan menyita waktu yang harusnya aku habiskan denganmu." Sambung Bagas lagi.


__ADS_2