
*** Karena ini hari minggu, terus aku ngga terlalu banyak kesibukan juga, hari ini aku kasih bonus. Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya 🙏🏼 komentar masukan juga boleh, siapa tahu bisa author pake biar ceritanya semakin menarik. Dan Happy Reading 🤗***
Di parkiran Rumah Sakit, Bagas masih betah duduk diam di dalam mobil. Entah apa yang membuat gadis di sampingnya ini sama sekali belum terjaga dari lelapnya. Sesekali dia memberanikan tangannya terulur untuk menyentuh helaian rambut yang menutupi wajah Rachel. Kembali terlintas dalam benaknya semua yang dia lakukan pada Rachel sekarang, yang dulu dia harapkan akan bisa dia lakukan pada Keyla.
Bukanlah masalah jika kita pernah berharap, itu hal yang lumrah dan sering terjadi pada manusia. Kita boleh berharap pada orang yang sangat kita cinta dulu untuk menghabiskan sisa waktu bersama. Namun percayalah kita juga pasti akan tetap menerima dengan suka cita pada dia yang akan Tuhan takdirkan.
"I Love you." Ucap Bagas saat mata yang selalu memandangnya penuh kesedihan itu mulai terbuka perlahan.
Rachel masih terdiam menatap lekat pada mata yang entah mulai kapan selalu tertuju padanya ini. Meraup sisa-sisa kesadarannya, mungkin saja dia masih berada di alam bawa sadarnya. Sungguh dia tidak percaya apa yang baru saja dia dengar.
"Aku mencintaimu, menikahlah denganku." Ucap Bagas lagi.
Rachel menegang ketika suara itu kembali terdengar di telingannya. Namun bibirnya tertarik, dia tersenyum cintanya berbalas.
Rachel membawa tangan yang selalu menggenggam tangannya untuk menyentuh tepat dimana organ tubuh yang terus saja berdetak saat dia sedang bersama Bagas.
"Mungkin ini terlalu cepat untuk di katakan sebagai cinta, namun jika debaran ini bisa di artikan cinta, maka akupun sama, entah sejak kapan aku tidak tahu pasti. Namun debaran ini selalu datang saat aku bersamamu." Ucap Rachel masih terus menatap mata yang kini memandangnya penuh binar.
Bagas segera meraih tubuh Rachel, merengkuh tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Di dalam mobil putih yang selalu menemani kesehariannya, Bagas memberanikan dirinya untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan. Rachel masih terdiam dalam pelukan hangat yang baru kali ini dia rasakan. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut laki-laki yang hanya terus berkata ketus padanya ini. Namun kini dia kembali menyadarkan dirinya, pelukan hangat ini nyata. Etanol yang selalu menguar dari tubuh laki-laki ini nyata, Bagas kini sedang memeluknya erat.
"Ayo kita menikah." Ucap Bagas lagi.
"Apa ini lamaran ?" Tanya Rachel saat Bagas mengurai pelukan mereka, dan beralih menatap wajah Rachel. Pertanyaan yang Rachel ucapakan membuat Bagas terkekeh. Sama seperti Bagas, Rachelpun menatap wajah Bagas, seakan memindai seluruh bagian wajah laki-laki yang akan menjadi teman hidupnya ini. Dia ingin wajah tampan ini tercetak jelas dalam mata dan fikirannya. Senyum yang jarang sekali tertuju padanya, kini dia menikmatinya dari dekat.
__ADS_1
"Apa perlu aku melamarmu lagi, pernikahan kita sudah di depan mata." Kata Bagas masih terus tersenyum.
"Seharusnya, karena kamu sama sekali belum melamarku." Jawab Rachel membuat Bagas semakin tertawa.
"Menikahlah denganku, ayo menikah dan memiliki anak secantik kamu." Kecup Bagas pada bibir tanpa polesan itu.
Rachel mengangguk dengan rona di wajahnya " Juga setampan kamu." Kata Rachel lagi.
Bagas mengangguk lalu kembali membawa tubuh mungil itu kedalam dekapannya.
"Kita akan memulai semuanya dari awal lagi." Ucap Bagas sambil memberikan kecupan di kepala Rachel. Rachel mengangguk dalam dekapan hangat Bagas.
Yah mereka akan memulainya dengan baik, menjalani pernikahan dan hidup dengan bahagia kedepannya.
Setelah selesai mengungkapkan apa yang harus mereka ungkapkan, sepasang calon pengantin itu keluar dari dalam mobil yang menjadi saksi cinta mereka hari ini.
Bagas meminta Rachel untuk menunggun di ruangannya, karena dia masih harus memeriksa beberapa pasien yang memang di tangani langsung olehnya.
Seperti biasanya, Rachel selalu patuh tanpa bicara semua yang Bagas katakan padanya. Dia selalu mengerti kesibukan laki-laki itu, dia mengerti tidak bisa memiliki Bagas untuk dirinya sendiri karena profesi laki-laki itu di butuhkan semua orang.
***
Selalu saja seperti ini, berharap akan segera sampai di rumah untuk beristirahat namun lagi-lagi harus menampung banyak stok sabar jika menghadapi jalanan padat ibu kota. Terlebih lagi di jam-jam pulang kantor seperti ini. Bagas muali gusar di tempatnya duduk, sesekali menatap pada Rachel yang tetap tenang dalam duduknya.
__ADS_1
Gadis ini memiliki stok sabar yang luar biasa, di tengah-tengah kegusaran Bagas karena mobil yang hanya bisa melaju seperti siput, gadis di sampingnya ini hanya menatap mobil -mobil yang ada di hadapan mereka dengan tenang.
"Kamu ngga lapar ?" Tanya Bagas.
"Lapar." Jawab Rachel singkat.
"Kita meneli dulu di restoran terdekat." Ajak Bagas namun Rachel menggeleng.
"Aku akan makan dirumah, Papi pasti menunggu kita pulang." Jawab Rachel.
"Kamu sudah lapar, dan kita akan lama. Kamu tidak lihat mobil-mobil di depan sana ?" Tanya Bagas semakin gusar.
"Aku lihat kok, mata aku masih sehat Gas." Ucap Rachel. "Kita pasti sampai rumah. Papi dan Mami pasti maaih menunggu kita pulang, dan aku sangat suka makan bersama keluarga. Selama ibu terbaring di rumah sakit, aku hanya bisa makan sendirian di sampingnya." Sambungnya lagi.
"Baiklah." Ucap Bagas mengalah sambil memberikan usapan lembut di kepala Rachel.
Benar saja, meskipun membutuhkan waktu yang lama juga kesabaran extra, akhirnya mobil yang membawa mereka sampai juga di halaman rumah mewah milik Papi Manaf.
Rachel dan Bagas keluar dari dalam mobil, juga paper bag yang berisi gaun pengantin dan tuxedo di bawanya masuk kedalam rumah.
"Maaf kami terlambat." Ucap Bagas sambil mengecup puncak kepala Oma.
Sedangkan Diana segera berlalu kembali menuju dapur untuk meminta pelayan segera menyiapakan makan malam. Rachelpun segera menyusul calon Mami mertuanya untuk membantu menyiapkan makan malam.
__ADS_1
Semua sudah siap, Mami Diana kemblai keruang keluarga untuk mengajak suaminya untuk makan malam. Bagas mendorong kursi roda yang diduduki sang Oma menuju meja makan. Rachel mengambilkan makanan untuk Bagas seperti biasanya lalu mereka makan malam.
Papi Manaf selalu saja antusias menanyakan persiapan pernikahan mereka. Dan kali ini Bagas menjawab dengan semangat, tidak seperti biasanya. Diana mengelus tangan calon menantunya, dia turut bahagia kini. Melihat binar mata putranya saat menceritakan persiapan pernikahan juga Vila di puncak, dia sudah bisa menebaknya, jika gadis yang kini duduk di hadapannya sudah berhasil masuk kedalam relung hati putranya.