Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Bonus 8. Calon Menantu


__ADS_3

"Apa kalian menabrak seseorang ?" Tanya Anggun kaget saat membuka lebar pintu rumah dan putranya membawa masuk seorang gadis yang sudah penuh dengan darah.


Kevin masih diam seribu bahasa, tubuhnya sudah di penuhi darah sama seperti Gama namun dia tetap terlihat tenang. Berbeda dengan anak laki-laki yang baru menginjak usia tujuh belas tahun itu, tubuhnya bergetar dan wajahnya memucat.


Dengan langkah cepat Kevin membawa Briana yang belum sadarkan diri ke ruangan ibunya.


"Apa yang terjadi Kevin ?" Tanya Gerry yang kini melangkah masuk ke dalam ruangan sang kakak. Pertanyaan dia tujukan untuk keponakannya, namun tatapannya mengarah pada sang putra yang terlihat bergetar ketakutan.


"Aunti dimana om ?" Kevin tidak menjawab pertanyaan Gerry, sungguh dia mengkhawatirkan tantenya itu.


"Tante Keyla sudah tidur." Jawab Gerry.


"Pergilah ke kamar, dan ganti pakaianmu Gama."Perintah Kevin dan kini tatapannya sudah mengarah pada adik sepupunya yang sudah memucat di belakannya.


"Aku ingin menunggu Ana Bang." Jawab Gama sambil menatap ke arah gadis yang sudah terbaring di atas bed.


"Jangan keras kepala, jika aunti bangun dan mendapatimu seperti ini, dia akan terkejut dan itu sangat berbahaya pada kesehatannya." Kesal Kevin dengan suara yang mulai meninggi.


"Aku ingin memastikan dia baik-baik saja bang." Ucap Gama lagi.


"Dia tidak akan baik-baik saja jika kamu tidak menuruti kata-kataku. Pergi sekarang juga, sebelum Aunti bangun karena terganggu dengan suara kita." Ucap Kevin yang semakin kesal pada adiknya ini. Dia sudah mengingatkan untuk tidak ikut campur dengan keluarga yang memang sudah hancur itu namun adiknya ini begitu keras kepala.


Gama terdiam lalu membalik tubuhnya meninggalkan ruangan itu. Tatapan Gerry mengikuti langkah putranya yang sudah keluar dari dalam ruangan.


"Retak di kepalanya sangat parah, kita harus membawanya ke rumah sakit malam ini juga." Ucap Anggun. "Aku tidak bisa menanganinya tanpa peralatan medis yang memadai."Sambungnya lalu meraih ponsel yang ada di meja kerjanya.


"Siapkan ruangan operasi sekarang juga." Perintah Anggun pada seseorang di ujung ponselnya, lalu segera memutuskan sambungannya.


Kevin dan Gerry masih mematung sambil melihat wanita terbaik yang selalu mereka andalkan setiap kali dalam situasi seperti ini.


Seusai memberikan perintah pada staf rumah sakit, Anggun kembali melihat ke arah putra dan adiknya yang kini menatap ke arahnya.


"Pendarahan di kepalanya sudah berhenti, namun akan sangat membahayakan jika benturan di kepalanya bisa merusak jaringan otaknya." Ucap Anggun. "Cepat bawa gadis ini ke mobil Kevin." Ujarnya lagi saat melihat putranya yang masih mematung di hadapannya.


"Urus Gama om, aku dan Ibu akan membawa Briana ke Rumah Sakit." Ucap Kevin.

__ADS_1


"Baiklah, kami akan menyusul kalian ke sana." Ucap Gerry lalu ikut keluar bersama dengan Kevin dan Anggun yang sudah membawa tubuh Briana keluar dari dalam ruangan menuju depan.


Kini dia tersadar, nama gadis itu beberapa kali di sebutkan oleh keponakannya saat membahas tentang putranya.


"Sayang.." Panggil Gerry pelan. Dia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak sang istri, namun dia juga tidak ingin meninggalkan wanita kesayangannya ini sendirian di rumah.


"Hm... Jangan malam ini, aku mau tidur Gerry." Keyla menggeliat lalu kembali merapatkan selimut di tubuhnya.


Gerry tertawa mendengar ucapan sang istri yang dia tahu mengarah kemana.


"Papa..."


Gerry menoleh ke arah pintu, melihat putranya yang sudah remaja itu kini berdiri disana. Waktu begitu cepat berlalu, bayi mungil yang hampir merenggut nyawa wanita terbaik dalam hidupnya kini sudah mulai merasakan bagaimana menyukai seorang gadis.


"Tunggu disitu, kita akan menyusul mereka ke rumah sakit." Jawab Gerry. Dia tahu apa yang ingin di tanyakan putranya ini.


"Key,,, bangun sayang." Ucap Gerry lagi, "Putra kesayanganmu sudah menunggu." Sambungnya.


"Cih.. " Gerry berdecih saat melihat istrinya sudah bangun dan langsung duduk di atas ranjang. "Dasar, kalau menyangkut putramu kamu langsung duduk." Ucap Gerry, wanitanya ini benar-benar membuat dia kesal.


"Paa...."Panggil Gama takut-takut. Ah dia tidak tahan melihat adegan di hadapannya ini, dia ingin segera pergi ke Rumah Sakit bukan menonton adegan manis di dalam kamar ini.


Keyla kini menatap ke arah putranya yang sedang berdiri di pintu kamarnya.


"Keluarlah Gama, tunggu di depan. Mama kamu akan bersiap lalu kita segera pergi ke rumah sakit." Perintah Gerry pada putranya yang masih mematung di pintu kamarnya.


"Bersiaplah, calon menantumu sedang terluka, ka Anggun dan Kevin sudah membawanya ke Rumah Sakit." Ucap Gerry tersenyum pada sang istri saat putranya sudah keluar dari kamar mereka.


"Menantu..... ?" Tanya Keyla.


"Cepatlah sayang, kamu tidak lihat putramu begitu gelisah tadi." Sela Gerry cepat karena sang istri sama sekali belum bergerak dari ranjang.


Keyla hanya mengikuti perintah Gerry meskipun dia masih bingung apa maksud dari kalimat suaminya tadi, namun dia segera beranjak dari ranjang menuju meja rias untuk mengganti piyamanya.


Gerry melihat istrinya dari atas ranjang, wanita yang tidak lagi smeudah dulu itu tetap saja terlihat cantik dengan rambut panjang yang tergerai di punggungnya.

__ADS_1


Sudah belasan tahun waktu yang mereka habiskan bersama, namun kecantikan istrinya ini sama sekali tidak memudar di penglihatannya.


"Ayo.." Ajak Keyla smabil mengulurkan tangannya ke arah sang suami.


Gerry tersenyum dan menyambut uluran tangan istrinya lalu keluar dari kamar mereka.


Putranya kini sedang berdiri di samping mobil dengan wajah yang masih memucat. Terlihat dengan jelas jika anak mudah yang mirip dengannya ini begitu gelisah.


"Masuklah Gama" Perintah Gerry saat istrinya sudah duduk nyaman di bangku penumpang yang ada di sampingnya.


Mobil mewah yang di kendarai Gerry mulai melaju di jalanan meninggalkan rumah mewah milik Anggun. Rumah mewah itu di bangun tidak jauh dari Rumah Sakit yang di pimpin sang kakak, sehingga tidak membutuhkan waktu lama mobil mewah itu sudah terparkir di halaman salah satu rumah sakit milik keluarga Adiwarman.


Gama segera keluar dari dalam mobil lalu berlari menuju ruangan yang sudah di beri tahu Abangnya tadi tanpa menghiraukan ke dua orang tuanya yang masih berada di dalam mobil.


Gerry tersenyum di dalam hatinya, ah putranya ini tidak hanya wajah yang begitu mirip dengannya namun juga sikap dan kepribadian menurun darinya.


Keyla menatap heran pada punggung putranya yang semakin menjauh dari mobil.


"Ada apa ?" Tanya Keyla sudah menatap lekat pada suaminya.


"Ayo turun." Ucap Gerry sambil tersenyum setelah melepaskan sabuk pengaman dari tubuh istrinya.


"Kenapa anak itu mengacuhkanku ?" Tanya Keyla lagi saat mereka mulai menyusuri lorong rumah sakit.


"Dia sudah memiliki gadis yang dia sukai selain kamu." Jawab Gerry sambil tertawa mengejek ke arah istrinya.


Keyla tersenyum, apakah waktu secepat ini berlalu. Putranya yang selalu cemburu pada suaminya itu sudah mulai merasakan bagaimana menyukai gadis, dan mengabaikan keberadaannya


"Siapa ?" Tanta Keyla namun Gerry terdiam. Dia belum menanyakan hal detail pada keponakannya mengenai gadis itu.


"Kita akan tanyakan padanya nanti." Jawab Gerry lalu menarik tangan istrinya menuju keponakan dan putranya berada.


Gerry mengajak istrinya duduk di samping putra mereka yang tertunduk menatap lantai rumah sakit, tanpa menghiraukan keberadaan mereka yang sudah ada di sana.


Dia tidka ikut duduk bersama istri dan putranya, langkahnya tertuju pada keponakannya yang sedang berdiri di dekat pintu ruangan operasi.

__ADS_1


__ADS_2