
Dengan nafas yang masih memburu Bram kembali mencerna apa yang baru saja Gerry ucapakan..
"Apa yang sudah terjadi lima tahun lalu sayang ?" Tanya Bram lirih pada istrinya.
Kali ini Bram merasa semakin sesak, apa ada penderitaan Keyla yang lain yang tidak dia ketahui. Adiknya itu sudah menderita sejak masih bayi. Lima tahun lalu mereka sudah menjadi sahabat, dan saat itu Bram juga sudah tahu jika gadis yang selalu diikuti oleh Rosa sejak masuk SMA adalah adiknya saat laki - laki yang merawat Keyla sekaligus mantan kekasih ibunya kecelakaan di lokasi konstruksi..
Ayah dan Bundanya menceritakan semua dengan jelas padanya ketika ikut berkunjung kerumah sakit tempat Ayah Keyla di rawat saat itu..
Bram masih sangat mengingatnya Saat itu mereka baru memasuki tahun kedua di sekolah menengah atas, dengan penjelasan dari sang ayah, Bram mengetahui jika Keyla adalah adik kandungnya bukan anak bundanya dari laki - laki lain tapi juga anak kandung ayahnya. Hanya saja mendiang kakek dari sang Ayah tidak ingin mengakui jika Keyla adalah bagian dari darahnya, karena saat itu Ratih pergi membawa Keyla yang masih berumur berapa minggu di dalam kandungan dan hidup bersama mantan kekasihnya meninggalkan Bram dan ayahnya.
"Aku tidak tahu apapun sayang." Jawab Rosa yang kembali menyadarkan Bram dari fikirannya beberapa tahun lalu. "Lima tahun lalu dia berangkat ke Prancis dengan keadaan baik kok, ngga ada masalah apapun." Sambung Rosa. "Kita tunggu saja Keyla yang menjelaskan semuanya, aku yakin jika semuanya sudah tenang dia akan datang pada kita berdua seperti biasanya dan menceritakan segalanya." Kata Rosa lagi.
Sedangkan Gerry sudah membawa mobilnya keluar dari apartemen Keyla, sedikit meringis menahan sakit di wajahnya. Sedikit lama dia bisa sampai kerumahnya karena memang sudah menujukan jam pulang kantor dan kemacetan pasti akan selalu ada di jalanan Jakarta.
Melihat mobil Gerry sudah di depan rumah, petugas keamanan rumahnya segera membuka pagar besi dan membuat Gerry terkejut sekaligus lega ketika melihat mobil sport milik wanita yang membuatnya frustasi hari ini terparkir di halaman rumahnya..
semuanya berantakan, di marahi habis - habisan oleh sang papa karena insiden hari ini dan juga di pukuli habis - habisan oleh Bram.. lengkap sudah, kini penampilannya sungguh sangat mengenaskan..
Melihat kedalam mobil Keyla yang terparkir di halaman rumahnya, namun Gerry tidak mendapati Keyla didalamnya. dengan langkah cepat Gerry segera masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamar tidurnya.. dan itu dia gadis yang membuat duniannya jungkir balik sedang tertidur nyenyak di ranjang besar miliknya..
"Ya Tuhan Key, kau membuatku hampir mati hari ini karena kemurkaan kakamu." Ucap Gerry lirih.
Tidak lagi ingin melakukan apapun, Gerry segera melepaskan sepatunya dan ikut masuk kedalam selimut.. Tubuh mungil dengan wangi yang masih sama seperti lima tahun dibawanya masuk kedalam dekapannya..
__ADS_1
Entah karena saking melelahkannya hari ini ataukah memang tubuh yang di dekapnya ini sangat nyaman membuat Gerry segera masuk kedalam mimpi dan terlelap..
Ponsel milik Keyla yang berada di atas nakas di samping ranjang didekat Gerry terus bergetar.. Keyla perlahan bangun dari ranjang, bukan ingin menjawab getaran ponselnya tapi perutnya terasa melilit.. Dia kelaparan, melewatkan makan siang mungkin juga makan malamnya. Keyla tidak lagi terkejut ketika melihat tangan kokoh yang memeluk pinggangnya sangat erat seolah tidak mengizinkan tubuhnya untuk beranjak sedikit saja.. Entahlah sudah berapa jam dia terlelap dia atas ranjang milik Gerry.. Melihat kearah jam weker di atas nakas sudah pukul delapan malanm.. pantas saja dia sudah merasa sangat lapar.. dengan hati - hati Keyla mengangkat tangan Gerry dari tubuhnya lalu keluar dari dalam selimut.
Keyla turun dari ranjang menuju kamar mandi kemudian masuk ke ruang ganti, mencari pakaian Gerry yang bisa dia pakai untuk mengganti rok sempit miliknya yang sudah mulai membuatnya gerah. Dengan kaus kebesaran milik Gerry, Keyla keluar dari ruang ganti dan kembali menutup pintu ruangan tersebut dengan hati - hati agar tidak mengganggu sang pemiliknya yang masih terlelap.. tanpa menggunakan alas kaki Keyla keluar dari kamar menuju dapur.. Perutnya sudah terasa perih, tadi pagi tidak sempat sarapan juga melewatkan makan siang dan sekarang sudah pukul delapan malam itu berarti dia juga sudah melewatkan jam makan malamnya.
Gerry merasa aneh ketika tangannya sudah tidak lagi memeluk tubuh mungil Keyla, dengan mata yang masih tertutup Gerry meraba - raba tempat tidur di sebelahnya dan dia dengan cepat membuka matanya ketika mendapati tempat itu sudah kosong, lagi - lagi gadis itu sudah tidak berada disana.. " Ck dia selalu saja seperti ini, dia selalu meninggalkan aku sendirian setelah semalaman aku memeluknya." Kata Gerry kesal.
Gerry melihat jam di nakas samping tempat tidur tempat Keyla tidur sudah pukul delapan. "apakah sudah sesiang itu ? Sialan" Umpat Gerry kesal. dia tidak tahu jika ini jam delapan malam bukan siang..
Dia segera bangkit namun ketika kakinya sudah menginjak lantai kamar tidurnya, Gerry mendapati hels yang kemarin sore dia lihat masih ada disitu.. dengan cepat menoleh pada tas yang ada di atas nakas di sampingnya juga masih ditempatnya.. Gerry bernafas lega ketika melihat kearah tirai yang menutupi kaca pembatas kamar dengan kolam renang tampak masih terlihat gelap. dengan segera Gerry berdiri dari ranjang dan keluar dari kamar langsung menuju dapur ketika mendengar suara spatula dan wajan yang sedang bersentuhan.
Dengan perasaan lega Gerry tersenyum melihat Keyla dengan kaus kebesaran miliknya juga rambut panjang terurai sedang serius dengan alat masaknya dan tidak menyadari Gerry sedang berjalan menuju kearahnya.
" Sial Gerry kau membuatku kaget." Umpat Keyla. "lepaskan ! aku sedang memegang spatula Gerry, cepat lepaskan tanganmu dari tubuhku jika tidak ingin spatula ini mendarat di kepalamu." Ancam Keyla.
"Kalian memang kakak adik yang sempurnah, suka sekali memukulku." Ucap Gerry terkekeh.
Jujur saja wanita yang berada di dalam dekapannya ini sejenak melupakan masalah yang sedang menghimpit otaknya.
"Maksudmu ? kaka adik siapa ?" Tanya Keyla.
Deg.. Gerry perlahan melepaskan tangannya dari Keyla. dia mulai sadar mungkin saja Keyla tidak mengetahui yang sebenarnya. Fikirannya kembali teringat lima tahun lalu ketika Gerry menanyakan perihal orang tua gadis yang akan ditidurinnya dan saat itu Keyla mengatakan jika dia tidak lagi memiliki orang tua. Itu berarti Keyla tidak mengetahui apapun tentang keluarga besar Handoko.
__ADS_1
Karena Gerry masih diam mematung dibelakangnya, Keyla segera membalik tubuhnya menghadap laki - laki tersebut.. Mata Keyla terbelalak ketika mendapati wajah Gerry yang begitu mengenaskan. Namun dia sudah bisa menebak siapa yang melakukan ini.. Sudah sering kali terjadi, namu kali ini benar - benar sangat parah..
"Apa Bram menghajarmu ?" tanya Keyla mengejek dan kembali membalik tubuhnya menghadap wajan dan mulai memindahkan nasi goreng ke atas piring. dia sudah melupakan apa yang dia tanyakan pada Gerry tadi.
"Kok kamu tahu ?" Tanya Gerry.
Keyla dengan santai membawa makannya kemeja makan dan duduk dengan diam disana sambil menikmati makan malamnya yang sudah lewat tanpa kenjawab pertanyaan Gerry.
Sedangkan Gerry seolah faham apa yang harus dia lakukan, dia tidak lagi bertanya, hanya menarik kursi yang satunya dan duduk di samping Keyla. Dengan tatapan hangat dia terus melihat Keyla yang sibuk menikmati makan malamnya dengan sesekali merapikan rambutnya kebelakang telinga karena sering kali mengganggu.
"Apa kau sudah kelaparan hm ?" Tanya Gerry yang segerah meraih semua helaian rambut Keyla kedalam genggamannya agar tidak mengganggu makan malam Keyla.
Namun lagi - lagi Keyla diam hingga makanan dipiringnya tandas kemudian meraih air minum dan segera meminumya.
"Kau tahu Gerry, kamu adalah laki - laki yang ternekat menurutku selama ini. Kau tetap saja menggangguku padahal Bram sudah memeperingatimu di hotel dua hari lalu. Aku yakin dia sangat murka kali ini ketika melihat wajahmu yang sudah terlihat sangat mengenaskan seperti ini." Kata Keyla terkekeh seolah pemandangan di hadapannya ini lucu.
"Huh apa kau tidak kasihan padaku ? dia memukuliku dengan membabi buta Key." Keluh Gerry
"Kau sudah sangat melewati batasmu Gerry, Kau kenal Alvin yang punya hotel dan resort di Bali ?" Terlihat Gerry mengangguk.
"Bram bahkan pernah menghancurkan ponsel miliknya karena berani memotretku dengan kamera ponselnya diam - diam. Dan untuk kerja samanya Bram langsung membatalkannya saat itu juga. Banyak yang menuduh jika aku simpanannya Bram karena sikapnya yang terlalau posesiv padaku namun Bram sama sekali tidak perduli." Kata Keyla.
"Aku ingin mengancurkan Alvin sialan itu, kenapa tidak sekalian Bram patahkan saja tangannya." Umpat Gerry, ikut kesal pada si Alvin itu.
__ADS_1
Kenapa kamu jadi mirip Bram gini.. kekeh Keyla yang kemudian beranjak dari tempat duduknya membawa piring bekas menuju wastafel dan mencucinya. meraih P3K yang terletak di atas kulkas kemudian kembali kemeja makan.