Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Senyum Bahagia Keyla


__ADS_3

Anggun terlihat sudah jauh lebih tenang. Menatap tidak suka pada suaminya karena terus meminta hal yang sulit untuk dia lakukan.


"Gerry adik aku Robby, aku tahu bagaimana terpuruknya dia saat aku memberitahu semua hal yang menimpa Keyla di Prancis. Dan kamu bisa bayangkan bagaimana kecewanya dia jika sesuatu akan kembali menimpa Keyla dan dia tidak mengetahui hal itu,." Ucap Anggun panjang lebar.


"Beritahu semua padanya Key, jangan menyembunyikan apapun darinya. Kalian bisa melewati ini bersama." Sambung Anggun yang kini sudah beralih menatap adik iparnya.


"Sayang, kamu sangat tahu Gerry akan memprioritaskan Keyla di atas segalanya, dia akan memilih Keyla dari pada dua janin itu. Meskipun kecil, masih ada kemungkinan kita bisa menolongnya. Ini baru gejala awal dan aku butuh bantuan teman kamu itu." Ucap Robby menjelaskan. Anggun kini terdiam, tatapannya masih tertuju pada adik iparnya.


"Kamu yakin dengan ini Key ?" Tanya Anggun.


"Iya ka Anggun, sekali lagi aku ingin meminta bantuan. Dua nyawa yang kini berjuang untuk tumbuh dalam rahimku sangat berharga buat aku. Aku ingin menjadi ibu kak, tolong aku kali ini saja." Lirih Keyla.


Anggun segera mendekat kearah adik iparnya lalu membawa tubuh mungil itu kedalam dekapannya.


"Kali ini saja, namun jika semua terasa sulit jangan menahannya sendirian. Gerry akan sangat merasa bersalah jika kamu menahan sakit dan dia tidak mengetahu hal itu." Ucap Anggun sambil memberikan usapan lembut pada punggung Keyla.


"Tentu saja kak." Jawab Keyla kemudian melepaskan pelukan kaka iparnya itu.


Anggun sudah kembali kerumah mama Nia karena putranya di titipkan disana. Dia menyetujui permintaan Keyla namun sama seperti permintaan Robby. Keyla tidak boleh menolak pengobatan, Anggun akan meminta teman seperjuangannya dulu untuk menangani Keyla langsung.


***


Pagi sudah beranjak berganti menjadi siang yang panas. Polusi udara yang tidak sehat sudah mulai bertebaran terbawa angin ibu kota. Orang-orang yang seperti tidak pernah tidur berlomba-lomba mengais rezeki untuk menyambung kehidupan mereka.


"Hanya itu mbak ?" Tanya seorang pelayan restoran pada Keyla.


"Iya," Jawab Keyla singkat.


Setelah selesai pemeriksaan yang mengandung bawang dan drama di klinik milik kaka iparnya, kini Keyla sedang berada di sebuah restoran yang terkenal dengan makanan sehatnya. Memesan beberapa porsi makan siang untuknya dan juga Gerry. Keyla tersenyum kecil karena akan memberikan kejutan pada suaminya siang ini.


"Terimakasih sudah berkunjung, dan selamat datang kembali." Sapa pramusaji itu dengan ramah.


Keyla hanya mengangguk dan tersenyum kecil ke arah wanita yang kini sedang tersenyum padanya.

__ADS_1


***


Mobil taxi yang mengantar Keyla sudah berhenti di depan SN Company tempat dimana suaminya berada. Keyla segera bergegas keluar dari dalam mobil setelah mengucapkan terimakasih juga memberikan uang pecahan seratus ribuan pada sopir taxi.


Senyum manis masih bertahan menghiasi bibir mungilnya. Hari ini dia senang, sangat senang. Semua berjalan seperti apa yang dia inginkan.


"Selamat siang Manda." Sapa Keyla saat sudah berada di depan meja kerja selertaris dari suaminya ini.


"Siang bu Keyla." Sapa Amanda dan segera berdiri dari tempat duduknya menuju pintu ruangan Gerry.


"Buat kamu." Ucap Keyla sambil menyodorkan satu paperbag buat Amanda.


"Ini apa bu ?" Tanya Manda canggung.


"Makan siang buat kamu." Jawab Keyla singkat masih dengan senyum di bibirnya.


"Terimkasih bu." Ucap Amanda sambil membuka pintu ruangan Gerry dan mempersilahkan Keyla masuk.


Setelah masuk ke dalam ruangan Gerry, Keyla masih berdiri di dekat pintu masuk. Menatap lekat pada suaminya yang terus fokus dengan beberapa berkas yang ada di hadapannya, memindai wajah suaminya itu dengan baik.


Keyla tersenyum, suaminya itu sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari berkas-berkas yang ada di atas meja, hingga tidak menyadari dirinyalah yang kini berada di dalam ruangan.


Keyla meletakkan paper bag yang berisi makan siang mereka di atas lantai, lalu dengan langkah hati-hati dia mendekat ke arah suaminya. memutari meja kerja mewah itu dan langsung membawa tubuhnya duduk di atas pangkuan Gerry.


Gerry sangat terkejut mendapati istinya sudah duduk di atas pangkuannya, dia berfikir yang masuk kedalam ruangan adalah sekertarisnya.


Dengan sigap Gerry mengeratkan pelukannya di pinggang Keyla, agar istrinya itu tidak terjatuh.


"Cup... Selamat siang suami." Kecup Keyla di bibir Gerry sambil melingakarkan tangannya di leher Gerry.


Gerry tersenyum lebar, lalu membawa tubuh istrinya dengan hati-hati menuju sofa yang ada di dalam ruangan mewahnya. Mengecup lalu ******* pelan bibir istrinya disana. Bibir yang sudah menjadi candunya beberapa bulan ini, bukan bebrapa bulan saja, namun dari beberapa tahun yang lalu.


"Kamu ingin membunuhku ?" Ucap Keyla membuat Gerry terkekeh.

__ADS_1


"Habisnya bibir kamu buat aku ketagihan." Ucap Gerry dengan senyum licinknya. Tamgan nakal sudah membelai lembut paha mulus istrinya dari balik dress selutut yang membalut tubuh mungil Keyla.


"Apa sih." Tepis Keyla pada tangan nakal suaminya.


"Kenapa ? sofa ini nyaman kok Key meskipun tidak senyaman ranjang kita." Bujuk Gerry lagi.


"Jangan ngaco dasar mesum, kita harus makan siang." Ucap Keyla.


"Makan kamu aja b0leh ngga, lagi ngga ingin makan nasi maunya makan kamu Key." Bujuk Gerry lagi.


"Ngga boleh sering-sering sayang, tadi pagikan sudah." Ucap Keyla sambil membelai pipi suaminya dengan sayang. Sebenarnya dia juga tidak sampai hati menolak permintaan sang suami, namun mengingat kembali apa yang Anggun katakan tadi membuatnya harus bisa menahan untuk tidak selalu menuruti permintaan Gerry yang seakan tidak ada puasnya.


"Baiklah, aku akan mengalah pada kalian hari ini." Ucap Gerry sambil mengelus perut yang masih rata milik Keyla juga memberikan kecupan-kecupan lembut di seluruh bagian wajah istrinya.


Gerry segera bengkit dari atas tubuh Keyla lalu membantu istrinya agar bisa duduk dengan nyaman di atas sofa.


"Lalu makan siangnya mana ?" Tanya Gerry.


"Tuh.." Tunjuk Keyla pada paper bag yang dia letakkan di atas lantai tadi.


"Kamu masak ?" Tanya Gerry.


"Nggalah malas, aku beli di restoran." Jawab Keyla cuek.


Gerry tersenyum lalu beranjak dari atas sofa menuju paper bag yang tergeletak di dekat pintu masuk. Dengan telaten Gerry mengeluarkan satu persatu kotak makanan dari dalam paper bag.


"Kok banyak banget ? siapa yang mau habiskan semua makan ini ?" Tanya Gerry heran.


"Aku ingin semuanya, ya aku pesan aja. Lagi pula bayarnya pake uang kamu kok." Jawab Keyla acuh masih terus memperhatikan Gerry menata makanan di atas meja sofa.


"Iya sayang, tapi ini kebanyakan, kasiankan kalau ngga habis nanti." Ucap Gerry lagi.


"Habis kok, sekarang aku harus makan yang banyak biar mereka cepat besar dan segera keluar dari perut aku." Jawab Keyla lagi membuat Gerry tertawa.

__ADS_1


" Baiklah, ayo makan yang banyak. Dan cepatlah tumbuh jagoan dan keluar dari perut ibu kalian. Ayah ngga bisa menikmati ibu kalian sesuka hati karena kalian masih ada di sana." Ucap Gerry sambil memberikan usapan-usapan lembut pada perut rata Keyla.


Keyla tertawa senang melihat Gerry yang sedang mengajak anak mereka berbicara. Keyla menatap lekat pada suaminya, berharap di dalam hatinya bisa menikmati kebahagiaan ini lebih lama lagi.


__ADS_2