
Keyla sudah terlelap kembali di atas ranjang pasien. Gerry sangat ingin duduk di samping ranjang dimana Keyla berada, namun melihat Bram yang masih terus menatap tajam padanya membuatnya mengurungkan niatnya. Bibirnya masih terasa perih, dia tidak ingin Bram kembali menambahkan luka pada bibirnya karena kelancangannya.
" Gerry aku titip Keyla sebentar, karena ada pertemuan yang aku batalkan mendadak tadi sebelum datang kesini." Kata Bram yang seketika membuat Gerry terperangan tidak percaya. Rosa pun seketika langsung menatap tidak percaya pada suaminya.
Tanpa mengatakan apa - apa lagi Bram segera membawa istrinya keluar dari ruangan tersebut.
" Oh iya, jangan macam - macam Gerry, Ayah dan Bunda sedang dalam perjalanan kemari, sangat tidak baik jika mereka mendapatimu sedang memperlakukan putri mereka dengan tidak baik." Kata Bram lagi yang hampir membuat Rozsa tertawa.
" Mereka pasangan, jadi kalau Gerry ingin mencium Keyla, aku rasa bukan masalah besar sayang." Timpal Rosa sambil terkekah melihat kelakuan suaminya.
"Silahkan saja jika ingin bibirnya tidak akan kembali ke bentuk semula." Kata Bram kemudian keluar dari ruangan tersebut llau diikuti Rosa.
Setelah kepergian sepasang suami istri yang membuatnya susah bernafas Gerry tidak lagi duduk di sofa tempat dia duduk tadi. Menarik satu kursi kesamping ranjang tempat Keyla terlelap kemudian duduk disana dengam diam.
Tidak lama pintu ruangan di dorong dari luar, sepasang suami istri paruh baya masuk kedalam ruangan dimana Keyla dirawat. Gerry segera berdiri dari tempat duduknya melihat Handoko dan istrinya berjalan kearah Keyla.
Handoko sudah tidak kaget melihat putra dari orang yang berniat membunuh putrinya sedang berada di dalam ruangan ini, Bram sudah menjelaskan semua padanya.
Namun dalam hatinya tetap tidak rela jika putrinya tetap akan menjalin hubungan dengan laki - laki yang kini sedang berdiri dihadapannya dengan takut.
Ratih beberapa kali mengusap lengan sang suami, sedikit memberikaan ketenangan pada Handoko agar bisa menekan emosinya saat ini. Gerry hanya mencintai putrinya dan tidak ada sangkut pautnya dengan Sanjaya. Meskipun tidak bisa di abaikan jika alasan Sanjaya melakukan hal senekat itu karena putranya yang terus mendekati Keyla, tetap saja itu bukan salah Gerry.
" Sudah berapa lama dia terlelap ? " Tanya Handoko masih menatap lekat pada putrinya.
" Belum lama om, saat Bram dan Rosa kembali dia baru saja terlelap" Jawab Gerry yang ikut melihat kearah Keyla.
__ADS_1
" Ikutlah om ke sofa, ada yang harus kita bahas" Kata Handoko kemudian melangkah menuju sofa yang masih berada di dalam ruangan namun sedikit jauh dari ranjang dimana Keyla berada. Sedangkan Gerry mengikuti Handoko dari belakang, kemudian duduk di sofa yang sama. Bibirnya masih terasa perih, meakipun dia sudah menyiapkan diri dari kemungkinan terburuk, tetap saja rasa was - was di dalam hatinya terus saja mengusik.
Tidak masalah Bram atau Handoko akan memukulinya sampai puas, asal jangan memintanya untuk menjauh dari Keyla. Dia tidak akan bisa melakukan hal itu.
" Jika kamu benar - benar mencintainya, maka lepaskan dia." kata Handoko tanpa basa basi.
" Saya akan melakukanya jika Keyla yang memintanya." Jawab Gerry singkat.
"Kamu hanya akan menyakitinya, kamu sadar apa yang sudah papa kamu perbuat ini karena siapa ? itu semua karena kamu punya hubungan dengan Keyla." Kata Handoko sudah dengan suara kerasnya.
Gerry menunduk, dia membenarkan semua yang baru saja di katakan Handoko.
" Saya akan tetap ada disisinya selama di tidak akan memintaku pergi Om, maafkan atas kelancangan saya ini" Jawab Gerry lugas. Dia masih terus bersikap setenang mungkin agar tidak membuat laki - laki paruh baya di sampingnya ini mengamuk padanya.
Handoko terlihat menarik nafasnya dalam kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
" Saya tidak akan menyakitinya Om, saya sangat mencintainya sejak lama." Jawab Gerry.
"Tanpa kamu sadari nak, mungkin om bisa percaya jika kamu tidak akan menyakitinya. Tapi bagaimana dengan orang - orang yang ada di sekitar kamu ? Apa kamu bisa memastikan jika mereka tidak akan menyakitinya ?." Kata Handoko panjang lebar. Berharap laki - laki mudah yang ada di sampingnya ini mengerti.
Gerry masih diam, sekarang dia sedikit bimbang. Bukan tentang perasaanya pada Keyla, namun dia takut jika Keyla kembali terluka karena rasa cintanya pada gadis itu.
Gerry melihat ke arah ranjang, Keyla masih tertidur lelap disana.
" Fikirkanlah nak, Om yakin kamu akan lebih memilih untuk tidak bersamanya jika semua itu bisa membuat Keyla bahagia. Seperti apa yamg Om lakukan selama ini, melindungi Keyla dari jauh, membiarkan Keyla tidak mengetahui semuanya namun kami memberikan banyak cinta untuknya dari kejauhan. Bukankah itu sudah lebih dari cukup ? Om ingin kamu melakukan hal yang sama nak." Kata Handoko yang semakin membuat Gerry yakin jika meninggalkan Keyla adalah pilihan yang paling baik.
__ADS_1
" Baiklah om, kali ini saya akan mengikuti saran yang om berikan, namun jika Keyla meminta saya kembali, saya mohon om akan membiarkan kami bersama. Kami sudah berencana untuk menikah sebelum kejadian mengerikan satu bulan lalu. Keyla sudah menyetujui untuk menikah, dia hanya tinggal meminta izin pada kalian yang sudah di anggapnya keluarga namun papa saya menghancurkan segalanya. Jika kali ini saya harus menuruti kemauan om demi kebahagiaan Keyla, saya rasa bukan masalah yang besar." Kata Gerry yang kini sudah beranjak dari sofa tempat dia duduk kemudian melangkah menuju ranjang tempat Keyla masih terlelap.
Ratih masih duduk di kursi dekat ranjang, melihat Gerry mendekat ke arah putrinya. Dengan perlahan Gerry menggenggam tangan Keyla yang masih terpasang infus, dan mengecup tangan itu berulan kali. Kepala dan kening Keyla juga dihujani Gerry dengan kecupannya. Mungkin ini yang terakhir kalinya.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal padamu, aku harap kepergianku bisa memberimu bahagia Key." Kata Gerry pada Keyla yang masih terlelap dalam tidurnya.
Gerry berjalan keluar dari ruangan tersebut, sebelum pulang ke rumahnya dia ingin bertemu dengan terlebih dahulu. Anggun juga pernah menyarankan hal yang sama padanya. Mencintai tanpa memaksa, melihat orang yang kita cintai jauh lebih bahagia meskipun bahagia itu tidak bersama kita sepertinya jauh lebih baik.
Kali ini Gerry merasa apa yang sudah dia lakukan adalah yang terbaik, meskipun dadanya begitu sesak ketika kembali membayangkan apa yang sudah dia lakukan. Dia yang meminta Keyla untuk tetap bersamanya, namun dia juga yang pergi meninggalkan gadis itu.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Gerry langsung masuk kedalam ruangan kakaknya dan dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Tiba - tiba saja dia menjadi sangat cengeng hari ini. Setelah lengan tangannya berhasil menutupi matanya kini cairan bening itu mengalir dengan sendirinya.
Beberapa menit lalu dia begitu percaya diri keluar dari ruangan dimana Keyla berada, namun kini terasa dunianya seakan runtuh. Dadanya terasa sesak, nafasnya terasa perih.
Anggun yang sedang memeriksa beberapa catatan pasien di meja kerjanya kini beralih menatap ke arah adiknya yang terlihat rapuh terbaring di sofanya.
Anggun sudah menduganya dari awal, sebesar apapun cinta Keyla dan Gerry tidak akan semudah itu akan bersama. Melihat Gerry yang berlari panik mencari dirinya dengan sudut bibir yang terluka, adik laki- lakinya itu sudah tidak baik - baik saja. Melihat tatapan marah dari Bram juga Rosa yang juga melakukan hal yang sama membuat Anggun enggan untuk berlama - lama di dalam sana. Meskipun adiknya memang pantas mendapatkan semua ini karena penderitaan Keyla di Paris beberapa tahun lalu tetap saja Anggun merasa tidak tega.
Setelah beberapa saat Gerry bangkit dari sofa tempat dia berbaring tadi. Mungkin kini sudah merasa jauh lebih baik setelah mencurahkan air matanya. Anggun berjalan mendekati adiknya yang masih duduk di atas sofa dan ikut duduk disana.
" Semua akan baik - baik saja Gerry, jika lima tahun kalian masih saja kembali di pertemukan oleh takdir bagaimana yang hanya dengan hitungan hari. Yakinlah semua sudah ada takdirnya masing." Kata Anggun.
Gerry mengangguk membenarkan apa yang baru saja kakanya katakan. Tidak ada yang mustahil jika semesta sudah menentukan sesuatu.
"Jika perjuangan masih belum membuahkan hasil yang diinginkan, maka biarkan takdir yang mengambil alih semuanya." Kata Anggun lagi.
__ADS_1
Setelah mendengar semua yang di katakan Anggun padanya, Gerry beranjak dari sofa lalu keluar dari ruangan kakanya menuju mobil di area parkir rumah sakit kemudian berlalu menuju perusahaan yang sudah satu bulan ini dia kelola.