
"Selamat pagi sayang." Peluk Gerry pada tubuh mungil yang kini sedang berdiri di depan panggangan roti. Menghirup wangi rambut yang sedikit basah dan di biarkan terurai begitu saja di pundaknya. Wangi rambut yang sudah menjadi favoritnya sejak dulu.
"Selamat pagi suami." Keyla membalik tubuhnya bersandar di meja menghadap pada laki-laki yang hanya menggunakan kolor tanpa atasan. "Kenapa tidak mandi dulu ?" Tanya Keyla sambil tersenyum melihat wajah bantal dengan celana kain yang di pakai asal-asalan.
"Jangan tinggalkan aku di tempat tidur sendirian Key." Kata Gerry pelan. Entahlah setiap kali mendapati Keyla tidak lagi berada di sampingnya saat dia membuka matanya di pagi hari, perasaan takut itu selalu saja datang. "Bisa ngga kamu tetap di tempat tidur saat aku bangun pagi." Ucap Gerry pagi sambil mengusap pipi istrinya dengan sayang.
"Ngga bisa, aku harus menyiapakan sarapan buat kita." Jawab Keyla sambil terkekeh geli.
"Kita bisa sarapan di luar Key, Aku takut saat membuka mata di pagi hari, aku tidak bisa lagi menemukanmu dirumah ini." Ucap Gerry lirih.
"Aku hanya akan ada di dapur, jika saat bangun tidur di pagi hari kamu tidak lagi mendapatiku di tempat tidur, maka datanglah ke dapur aku pasti ada disini." Kata Keyla sudah masuk dalam pelukan hangat milik Gerry. "Aku tidak akan lagi pergi seperti dulu, perjalananku sudah sampai. Tempat terakhir yang ingin aku tuju adalah kamu Gerry, jadi jangan mengkhawatirkan apapun lagi." Sambungnya pelan.
Mendengar semua yang di katakan istrinya, Gerry merasa lega dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh mungil itu.
"Aku mencintaimu Key" Ucap Gerry.
"Aku tahu, dan sekarang kamu harus mandi, kita akan sarapan lalu berangkat ke kantor." Keyla sudah keluar dari dekapan hangat lalu mengecup bibir suaminya itu agar segera berlalu dari sana.
"Aku juga mencintaimu Gerry." Batin Keyla sambil memandangi punggung kokoh itu berjalan meninggalkannya.
Setelah menyiapkan semuanya, Keyla berjalan kembali ke kamar mereka untuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakan suaminya hari ini dan mengikat rambutnya dengan rapi.
Stelan rok hitam selutut dengan blouse berwarana ping mudah itu sudah membalut di tubuh mungil Keyla dan high heels berwarana senada dengan rok spannya kini sudah terpasang di kaki indahnya.
Keyla sudah membersihkan kamar yang sudah seperti di terpa tornado karena mereka gunakan untuk bertempur semalam. Seprei putih sudah di ganti dengan yang baru, dan kelopak-kelopak mawar yang sudah berceceran di lantai juga tempat tidur, sudah masuk pada tempat sampah.
__ADS_1
Keyla mendudukan tubuhnya di pinggiran ranjang yang sudah kembali terlihat rapi, sedikit keringat sudah terlihat di dahinya. Lumayan melelahkan, padahal hanya membersihkan satu ruangan kamar.
Gerry keluar dari kamar mandi, sambil mengeringakan tubuhnya dengan handuk kecil yang ada di bahunya. Tersenyum melihat kearah istrinya lalu masuk kedalam ruang ganti dan memakai pakaian yang sudah di sediakan Keyla tadi. Keyla pun ikut beranjak dari sisi ranjang dan masuk kedalam ruang ganti.
"Sudah siap." Ucap Keyla riang ketika berhasil memasangakan dasi suaminya dengan baik.
Cup.. "Terimakasih sayang." Bisik Gerry setela mendaratkan ciuman di dahi istrinya.
Sesederhana ini, namun ini sangat menyenangkan dan begitu sangat berarti. Tuhan maha baik, DIA mengabulkan semua apa yang menjadi angan Gerry selama ini. Gadis ini, gadis yang selalu dia harapkan untuk menemani sisa hidupnya, kini benar-benar berdiri di hadapannya. Gadis satu malamnya benar-benar menjadi istrinya.
"Ayo sarapan." Ajak Keyla, karena Gerry hanya terus memandang wajahnya. Masih demgan raut bahagi di wajah, keduanya berjalan menuju meja makan.
Keyla menyeduh kopi untuk Gerry dan segelas susu hangat untuknya. Seperti biasanya, Keyla akan menikmati makanannya dengan diam. Gerry pun sudah mengerti dan memilih untuk tidak memulai percakapan sebelum sarapan mereka selesai.
" Sudah siap dengan hadiahnya ?" Bisik Gerry.
"Jangan seperti itu dong, aku kan jadi ingin balik ke kemar lagi dan mengurungmu disana." Ucap Gerry dan segera mendapatkan delikan mata dari istrinya. Namun Gerry hanya terkekeh dengan wajah menggemaskan itu.
Tas branded sudah melingkar di bahu Keyla, dan tangan yang sudah bertautan mereka keluar dari rumah menuju garasi mobil.
" Ini mobil aku ? Bukannya kata Bram sudah rusak dalam kecelakaan itu." Kata Keyla ketika melihat mobil sport yang berhiaskan pita dindalam garasi mobil.
"Ini hadiah dari papa, untuk mengganti mobil kamu yang rusak." Kata Gerry. "Maaf untuk semuanya, dan terimakasih tetap mau menerimaku, terimakasih sudah mau menjadi istriku." Ucap Gerry lirih. Dia benar-benar sangat merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Keyla beberapa bulan lalu.
"Udah dong, aku kan jadi ingin masuk kamar lagi ini." Jawab Keyla.
__ADS_1
"Di dalam mobil baru boleh kok." Kata Gerry.
"Dih mode mesumnya kambu lagi." Kesal Keyla dan segera berjalan mendekati mobil sport barunya itu.
Gerry segera membuka pintu mobil mewah itu, membiarkan Keyla terlebih dulu masuk kedalam. Gerry membersihkan pita- pita yang melingkar di mobil, kemudian ikut masuk dan duduk di bangku kemudi.
Mobil baru hadiah pernikahan dari sang papa itu, kini melaju sedang di jalanan padat ibu kota. Gerry akan mengantar Keyla rerlebih dahulu menuju perusahaan Bram.
****
Di sebuah Rumah Sakit di Bali, Rachel hanya duduk diam di dalam ruangan luas milik calon suaminya, ck calon suami yang terus saja ketus padanya. Ruangan yang tetap saja bau Etanol yang mendominasi, dan Rachel sudah mulai terbiasa dengan itu.
"Masih lama ?" Tanya Rachel masih terus menatap pada laki-laki yang tetap saja menunduk fokus pada kertas -kertas yang ada di tangannya. "Sialan Bagas aku sangat lapar, jika seperti ini aku tidak perlu menunggumu." Kesal Rachel pada laki-laki yang tetap saja fokus dengan pekerjaan, padahal mereka belum sarapan pagi ini.
Tanpa bicara apapun Bagas segera berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu ruangannya. Tangannya hendak meraih handel pintu, namun dia kembali membalik tubuhnya melihat gadis yang masih duduk di temptanya.
"Kamu bilang lapar, kenapa masih duduk bengong seperti orang bodoh disana ?" Ketus Bagas.
Mode ketusnya sudah kembali, Rachel memilih untuk membungkam mulutnya dari pada harus beradu argumen yang tetap saja sudah bisa di tebak siapa yang akan jadi pemenangnya.
Bagas meraih tangan itu kedalam genggamannya, lalu menarik keluar menuju kantin Rumah Sakit. Rachel sudah terbiasa dengan sikap Bagas ini, meskipun laki-laki ini selalu berkata dingin dan ketus padanya, namun kemanapun mereka pergi tangannya akan selalu hangat dalam genggaman Bagas.
"Kita hanya akan sarapan disini, aku masih banyak pekerjaan." Kata Bagas masih dengan nada todak romantis miliknya dan Rachel hanya mengangguk mengiyakan.
"Selamat pagi dokter." Sapa beberapa suster dan dokter yang tidak sengaja berpapasan dengan Bagas dan Rachel. Seperti biasanya balasan sapaan hangat juga meluncur dari mulut Bagas.
__ADS_1
Rachel sudah berjalan terlebih dahulu menuju stand pengambilan makanan lalu membawa tubuhnya di sala satu meja yang kosong. Dengan langkah lebar juga sepiring makanan di tangannya, Bagas ikut duduk di kursi di hadapan Rachel dan menikmati sarapannya.
"Malam ini kita akan kembali ke Jakarta." Ucap Bagas di sela-sela sarapan mereka, dan Rachel hanya kembali mengangguk.