
** Happy Reading **
* Anggun Pov's *
Aku sudah menghabiskan dua bungkus Roti juga satu cup kopi yang ada di tanganku kini tubuhku sedang duduk di taman Rumah Sakit namun semua fikiranku sedang berada di Prancis sekarang.. kembali mereka ulang apa yang terjadi di apartemen beberapa tahun lalu ketika melihat Keyla berlumuran darah pagi ini.
Masih ragu namun aku tetap menghubungi Gerry biar bagaimanapun dia pasti sedang menunggu kabar dariku tentang pembatalan pertemuan kami hari ini..
" Ka Anggun dari mana saja ? kenapa mengabaikan panggilanku." Tanya Gerry dari balik ponsel yang ada di dekat telingaku
"Aku masih di Rumah Sakit Gerry, maaf tadi sedang melakukan Opreasi darurat jadi tidak sempat mengangkat panggilanmu." Jawabku.. "Mau bertemu sekarang ?" tanyaku lagi
"Boleh, tapi sepertinya akan memakan banyak waktu untuk sampai di rumah sakit, karena harus memutar arah untuk bisa sampai ketempat kaka. Jalanan yang biasa di lewati di tutup oleh polisi. Sedang ada penyelidikan besar - besaran, sepertinya ada sebuah kecelakaan yang melibatkan orang penting.. Aku melihat tadi ada beberapa orang yang menggunakan jas lengkap." Kata adikku.
Aku masih terdiam, masih ragu untuk memberi tahu pada adikku siapa yang terlibat dalam kecelakaan yang baru saja dia ceritakan.
"Datanglah kesini Gerry, ada sesuatu yang penting yang harus aku beritahu padamu." Kataku.
"Baiklah, mungkin dua jam lagi aku akan sampai di Rumah Sakit." Jawab Gerry.
Aku bangun dari tempatku duduk untuk kembali keruanganku.
Langkahku terus masuk kedalam Rumah Sakit hingga berakhir di depan ruang ICU, ingin sekali melihat Keyla namun aku mengurungkan niatku ketika melihat beberapa orang sedang berada di kaca depan melihat pasien yang masih belum sadarkan diri di dalam ruangan tersebut.
"Dokter Anggun." Suara seorang laki - laki dari belakang tubuhku seketika membuatku menoleh. Sedikit terkejut melihat mantan pimpinan Rumah Sakit sedang berada di belakangku bersama wanita yang aku tahu adalah istrinya juga Pemilik Rumah sakit yang semakin renta kini sedang ada di kursi rodanya ikut menatap kearahku..
"Siang Prof." Jawab ku sambil menundukan kepalaku sedikit untuk kesopanan.
"Mam, ini dokter yang menyelamatkan Keyla." Kata Pak Manaf pada seorang wanita tua yang paling di hormati di rumah sakit ini namu sudah dusuk di kursi Roda.
Wanita tua pemilik Ruma Sakit tempatku bekerja meraih tanganku ke dalam genggamannya. Kemudian mengucapkan banyak terima kasih padaku karena menyelamatkan cucunya. Aku tersenyum dan mengatakan padanya itu sudah memang menjadi tugasku, yang tentu saja ada campur tangan Tuhan juga disana..
__ADS_1
Mereka tersenyum padaku lalu meminta izin untuk pergi menemui Keyla dan aku mempersilahkan.
Aku melihat ada pak Handoko dari HG Group dan ibu Ratih istrinya. juga sepasang suami istri seumuran dengan mereka yang aku tebak itu adalah orang tua dari Rosa yang juga sedang berada disana..
Papa sudah salah merendahkan orang, mereka memperlakukan Keyla sangat berharga. semoga saja semua kata - kata papa yang aku dengar kemarin tidak akan sampai pada orang - orang penting di hadapanku ini..
Deg.. seketika ketakutan datang mengahntui diriku, aku sangat mengenal papa, dia akan melakukan apa saja agar semua yang di sekitarnya berjalan sesuai apa yang dia mau, meskipun cara yang dia pakai salah. Melihat luka parah di bagian samping tubuh Keyla sepertinya seseorang memang sengaja menabrak mobil yang digunakan Keyla.
"Ya Tuhan.. semoga yang ada dalam fikiranku ini salah." Lirihku. Sungguh seabai apapun papa pada kami keluarganya, aku sangat berharap kecelakaan Keyla kali ini tidak ada sangkut pautnya dengan papa. Sudah cukup semua penderitaan juga kehidupan tragis Keyla di Paris beberapa tahun lalu yang tidak lain karena di sebabkan oleh adikku Gerry..
Menarik nafasku dalam kemudian menghembuskannya. Dengan perlahan aku membalik tubuhku kemudian membawa langkahku kembali ke ruanganku.
Sebuah pesan masuk kedalam ponselku dari Gerry, mengatakan dua puluh menit lagi akan sampai kerumah sakit. Aku membalas dan mengatakan padanya untuk langsung ke ruanganku..
Setelah itu aku membaringkan tubuhku pada bed yang ada di dalam ruangan itu. Bed yang biasa aku pakai jika terpaksa tidak pulang ke rumah karena ada opreasi dadakan yang memang tidak bisa aku tinggalkan..
Baru saja mataku tertutup, mungkin karena lelah juga fikiran yang berkecamuk dalam hati dan fikiranku membuat tubuhku terasa sangat ingin beristirahat walau hanya sebentar..
Aku bangkit dari baringku kemudian turun dari bed menuju sofa yang tidak jauh dari bedku. Pintu ruanganku terbuka, Gerry sudah berada disana..
"Sini Gerry." Kataku sambil menepuk sofa kosong disampingku.
"Ka Anggun baik - baik sajakan ?" Tanya Gerry sambil melangkah mendekat kemudian duduk disampingku.
"Aku baik," jawabku sambil menganggukan kepalaku. "Hanya sedikit lelah." Sambungku. Operasi besar dadakan tadi pagi memang menguras seluruh tenaga juga emosiku. Berbagai ketakutan datang memenuhi fikiranku, takut jika tidak bisa membawa Keyla seperti apa yang di inginkan pimpinan Rumah Sakit tempatku bekerja. Takut Gerry akan merasa sedih dan bersalah jika mendapati Keyla tidak lagi bisa kembali ke kehidupannya.
"Gerry, kamu sudah tahukan kenapa aku memintamu datang ?" Tanyaku. kulihat Gerry menunduk menganggukan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dia sudah tau dimana kesalahnya.
"Beberapa tahun lalu aku menemukan Keyla tidak sadarkan diri di berlumuran darah di tangga darurat apartemen kami. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya, yang jelas aku sudah bisa menduga dia mengalami keguguran." Kataku sudah mulai sesegukan karena tidak lagi bisa menahan airmataku lebih lama karena janin yang tidak bisa di selamtakan oleh kekasiku saat itu adalah keponakanku. Perih kembali mengingat penderitaan Keyla waktu itu, lebih parahnya lagi yang menyebabkan semua itu adalah adik laki - lakiku. Untung saja saat itu Roby seorang dokter OBGYN yang sudah bekerja di sebuah rumah sakit.
"Kak Roby yang membawanya kembali saat itu, meskipun tidak kembali seutuhnya. Janin yang baru berumur delapan minggu tidak bisa diselamatkan, Keyla koma selama dua minggu Gerry, tanpa keluarga hanya ada aku dan ka Roby saat itu." Sambungku dengan suara yang sudah bergetar.
__ADS_1
"Jelaskan padaku semuanya Gerry, hubungan apa yang kalian jalani saat itu ? jika kau tahu kau sudah menitipkan benihmu dirahimnya, kenapa kamu tidak menikahinya dan membiarkan dia pergi sejauh itu ?" Tanyaku dan kali ini aku marah pada adikku ini.
"Hubungan kami hanya One Night Stand mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kuliah. Maafkan aku, aku jatuh cinta padanya saat itu, hingga melakukan hubungan terlarang itu dengan tidak aman." Jawab adikku yang membuatku semakin marah.
"Jika kamu sudah jatuh cinta padanya, lalu mengapa membiarkannya pergi ?" Tanyaku lagi.
Dia yang memilih pergi, sebelum memutuskan pergi ke Inggris aku suda mencarinya kemana - mana, tapi tidak bisa menemukannya. Hingga kami kembali bertemu di acara yang di selenggarakan papa di hotel beberapa hari yang lalu." Jawab Gerry tenang namun lirih.
"Jika aku tahu dia akan pergi saat aku bangun dari tidur panjang kami, mungkin aku akan menahan kantukku malam itu agar bisa memberitahukan padanya untuk tetap tinggal disisiku. dan mungkin tidak akan ada penyesalan yang aku rasakan seperti saat ini." Kata Gerry.
Aku diam menatap lekat pada wajah adikku, terlihat sangat jelas jika dia sedang frustasi..
" Apa yang harus aku lakukan sekarang ka ?" Tanyanya dengan beberapa tetes air mata mulai jatuh ke atas sepatunya.
"Keyla mendengar semua penghinaan papa tadi pagi, lalu pergi meninggalkan aku tanpa menoleh." kata Gerry lirih.
Sungguh aku kaget mendengar cerita Gerry jika Keyla mendengar semuanya dengan telinganya sendiri makian cacian dari papa.
"Dia pergi dan aku tidak punya keberanian untuk menahannya, tatapan sinis mengerikan dari mata Keyla membuatku serasa di remas.. Semalam kami baik - baik saja, bahkan kami sudah membicarakan pernikahan namun pagi ini papa menghancurkan segalanya." Mendengar semua yang diceritakan adikku membuatku ikut sedih. Aku meraih tubuhnya dan memeluknya erat, menepuk punggungnya memberikan kekuatan padanya.
"Ada yang ingin aku tunjukan padamu, tapi kamu harus kuat dengan ini." Kataku setelah melepaskan pelukan kami dan terlihat Gerry sudah kembali bisa mengendalikan dirinya..
Aku dan Gerry keluar dari ruanganku menuju ICU dimana Keyla berada. Untung saja tidak ada siapapu disana, mungkin keluarga Keyla sudah kembali dan aku merasa lega saat ini.
Namun karena Keyla belum bisa dikunjungi kami hanya bisa melihat dari kaca besar. Air mataku ikut terjatuh melihat keadaan Gerry yang selama ini tidak pernah aku lihat. kami tidak pernah mengalami hidup se kacau ini meski papa selalu membuat kami kecewa, kali ini aku melihat adikku yang lain.
"Pasien yang aku Operasi tadi pagi adalah Keyla, dia hampir saja tidak bisa kembali, namun aku masih sangat yakin dia gadis yang kuat sama seperti beberapa tahun lalu." Kataku.
"Mungkin akan banyak rintangan untuk kalian bersama, aku tidak akan memintamu berhenti mencintainya Gerry. Namun kamu harus tahu cinta yang baik adalah cinta yang tidak memaksa. Cinta yang siap melepaskan jika cinta itu tidak lagi bisa kita beri bahagia." Aku ingin Gerry mencintai Keyla dengan baik tanpa obsesi.
Ku lihat adikku dudah terduduk sambil meremas kepalanya bersandar di dinding kaca. Aku yakin kali ini dia merasa sangat terpukul melihat Keyla tidak berdaya dihadapannya.
__ADS_1
"Berjuanglah jika memang keyla pantas untuk kamu perjuangkan." Kataku kembali memberikannya semangat.