
Gerry menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesaran miliknya. Jadwal yang begitu padat juga pekerjaan yang menumpuk terasa meremukkan seluruh tulang belulangnya. Sesekali melihat layar ponselnya, masih terus berdecak kesal karena gadis yang ada di pikirannya sejak pagi tadi belum juga menghubunginya. Semakin kesal mengingat ada laki-laki yang juga mencintai gadis itu di dalam ruangan yang dia tinggalkan sejak tadi pagi.
Tok..tok...tok...
Suara ketukan pintu ruangannya mengalihkan Gerry dari layar ponsel miliknya.
" Permisi pak, saya mengantar makan siang anda " Kata Rachel di depan pintu ruangan yang sudah terbuka.
"Masuk Rachel" Jawab Gerry.
Rachel masuk kedalam ruangan Gerry dengan seorang office girl yang juga ikut membawakan makan siang untuk Gerry.
Setelah meletakkan makan siang Gerry di atas meja sofa yang ada di ruangan, office girl tersebut langsung keluar dari ruangan sedangkan Rachel menata makanan yang di pesan dari restoran ke atas meja.
Gerry beranjak dari kursi kebesarannya menuju sofa yang ada di dalam ruangan.
"Apa masih ada yang bapak butuhkan ?" Tanya Rachel.
"Tidak, kau sudah makan siang ?" Tanya Gerry. Sedikit iba karena gadis di depannya ini tidak kalah lelahnya dari dia. Rachel mungkin lebih lelah darinya.
"Saya akan makan siang di kantin kantor bersama pegawai lain pak" Jawab Rachel.
"Makanlah disini bersamaku, makanan ini terlalu banyak jika hanya untuk ku habiskan sendiri." Ajak Gerry yang mulai memakan makanan di piring yang sudah di siapkan sekretarisnya ini.
"Terimakasih pak" Kata Rachel dengan jantung yang terus berdetak juga hati yang membuncah karena perhatian Gerry padanya.
"Wish.. Lagi makan siang sama sekertaris yaa, apa perjuanganmu tidak berhasil untuk sekertaris Bramantyo ?" Reyhan dengan senyum menjengkelkan miliknya kini sedang berada di pintu yang tidak tertutup setelah Office Girl yang tadi membawakan makan siang Gerry keluar dari ruangan.
Reyhan berjalan diikuti Alissa duduk di sofa yang sama dengan Gerry. Rachel merutuki teman bosnya ini di dalam hati, merusak momen yang sulit sekali terjadi padanya. Namun dia sungguh sangat tahu diri, Rachel segera bangkit dari sofa, menunduk sebentar pada Gerry juga kedua tamu tak diundang bosnya itu kemudian berlalu dari ruangan tersebut dengan sepiring makan siang di tangan menuju meja kerjanya.
__ADS_1
"Duh selera kamu itu sekertaris semua yaa ? gagal mendapatkan Keyla kini beralih pada Rachel." Ejek Alissa membuat Reyhan terkekeh.
"Mau apa kemari ?" Tanya Gerry pada sahabatnya seolah tidak perduli dengan ejekan dua Jailangkung di sampingnya.
"Mau ngajakin kamu ngantar Alissa ke Bandara." Kata Reyhan, berdo'a dalam hatinya agar si Gerry ini menolak ajakannya.
"Aku ngga bisa, lagi nungguin kabar dari Keyla. Hari ini dia sudah bisa pulang ke rumah, bagaimana jika dia meminta aku ke rumah sakit dan aku sedang bersama kalian berdua. Nggak, sudah cukup dia mengamuk semalam, lenganku smpe robek kena kukunya." Kata Gerry ngeri ketika kembali teringat amukan dari kesayangannya itu.
Mendengar ocehan sahabatnya, bukannya prihatin Reyhan malah terbahak mengejek. "Aku yakin setelah itu Keyla ngga mau ketemu kamu lagi. Dan si pemilik Rumah Sakit jadi punya kesempatan besar buat dekatin Keyla" Kata Reyhan dengan masih dengan tawa mengejeknya.
"Justru karena masalah itu aku jadi tahu dia juga cinta banget sama aku Rey, dia minta aku untuk berjuang bersama untuk meyakinkan keluarganya. Bram saja sudah mendukungku dan sekarang dia berjanji akan membantuku untuk membujuk Om Han. Kamu tuh yang jangan kelamaan, nanti kalau gadis yang lagi kamu incar di ambil orang baru tahu rasa." Ejek Gerry balik.
" Memangnya Reyhan menyukai seseorang ? siapa ?" Tanya Lisa.
Reyhan dengan cepat menatap tajam pada sahabat yang mulutnya mirip banget sama mulut emak - emak.
"Dia bohong Lis, ayo aku antar kamu ke Bandara sekarang. Ngga usah dengarin si gila ini." Kata Reyhan segera menarik tangan Alissa keluar dari ruangan Gerry.
Dengan berdecak kesal Gerry kembali memeriksa ponselnya, dan masih tidak mendapati ada apapun di sana. Hanya foto Keyla tertidur di ranjang hotel dengan selimut menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya, hanya wajah dan rambut yang terlihat di sana. Foto yang sudah tersimpan rapi di dalam ponselnya sejak lima tahun lalu kini menghiasi layar depan ponsel laki-laki itu. Foto yang menjadi bukti jika mereka dulu bahkan sudah sejauh itu. Setelah pertemuan tidak sengaja mereka kurang lebih sebulan yang lalu di acara keluarganya, kini Gerry kembali memasang foto itu di layar depan ponselnya. Dengan perlahan Gerry mengusap wajah yang terlelap yang ada di layar ponsel dengan ibu jarinya. Melihat wajah damai itu sedikit mengurangi kekesalannya karena gadis itu belum memberinya kabar sama sekali.
Panggilan video dari nomor yang tidak dia kenal mengganggu konsentrasinya yang sedang menikmati wajah cantik Keyla yang terlelap di layar ponselnya..
Dengan malas Gerry menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya. Seketika matanya berbinar melihat wajah yang kini sedang menatapnya sendu dari layar ponsel.
Melihat Keyla yang kini duduk di sofa dekat jendela kaca yang besar Gerry yakin jika gadis yang kini sedang tersenyum manis padanya tidak lagi berada di rumah sakit.
"Kamu dimana sayang ? sepertinya aku tidak pernah melihat tempat ini di Rumah Sakit ?" Tanya Gerry.
Mendengar kata sayang yang di katakan Gerry membuat jantungnya kembali berdetak ngga jelas.
__ADS_1
" Aku sudah pulang ke Rumah Om Han dan Tante Ratih. Nanti malam Om Han memintamu datang bersama keluargamu." Kata Keyla dengan pipi yang sudah memerah.
Gerry tersenyum melihat tingkah gadis yang ada di layar ponselnya. Hanya di goda sedikit membuat Keyla salah tingkah.
" Apa ngga bisa sekarang Key, aku rindu juga gemas sama pipi kamu yang memerah, ingin aku cium sampai puas." Kata Gerry merengek.
"Cih kita bahkan baru bertemu beberapa jam yang lalu." Kata Keyla.
" Pertemuan apanya, kamu mengamuk Key lalu tertidur. Ngga ada bagus - bagusnya pertemuan itu. Kamu itu manusia apa kucing sih Key, lengan aku sudah banyak luka cakaran." Kata Gerry kesal karena perih di lengannya masih terasa.
Mendengar kata Gerry, Keyla meringis ngeri. Dia sadar apa yang sudah dia lakukan pada Gerry semalam. Keyla mengamuk sampai kelelahan karena ingin membuat hatinya lega karena laki-laki yang tiba - tiba saja sudah duduk di sampingnya padahal baru beberapa jam yang lalu membuatnya menangis.
" Salah kamu sendiri, tukang cari masalah." Kesal Keyla.
"Key aku ingin datang sekarang ke rumah kamu, aku rindu Key."
" Jangan lebay, ada Om Han sama Tante Ratih ada disini." Kata Keyla.
"Key itu Ayah dan Bunda kamu juga, kok masih panggil mereka dengan sebutan Om dan Tante sih ?" Tanya Gerry heran.
"Kami masih sama-sama saling memberi waktu, aku juga ingin melakukan hal yang sama dengan mu. Ayo saling memberi waktu untuk menjadi lebih dekat Gerry."
Mendengar ucapan Keyla, Gerry tersenyum kemudian mengangguk.
"Ayo kita memulai semua dengan baik, sungguh Key aku tidak menyesali pertemuan kita lima tahun lalu. Yang aku sesali waktu itu hanya tidak menuruti kata hatiku karena nafsuku lebih mendominasi saat itu. Maaf membuatmu menderita di paris Key, maaf atas kebodohan ku malam itu. Maaf berharap kamu masih ada di tempat tidur yang sama saat aku membuka mataku di pagi hari hingga berani menitipkan benihku tanpa sepngetahuanmu dan membuat kamu menderita." Ucap Gerry panjang lebar penuh sesal bahkan kini matanya sudah terlihat berkaca-kaca menatap lekat wajah yang ada di layar ponselnya.
"Aku ingin memelukmu sekarang," Kata Keyla melihat mata yang berkaca-kaca penuh sesal milik laki-laki yang kini sudah menjadi bagian terpenting di hidupnya.
Terdengar wanita paruh baya yang sudah menjadi bundanya meminta izin untuk masuk kedalam kamar mewah yang dia siapkan sendiri untuk putrinya. Dengan tergesa-gesa Keyla meminta Gerry untuk mengakhiri percakapan mereka.
__ADS_1
"Love you Key." Kata Gerry sebelum layar kini sudah berganti menjadi wajah Keyla yang sedang terlelap.