
Terik matahari siang ini tidak menghalau Gerry untuk mendatangi rumah dimana calon istrinya berada. Perjuangan yang berakhir manis, Keyla menerima lamaran dari orang tuanya semalam. Senyum tidak pernah surut dari bibirnya, hatinya semakin terasa membuncah ketika bayangan memiliki keluarga kecil bersama Keyla. Berjuang dan berdo'a bersama nanti, agar Tuhan kembali mempercayakan mereka untuk memiliki malaikat kecil yang dulu kembali di ambil sang pemilik karena mereka tidak bisa menjaganya dengan baik.
Gerry yakin Tuhan sangat baik padanya, rasanya dia belum melakukan banyak hal tetapi semesta sudah memberinya begitu banyak. Permintaan yang saat itu hanya ingin bertemu dengan gadis yang membuatnya jatuh cinta lima tahun lalu sudah terkabul lalu dia kembali lebih serakah. Rasanya tidak puas jika hanya melihat Keyla dari kejauhan, kini Gerry ingin memiliki Keyla di kehidupannya dan dengan cepat semesta memberi itu padanya. Jadi jika hanya ingin memiliki anak dengan Keyla lagi, Tuhan pasti akan mengabulaknnya juga, meskipun dengan perjuangan dan do'a yang tidak akan ada habisnya.
Selepas mengantarkan Sanjaya kembali ke hotel prodeo yang akan menjadi tempatnya untuk beberapa bulan kedepan, Gerry kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan untuk menandatangani beberapa berkas yang tidak bisa di wakilkan pada siapapun. Dan kini dia sedang dalam perjalanan menuju kediaman Handoko di mana sang pujaan hati berada.
Gerry sudah memberi kabar pada Keyla jika siang ini mereka akan keluar mengunjungi butik tempat gaun pengantin yang akan di kenakan Keyla dua bulan lagi dan dress yang akan di pakai Keyla pada acara pertunangan mereka yang akan berlangsung minggu depan. Designer yang merancang gaun Keyla adalah sahabat dari calon mertuanya, Keyla sudah tahu akan hal itu.
Jalanan Jakarta yang tidak pernah lepas dari kemacetan membuat Gerry menghabiskan banyak waktunya di jalan. Perlahan namun pasti kini mobil Gerry sudah terparkir rapi di halaman rumah mewah keluarga Handoko. Gadis yang akan menjadi tujuannya kini sudah duduk si kursi teras rumah dengan hels dan dress brand selututnya.
Melihat Gerry keluar dari mobil menunuju kearahnya, Keyla langsung bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju ke arah Gerry.
"Sudah siap ? " Tanya Gerry dan di angguki oleh Keyla.
Mereka segera masuk kedalam mobil dan berlalu dari halamn rumah menuju jalanan yang masih begitu padatnya. Entah sudah berapa jam waktu yang mereka habiskan di jalanan Jakarta, Keyla sudah mulai terasa tidak nyaman di dalam mobil berapa kali Keyla membetulkan cara duduknya karena merasa sedikit ngilu di tubuhnya yang belum benar-benar pulih.
Ada banyak butik yang cepat di jangkau namun sang mama beraikeras untuk memesan langsung pada sahabatnya itu membuat Gerry kesal, apalagi melihat Keyla sudah mulai tidak nyaman karena sudah terlalu lama berada di dalam mobil membuat Gerry kesal.
" Aku sangat tidak suka keluar rumah salah satu alasannya ya ini, kemacetan Jakarta. Jika saja Brand yang biasa tempat aku belanja online menyediakan gaun pengantin, aku pasti sudah memesannya." Kata Keyla setelah mobil sudah keluar dari kemacetan.
" Maaf mama merepotkanmu." Keta Gerry pelan namun tetap.bisa di dengar dengan jelas oleh Keyla.
"Nggak apa -apa, lagipula ini moment sekali seumur hidup. Aku ingin membuatnya berarti." Kata Keyla mengerti. "Tapi setelah ini aku tidak ingin lagi keluar hanya untuk hal-hal seperti ini." Sambungnya.
" Tentu saja, setelah menikah aku hanya akan mengurungmu di dalam kamarku saja." Kata Gerry terkekeh melihat wajah datar robot cantik di sampingnya memerah.
__ADS_1
"Kok diam ? mau banget ya aku kurung di dalam kamar ? Tanya Gerry sambil menaik turunkan kedua alisnya menggoda Keyla.
"Kapan sih ? kayaknya masih lama." Kata Keyla mengejek tidak ingin kalah dari laki -laki yang mulutnya tidak pernah di ajak kursus dan membuat dadanya semakin berdebar. Untung saja wajah datarnya selalu bisa di ajak bekerja sama.
"Aku benci dua bulan lagi, boleh ngga minta nikah sekarang aja" Kata Gerry memelas. Sungguh dia tidak ingin berlama-lama seperti ini.
"Minta izin sama mama kamu sana, paati akan berakhir tabokan dikepalamu seperti semalam." Kata Kelyla dengan bibirnya tertarik mengejek Gerry. Masih mengingat semalam sang calon mama mantu berdebat dengan laki-laki kesayangannya ini hanya karena pernikahan mereka nanti di adakan dua bulan akan datang dan berakhir dengan melayangnya lima jari mulus sang calon mertua di kepala yang baru beberapa menit lalu di pukulnya.
"Aku tuh heran sama mama, antusias banget soal pernikahan kita, ikut campur aja urusan anak mudah. Lama banget Key nunggu dua bulan lagi, aku takut khilaf nanti." Kata Gerry sudah mengeluarkan jurus merengeknya.
Keyla hanya tersenyum manis mendengar ocehan mulut laki-laki yang sudah seperti mulut ibu-ibu di sampingnya. Ayah dan Bundanya saja hanya menggelengkan kepala melihat sisi lain dari besannya yang seperti anak kecil yang tidak ingin keinginannya tidak di penuhi. Mobil yang membawa mereka kini sudah terparkir di sebuah Rumah Mewah membuat Keyla merasa heran.
"Bukankah kita akan ke butik, lalu kenapa berhenti disini ?" Tanya Keyla mengalihkan topik pembicaraan yang tidak akan ada hasilnya, karena semua sudah di tetapkan kapan waktunya. Hanya bersabar dua bulan lagi bukanlah masalah besar, mengingat mereka sudah bersabar dengan jarak dan waktu yang begitu panjang. Semua sudah ada takdirnya, wakti lima tahun saja bisa terlewati begitu saja hingga ke titik ini, apalagi waktu yang hanya kurang dari dua bulan lagi. Itu bukanlah waktu yang lama menurutnya.
"Aku tahu kamu ngga suka di tempat yang banyak orang, jadi tante Meyke akan menemui kita di rumahnya saja." Kata Gerry sambil melepaskan sabuk pengaman di tubuh Keyla. Setelah keluar dari mobil, Gerry meraih tangan keyla dan masuk kedalam rumah yang tidak kalah mewah dari rumah orang tua mereka.
Keyla dan Gerry duduk di ruang tamu, seorang pelayan membawakan minum untuk tamu dari nyonya rumah.
"Mom aku akan kembali ke Bali hari ini." Kata seseorang yang mendatangi ruangan tempat mereka berada. "Oh sorry, Momy lagi punya tamu yaa." Sambungnya.
"Keyla, kok bisa disini ?" Tanyanya heran.
"Oh, pak Alvin aku ada keperluan pribadi dengan Tante Mey." Jawab Keyla santai dengan mode datarnya meskipun sedikit kaget karena kembali bertemu dengan laki-laki yang pernah membuat sang kaka murka.
"Sudah saling kenal ya,, ini anak tante Key." Kata wanita paruh baya yang terlihat fashionable di hadapan Keyla.
__ADS_1
"Kolega bisnis yang batal mom, bosnya galak banget posesif pula. ponsel Alvin smpe di hancurin sama bosnya ini hanya karena memotret Keyla." Jawab Alvin kesal karena mengingat kembali kemurkaan Bram waktu itu. Alvin sudah duduk di samping sang Momy dan terus memperhatikan wajah datar Keyla yang tetap saja terlihat cantik meskipun tidak ada senyum atau expresi apapun di wajah itu.
"Untung saja hanya ponselmu yang di rusak sayang, bagaimana jika tangan kamu yang di patahkan sama bosnya karena sudah melanggar privas pegawainya." Kata Meyke sambil menggelengkan kepalanya dengan sikap seenaknya yang di miliki sang anak.
Keyla hanya diam dengar wajah datar tidak terbaca miliknya. Sedangkan Gerry sudah kesal, sejak mamanya meminta untuk menemui tante Meyke untuk urusan baju pengantin mereka, Gerry sudah mewanti-wanti pertemuan dengan laki-laki yang terus menatap Keylanya ini. Laki-laki yangbpernah di bicarakan Keyla padanya.
"Lain kali aku akan mengancurkan tanganmu jika berani memotret calon istriku." Kata Gerry dengan menekankan kata calon istriku di akhir kalimatnya.
Keyla melihat ke arah Gerry, menghadapi satu laki-laki posesif dalam hidupnya saja sudah membuatnya susah bernafas dan kini dia akan memiliki dua laki-laki posesif dalam hidupnya.
Alvin melotot mendengar apa yang baru saja di ucapkan Gerry.
"Wah beruntung banget kamu, aku sudah mendekatinya beberapa kali namun selalu saja mendapat murkaan dari si Bramantyo. Aku yakin kamu di pukuli habis -habisan sama dia sebelum bisa nikahin Keyla." Kata Alvin merinding ngeri ketika mengingat bagaimana Bram murka padanya hanya karena meminta nomor ponsel Keyla saat itu.
"Biasa aja, Bram tunduk sama aku." Kata Gerry sombong yang membuat Keyla terkekeh geli dalam hati.
Dua laki-laki bodoh yang sedang berbicara di dekatnya ini sama-sama pernah mengalami kemurkaan Bram, Gerry lebih parah sampai babak belur di pukuli Bram. Keyla meringis ketika kembali mengingat perjuangan Garry untuk bisa bersamanya.
"Jadi tente Mey apa aku boleh melihat katalognya sekarang ?" Keyla memilih untuk menyudahi pembicaraan dua laki-laki yang sama bodohnya yang duduk di hadapan dan sampingnya ini.
"Oh iya, Ayo Key. Sekalian kamu lihat ada beberapa contoh gaun pengantin di ruang kerja tante." Kata tante Meyke kemudian beranjak dari sofa. Keylapun ikut beranjak dari duduknya mengikuti tante Mey ke ruang kerjanya.
Gerry masih kesal ikut menyusul kesyangannya agar si Alvin di hadapannya ini tidak akan lagi mendekati Keylanya.
"Jangan menatapnya seperti itu, aku akan menghancurkan matamu." Kata Gerry sebelum benar -benar pergi menyusul Keyla.
__ADS_1
" Huh tenang saja, satu laki-laki posesif dalam hidupnya saja sudah membuatku menciut apalagi kini dia punya dua sekaligus. Duh nyawaku masih ingin ku pakai menggoda banyak gadis di Bali." Kata Alvin santai meskipun ada sedikit tidak rela jika gadis yang selalu menatap siapa saja dengan wajah datarnya akan di miliki orang lain. Sekretaris yang unik, profesional dengan pekerjaannya namun tidak ada senyum atau ekspresi menggoda seperti sekretaris pada umumnya membuatnya penasaran.
"Bagus jika kamu tahu" Kata Gerry kemudian berlalu dari sana.