Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Tetap lindungi Keylaku


__ADS_3

Di kediaman Handoko, wanita paruh baya terus saja mondar mandir di ruang kerja milik suami dan putranya karena Keyla belum juga kembali. Entah sudah berapa kali dia meminta Bram yang masih sibuk dengan pekerjaannya untuk mencari Keyla namun Bram sama sekali tidak menggubrisnya karena terus fokus dengan beberapa laporan yang harus dia periksa dengan sang Ayah di rumah.


Han yang sedang membaca laporan perkembangan perusahaan dari putranya sesekali melirik kearah istrinya yang sudah seperti setrikaan. Melihat istrinya yang bersikap seperti ini, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Putrinya itu sudah dewasa dan sang istri mengkhawatirkan seperti mengkhawatirkan anak perempuan remaja saja.


"Yah kok tenang-tenang saja sih, ini sudah malam dan Keyla belum balik sejak siang tadi." Ratih sudah tidak tahan lagi dengan sang suami yang hanya terus fokus dengan berkas-berkas di mejanya.


" Sudahlah Bund, duduk sini sama Bram. Key pasti baik-baik saja, dia pergi dengan calon suaminya tidak ada yang perlu di khawatirkan. Aku percaya, Gerry akan menjaganya." Bram membujuk sang Bunda agar duduk saja dan tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Keyla. Bram percaya pada Gerry, laki-laki itu mencintai adiknya sama seperti dirinya.


"Bunda masih kangen sama di Bram, apa Bunda telfon aja yaa." Kata Ratih. Sungguh dia masih merindukan putrinya itu, meskipun Keyla sudah dekat dengan mereka sejak dulu sebagai sahabat juga sekertaris Bram namun dekat sebagai putrinya rasanya itu belum terjadi.


"Sebentar Bund, Bram akan menghubungi Gerry." Tidak tega melihat sang Bunda yang sudah sangat ingin melihat Keyla Bram memutuskan untuk menghubungi Gerry. Setelah tersambung Suara dari balik ponselnya terdengar.


"Apa fitting baju pengantin kalian belum selesai ? Bunda sudah menunggu Keyla pulang sejak tadi." Kata Bram pada seseorang di balik ponsel.


"Maaf Bram seusai dari rumah tante Mey, aku membawanya ke kantor karena ada yang perlu aku selesaikan. Aku akan membawanya pulang sekarang, sampaikan maafku pada Tante Ratih dan Om Han." Jawab Gerry dan Bram mengiyakan kemudian mengakhiri panggilan mereka.


Ratih sudah beranjak keluar dari ruang kerja menuju ruang tamu untuk menunggu putrinya kembali. Tidak lupa dia menatap tajam pada suaminya, dia kesal sekali pada sikap acuh sang suaminya itu.


Han hanya terkekeh melihat kekesalan istrinya yang sudah berlalu meninggalkan ruangan tempat dia dan putranya bercengkrama.


"Ngga dapat jatah baru tahu." Kata Bram melihat Ayahnya hanya terkekeh dengan kekesalan sang Bunda.


"Nanti juga Bunda yang akan minta jatah sendiri." Kata Han sambil tersenyum mengejek pada Bram yang selalu takut pada Rosa.


Bram hanya menggelengkan kepalanya dengan sikap sang ayah lalu kembali melanjutkan pekerjaanya.

__ADS_1


*****


Gerry beranjak dari kursinkebesarannya melihat ke arah Keyla yang sudah terlelap bersandar di sofa di dalam ruangannya. Merasa bersalah karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan membiarkan Keyla sendirian hingga tertidur.


" Permisi pak, saya mengantarkan makan malam." Kata Rachel dari balik pintu yang sedikit terbuka. Sebulan ini Gerry bekerja hingga larut malam dan Rachel terbiasa mengantarkan sarapan, makan siang juga makan malam bosnya ini.


"Tidak perlu Rachel, aku akan segera kembali ke rumah. Kamu juga pulang dan istirahatlah." Kata Gerry tanpa mengalihkan pandangannya dari Keyla. "Tolong tahan pintunya sebentar." Sambungnya.


"Lalu bagaimana dengan makan malammu pak ?" Tanya Rachel lagi. Dia sudah memesan dua porsi makanan agar bisa makan bersama Gerry seperti malam -malam sebelumnya.


"Buat kamu saja." Kata Gerry singkat membuat Rachel mencelos.


Gerry kembali melanjutkan langkahnya menuju Keyla lalu membawa tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Dengan hati -hati Gerry mengangkat tubuh Keyla agar tidak mengganggu tidur gadis kesayangannya itu. Beberapa kali Gerry menghujani kecupan di wajah lelap Keyla kemudian membawanya keluar dari ruangannya yang pintunya masih di tahan agar tetap terbuka oleh Rachel menuju lift.


Selepas kotak besi itu membawa Keyla dan Gerry turun ke lantai dasar, gadis yang sedari tadi menahan sesak didadanya akhirnya runtuh juga. Air mata kini membasahi wajahnya, rasa sesak ketika bayangan bagaimana Gerry memeperlakukan Keyla tidak bisa lagi menahan air matanya untuk jatuh karena hati yang tidak tersampaikan sudah tersakiti terlebih dahulu. " Apakah semuanya berakhir sampai disini ? Apakah setelah ini semua orang akan kembali mengabaikan aku ?" Kata Rachel lirih. Selama ini tidak ada yang perhatian padanya seperti Gerry.


Gerry melajukan mobilnya menuju kediaman Handoko, melihat jam di dasbor mobilnya sudah menunjukan pukul sembilan malam. Entah sudah berapa lama gadis di sampingnya ini terlelap di sofa ruang kerjanya membuatnya merasa bersalah karena sedari tadi mengabaikan Keyla karena pekerjaanya.


"Ck dia ini tidur apa pingsan sih," Gerutu Gerry melihat ke arah gadisnya yang sama sekali tidak terganggu dengan sekitarnya.


Tidak terlalu memakan waktu lama akhirnya mobil miliknya kini sudah terparkin di depan rumah mewah tempat tinggal yang baru sehari yang lalu di tinggali Keyla.


Ratih sudah keluar dari pintu utama rumah. Gerry keluar dari pintu mobil kemudian membuka pintu mobil agar bisa membawa Keyla keluar dari mobilnya.


Bram dan sang Ayah yang sudah selesai dengan pekerjaanya ikut keluar melihat Keyla. Bram berdecak dalam hatinya tidak lagi heran dengan pemandangan di hadapannya ini. Keyla sejak dulu sudah seperti putri tidur saja mudah sekali terlelap. Beberapa kali dia yang terpaksa mengangkat tubuh Keyla yang terlelap karena tidak tega mengganggu tidur lelap si putri tidur ini.

__ADS_1


Dengan hati-hati Gerry mengankat tubuh Keyla yang masih saja terlelepa, kemudian Ratih meminta Gerry untuk membawa Keyla kedalam kamar gadis itu sedangkan Bram dan Han sudah duduk di ruang tamu membiarkan Gerry yang mengantar Keyla ke kamar.


Setelah memeastika Keyla tertidur nyama di ranjangnya, Gerry keluar dari kamar mewah gadis itu menuju ruangan dimana calon Ayah mertua dan kaka iparnya berada.


Gerry ingin segera berpamitan untuk pulang karena melihat tatapan tajam laki-laki yang masih saja posesif pada Keyla di hadapannya ini, namun sang calon ayah mertua memintanya untuk duduk sebentar dan dia terpaksa mengiyakan.


"Kamu tidak macam-macam pada adikku kan? Tanya Bram sinis.


"Memangnya mau melakukan apa pada orang yang tertidur lelap seperti orang pingsan itu." Jawab Gerry malas pada laki - laki di hadapannya ini.


" Siapa tau aja kamu sudah tidak sabar lagi nunggu dua bulan." Kata Bram yang tidak mau kalah.


"Kamu seperti nggak kenal sama adik kamu sendiri, nikmat ngga sakit iya karena amukannya." Jawab Gerry kesal. Lagipula dia ingin menikamti semuanya sesuai rencana yang sudah di susunya setelah pernikahan mereka nanti.


" Terimakasih sudah membawanya kembali dengan baik keruma nak Gerry. Bagaimana kabar papa kamu" Tanya Han agar menghentikan perdebatan yang tidak berguna dari putranya yang masih saja posesif dengan adiknya. Jujur dia sangat salut dengan anak mudah di hadapannya ini. Gerry dengan tegas membawa sang papa ke pihak berwajib, padahal saat itu belum tentu putrinya akan memaafkannya denga suka rela.


" Papa sudah kembali ke penjara tadi, terimakasih karena tidak melanjutkan tuntutan Om." Kata Gerry tulus. Dia sangat berterimakaaih dengan keluarga ini yang masih bisa dengan ikhlas membuka hati mereka untuk menerimanya menjadi bagian dari keluarga meskipun kesalahan fatal yang terjadi dan penderitaan Keyla tidak lain karena ulahnya dan juga sang papa.


" Keyla ingin memulai semuanya dari awal dengan baik, jadi lupakan semua yang terjadi di masalalu dan fokuslah untuk memberinya bahagia. Penderitaannya sudah sangat banyak karena Om dan keluarga ini, jadi Om sangat berharap tidak akan ada laki kesakitan yang akan dia terima setelah menikah denganmu." Kata Han panjang lebar pada calon menantunya.


Gerry hanya mengangguk mengiyakan di dalam hatinya. Dia sudah menjanjikan untuk selalu mengusahakan hanya akan ada kebahagiaan untuk Keyla kedepannya. Setelah perbincangan memakan waktu hampir setengah jam, Gerry berpamitan pada calon Ayah mertua juga kaka iparnya yang masih terus saja menatapnya dengan tajam.


Han sudah menyusul sang istri yang masih betah di kamar putrinya untuk segera melancarkan aksi membujuknya, jika tidak malam ini dia akan tidur sendirian..


Bram mengantar Gerry sampai ke mobil laki-laki itu, juga mengucapkan terimakasih karena sudah menjaga adiknya dengan baik. Gerry terkekeh melihat sikap laki-laki posesif di hadapannya ini, namun dia juga ikut senang karena kedepannya jika dia tidak sengaja menyakiti Keyla akan ada seorang Bram yang melindungi Keyla nanti.

__ADS_1


"Tetaplah seperti ini Bram, tetap lindungi Keyla dengan caramu agar tidak akan ada yang bisa menyakiti dan membuatnya menderita lagi termasuk aku." Batin Gerry, kemudian segera melajukan mobilnya dari halaman rumah Bram.


__ADS_2