Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Makan Malam


__ADS_3

Selama kita masih hidup, nafas masih berhembus dan nadi yang masih berdetak juga darah yang masih mengalir melalui pembulu darah selama itu pula perjuangan belum berakhir.


Gerry masih bersandar di sofa dengan keadaan yang berantakan. Entah sudah berapa lama dia termenung disini, Senja sudah berganti gelap dan dia sama sekali belum membersikan diri dan mengganti pakaian yang sudah sejak pagi melekat di tubuhnya.


Baru saja Gerry beranjak dari sofa ruang tamu, namu langkah kakinya terhenti saat melihat istrinya yang tersenyum manis sedang melangkah mendekat kearahnya.


Dress putih selutut yang membalut tubuh mulus yang sudah menjadi candunya ini semakin terlihat cantik saat terbalut di tubuh istrinya. Senyum manis yang selalu membuat jantungnya berdetak tidak karuan itu kini sedang tersaji di hadapannya.


Dan bagaiman bisa dia mampu menjalani hidupnya jika senyum manis milik wanita yang ada di hadapannya ini tidak bisa lagi dia lihat dalam hidupnya. Sungguh dia tidak akan bisa menjalani tanpa senyum manis ini menemani kesehariannya.


"Kok sudah bangun ?" Tanya Gerry saat Keyla sudah berhambur memeluk tububnya.


"Anak kamu minta di beri nutrisi." Ucap Keyla teredam dalam dada bidang suaminya.


"Apa sebegitu sukanya kamu dengan pelukan aku, sampai-sampai aku tidak bisa lagi menghitung berapa kali kamu memelukku hari ini." Ucap Gerry menggoda.


"Yah, tidak ada pelukan senyaman pelukanmu dan lebih nyamannya lagi aku menikmati ini gratis." Kekeh Keyla sambil melepaskan pelukannya sambil menatap lekat manik teduh milik suaminya.


"Benarkah, ah iatriku terlihat semakin cantik jika sedang menggodaku." Ucap Gerry lalu mengangkat tubuh Keyla lalu membwa nya kedapur mereka. "Jadi kedua anak ayah mau makan apa ?" tanya Gerry setelah mendudukan Keyla di atas meja, dan kini dia sedang mengahadap tepat diperut rata istrinya sambil mengelusnya dengan penuh kasih sayang.


"Mau mie instan pake telur ayah." Ucap Keyla dengan mengikuti suara anak kecil.


"Mie instan ngga boleh, yang lain." Tegas Gerry. Kini tangannya sudah beralih merapikan rambut basah istrinya.


"Apa aja, yang penting berbahan mie. Aku lagi suka makan mie Gerry." Rengek Keyla.


"Mie bakso mau ? " Tanya Gerry. Keyla mengangguk antusias.


"Tunggu sebentar aku mandi dulu, kita makan diluar." Ucpa Gerru terburu-buru lalu segera berlalu dari sana setelah menurunkan istrinya dari atas meja.

__ADS_1


Keyla membiarkan Gerry beralalu dari sana. Dia segera berjalan menuju kulkas dan melihat apa yang boleh dia buat untuk makan malamnya bersama sang suami.


Mata Keyla berbinar melihat udang yqng sudah bersih ada di dalam sana. Udang gulung mie renyah menjadi pilihan menunya malam ini.


Dengan telaten Keyla mulai menyiapkan bahanya, memasukkan mie instan kedalam panci kecil lalu merebusnya dengan cepat lalu mendinginkan mie tersebut kemudian mulai menggulung satu persatu udang menggunakan mie itu.


Keahliannya sidah tidak bisa di ragukan lagi jika soal masak memasak. Dia tersenyum saat semua udang sudah habis tergulung rapi di atas piring besar.


"Kok masak ? Nanti kamu lelah Key." Ucap Gerry sambil melingkarkan tangannya di perut ramping istrinya.


Keyla membalik tubuhnya dari penggorengan menghadap suaminya.


"Idih saumiku wanginya kebangetan tampan pula, mau menggoda siapa tuan. Ingat sudah tua, sebentar lagi punya anak." Judes Keyla lalu kembali membalik tubuhnya ke arah penggorengan.


"Mau menggoda istriku biar di beri izin buat jengukin anak aku nanti." Ucap Gerry menggoda sambil mengelus perut Keyla.


Gerry mengangguk lalu mengikuti istrinya menuju meja makan.


"Wou masakan kamu ngga pernah mengecewakan, sama seperti ketika menjenguk anak aku, ibunya ngga pernah mengecewakan." Ucap Gerry saat satu buah udang mendarat di mulutnya.


" Malam ini ngga boleh jenguk dulu, dan habiskan makanan kamu ayah yang jagonya ngegombal. Malam ini aku ngga akan baper sama godaanmu." Dengus Keyla.


Gerry hanya tertawa mendengar dengusan istrinya, lalu menikmati makanan yang selalu terasa nikmat di lidahnya dalam diam.


***


Di kediaman keluarga Manaf juga sedang menikmati makan malam mereka dengan diam. Sepasang pengantin baru juga sudah kembali dari bulan madu singkat mereka.


Semua orang sangat paham dengan kesibukan Bagas di rumah sakit, jadi tidak ada yang keberatan saat bulan madu pengantin baru ini sudah selesai dalam waktu tiga hari.

__ADS_1


Rachel sedang membantu mami Diana membawa piring bekas mereka ke wastafel untuk di cuci oleh asisten rumah tangga mereka. Papi Manaf dan Bagas sudah pindah ke ruang keluarga, sedangkan Oma sudah di bawah oleh perawatnya ke dalam kamar untuk beristirahat.


"Maaf ya nak, anak mami kesibukannya luar biasa jadi bulan madu kalian cepat berakhir seperti ini." Ucap Mami Diana sambil membawa piring dan gelas kosong menuju tempat pencucian.


"Ngga apa-apa mami, aku ngerti kok dengan kesibukannya. Lagi pula dia di butuhkan oleh banyak orang." Jawab Rachel. "duh tiga hari aja hampir membuatku pingsan apalagi lebih, paling aku pulanya tinggal mayat mi." Sambungnya dalam hati.


"Iya dan mulai sekarang harus lebih di banyakin stok sabarnya, sama seperti mami. Benar-benar menikmati kebersamaan itu nanti setelah papi kalian pensiun. Mami sampe frustasi dan sempat minta pisah karena di cuekin." Curhat mami Diana.


"Ajarin aku biar bisa sekuat dan se sabar mami ya." Jawab Rachel tersenyum. Mami Diana mengangguk sambil memberikan usapan lembut di punggung istrinya.


Seorang pelayan menyerahkan dua cangkir teh kepada Rachel, lalu mami Diana mengajak menantunya itu keluar dari dapur menuju ruang keluarga dimana suami dan putranya berada.


"Minum tehnya Pi." Ucap Mami Diana saat menantunya sudah meletakkan dua cangkir teh yang di bawa Rachel dari dapur ke atas meja yang ada di hadapan suami dan papi mertuanya.


"Jangan menunda untuk memiliki anak Rachel." Ucap Papi Manaf. "Dan sering-sering mampir kerumah sakit buat konsultasi, disana banyak dokter ObGYN handal." Sambung papi Manaf.


Rachel menoleh ke arah suaminya yang masih diam, karena memang pertanyaan sang papi bukan tertuju padanya namun pada istrinya.


"Iya Pi." Jawab Rachel singkat.


Bagas tersenyum sambil mengusap puncak kepala istrinya, dia beruntung memiliki istri sepatuh dan sepengertian Rachel.


"Aku dan Rachel istirahat duluan Pi, besok pagi sudah mulai kembali bekerja." Izin Bagas lalu diangguki oleh papi Manaf.


Bagas membawa tangan istrinya kedalam genggamannya, lalu berjalan menuju kamar tidur mereka yang dulunya hanya kamar tidurnya sendiri.


Nikmatnya setelah menikah, tidur sudah ada yang nemanin.


Para readers ayo jangan kalah sama Bagas, buruan ajakin nikah pacarnya 🤭😅

__ADS_1


__ADS_2