Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Rachel^ Bagas ( Kecupan )


__ADS_3

Jangan menyimpan nama orang yang tidak bisa kita raih di dalam hati, apalgi jika orang itu sudah menjadi milik orang lain. Percayalah, jika terus melakukan itu, maka bersiaplah untuk berperang dengan dirimu sendiri di kemudian hari. Sungguh musuh terbesar dalam hidup adalah diri kita sendiri. Tidak ada yang instan, hapuslah perlahan. Batu karang yang keras saja akan menipis jika sang ombak selalu mengahantam, apalagi hanya sebuah cinta yang tak sampai, cukup berusaha semua akan pergi dan terhapus dengan sendirinya.


Di dalam mobil yang melaju di jalanan ibu kota, senyum masih belum pergi dari bibir Rachel. Semuanya sudah selesai, sekarang dia jauh merasa lebih lega. Setelah berbincang dengan sepasang pengantin baru, yang pernah singgah di hatinya, Rachel sudah bertekad untuk melupakan segalanya.


Keyla orang yang sangat baik, jika mungkin Rachel yang ada di posisi Keyla, belum tentu akan dengan mudah memaafkan wanita yang terang-terangan mengatakan mencintai suaminya. Namun Keyla melakukan hal itu, justru wanita itu merasa bersalah pada apa yang terjadi. Merasa bersalah karena lebih memnitingakan cinta dan kebahagiaannya sendiri untuk memiliki Gerry sendirian.


Namun Keyla memang wanita yang luar biasa, tingkat kelapangan dadanya tidak bisa di bandingkan dengan siapapun. Nestapa hidup yang terjadi karena suaminya, tetap saja tidak membuat wanita itu mendendam. Dan benar, kita akan memetik sebuah kebahagiaan dari sebuah rasa sabar.


"Aku berharap, di kemudian hari kita bisa menjadi teman yang baik dan selamat untuk pernikahmu dengan Bagas semoga kebahagiaan selalu menyertaimu." Ucapan Keyla tadi masih terus berputar di ingatan Rachel. Dia harus berterimakasih pada Bagas, berkatnya dia menemukan orang-orang tulus ini dalam hidupnya.


Rachel yang sejak tadi diam, dan hanya melihat keluar jendela mobil kini beralih menatap calon suaminya.


"Terimaksih." Ucap Rachel.


"Untuk ?" Tanya Bagas, masih terus berkonsentrasi mengemudi.


"Untuk kehidupan ini, untuk kebahagiaan ini." Kata Rachel.


" Apa kamu bahagia ?" Tanya Bagas beralih menatap pada manik yang selalu terlihat sedih itu.


"Iya, aku jauh lebih bahagia sekarang." Ucap Rachel masih menatap Bagas yang kembali mengalihkan pandangannya pada jalanan.


Bagas meraih tangan Rachel lalu di genggamnya erat. Jika saja dia tidak sedang berkendara, dia pasti sudah merengkuh gadis sederhana ini kedalam dekapannya. Benar kata Papi Manaf tidak akan sulit untuk mencintainya, karena Rachel gadis yang sangat sederhana dan akan mudah untuk jatuh cinta padanya.


Rachel tersenyum malu saat Bagas mencium tangannya. Sungguh ini pertama kalinya Rachel merasakan bagian tubuhnya tersentuh ciuman orang lain. Meskipun itu hanya sebuah tangan namun desiran aneh menjalar di sekujur tubuhnya.


Bagas kembali melepaskan tangan Rachel, beralih mengacak rambut gadis yang sudah terlihat merona lalu kembali berkonsentrasi pada jalanan yang ada di hadapannya.


Rachel kembali mengalihkan pandangannya pada bangunan-bangunan yang berjejer di pinggiran jalanan Jakarta. Menghalau jantung yang entah mengapa tiba-tiba saja berdetak begitu cepat saat wajah Bagas melintas di pelupuk matanya.

__ADS_1


"Ayo turun, kita sudah sampai." Ajak Bagas setelah memarkirkan mobil putihnya di depan sebuah butik yang menyediakan keperluan pernikahan.


"kita sudah sampai ya." Kata Rachel sambil melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya. Menghindari tatapannya bertemu dengan Bagas dan membuat jantung itu semakin berdetak.


Setelah keluar dari mobil, Bagas kembali meraih tangan Rachel kemudian menautkan jemarinya di antara jari-jari kecil milik Rachel.


"Aku sangat suka menggenggam tangan, jadi biasakan dirimu." Ucap Bagas karena merasa Rachel ingin melepaskan tangannya dari genggaman Bagas.


"Aku suka kok." Jawab Rachel singkat dan Bagas hanaya tersenyum.


Mereka melangkah masuk kedalam butik untuk mengambil pesanan yang sudah di siapkan. Bagas hanya mengambil sebuah kartu dari dompetnya dan menyerahkan pada Rachel. Dia memilih duduk di ruang tunggu konsumen, sedangkan Rachel berjalan menuju meja pegawai yang sudah menyiapkan paket pernikahan itu.


Rachel kembali berjalan menuju tempat Bagas berada dengan sebuah paper bag besar yang berisi dua kotak sudah di tangannya. Gaun pernikahan juga tuxedo terlipat rapi di masing-masing kotak yang ada di dalam paper bag.


" Cincinnya ?" Tanya Bagas saat Rachel sudah berdiri di hadapannya.


Bagas berdiri dari duduknya, kemudian meraih paper bag yang ada di tangan Rachel. Gadis itu diam saja saat Bagas kembali menggenggam tangannya lalu melangkah keluar dari butik.


"Ingin jalan-jalan ?" Tanya Bagas setelah mereka sampai di dalam mobil.


" Kamu ngga sibuk ?" Tanya Rachel menatap pada laki-laki yang juga sedang menatapnya. Dan lagi-lagi membuat Bagas berdecak karena pertanyaannya selalu dijawab Rachel dengan pertanyaan.


"Mau kemana ?" Tanya Bagas lagi.


"Aku ingin mengunjungi ibu." Jawab Rachel yang kini sudah mengalihkan pandangannya. "Aku belum mengunjunginya sejak kembali dari Bali." Sambung Rachel.


"Maafkan aku, terlalu banyak pekerjaan yang haruas segera aku selesaikan sebelum pernikahan." Ucap Bagas merasa bersalah.


Bagas mulai melajukan mobilnya menuju makam calon ibu mertuanya. Calon ibu mertua yang dia rawat lebih dari sebulan lamanya.

__ADS_1


Di dalam mobil masih diam, Rachel memang tidak pintar jika memulai percakapan, untuk itu dia hanya akan diam saja jika Bagas tidak mengajaknya berbicara.


***


Seperti pemakaman umum biasanya, pemandangan disana hanyalah gundukan-gundukan tanah dengan rerumputan hijau yang di oangkas rapi di atasnya.


Rachel berjalan dengan Bagas yang selalu saja menggenggam erat jemarinya. Juga sebuah mawar putih dipeluknya mebggunakan tangannya yang lain.


Sampai di sebuah pemakaman yang belum terdapat rerumputan padat, Bagas ikut merendahakn tubuhnya. Berjongkok di samping Rachel yang sedang meletakkan mawar putih itu di atas makam ibunya. Keduanya mengirimkan di'a kebaikan untuk ibu Mala.


Meminta restu ? Bagas sudah melakukan itu di Rumah Sakit saat sebelum semua alat yang membantu ibu Mala di lepaskan dari tubuhnya. Meskipun wanita paruh baya itu tidak lagi bisa merespon, namun Bagas yakin ibu dari gadis yang akan dia nikahi itu bisa mendengar apa yang dia ucapkan saat itu.


Waktu berlalu begitu saja, seperti orang yang berkencan, namun Bagas dan Rachel melakukan itu di samping makam sang Ibu. Rachel berbagi cerita kehidupannya bersama sang ibu yang berjuang susah payah sendirian untuk menyekolahkannya karena Ayah sudah lebih dulu pergi menghadap Tuhan.


"Ada negara yang ingin kamu kunjungi ?" Tanya Bagas pada Rachel saat mereka mulai berjalan meninggalkan makam menuju mobil.


"Tidak ada." Jawab Rachel singkat. Dia tidak pernah memimpikan untuk bepergian keluar negeri, mendapat pekerjaan dan hidup dengan baik, hanya hal sederhana itu yang menjadi impinnya selama ini.


"Mau keluar kota ?" Tanya Bagas lagi. Dia sudah mengosongkan jadwalnya selama tiga hari setelah pernikahan. Mungkin saja waktu itu bisa dia gunakan untuk bisa lebih dekat dengan gadis ini.


"Puncak boleh ? kata Papi, dia punya Villa disana." Ucap Rachel.


"Baiklah setelah menikah nanti." Ucap Bagas dan Rachel mengangguk.


Mobil yang membawa mereka kembali membelah jalanan ibu kota menuju kediaman orang tua Bagas. Rachel sudah terlelap dengan nyaman di bangku penumpang. Setengah hari yang berarti, begitulah fikiran Bagas. Saat dia mulai merasakan perasaan lain pada gadis ini, semua waktu yang mereka lewati berdua sangat berarti padanya.


Bagas menepikan mobilnya di bahu jalan, melepaskan snelli yang masih menempel di tubuhnya lalu menutupi tubuh mungil Rachel dengan jas putih itu, agar bisa menghalau hembus angin dari luar jendela mobil yang Rachel biarkan terbuka..


"Aku mencintaimu." Bisik Bagas pelan lalu mengecup kening Rachel dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2