Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Harus Tegas


__ADS_3

** Selamat membaca semuanya 😊😘 **


" Gadis yang sedang menangis di depan Ruangan tadi adalah calon istriku Bram, gadis itu adalah putri dari sahabat papi dan pasien yang sedang aku tangani adalah ibunya." Kata Bagas menjelaskan.


Bram diam saja namun sedikit terkejut dengan kalimat yang terlontar dari dari sepupu istrinya ini.


"Kamu selalu saja seperti ini Bram, jangan terus memperlakukan Keyla seperti anak kecil begini." Sambung Bagas lagi sembari membersihkan luka lecet di ruas jari Bram karena memukuli laki-laki yang tidak dia kenal tadi.


"Apa sudah selesai ?"Tanya Bram tidak berniat untuk menaanggapi ocehan dokter tampan yang ada di hadapannya ini.


Bagas mengangguk setelah selesai melilitkan kain kasa pada tangan Bram.


Setelah mendapatkan anggukan dari Bagas, Bram ingin segera keluar dari ruangn itu tanpa berkata apapun. Dadanya bekecamuk memikirkan adiknya. Karena emosinya yang memuncak tadi, Bram melupakan adiknya yang ternyata sudah tidak lagi berada di belakangnya. Dia khawatir Keyla akan menangis sendirian seperti biasa jika ada yang melukainya.


Dengan cepat Bram beranjak dari kursinya ingin segera keluar dari ruangan Bagas namun kembali di tahan oleh laki-laki itu.


"Siapa laki-laki yang kamu pukuli tadi ? apa dia calon suaminya Keyla ?" Tanya Bagas lagi dan di jawab anggukan kepala oleh Bram. Setelah mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya, Bagas membiarkan Bram keluar dari ruangannya. Dia mengerti kekhawatiran yang selalu berlebihan jika itu menyangkut Keyla. Dia sudah sering mendapati hal ini, jadi bukan lagi hal yang asing baginya.


Dengan langkah cepat Bram berjalan menuju parkiran, dan hatinya seketika merasa lega melihat adiknya sedang berdiri bersandar di pintu mobil miliknya dalam keadaan baik-baik saja. Wajah datar tanpa ekspresi itu tercetak jelas disana, tidak ada kesedihan atau apapun disana sama seperti biasanya.


Bram menekan kunci alarm mobil membuat Keyla terkejut dengan umapatan yang ikut meluncur dari bibirnya. Bram terkekeh melihat tatapan tajam adik kesayangannya itu mengarah padanya.


"Aku bosnya disini, jangan menatapku tajam seperti itu kalau masih ingin bekerja di perusahaanku." Kata Bram masih dengan kekehan dari mulutnya berniat untuk mencairkan suasana namun hanya mendapat delikan mata dari Keyla.


"Cih itu perusahaanku juga jika kau lupa. Apa perlu aky memeinta Ayah untuk membagi dua perusahaan itu." Kata Keyla mengejek.

__ADS_1


"Ayo masuk." Ajak Bram semakin terkekeh mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Keyla.


Keyla mengangguk patuh dengan ajakan sang kaka. Bram sudah masuk kedalam mobil dan duduk di bangku kemudi. Keyla baru saja berbalik akan membuka pintu mobil namun tiba-tiba sebuah tangan menahannya. Keyla menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan. Menetralkan degupan jantung yang ingin sekali melampiaskan emosinya karena dia sudah sangat tahu tangan siapa gerangan yang sedang menahannya ini.


Laki-laki yang kembali merusak kepercayaannya yang sudah dengan susah payah di bentuk kembali, sejak tadi sudah berada di area parkir yang tidak jauh dari tempatnya berdiri bersama dengan seorang gadis yang dengan telaten membersihkan luka di wajah tampan Gerry dan membuatnya semakin jijik. Sudah sejak tadi pula laki-laki ini terus memandang kearahnya. Dia mengetahui Gerry sejak tadi sudah berada di tempat parkir bersama sekertarisnya namun dia tidak ingin perduli lagi.


Keyla berbalik menatap tajam pada dua orang yang tidak tahu malu di hadapannya ini.


"Lepaskan tangan kotormu dariku." Ucap Keyla sinis.


"Key beri aku kesempatan untuk menjelaskan, Bram salah faham padaku." Kata Gerry memohon dan tidak berniat melepaskan tangannya dari lengan Keyla.


"Jangan pernah menyentuhku." Tegas Keyla yang kemudian menghempaskan dengan kasar tangan Gerry dari lengannya.


"Nona Keyla, jangan seperti ini. Pak Gerry hanya melakukan tugasnya sebagai atasan pada bawahannya yang sedang tertimpa kemalangan, sama seperti yang sering Pak Bramantyo lakukan pada anda selama ini." Kata Rachel dengan suara yang meninggi dan itu semakin menguji batas kesabaran Keyla.


"Terserah aku tidak lagi peduli Nona Rachel, bukankah dengan tindakanku ini akan memberimu kesempatan untuk lebih mendekatkan dirimu padanya." Kata Keyla sinis dengan telunjuknya mengarah pada Gerry.


"Maksud anda apa Nona ? " Tanya Rachel. Bukan, bukan karena dia tidak tahu apa maksud dari calon istri atasannya ini, namun dia kaget dari mana Keyla tahu jika dia menginginkan hal ini. Dari mana Keyla tahu jika dia sangat menginginkan laki-laki di sampingnya ini.


"Wajah pura-pura polosmu terlalu jelas terlihat, jika kau sangat menginginkannya." Kata Keyla mencemooh pada dua orang bodoh di hadapannya ini. Si perempuan sangat pintar menyembunyikan perasaannya, dan laki-laki yang sialnya sangat dia cintai ini tidak kalah bodohnya karena tidak mengetahui hal itu dan selalu membuka pintu untuk Rachel dan membuat gadis itu semakin menaruh harapan.


" Masuk Key." Kata Bram tegas dari dalam mobil. sejak tadi dia mendengar apa yang sedang menjadi perdebatan di samping mobilnya. Dia sangat tahu bagaimana Keyla, ah sikap Keyla yang menurun dari sang Ayah tidak pernah membuatnya khawatir jika menghadapi hal-hal seperti ini.


"Key ku mohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan." Gerry kembali memohon, perjuangan yang melelahkan tidak ingin dia sia-siakan hanya karena kesalah pahaman sialan ini. Mereka sudah melangkah sangat jauh, sedikit lagi langkah mereka akan sampai pada tujuan yang selama ini menjadi impian terbesar di hidupnya.

__ADS_1


Keyla yang hendak masuk kedalam mobil kembali berbalik menatap tajam pada Gerry.


"Di dalam dunia ini tidak pernah ada kesempatan ketiga Gerry, dan jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku selama perempuan ini masih bekerja di perusahaanmu." Kata Keyla tegas dengan menatap sinis pada Rachel yang sudah pias di tempatnya. "Dan harus kamu tahu Nona Rachel, Bram melakukan semua itu karena aku adiknya, jadi buang jauh-jauh fikiran busuk yang ada di otakmu itu." Keyla tidk perduli lagi dan langsung masuk kedalam mobil yang kemudian Bram pergi mengendarai mobil tersebut berlalu dari sana.


Gerry hanya menatap miris pada mobil yang sudah pergi semakin menjauh dari hadapannya. Tidak lagi nerkata apapun Gerry kembali melangkah menujun mobilnya berada. Dia tidak perduli lagi pada Rachel yang masih berdiri mematung di tempatnya, Gerry memacu mobilnya ikut keluar dari area parkir rumah sakit.


********


Mobil yang di kendarai Bram terus melaju sedang membelah jalanan ibu kota. Tidak ada lagi percakapan, hanya deru mesin yang terdengar di sela hati dan fikiran Keyla yang begitu berkecamuk.


Dia marah, sangat marah pada Gerry sampai rasanya dia ingin sekali mengamuk pada laki-laki itu karena sikap pedulinya pada sekertaris sialannya itu.


Sekertaris yang dia dapati beberapa kali menatap penuh damba pada Gerry kemarin, oh jangan lupa dengan aksi pura-pura tidurnya semalam dan lagi-lagi membuatnya semakin yakin jika gadis itu sangat menginginkan calon suaminya. Dan hari ini dia mendapati Gerry sedang memeluk Rachel membuatnya kembali ragu untuk tetap melanjutkan langkahnya bersama Gerry.


Bukan karena dia tidak percaya lagi pada Gerry, namun kali ini dia harus tegas jika tidak ingin ada drama-drama cemburu akan menemani hari-harinya di kemudian hari karena memikirkan ada gadis lain yang menaruh hati pada suaminya.


" Apa kamu yakin akan ke kantor hari ini ?" Suara bariton dari kakanya menyadarkan Keyla dari lamunannya.


Keyla menatap Bram sejenak kemudian menganggukkan kepalanya yakin. Kini tatapannya beralih pada tangan Bram di kemudi mobil yang terbungkus kain berwarana putih.


"Apa tanganmu baik-baik saja Bram ?" Tanya Keyla. Melihat wajah mengenaskan Gerry tadi, dia sudah memastikan jika kepalan tangan sang kaka juga ikut sakit.


" Aku baik-baik saja, maafkan aku tidak bisa menahan diriku dan melukainya tanpa bertanya terlebih dahulu." Kata Bram menyesali perbuatannya. Harusnya dia mendengarkan dulu penjelasan Gerry sebelum memukuli laki-laki itu.


"Lain kali jangan melakukannya lagi, jangan hanya karena ingin menyakiti orang lain, kamu juga ikut tersakiti." Kata Keyla yang sudah tahu bagaimana sifat dari Bram ini sejak dulu jika itu menyangkut dirinya.

__ADS_1


Bram mengangguk mengerti apa yang baru saja terucap dari adiknya.


__ADS_2