Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Akhir Bahagia Part 2


__ADS_3

Bram langsung menerobos masuk kedalam ruangan dimana Keyla berada. Sepasang suami istri yang sedang berpelukan di atas ranjang segera melepaskan pelukan mereka.


Keyla tersenyum senang melihat siapa yang datang, salah satu laki-laki terbaik yang Tuhan kirimkan untuk hidupnya. Gerry mendengus kesal ketika melihat saingannya kini sudah berdiri di samping ranjang Keyla, dan lebih parahnya lagi Keyla segera berhambur memeluk Bram erat tanpa memperdulikannya.


"Terimakasih sudah bertahan Key." Ucap Bram sambil mengeratkan pelukannya pada Keyla. Adik perempuannya yang tidak pernah luput dari ujian dan derita mengangguk. "Jangan membuat semua orang khawatir lagi." Sambungnya. Perlahan Bram melepaskan dekapannya lalu duduk di atas ranjang yang sama dengan Keyla.


Gerry sudah beranjak dari ranjang dan berjalan menuju sofa yang ada di dalam ruangan. Memberikan waktu untuk kaka adik itu untuk berbicara. Dia tahu Bram sama seperti dirinya, laki-laki itu begitu frustasi ketika mengetahui ada penyakit mematikan yang bersarang di tubuh adiknya namun dia berusaha menguatkan dirinya sendiri karena istri dan putrinya membutuhkan dirinya.


"Mau kemana ?" Tanya Keyla saat melihat Gerry sudah turun dari ranjang.


"Aku mau makan sebentar, selama kamu koma aku sama sekali tidak merasa lapar namun hari ini aku mulai merasakannya." Ucap Gerry sambil tersenyum.


"Pergilah, tapi cepat kembali." Ujar Keyla dan Gerry mengangguk patuh.


"Bram titip istriku." Ucap Gerry kini sudah melihat ke arah Bram.


Bram hanya diam saja tanpa ingin menoleh pada Gerry, dia hanya terus menatap wajah pucat Keyla tanpa memperdulikan adik iparnya yang sudah terlihat kesal.


"Dasar es batu, jangan terus memandanginya, dia itu istriku." Ujar Gerry kesal karena di abaikan oleh kaka iparnya ini.


Bram menatap tajam ke arah Gerry, lalu kembali lagi menatap pada wajah Keyla.


"Cih dasar." Umpat Gerry kemudian berlalu dari sana sambil menggerutu kesal. Jika saja laki-laki itu bukan kaka dari istrinya, dia tidak akan pernah mengizinkan mereka dekat seperti itu.


Saat membuka pintu ruangan Gerry kembali berpapasan dengan Bagas yang hendak masuk kedalam ruangan Keyla. Lagi-lagi tidak ada sapaan dari laki-laki dan langaung menerobos masuk kedalam ruangan istrinya.


Gerry berhenti sejenak, melihat ke dalam runagan dimana istrinya berada. Dan benar saja laki-laki itu menuju ranjang dimana Bram dan iatrinya berada. Gerry kembali melanjutkan langkahnya menuju kafetaria Rumah Sakit sambil menggerutu kesal. Dua laki- laki yang menyayangi istrinya itu membuat moodnya hari ini berantakan.


***

__ADS_1


Di dalam ruangan, Keyla membalas pelukan Bagas. Laki-laki yang selalu memastikan kebahagiaannya kini sedang memeluk tubuhnya dengan begitu erat.


"Jangan sakit lagi Key, suami bodohmu itu ikut sakit bersamamu hampir dua bulan ini. Kamu tidak lihat dia jadi jelek begitu." Ucap Bagas sambil terkekeh lalu melepaskan pelukannya. "Tadi di depan pintu dia menatapku seperti orang yang ingin mengajak berperang." Sambung Bagas masih dengan tawa lucunya ketika mengingat ekspresi tidak suka dari wajah Gerry tadi.


"Bukan hanya padamu, tapi dia juga cemburu dan kesal saat aku memeluk Keyla." Jawab Bram lalu mereka kembali tertawa bersama.


Keyla menatap dua laki-laki di hadapannya ini, sepertinya dia tetap harus bersyukur, meskipun kehidupan tragis semasa SMA hingga kini dia alami, namun ada orang-orang baik ini yang Tuhan kirimkan untuk menjadi penguatnya.


"Terimakasih." Ucap Keyla tulus.


"Bukan kamu, tapi kami yang harus berterimakasih karena sudah bertahan dan kembali pada kami." Ucap Bram sambil mengusap lembut puncak kepala adiknya.


Keyla mengangguk, namun terus saja mengucapkan rasa syukurnya di dalam hati karena memiliki orang-orang ini dalam hidupnya.


"Rosa belum datang ?" Tanya Keyla.


"Rosa masih di perjalanan dari tokonya, Ayah dan Bunda juga Flora sedang menuju kemari." Jawab Bram. "Istirahatlah, kami hanya akan duduk di sofa." Sambung Bram sambil kembali mengusap puncak kepala adiknya dan Keyla mengangguk patuh.


Mama Nia masuk kedalam ruangan, dan langsung menuju ranjang tempat menantunya berada. Dengan tersenyum hangat, mama Nia menyerahkan Bayi mungil itu ke dalam dekapan Keyla dengan hati-hati.


Jantung Keyla berdetak, perasaannya begitu membuncah. Bayi mungil mirip Gerry kini sudah berada dalam dekapannya. Tidak lagi bisa berkata-kata, dia hanya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Hadiah terindah dari Tuhan di tengah kehidupan tragisnya kini di rengkuhnyabdengan erat.


"Hai Gama, maaf Bunda baru bisa menyapamu sekarang." Ucapnya tulus. Gerry menghapus tetesan bening yang membasahi pipi istrinya.


"Gama akan mengerti, dia tahu kamu berjuang untuk kami." Ucap Gerry lalu mengecup kepala Keyla dengan sayang.


Pintu ruangan kembali terbuka, Kevin dan Flora yang lebih dulu menghambur masuk dan langsung menuju ranjang tempat Keyla berada.


Gerry segera turun dari ranjang lalu mengangkat dua keponakannya naik ke atas ranjang tempat istri dan putranya berada lalu berjalan menuju sofa di mana semua keluarga berada.

__ADS_1


"Yey adik Bayi balu." Ucap Flora gemas.


"Bukan balu Flo, tapi baru." Ucap Keving menginterupsi. Keyla tertawa lucu dengan tingkah kedua bocah yang kini ikut duduk di atas ranjang.


"Bialkan saja Tevin." Ucap flora masih dengan binar matanya yang tetap menatap wajah adik barunya. Jemari mungilnya kini sudah menoel-noel pipi Gama membuat bayi kecil itu menggeliat, lalu mulai membuka mata kecilnya.


"Mam dia sudah bangun." Ucap Keyla risau pada mama mertuanya.


"Tidak apa-apa nak, dia tidak rewel kok. Lihatlah matanya begitu mirip denganmu." Ujar Mama Nia dari sofa ruangan.


"Iya mam, tapi kok aku merasa ngga adil banget ya." Ucap Keyla.


"Loh kenapa ?" Kali ini Bunda Ratih dan Rosa yang bertanya dengan nada khawatir mereka.


"Aku yang hamil, aku yang melahirkan kok hanya mqta yang mirip denganku ?" Ujar Keyla dan membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tertawa.


"Itu masih jauh lebih baik Key, dia masih mengikuti mata indah kamu. Coba lihat Kevin dan Flora, ngga ada yang mirip dengan ibu mereka." Ujar Bagas dan membuat semua orang yang ada di dalam ruangan kembali tertawa.


"Kata orang-orang tua jaman dulu, jika anak yang lahir mirip ayah itu berarti ayahlah yang tergila-gila dengan ibunya." Ucap papa Sanjaya menyindir putranya. "Kamu tidak lihat wajah jeleknya sekarang, benar-benar mirip orang gila yang di tinggalkan istri tercintanya." Sambung papa Sanjaya membuat Keyla tertawa lucu.


Gerry mendengus kesal mendengar ucapan sang Ayah, namun semuanya benar. Saking tergila-gilanya dengan Keyla, tidak hanya mengabaikan kesehatannya namun juga ikur mengabaikan perusahaan dan putranya.


Ruangan di penuhi tawa bahagia dari empat keluarga besar itu, kali ini mereka kembali berkumpul di dalam ruangan dengan penuh tawa bahagia.


Semua sudah terlewati, rasa takut di tinggalkan Keyla, kini sudah pergi entah kemana. Semua kesedihan menguap begitu saja terganti dengan rasa bahagia.


Benar, semua akan terlewati hanya perlu bertahan dan terus melaluinya.


Tamat

__ADS_1


****


** Untuk semua yang bersedia membaca cerita receh aku terimakasih banyak yaa πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ Meskipun sedikit mengecewakan karena viewnya yang menurun namun aku tetap semangat nulisnya. Dan setelah ini akan ada Bab Bonus menceritakan kisah Gama semasa remaja, jangan di unfavorite yaa.**


__ADS_2