
***Btw hari ini aku senang banget, pihak palikasi membuat cover baru biar lebih menarik dan semua itu berkat kalian semua. terimaksih banyak sudah mau membaca cerita receh aku ini. Tetap sehat ya kalian semua dan selamat membaca semuanya 😘***
Â
" Iya, oke baiklah sayang aku dengar, aku dengar. Berhenti bicara aku hanya sedang hamil bukan sakit-sakitan." Rengek Keyla. Kini dia sudah berpindah duduk di atas pangkuan suaminya yang sudah rapi dengan stelan jas yang menempel sempurnah di tubuh atletis Gerry. Sungguh Keyla tidak tahan lagi dengan ocehan suaminya ini sejak mereka bangun tidur, hingga selesai sarapan mereka pagi ini. " Cium aku sekarang, dan berangkat kerja sana. Aku butuh banyak uang buat belanja nanti." Perintah Keyla dan segera membawa tubuhnya untuk turun dari pangkuan suaminya itu.
Sudah dua hari ini Gerry tidak ke kantor dengan alasan yang sama, menjaganya agar baik-baik saja dirumah. Dan hari ini Keyla memaksa laki-laki mengesalkan namun sangat dia cintai itu agar berangkat ke kantor. Namun tentu saja tidak semudah yang di bayangkan untuk membujuk laki-laki posesif ini. Beberapa rayuan maut yang harus Keyla lakukan hingga aktivitas panas yang singkat di dalam kamar mandi pun dia lancarkan agar Gerry meninggalkan dia sendirian di rumah.
"Rasanya aku tidak ingin meninggalkan kamu sendirian di rumah Key." Bujuk Gerry lagi agar istrinya ini ikut dengannya ke kantor, dan dia bisa terus memastikan dengan matanya sendiri jika Keyla akan baik-baik saja.
"Aku ingin rebahan di tempat tidur yang nyaman, di kantor kamu hanya ada sofa Gerry." Kecup Keyla pada bibir suaminya agar segera berhenti merengek.
"Baiklah, aku akan menyuruh orang untuk merenovasi ruanganku agar di buatkan kamar untukmu disana." Ucap Gerry mengalah lalu mengecup seluruh bagian wajah Keyla. Srtelah drama di dapur selesai, kini mereka berdua berjalan menuju halaman depan.
"Hati-hati Gerry." Kecup Keyla lagi pada pipi Gerry saat laki-laki itu sudah duduk di dalam mobil.
"Tentu." Usap Gerry pada pipi Keyla dengan sayang.
"Jangan lupa segera hubungi aku jika ada yang kamu butuhkan." Sambungnya lagi dan keyla mengangguk mengiyakan.
Lambaian tangan Keyla mengiringi kepergian Gerry, hingga mobil yang membawa laki-laki itu keluar dari pintu gerbang rumah mereka menuju perusahaan.
Dengan langkah cepat, Keyla segera masuk kembali ke dalam rumah dan langsung menuju kamar untuk mengambil tas dan ponselnya lalu kembali keluar menuju halaman rumah.
Sudah dua hari ini dia tidak berkunjung ke klinik Dokter Robby karena suami posesifnya tidak membiarkannya sendirian.
"Kak Robby dimana ?" Tanya Keyla saat panggilan telephonenya di jawab.
"Dalam perjalanan menuju klinik Key, kenapa ?" Tanya Dokter Robby.
__ADS_1
"Boleh ngga aku konsultasi pagi ini, dan meminta tolong agar kak Roby langsung yang menjemputku di rumah." Ucap Keyla memohon.
"Baiklah tunggu disana, aku akan segera sampai." Jawab Dokter Robby lalu segera mengakhiri percakapan mereka.
Keyla masih berdiri di depan pintu gerbang untuk menunggu kedatangan Dokter Robby. Tidak menunggu waktu lama mobil yang di kendarai dokter pribadinya itu berhenti lalu Keyla cepat masuk kedalam mobil.
"Hati-hati Neng." Teriak petugas keamanan dari pos penjaga.
"Iya pak, ga usah kasih tau Gerry ya, aku ngga akan lama kok." Jawab Keyla.
"Iya Neng." Ucap satpam itu lagi, dan Robby segera berlalu dari sana.
Mobil yang membawa mereka mulai keluar dari komplek perumahan milik Gerry menuju jalanan padat kota Jakarta.
"Kenapa baru bisa berkunjung hari ini Key ?" Tanya Doketr Roby sambil tetap konsentrasi pada jalanan yang semakin padat.
Dokter Robby tertawa mendengar kata-kata Keyla.
"Apa tidak sebaiknya Gerry mengetahui soal ini Key ?" Tanya Dokter Robby, namun Keyla segera menggeleng tegas.
"Siapa tau dia punya kenalan di Inggris dan bisa membantumu Key. Dia jebolan Oxford University, dan ada banyak dokter-dokter handal disana." Bujuk Robby lagi. "Sejujurnya aku sangat takut, karena cepat atau lambat Gerry pasti akan mengetahui soal ini Key" Sambung Robby lagi.
"Aku tahu itu kak, aku akan memberitahu saat janin yang sedang berjuang untuk tumbuh ini sudah bisa di pastikan lahir dengan selamat ke dunia." Jawab Keyla. "Jika Gerry mengetahui hal ini sekarang, aku yakin dia akan lebih memilih menggugurkan janin dan mengangkat rahimku, dan aku tidak ingin itu. Aku ingin membawa dua janin ini selamat ke dunia meski nyawaku taruhannya. Ucap Keyla yakin.
"Baiklah, tapi kamu harus janji jangan sakit sendirian. Katakan padaku jika sakitnya mulai terasa." Kata Robby.
"Terimakasih kak, aku neruntung bisa di pertemukan oleh Tuhan dengan orang-orang seperti kak Robby dan Kak Anggun." Kata Keyla tulus. Robby tersenyum lalu mengusap kepala Keyla.
Ternyata takdir sedekat ini, dulu dia berusaha menyelamatkan wanita yang kini sedang duduk disampingnya, dan sekarang Tuhan kembali mempercayakan padanya untuk hal yang sama. Namun kali ini bukan hanya satu nyawa yang harus dia perjuangkan, tapuli tiga nyawa sekaligus.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang membawa Dokter Robby dan Keyla kini sidah terparkir di halaman klinik. Keyla sedikit terkejut ketika melihat Anggun sudah duduk di teras klinik.
"Hai Key.. Semakin rajin konsultasi kamu. Ga usah jadi beban Key, yang penting kamu sehat itu aja udah cukup buat kami." Ucap Anggun tulus. Keyla hanya tersenyum pada kaka iparnya ini.
"Sudah lama menunggu ?" Tanya Robby pada istrinya.
"Lumayan, kenapa meminta aku datang. Hal penting apa yang ingin kamu sampaikan padaku?" Tanya Anggun.
"Kita masuk dulu." Ajak Robby. Disana sudah ada dua orang asisten yang selalu membantunya di klinik.
Keyla melangkah masuk mengikuti sepasang suami istri yang terus berjalan menuju ruangan Dokter Robby.
***
"Keyla hamil." Ucap Robby pada istrinya saat mereka sudah duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya.
"Benarkah Key ? selamat ya, aku ikut senang. Mama dan Papa pasti akan sangat senang mendengar kabar ini." Ucap Anggun yang kini sedang menatap adik iparnya.
"Tapi bersamaan dengan itu, aku melihat benjolan yang ikut tumbuh di dalam rahimnya, yang kemungkinan itu adalah kanker serviks. Tapi ini masih dianosa awal aku, sebaiknya kita harus memriksakan langsung pada dokter ahlinya." Jelas Robby dan membuat Anggun menengang. "Sayang kamu punya teman dokter bedah Onokologi kan ? kamu bisa meminta tolong padanya untuk memeriksa Keyla di kliniknya agar bisa memastikan diagnosa aku ini." Sambung Robby lagi.
"Apa Gerry tahu soal ini ?" Tanya Anggun.
"Iya Ka, Gerry sudah tahu aku hamil." Jawab Keyla.
"Bukan hamil Key, tapi penyakit ini apa Gerry mengetahuinya ?" Tanya Anggun lagi dan Keyla menggeleng sambil menundukan wajahnya.
"Kita harus memberitahukan padanya Robby, jangan menyembunyikan apapun lagi dari Gerry. Dia akan menderita jika terlambat mengetahui hal ini." Tegas Anggun pada suaminya. Air matanya mulai luruh membasahi stelan dokter berwarana hijau yang masih melekat di tubuhnya. Operasi darurat semalam membuatnya tidak bisa pulang kerumah dan memilih untuk tidur di rumah sakit, dan pagi ini dia kembali mendapat berita yang semakin membuat tubuhnya semakin terasa lelah.
"Ku mohon Key, jangan menyembunyikan apapun lagi dari keluarga dan memilih untuk menderita sendirian." Ucap Anggun lagi sela-sela isak tangisnya. Robby sudah mendekati istrinya, membawa tubuh yang selalu berjuang menyelamatkan nyawa orang lain itu kedalam pelukannya.
__ADS_1