
Keyla akan kembali kerumah besok, bukan ke apartemen tapi kerumah Bram. Mulai besok Keyla akan tinggal disana, menjadi bagian dari keluarga besar Handoko. Setelah Keyla benar - benar pulih, Handoko sudah berencana akan mengadakan acara penyambutan untuk Keyla juga akan memeprkenalkan Keyla pada semua kolega bisnis dari HG Group. Keyla mengiyakan saja apa yang Ayah dan Bundanya mau, melihat binar dari mata milik orang yang sudah mencintainya sejak berapa tahun lalu ini, Keyla tidak sampai hati untuk menolak permintaan mereka.
Hari sudah menjelang malam, Ayah dan Bundanya juga sudah berpamitan pulang. Kini Bram yang kembali menemani Keyla di Rumah sakit. Rosa tidak bisa menemani sang suami karena putri mereka Flora sedang kurang sehat.
"Aku senang semua sudah baik- baik saja Key, aku fikir kamu akan membenci kami setelah mengetahui kebenarannya." Kata Bram yeng terus menatap lekat pada adik perempuannya.
Keyla tersenyum mendengar kekhawatiran yang baru saja di ungkapkan Bram padanya.
"Semua sudah berlalu Bram, aku ingin memulai semua dengan baik dari awal lagi." Kata Keyla. " Bram bisa pinjam ponselmu ? aku ingin menghubungi Gerry, dia tidak pamit padaku tadi dan sampai sekarang dia belum kembali." Sambung Keyla lirih.
" Maaf Key tapi aku ngga punya nomor ponselnya." Jawab Bram jujur. Dia tidak punya nomor laki - laki itu. Bram juga belum memastikan dari sang Ayah apa yang sudah terjadi diruangan ini seusai kepergiannya tadi.
Keyla hendak turun dari ranjang membuat Bram seketika bangkit dari duduknya karena merasa khawatir pada gadis di hadapannya ini. Melihat tingkah Bram yang terlalu posesiv padanya membuat Keyla terkekh geli.
" Mau kemana ? " Tanya Bram ketika melihat Keyla kini sudah turun dari ranjang dan berdiri di hadapannya.
" Mau mencari dokter Anggun, dia pasti punya nomornya Gerry. Aku ingin meminta bantuannya untuk menghubungi Gerry." Kata Keyla dengan langkah perlahan mulai berjalan kelarah pintu dan keluar dari ruangannya. Sedangkan Bram terus mengikutinya dari belakang.
Baru saja keluar dari ruangannya, dia sudah berpapasan dengan Anggun yang juga ingin menemuinya untuk berpamitan pulang kerumahnya. Keyla dan Bram kembali masuk kedalam ruangan di ikuti Anggun kemudian duduk di sofa yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Aku tadi ingin menemui ka Anggun juga." Kata Keyla sambil tersenyum. Sungguh dia mulai merasa jauh lebih baik sekarang. Punya keluarga utuh yang sangat mencintainya membuatnya selalu bersyukur hari ini.
"Ketemu aku ? buat apa ?." Tanya Anggun.
" Aku ingin meminta tolong menghubungi Gerry, sampai sekarang dia belum juga kembali ka. Aku ngga punya ponsel, semua barangku masih ada di kantor polisi untuk penyelidikan dan Bram ngga punya nomor Gerry" Kata Keyla.
__ADS_1
Anggun mengambil ponselnya yang ada di dalam tas lalu menghubungi adiknya. Dia benar - benar bingung sekarang, Gerry menemuinya dengan keadaan tidak baik-baik saja tadi dan kelihatanya Keyla tidak tahu apapun soal itu.
Deringan pertama sudah terdengar suara adiknya di sebrang sana.
"Ada apa Ka ?" Tanya Gerry terdengar lewat ponsel Anggun yang di loudspeaker.
"Kamu masih di mobil ? kamu sama mama baru pulang ?." Tanya Anggun yang dia ketahui tadi siang adik dan mamanya pergi mengunjungi sang papa.
"Ngga, mama sudah di rumah. Aku dan Reyhan sedang berada di jalan menuju tempat acara ulang tahun Alisa." Jawab Gerry yang masih di dengar dengan jelas oleh Keyla.
Deg,, hati Keyla terasa perih mendengar apa yang baru saja Gerry ucapkan. Dia masih berada di rumah sakit, dan laki-laki itu pergi bersama temannya untuk merayakan ulang tahun Alisa.
"Kamu tidak datang kerumah sakit menemui Keyla terlebih dahulu ?" Tanya Anggun sedikit kesal dengan adiknya.
"Buat apa ? Sudah dulu ya ka, aku dan Rey sudah sampai di hotel." Kata Gerry kemudian pembicaraan itu segera terputus.
Satu tetes air mata kini sudah meluncur di pipi pucatnya. Dengan perlahan Keyla bangkit dari sofa menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya disana.
Menarik selimut hingga ke atas dadanya dan meremasnya kuat. Suara santai Gerry tadi semakin membuat hatinya perih. Apa yang sudah terjadi dengan laki- laki itu. Tadi pagi mereka masih baik-baik saja.
Tangisan tanpa suara sungguh itu sangat menyakitkan. Tangisan yang hanya air mata mengalir namun tidak ada suara histeris rasanya lebih menyesakkan dada.
Keyla tidak lagi perduli pada Bram dan Anggun yang masih diam seribu bahasa menatap kearahnya dari sofa tempat dia duduk tadi. Entah sudah berapa lama dia menangis dalam diam hingga akhirnya terlelap karena kelelahan.
Bram masih setia dengan laptop di pangkuannya juga beberapa berkas yang berserakan di meja sofa hingga seorang laki-laki yang sekitar dua jam lalu membuat adiknya sedih kini berada di depan pintu di hadapannya.
__ADS_1
Bram tidak heran lagi, mungkin saja Anggun sudah menghubungi Gerry dan memakinya karena sikap adiknya tadi. Lagi pula sekarang Bram tidak terlalu khawatir, Keyla sudah terlelap sejak beberapa menit yang lalu.
"Aku tidak pernah bertemu dengan laki-laki seberani dirimu Gerry. Ah sepertinya bukan berani namun tidak tahu diri." Kata Bram sarkas ketika melihat Gerry dengan tenang sedang berjalan kearahnya.
Gerry melewati Bram yang sedang duduk di sofa mentap tajam padanya, menuju ranjang tempat Keyla kini terlelap. Dia sudah terbiasa dengan tatapan tajam Bram, bahkan beberapa kali pukulan sudah mendarat di wajahnya. Sampai di samping Keyla yang sudah terlelap dengan mata sembab, Gerry menyentuh kepala gadis itu perlahan dan Bram membiarkan saja. Dia kembali melanjutkan pekerjaan dan memberikan Gerry waktu untuk melihat adiknya.
" Sungguh sangat dramatis sekali, saling mencintai namun sama-sama saling memberi luka." Ucap Bram dalam hati melihat tingkah laki-laki dan perempuan yang berada di dalam ruangan yang sama dengannya ini.
Entah sudah berapa jam lamanya Gerry masih duduk disamping ranjang, Bram sudah membereskan pekerjaanya dan mendekati Gerry.
"Silahkan pandang saja wajahnya, tapi jangan berani menciumnya . Aku pastikan akan menambah luka di sudut bibirmu itu jika berani menyentuhnya." Ancam Bram kemudian kembali lagi ke sofa tempat dia akan beristirahat malam ini.
Gerry sama sekali tidak perduli dengan ancaman Bram. Melihat Bram yang sudah ikut terlelap di sofa, Gerry beranjak dari tempat duduknya. Sebelum keluar dari ruangan ini dia mencium Seluruh bagian wajah Keyla, mnegecup berulang kali puncak kepala Keyla dengan sayang lalu keluar dari ruangan.
Gerry sudah duduk di sebuah kursi tunggu yang tidak terlalu jauh dari ruangan Keyla. Dia masih ingin disini, menemani Keyla namun dia takut jika Keyla akan mengamuk padanya dan membuat kesehatan gadis itu kembali memburuk.
Di dalam ruangan, Keyla baru saja terbangun dari tidurnya. Dengan perlahan Keyla turun dari ranjang, dia ingin keluar dari ruangan yang terasa sesak ketika kembali teringta kata-kata Gerry tadi. Dia ingin menghirup udara segar, dengan hati-hati dia melangkah melewati Bram yang kini sedang terlelap di sofa di dalan ruangannya.
Ceklek. Pintu ruangan terbuka, Keyla kembali melihat jika laki-laki posesiv yang terlelap di sofa tidak terganggu tidurnya karena suara pintu yang terbuka. Melihat wajah lelah Bram terlihat damai, Keyla keluar dari ruangan hanya dengan baju pasien.
Dari kejauhan laki-laki yang membuatnya kecewa hari ini terkejut melihat Keyla keluar dari ruangan yang belum satu jam lalu dia kunjungi sedang berjalan kearah belakang rumah sakit.
Gadis yang beberapa jam lalu merusak konsentrasinya bahkan pesta meriah tadi tidak bisa membuatnya melupakan gadis yang kini sedang berjalan dengan sekitar lima meter darinya. Apapun yang dia lakukan bersama Reyhan tadi, tidak mampu membuatnya melupakan Keyla. Sehingga dia memilih untuk datang lagi kesini menemui Keylanya.
Gerry terus mengikuti Keyla dari belakang hingga sekarang Keyla sudah duduk di taman Rumah Sakit. Beberapa tetes air mata kini kembali jatuh dari matanya yang sedikit membengkak. Gerry ikut perih melihat Keyla yang kini sudah sesegukan di bangku taman rumah sakit. Gerry Kembali mengingat makian dari sang kaka tadi karena sudah membuat Keyla menangis malam ini.
__ADS_1
Maafkan aku Key.. Lirih Gerry