Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Flora ^ Kevin


__ADS_3

** Karena banyak yang kasih like, hari ini aku kasih bonus satu episode lagi. Selamat membaca semuanya πŸ€—β€ **


Semua orang sedang sibuk menikmati sarapan mereka, seperti biasa Keyla tetap fokus dengan makanan yang ada di hadapannya meskipun godaan dari beberapa orang yang ada di sana membuatnya ingin segera menenggelamkan wajahnya ke dasar bumi. Keyla duduk di samping mama mertuanya yang terus memberikan usapan lembut di pundaknya.


"Udahlah yang, ga usah godain Keyla terus nanti Gerry ga akan dapat jatahnya entar malam." Celoteh Alisa dan semua orang yang ada di sana terbahak membuat Keyla terus saja merutuki suaminya itu di dalam hatinya.


"Cih semalam aku sudah janji untuk tidak akan tergoda dengannya, namun tetap saja aku tidak tahan." Keyla merutuki dirinya sendiri yang terlalu cepat luluh dengan laki-laki yang terus saja mengumbar senyum tidak tahu malunya di meja makan.


Semua orang sudah selesai dengan sarapan mereka namun masih betah menghabiskan waktu bersama di meja makan ini. Entah kapan lagi bisa merasakan kehangatan berkumpul bercerita bersama keluarga di tengah-tengah jadwal padat mereka.


"Jangan terus menunduk Key, ga usah malu semua orang melewati ini kok." Hibur Mama Nia yang mengerti dengan rasa tidak nyaman menantunya karena godaan orang-orang yang ada di meja makan.


" Semoga cepat jadi ya Nak, Bunda ngga sabar pingin cucu baru." Kekeh Bunda Ratih di sebrang sana. "flo mau adik baru ga ? " Tanya Eyangnya pada Flora.


" Adik balu ?" Tanya Flora tidak mengerti dengan wajah menggemaskan.


"Adik baru Flo, bukan balu." Interupsi dari Kevin sontak saja membuat semua orang di sana tertawa tidak terkecuali Keyla.


"Mau Yang Uti," Jawab Flora dengan gemasnya.


"Do'ain Aunti biar cepat jadi adik barunya." Senyum Bunda Ratih.


"Bunda." Tegur Bram dan Keyla bersamaan.

__ADS_1


"Cerita sama anak kecil di filter dong Bund," kata Keyla memelas masih dengan wajah datarnya namun rona merah menahan malu di wajahnya terlihat sangat jelas dan hanya di tanggapi kekehen oleh sang Bunda.


"Benar kata Bunda, Mama juga ga sabar menantikan cucu baru. Kevin juga pasti mau adik baru kan ?" Tanya mama Nia pada cucu laki -lakinya yang sedang duduk di pangkuan ayahnya.


"Ngga usah Oma, berbagi Aunti dengan Om Gerry saja Kevin ga suka apalagi dengan adik baru." Ketus anak laki-laki yang kini sedang menatap penuh permohonan pada Keyla. Robby yang sedang memangku putranya tersenyum, dia mengerti pembahasan tentang keturunan ini akan membuat Keyla merasa tidak nyaman, dan dia bersyukur ocehan putranya kembali membuat Keyla terkekeh seakan melupakan apa yang sedang mereka bahas.


Keyla yang tadinya sempat merasa tidak enak dengan kata-kata Bunda dan mama mertuanya kembali merasa lebih baik karena tingkah bocah laki-laki yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Gerry yang dari tadi hanya cengengesan dengan godaan keluarga dan sahabatnya segera meraih tangan istrinya untuk dia genggam erat seakan mengalirkan kekuatan disana. Keyla tifak akan menghadapi ini sendirian, mereka akan berjuang dan melewatinya bersama. Sama seperti Roby, Gerry juga merasakan rasa tidak nyaman yang kini istrinya rasakan, karena selain Anggu dan Roby, dia yang paling tahu apa yang sedang di derita istrinya.


Keturunan ? tentu saja dia sangat menginginkan makhluk kecil itu untuk melengkapi kehidupannya. Namun dia tidak akan memaksakan apapun, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak serakah. Memiliki Keyla dalam hidupnya sudah lebih dari cukup, namun jika Tuhan masih memberikan kepercayaan untuk yang ke dua kalinya, tentu saja dia akan sangat mensyukurinya.


"Sedikasihnya. aku ga mau terburu-buru, masih ingin menikmati Keyla sendirian. Belum ingin berbagi dengan siapapun termasuk Kevin." Ejek Gerry pada keponakannya sambil menjulurkan lidahnya.


Melihat putranya yang sudah mau menangis, Anggun segera menatap tajam pada adiknya yang entah mengapa tiba-tiba jadi seperti anak kecil.


"Emang boleh Aunti ?" Tanya Kevin sudah tidak lagi ingin melanjutkan acara tangisannya yang hampir pecah tadi.


Keyla mengangguk membuat Gerry semakin menatap tidak suka pada istrinya. Keyla hanya terkekeh dalam hatinya berhasil membalas rasa kesalnya pada suami tidak tahu malu di sampingnya ini.


"Ngga boleh sayang, Ibu dan Ayah harus kerja. Banyak orang sakit di Indonesia jadi kita harus segera kembali, mereka membutuhkan Ibu dan Ayah." Jelas Anggun pada putranya, dan seperti biasanya kevin mengangguk paham dengan profesi orang tuanya.


"Aku mau jadi sepelti tante dan om, bial bisa sembuhin olang sakit." Celoteh Flora disana dan lagi-lagi mendapatkan protes dari Kevin membuat orang-orang yang ada disana tertawa dengan tingkah kedua bocah ini.


"Aamiin Flo, niat baik semoga di kabulkan Tuhan. Harus rajin belajarnya." Kata Anggun pada gadis kecil menggemaskan yang ada di sana, dan gadis kecil itu mengangguk antusias.

__ADS_1


Waktu begitu cepat berlalu, semua orang sedang bersiap berdiri lobi hotel. Beberapa petugas hotel kini sedang memasukkan barang-barang kedalam beberapa mobil yang akan mengantarkan berapa keluarga itu ke Bandara.


Keyla dan Gerry juga ikut mengantarkan ke Bandara, meskipun mereka belum akan kembali hari ini. Masih ingin menikmati masa berbulan madu mereka.


Di dalam sebuah mobil, Rachel masih membisu. Tidak ada kata apapun yang keluar dari mulutnya sejak sarapan tadi. Meskipun begitu riuhnya meja makan karena godaan yang terus terlontar pada pasangan pengantin baru tadi, sama sekali tidak mampu membuatnya beralih dari fikiran tentang apa yang sudah dia lakukan semalam, sungguh dia tidak mengingat apapun.


Sesekali Rachel menatap jarinya yang kini terpaut di sela jari Bagas. Tangan hangat itu menggenggam tangannya erat seakan tidak ingin melepaskannya sedikit saja.


"Apa ?" Tanya Bagas ketus ketika melihat wajah cantik itu kini menatap kearahnya.


Manaf yang duduk di samping sopir yang akan mengantar mereka, seketika menoleh mendengar suara ketus dari putranya. Diana yang sudah melihat reaksi suaminya segera menegur sang putra untuk sedikit bersikap lembut pada Rachel.


Diana yang duduk di samping Rachel segera memeberikan usapan lembut pada lengan calon menantunya itu.


"Lepaskan tangannya Gas, dia ngga nyaman. Kamu tuh sok ketus tapi butuh." Ejek sang papi dari depan ketika tidak sengaja melihat tautan tangan putranya di tangan gadis itu. Dia tersenyum lega, Rachel berhasil membuka hati Bagas yang selama ini hanya terus tertuju pada Keyla. "Tenanglah di sana, aku akan menjaga putri kalian dengan baik, aku sendiri yang akan memastikan kebahagiaanya." Lirih Manaf di dalam hatinya.


Mobil-mobil yang membawa lima keluarga besar itu kini sudah terparkir di depan Bandara Charles de gaulle. Keyla dan Gerry ikut mengantarkan semua orang hingga ke pos pemeriksaan dokumen.


Petuah dari mama mertuanya di dalam mobil tadi sudah seperti musik yang mengiringi lajunya mobil di jalanan kota Paris, dan Keyla hanya bisa mengiyakan dengan pasrah semuanya. Dan seakan belum selesai, kini sampai di Bandara sang Bunda kembali memberikan wejangan-wejangan, Keyla hanya bisa manggut-manggut mengiyakan semua ultimatum dari sang Bunda.


Lambaian tangan dari Gerry dan Keyla mengiringi langkah mereka. Setelah tadi drama perpisahan dari Rosa pada sahabat kesayangannya itu, yang membuat Bram menggelengkan kepalanya.


Sampai ketemu di Indonesia, tetap stay save yaa kalian.. Jangan lupa tetap lakukan protokol kesehatan.. Kata keyla.. eh maksudnya kata Author πŸ™πŸΌπŸ˜…πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2