Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Meyakinkan Keyla


__ADS_3

Sudah berapa menit yang lalu sepasang manusia yang saling mencintai namun tanpa status ini duduk diam di kursi taman, hanya beberapa suara binatang kecil yang sedang menikmati tidur malam mereka di rerimbunan bunga terdengar di taman belakang kediaman Handoko. Sejak mereka tiba di taman beberapa menit yang lalu, belum ada yang memulai percakapan. Gerry yang masih berperang dengan fikirannya, juga Keyla yang masih setia menutup mulutnya rapat sejak bertemu dengan keluarga Gerry tadi.


"Maaf jika aku terlihat tidak sopan dengan keluargamu, aku hanya sedikit kaget tadi." Kata Keyla pelan yang akhirnya membuka suaranya. Berharap laki-laki yang duduk tanpa jarak di sampingnya ini tidak salah faham dengan kediamannya.


"Aku ngerti Key, kamu pasti kaget ketemu papa di ruangan tadi. Sebenarnya aku tidak mau mengajaknya, namun dia memaksa ingin bertemu denganmu dan memohon maaf pada apa yang sudah dia lakukan." Kata Gerry yang kini sudah menatap Keyla yang masih tertunduk, menatap rerumputan hijau yang kini sedang di pijaki kakinya.


Gerry memberitahukan jika kedatangan mereka di sini bukan hanya sekedar untuk makan malam biasa, namun Gerry tidak ingin menunda lebih lama lagi untuk menikahi Keyla. Lagi pula usia mereka sudah melebihi usia yang ideal untuk menikah jadi tidak ada lagi alasan untuk menunda hal baik ini.


"Jangan khawatirkan soal Panti Asuhan yang kamu jaga selama ini, Bram sudah menceritakan padaku semuanya dan kita akan menjaga Panti Asuhan itu bersama Key. Aku akan mendukungmu untuk hal -hal seperti itu." Kata Gerry penuh permohonan agar gadis yang kembali diam ini tidak berubah fikiran lagi. Sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Handoko, Gerry selalu berdo'a dalam hatinya semoga kali ini tidak ada lagi hambatan untuk mengacaukan keinginan terbesar dalam hidupnya. Menikahi Keyla adalah keinginan terbesarnya.


Mendengar apa yang baru saja Gerry katakan, Keyla mengangkat kepalanya dan ikut menatap laki-laki yang duduk di sampingnya. Mencari kebohongan disana, namun lagi-lagi Keyla tidak menemukan apa yang dia cari di manik laki-laki yang juga menatapnya lekat.


"Apa Bram sudah bercerita banyak padamu ?" Tanya Keyla.


"Kami sudah tiba dirumahmu sejak tadi sore Key, aku dan Bram sudah banyak bercerita. Kamunya saja yang entah tidur atau pingsan sama sekali tidak terganggu dengan suara Kevin dan Flora, padahal suara cemperng mereka hampir memenuhi ruangan." Kata Gerry tersenyum.


" Apa papa kamu tidak akan marah lagi padaku ? sejujurnya aku takut jika nanti kita sudah menikah akan ada maslah baru lagi yang datang menimpa. Sungguh Gerry aku ingin hidup tenang setelah menikah. Tidak masalah jika hidup sederhana, tidak masalah jika aku hanya akan menjadi istri yang baik di rumah. Menanti suamiku pulang bekerja dan menyediakan semua kebutuhannya. Aku tidak ingin setelah kita menikah nanti, papa kamu akan kembali mengusikku, aku bisa melihat matanya yang belum sepenuhnya menerimaku Gerry." Kata Keyla.


" Seseorang mungkin tidak akan berubah secepat itu, tapi kamu hanya cukup percaya padaku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu termasuk papa. Lagi pula papa dan Om Han juga sudah bercerita banyak tentang kasus yang melibatkan papa dalam kecelakaan kamu. Meskipun kamu tidak ingin menuntut lagi, namun papa aku tetap akan mempertanggung jawabkan segalanya. Dia bukan laki-laki sebaik dan seperhatian Om Han, namun dia orang yang bertanggung jawab Key." kata Gerry panjang lebar untuk meyakinykan Keyla yang terlihat mulai ragu dengan rencana yang sudah pernah mereka bicarakan sebelum kecelakaan.


"Kamu yakin mau nikah sama aku ?." Tanya Keyla lagi. Jujur saja dia tidak ragu dengan Gerry, dia hanya takut jika nanti tidak bisa memberi Gerry bahagia.

__ADS_1


"Masalah soal keturunan yang sudah di jelaskan ka Roby dan Ka Anggun padaku, aku tidak terlalu mempermasalahkan itu Key. Lagi pula semua itu terjadi padamu karena kebodohanku. Akulah yang paling pantas berada di tempat itu, aku yang akan menemani kamu berjuang. Ayo kita berjuang bersama, tidak ada yang mustahil Key, kita hanya perlu melakukannya dengan sungguh-sungguh."


Gerry terus meyakinkan Keyla untuk tidak meragukan apapun. Dalam waktu kurang lebih satu bulan ini, mereka sudah melalui banyak hal. Bahkan untuk sampai di titik ini Gerry hampir saja kehilangan Keyla untuk selamanya, namun semuanya terlewati begitu saja dan kini semuanya baik-baik saja.


Benar, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya, beaok, bulan depan atau mungkin tahun depan, cobaan mungkin akan kembali menyapa mereka dan itu sudah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan. Selama kita masih bernafas cobaan hidup tetap saja akan datang menyapa. Kita hanya perlu mempersiapakn diri untuk bisa terus melaluinya.


Gerry meraih tangan Keyla kemudian menggenggamnya erat. Mengalirkan kesungguhan di hatinya pada gadis yang terlihat mulai bimbang di sampingnya. Dia tidak akan berjanji untuk baik-baik saja kedepannya, namun seberat apapun masalah yang akan datang, dia berjanji untuk tidak akan meninggalkan Keyla sendirian lagi.


Seharusnya perjuangan ini sudah dari lima tahun lalu, namun gadis yang ingin dia perjuangakan hilang begitu saja. Dan kini dia tidak akan lagi membiarkan apapun berlalu begitu saja seperti lima tahun lalu. Gadis yang ingin dia perjuangkan sejak lama kini berada dalam genggamannya.


" Mungkin kamu tidak akan percaya, tapi selama aku hidup belum pernah memiliki perasaan sedalam ini pada gadis yamg baru aku temui." Kata Gerry jujur.


"Aku ingin memelukmu." Kata Keyla.


" Tapi jangan tidur dalam pelukanku dulu, kamu harus menjawab lamaran dari keluargaku." Kata Gerry tersenyum. Dia sudah berhasil meyakinkan Keyla jika dia bersungguh-sungguh untuk satu hal ini.


"Salah sendiri pelukan kamu di buat senyaman ini, sudah seperti obat tidur saja." Kata Keyla ketus namun dia sudah bersembunyi di dada bidang Gerry.


"Jadi apakah sudah siap jadi istriku Nona ?" Tanya Gerry sesekali memberikan kecupan di kepala Keyla.


"Tentu saja. Jika pelukan laki-laki yamg melamarku senyaman ini mana bisa aku menolaknya. Aku akan menikmati pelukan gratis ini setiap hari dan pasti akan membantuku cepat terlelap" Kata Keyla tersenyum namun sayangnya Gerry tidak bisa melihat wajah senangnya.

__ADS_1


"Setelah menjadi istriku nanti, aku tidak akan membiarkan kamu seperti putri tidur begini, kqpan aku akan menikmati bagian terpenting dari pernikahan jika istriku kerjanya hanya terus tidur dalam pelukan aku." Kata Gerry menggoda.


"Jangan mesum tuan Garry Sanjaya, dan lepaskan dekapan tanganmu dari adikku." Kata Bram ketus yang entah sudah sejak kapan berdiri tidak jauh dari kursi panjang tempat Gerry dan adik perempuannya duduk sambil berpelukan. Keyla segera keluar dari pelukan nyaman yang menjadi favoritnya, melihat kearah laki-laki yqng masih saja posesif padanya.


Keyla masih dengan wajah datarnya yang sudah semerah tomat dan Gerry dengan santainya mengecup pipi yang selalu membuatmya gemas dan tidak tahan untuk tidak mencium pipi itu tanpa peduli pada laki -laki yang kini menatapnya tajam.


"Aku benar-benar akan membuat bibirmu pecah Gerry." Kata Bram yang sama sekali tidak membuat Gerry takut.


"Dia calon istriku Bram, berhentilah mengancamku." Kata Gerry mengejek.


"Cih,, cepatlah semua orang sedang menunggu kalian, ini sudah hampir tengah malam." Kata Bram ketus. Sejak tadi semua orang khawatir, menunggu dengan was-was apa yang sudah terjadi di taman belakang rumahnya. Keluarga Gerry khawatir jika Keyla tidak akan menerima lamaran mereka, namun ternyata dua orang yang sudah gila dengan cinta ini sedang berpelukan hangat. Bram kemudian membalik tubuhnya masuk kembali kedalam rumah.


Gerry masih menggenggam tangan Keyla kemudian mengajak gadia itu ikut maauk ke dalam rumah. Keyla masih diam, sungguh dia malu jika melakukan hal-hal seperti ini di hadapan Bram.


"Tidak perlu malu setelah kita menikah nanti, kita akan selalu melakukan hal seperti ini nanti bahkan lebih." Kata Gerry menggoda dan Bughh.. kepalan tangan mulus milik Keyla menghantam kepala laki-laki yang mungkin saja tidak lagi memiliki otak di dalamnya. Bagaimana bisa laki-laki ini dengan tidak tahu malu mencium pipinya di hadapan Bram. Dan tolong suaranya itu tidak bisa di kondisikan, kaka laki-lakinya masih berjalan tidak jauh dari mereka berdua yang pasti bisa mendengar apa yang keluar dari mulut ember Gerry.


"Key." Teriak Gerry membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu mengalihkan pandangan ke arah mereka. Gerry masih mememgang bagian kepala yang terasa panas karena hantaman robot cantik pemarah di sampingnya ini.


Keyla kaget mereka kini sudah berada di ruangan keluarga, saking kesalnya dia pada Gerry sampai tidak menyadari jika mereka sudah sampai di tempat keluarga mereka berkumpul dengan tangannya yang masih di dalam genggaman Gerry yang membuatnya semakin malu.


Keyla segera menarik tangannya, kemudian duduk di samping Rosa dan Bram. Sedangkan Gerry sudah melangkah dan ikut duduk di samping Sanjaya.

__ADS_1


__ADS_2