
** Senangnya pas cek statistik viewnya naik, sayang yang meninggalkan jejak masih sesikit. Tapi ga apa-apa, terimakasih banyak buat teman-teman yang masih setia disini, semoga kalian semua selalu sehat 😇 **
"Makanlah." Ucap Kevin sambil menyodorkan piring berisi makanan ke arah Briana.
Briana yang sudah duduk di sisi ranjang mengangkat wajahnya lalu memandang lekat pada laki-laki dewasa yang kini berdiri di hadapannya. Tanganya masih saling bertaut di atas paha yang tertutupi dress mahal yang tidak dia ketahui siapa yang sudah lancang mengganti pakaiannya ini.
"Apa laki-laki brengsek itu menjualku padamu ?" Tanya Briana pada laki-laki yang masih diam sambil menyodorkan piring makanan kearahnya.
"Iya." Jawab Kevin singkat. "Dan aku ingin menikmatimu sampai puas, untuk itu makan makanan ini sampai habis." Sambung Kevin santai.
Briana meraih makanan itu lalu memakannya dengan cepat tanpa memperdulikan lagi tmrasa nyeri karena jarum infus yang masih tertancap di punggung tangannya, juga hati yang teriris pedih saat membayangkan tubuhnya yang masih belia akan di rusak oleh laki-laki yang sudah membelinya ini.
"Lakukanlah dengan cepat, aku harus segera kembali untuk mengurus pemakaman ibuku." Ucap Briana dengan dada bergemuruh dan suaranya yang bergetar menahan tangis.
Hidupnya hancur namun dia tetap harus menjalaninya, biarlah setelah ini dia akan mencari kebahagiaannya sendiri tanpa ibu dan laki-laki brengsek yang sudah menciptakan neraka dalam kehidupannya.
Kevin beranjak dari sofa tempat dia duduk lalu berjalan menuju ranjang dimana Briana berada. Laki-laki yang sudah mengenakan kaus hitam polos dan celana santai selutut itu mendekat lalu mengambil piring bekas yang di pakai Briana tadi dari atas nakas.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Kevin keluar dari dalam kamar sambil membawa piring dan gelas, lalu kembali menutup pintu kamar di mana gadis belia yang di sukai adiknya itu berada.
***
"Cepat datang ke apartemenku, katakan pada Aunti kamu mau menjemputku.." Ucap Kevin di benda pipihnya yang sudah menempel di telinganya.
Setelah memutuskan sambungan telepon, dengan langkah cepat Kevin kembali menuju kamar dimana Briana berada. Langkahnya terhenti sejenak di pintu kamar yang kembali di tutupnya dari dalam, menatap ke arah gadis cantik yang sudah menunduk dengan air mata yang menetes membasahi lantai kamar.
Tidak ada suara tangisan yang terdengar, namun cairan bening yang menetes membasahi dres hingga lantai kamar sudah memastikan jika gadis ini sedang meratapi kehidupannya.
"Aku tidak akan mencicipi tubuhmu malam ini." Ucap Kevin saat sudah kembali mendudukan tubuhnya di sofa ruangan. Tatapannya mengarah pada gadis yang kini sudah menatap ke arahnya dengan mata yang masih di penuhi buliran bening.
Briana tidak menjawab, dia hanya menunggu dengan diam laki-laki dewasa di hadapannya ini melanjutkan kalimatnya.
"Dan aku akan memberimu uang yang cukup untuk melanjutkan kehidupanmu, namun pergilah menjauh dari kehidupan adikku." Sambung Kevin.
__ADS_1
Brian mengerinyit bingung, dia tidak tahu siapa yang di maksud laki-laki yang sedang duduk di sofa di dalam ruangan yang sama dengannya ini.
"Kamu akan segera tahu siapa yang sedang aku bicarakan." Ucap Kevin lagi sambil menatap jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sebentar lagi dia akan sampai." Sambungnya.
Kevin beranjak dari sofa lalu menyodorkan secarik kertas dan satu buah pena ke arah Briana, namun gadis itu masih belum mengerti apa yang sedang terjadi padanya malam ini.
"Tulis nomor rekening kamu di kertas ini sekarang juga." Ucap Kevin.
Briana masih diam seribu bahasa, namun dia meraih kertas itu lalu menulis beberapa digit angka yang selalu menjadi tempatnya mengisi sebagian dari gajinya di restoran.
Kevin kembali meraih kertas yang di berikan Briana, lalu menyimapnnya di saku kemeja sebelum adiknya sampai ke apartemen.
"Iya Aunti, mobil Kevin mogok." Jawabnya lalu kembali mendudukan tubuhnya di atas sofa di dalam kamar.
"Iya, Kevin baik-baik saja." Ucap Kevin lagi membalas suara khawatir dari ujung ponselnya.
Aunti kesayangannya itu tidak pernah berubah sama sekali, selalu saja dengan tingkat ke kahawatiran yang berlebihan. Ah dia jadi ingin segera menyelesaikan ini dan pulang ke rumah untuk bertemu dengan Aunti favoritnya itu.
"Pergilah kemanapun, yang terpenting kamu harus memastikan tidak akan lagi bertemu dengan adikku." Ujar Kevin lagi mengingatkan. "Aku harap malam ini terakhir kalinya kita bertemu, karena jika masih ada pertemuan di lain waktu berikutnya, aku tidak akan bisa menjamin keselamatanmu lagi." Sambung Kevin tegas.
Briana masih diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan laki-laki ini.
Ceklek...
Pintu kamar di buka dari luar
Briana segera menatap ke arah pintu yang terbuka, dia terkejut melihat laki-laki yang ingin selalu dia hindari kini berdiri mematung sambil menatap lekat ke arahnya.
"Ana, apa yang terjadi ?" Tanya Gama yang sudah melangkah cepat menuju ranjang dan berlutut di hadapan Briana.
Sedangkan Kevin sudah beranjak dari sofa yang ada di dalam kamar lalu keluar dari sana. Membiarkan adiknya itu menghabiskan waktu dengan baik malam ini.
"Aku baik-baik saja." Jawab Briana sambil tersenyum ke arah Gama. Senyum yang tidak pernah dia tunjukan pada siapapun, kini terlihat di wajah cantiknya.
__ADS_1
Gama terkejut, ini pertama kalinya gadis ini tersenyum ke arahnya. Meskipun mata indahnya tidak bisa menutupi kesedihannya itu, namun jantung yang selalu berdetak melihat Briana kininsemakin menggila.
"Kenapa bisa disini ?" Tanya Gama lagi sambil menggenggam lembut tangan yang terpasang selang infus. Tatapannya kini mengarah pada tangan kurus yang membiru pergelangannya.
"Gama." Panggil Briana mengalihkan pertanyaan Gama.
"Hm.." Jawab Gama kini sudah mengalihkan tatapannya dari tangan Briana ke arah wajah cantik di hadapannya.
"Duduk sini." Ajak Briana sambil menepuk ranjang di sampingnya.
Gama berdiri dari lantai tempat dia berlutut, lalu duduk di samping gadis itu.
"Kenapa bisa sampai disini ? Kenapa bisa sama abag aku" Tanya Gama lagi.
"Gama, terimakasih untuk dua tahun ini. Aku senang ada yang memperhatikan dari kejauhan seperti yang kamu lakukan selama ini. Selalu memastikan aku selamat tanpa gangguan dari siswa sampai loker." Ucap Briana tanpa menghiraukan pertanyaan Gama.
"Aku menyukaimu." Ucap Gama jujur. Ini kali pertama dia mengungkapkan langsung apa yang dia rasakan di hadapan Briana.
"Apa suka dan cinta itu sama ?" Tanya Briana.
"Mungkin, katakanlah seperti itu. Aku jatuh cinta padamu, untuk itu aku ingin memastikan kamu baik-baik saja." Jawab Gama.
Briana tersenyum, hatinya menghangat. Di tengah-tengah kehidupan buruknya, masih ada orang yang bisa menyukainya dengan tulus.
"Dan bisakah kamu melakukan itu kedepannya ? Tetaplah melihatku dari jauh, hanya dari kejauhan." Kata Briana. Kini dia tidak lagi menunduk, tatapanya menatap lekat ke arah mata laki-laki yang katanya jatuh cinta padanya. Benar, mata hangat itu memandangnya penuh cinta dan itu baru bisa di lihatnya dengan jelas sekarang.
"Maksudmu ?" Tanya Gama tidak mengerti.
"Tetaplah seperti ini. Jangan terlalu mendekat, hanya pastikan aku baik-baik saja dari kejauhan. Bisakan kamu melakukan itu untukku ?" Ucap Briana perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Gama.
"Apa sesuatu telah terjadi ?" Tanya Gama.
Briana menggeleng sambil tersenyum ke arah Gama.
__ADS_1
"Iya ada banyak hal yang terjadi dalam hidupku, dan aku tidak ingin kamu menjadi bagian dari kisah buruk hidupku." Batin Briana masih memandang lekat ke arah Gama.