
Setelah putrinya membukakan pintu kamar Ratih masuk dengan senyum merekah dibibirnya. Keyla adalah bagian terpenting di hidupnya, bayi kecil mungil yeng membuatnya depresi 27 Tahun lalu kini sedang tersenyum padanya. Bayi mungil yang dia lahirkan diam-diam 27 Tahun lalu di sebuah Rumah sakit milik orang tua sahabatnya kini sudah berdiri di depannya.
"Maaf Bunda ganggu kamu, lagi ngobrol sama Gerry ya ?" Tanya Ratih yang memang sudah mengetahui laki -laki yang di cintai putrinya saat Putra pertamanya bercerita dengan sang suami pagi tadi. Tanpa berkata paapun mereka berjalan menuju ranjang king size yang akan menjadi tempat ternyaman Keyla berikutnya.
Setelah Keyla duduk disisi ranjang, juga sang Bunda ikut duduk di sampingnya barulah Keyla mengangguk mengiyakan pertanyaan sang Bunda. Jujur saja sebenarnya dia masih merasa canggung dengan status mereka yang baru. Meskipun sikap dan perhatian wanita paruh baya di hadapannya ini tidak berubah sejak dulu saat pertama kali Bram dan Rosa mengenalkan dia pada keluarga dua sahabatnya itu tetap saja semua ini terasa canggung baginya.
"Bunda berharap siapapun itu, dia akan selalu memberimu bahagia nak tidak ada yang lebih penting dari itu." Kata Ratih.
"Ayah Adrian orang yang baik, dia selalu memastikan kebahagiaan Bunda di atas segalanya. Dia melepaskan Bunda saat itu karena berharap Ayah Han adalah laki-laki terbaik dan lebih pantas dari pada dirinya. Namun begitulah pernikahan, tidak ada yang akan memastikan semuanya akan berjalan dengan baik seterusnya. Masalah terus saja datang dalam rumah tangga kami saat Bunda sudah mulai membuka hati pada Ayahmu. Fitnah dari wanita masalalu Ayahmu mengacaukan segalanya saat kamu masih berumur sekitar enam minggu dalam kandungan Bunda, sedangkan saat itu Bram belum berusia satu tahun. Sungguh Bunda tidak sanggup menjalani rumah tangga yang begitu menyesakkan, hingga laki-laki itu kembali hadir dan menawarkan bantuannya. Ayah Adrian datang di saat semuanya sudah tidak lagi sama, cinta Bunda yang dulu hanya untuknya sudah bukan untuk dia lagi. Semuanya hanya milik Ayahmu, Ayah Han. Namun dia tetap saja meminta bunda untuk tetap dengannya sampai Ayahmu datang menjemput. Waktu terlewati begitu saja, ayahmu sibuk dengan posisi barunya sebagai Peresiden Direktur yang baru. Hingga suatu hari orang tua Bunda juga orang tua Ayahmu menemukan bunda di rumah sakit setelah melahirkan kamu. Semua terjadi begitu saja, Ayah Han memukuli Ayah Adrian membabi buta lalu Ayah Adrian pergi membawamu karena keluarga Bunda juga keluarga Ayah Han tidak ada yang percaya jika kamu bukanlah anak yang Bunda dapatkan dari orang sebaik Adrian. Dia laki-laki terbaik yang pernah ada dalam hidup Bunda." Ratih menceritakan kembali masalalu yang selalu membuatnya perih ketika mengingatnya.
Melihat sang Bunda sudah basah dengan air mata, Keyla mendekat kemudian mendekap tubuh Ratih erat.
"Ayah Adrian sudah baik-baik saja sekarang. Bunda benar dia adalah laki-laki terbaik, dia selalu memastikan aku tidak kekurangan apapun padahal dia tidak punya kewajiban untuk melakukan itu. Dia menyayangiku sampai aku tidak pernah berfikir jika aku punya orang tua lain selain dia Bunda. Aku selalu menjadi prioritas dalam hidupnya hingga rasanya tidak pernah merasa menderita di tengah kehidupan kami yang begitu pas -pasan, aku selalu merasa bahagia dan beruntung memilikinya dalam hidupku." Kata Keyla yang sudah ikut meneteskan air mata di pipi polosnya. Mengingat kebaikan laki-laki yang sudah dengan susah payah membesarkannya sungguh sangat menyesakkan dada. Laki-laki yang sudah dengan rela membesarkan putri dari wanita yang di cintai dengan laki-laki lain.
Ratih mengurai pelukan sang putri, melihat lekat pada mata bening putrinya. "Adrian adalah cinta yang sesungguhnya. Kamu tahu Key, Cinta tertinggi dalam hidup adalah mengikhlaskan." Kata Ratih pada putrinya. "Selama Bunda hidup belum pernah bertemu dengan orang seperti dia, Ayah Han pun mengakui hal itu. Dia laki-laki terbaik, hanya saja kami memang tidak di takdirkan untuk bersama." Sambung Ratih.
"So, mau jalan-jalan sama Bunda ? kita belanja keperluan kamu." Ajak Ratih pada putrinya karena kini dia ingin menyudahi mengenang masalalu yang selalu membuatnya sesak.
"Sebenarnya aku paling ngga suka keluar rumah Bund, Aku lebih suka belanja online lagi pula keperluanku masih banyak kok di Aprtemen nanti di ambil di sana aja". Ratih merasa heran dengan putrinya ini, biasanya belanja sambil jalan-jalan di mall atau butik merupakan kesukaan para barisan wanita.
__ADS_1
"Baiklah, Bunda akan keluar menemani Ayahmu saja. Kamu istirahat ya, nanti akan Bunda minta tolong Bram untuk mengambil keperluanmu di apartemen." Kata Ratih yang di angguki oleh putrinya kemudian dia keluar dari kamar.
Entahlah sudah berapa lama dia menikmati mimpi indahnya. Gadis kecil kesayangannya kini sedang menaiki tubuhnya membuatnya segera terjaga.
"Flo, kenapa disini sayang ?" Tanya Keyla dengan suara serak khas bangun tidur miliknya. Dengan perlahan Keyla bangun sambil memeluk tubuh mungil gadis kecil agar tidak terjatuh, gadis kecil kesayangannya yang tidak tahu sudah sejak kapan duduk di atas tubuhnya.
"Mami meminta aunti untuk segela bangun, jika tidak nanti akan jadi nenek sihil." Kata Flora.
"Baiklah, Flo duduk sini dulu ya, aunti mau mandi dulu." Kata Keyla kemudian memindahkan tubuh mungil keponakannya dari pangkuan ke ranjang miliknya.
Flora hanya mengangguk patuh, melihat Keyla yang sudah berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Yah Keyla lupa jika malam ini dia akan bertemu dengan keluarga Gerry, tanpa dandanan dia turun dari lantai dua kamarnya dengan menggandeng tangan Flora langsung menuju ruang tamu yang sudah terdengar ramai.
Keyla begitu terkejut karena semua orang sudah berada di ruangan itu termasuk satu orang yang membuatnya terluka bukan hanya hati namun juga fisiknya.
Dia memutuskan untuk tidak lagi menuntut, namun jika pihak berwajib tetap harus melakukan tugasnya maka itu adalah tugas dari kepolisian. Keyla sungguh tidak merasa nyaman, namun dia harus belajar menerima. Bukankah semua orang pernah melakukan kesalahan dan bisa mendapatkan kesempatan kedua.
"Dasar putri tidur" Gumam Gerry yang bisa di dengar semua orang, seketika semua orang di dalam ruangan tertawa kecuali Sanjaya. Dia merasa tidak punya muka lagi dihadapan gadis yang sangat di cintai anakanya ini.
__ADS_1
Keyla mendelik kesal pada Gerry dengan ucapan laki -laki itu.
" Sini sayang. " Ratih meminta Keyla untuk duduk di sampingnya.
Sebelum Keyla tiba di dalam ruangan ini, Sanjaya sudah berulang kali memohon maaf pada Handoko karena perbuatannya. Sedangkan Handoko mengatakan bukanlah dianyang pantas mendapatkan maaf dari kolega bisnisnya ini namun putrinyalah yang palin pantas.
Semua berlalu begitu saja, Sanjaya memohon pengampunan dari gadis yang di cintai mati-matian oleh putranya, namun Keyla sama sekali tidak membuka suaranya sejak tiba diruangan ini.
Meakipun tidak mendapat respon apapun dari Keyla yang membuat Gerry sedikit Kecewa, tetap saja Sanjaya melanjutkan niat mereka datang ke rumah ini. Bukan hanya karena undangan makan malam dari keluarga besar Handoko, mamun kedatangan mereka adalah untuk melamar Keyla. Lagi-lagi tidak ada respon dari Keyla, sejak tadi hati Gerry sudah bergemuruh melihat gadia yang tadi siang baik-baik saja kini terdiam tanpa suara.
Namun Handoko terus menyambut baik niat dari keluarga Gerry, Handoko berkata akan menanyakan pada Keyla nanti. Mungkin putrinya masih kaget dengan acara lamaran yang sangat dadakan ini.
Ratih mengajak keluarga Sanjaya yang juga di hadiri putri sulungnya juga menantu dan cucunya untuk ke meja makan ketika pelayan sudah selesai menyiapakan makan malam.
"Tante boleh aku bicara sebentar dengan Keyla ?" Tanya Gerry pada Ratih yang mau membawa Keyla untuk ikut makan malam bersama.
"Nanti setelah makan malam, kalian bicaralah." Kata Handoko yang di angguki oleh Gerry.
Keyla masih diam seribu bahasa membuat Gerry semakin gusar, Gerry tahuu Keyla paling tidak suka berbicara saat makan namun tetap saja kediaman gadis itu sejak tadi membuat Gerry khawatir.
__ADS_1
"Kumohon Key jangan tolak aku, maafkan papa yang sudah menyakitimu." Lirih Gerry dalam hati.