
Berusaha sebaik mungkin, hanya itu yang bisa di lakukan oleh seorang Gerry. Tidak hanya Gerry, namun seluruh keluarga mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan Keyla. Tuhan sudah merencanakan ini dengan baik, mereka hanya bisa berusaha namun semua hasilnya tetap saja berada di genggaman Tuhan.
Beberapa perdebatan sering terjadi di antara Gerry dan Keyla, hingga membuat laki-laki itu marah besar, namun Keyla tetap kekeuh untuk mempertahankan Bayi mereka dengan kondisi wanitanya itu yang semakin hari semakin menurun. Hingga akhirnya Keyla memenangkan segalanya. Kini wanita itu terbaring di ruangan menyeramkan setela setahun lalu keluar dari sana. Hampir dua bulan sudah terlewati, namun mata indah Keyla belum juga terbuka. Dia sangat merindukan mata indah istrinya itu.
Gerry menutup matanya sambil meletakkan wajahnya di atas meja makan, kini dia sedang berada di dapur rumah mereka berdua. Rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan. Mungkin Tuhan masih menghukum atas apa yang dia lakukan pada Keyla bebrapa tahun yang lalu. Jika memang seperti itu, seharusnya dia yang berada di ranjang rumah sakit bukan Keyla. Wanita terbaik itu tidak seharusnya berada disana hanya karena kesalahannya dulu.
"Nak masih belum berangkat kerumah sakit ?" Suara Mama Nia menyadarkan Gerry lalu mengangkat kepalanya dari atas meja makan.
"Key pernah bilang mam, jika aku tidak menemukan dia di kamar kami maka tempat lain yang harus aku tuju adalah dapur. Namun dia tidak berada disini, sekarang dia terbaring kaku di rumah sakit, dia membohongiku.." Lirih Gerry menyayat hati dengan suara serak menahan tangisnya pecah. Ibu mana yang tahan melihat putranya seterpuruk ini.
Mama Niah melangkah mendekati putranya lalu memeluk tubuh yang semakin hari semakin kurus dan tidak lagi terawat itu dengan erat.
"Jangan seperti ini nak, putramu, putra kalian membutuhkanmu." Ujar Mama Nia dengan air mata yang menetes mebasahi kepala putranya.
"Tapi aku butuh Key mam, aku ingin bersamanya." Ucap Gerry lagi dengan air mata yang sudah membasahi baju mama Nia. Dia menginginkan Keyla kembali kedalam hidupnya, sungguh waktu yang dia lewati hampir dua bulan ini terasa begitu panjang saat tidak bersama dengan wanitanya itu.
"Key masih ada, dia sedang berjuang di Rumah Sakit sekarang. Kamu tidak boleh seperti ini, jangan menganggap bahwa dia sudah pergi. Dia masih ada dan dia butuh kamu untuk memberinya semangat agar bisa berjuang bersama." Ucapan mama Nia menyadarkan Gerry. "Pergilah ke rumah sakit, dan tetaplah berada di sisinya. Agar dia punya kekuatan untuk kembali pada kalian." Sambung mama Nia.
__ADS_1
Gerry sudah berdiri dari kursi makan yang ada di dapurnya, lalu melangkah menuju mobil yang ada di halaman rumahnya.
***
Di dalam ruangan ICU tempat Keyla terbaring, Ayah Han dan Bunda Rati masih menatap ke arah putri mereka dengan hati yang begitu sedih. Hingga pintu ruangan tersebut terbuka, dan mereka sudah tahu siapa yang datang. Menantu mereka ini sudah terlihat begitu berantakan, tubuh yang dulunya begitu sehat kini sudah terlihat sangat kurus dan tidak lagi terawat.
Bunda Ratih sudah meminta izin untuk keluar dari ruangan terlebih dahulu, karena memang tidak di perbolehkan jika terlalu banyak pengunjung.
Gerry menarik kursi lalu duduk di samping ranjang. Meraih tangan yang masih terpasang jarum infus lalu mengecupnya dengan penuh kasih sayang. Dan semua yang Gerry lakukan tidak luput dari pandangan Ayah mertuanya.
"Ku mohon Key, jangan tinggalkan aku sendiri." Lirih Gerry. Entah sudah berapa ratus kali kata ini terucap dari bibirnya selama hampir dua bulan ini saat dokter sekaligus kakanya menyatakan Keyla koma. Tubuh yang tidak lagi terawat kini sudah duduk di samping ranjang pasien sambil menggenggam erat tangan wanita yang masih memenuhi seluruh kehidupannya.
"Jangan seperti ini nak Gerry, putra kalian membutuhkanmu. Keyla akan sangat sedih jika mendapatimu seperti ini." Ucap Ayah Han yang sudah tidak tahan lagi dengan keterpurukan menantunya ini. "Semua orang bersedih nak, namun jangan lupa, kita juga sudah mengushakan yang terbaik. Dan jika hasilnya masih mengecewakan, mungkin Tuhan hanya meminta kita untuk lebih meluaskan hati menerima takdirnya." Sambung Ayah Han lagi.
Gerry masih diam ditempat duduk yang ada di sisi ranjang tempat Keyla terbaring. Sudah hampir dua bulan terlewati setelah operasi besar pengangkatan rahim dengan penyakit mematikan bersamaan dengan dua bayi, namun wanita terbaik yang menemani harinya ini sama sekali belum ingin bangun dari tidur panjangnya.
Seorang malaikat kecil yang berhasil Keyla bawa melihat dunia, kini mulai tumbuh menjadi bayi mungil yang sehat, meskipun harus merelakan saudari kembarnya yang tidak bisa diselamatkan oleh team dokter handal yang langsung di kerahkan oleh Bagas untuk menangani wanita istimewah ini. Bayi laki-laki itu kini di rawat oleh pengasuh profesional di bawa pengawasan mama Nia di rumah utama.
__ADS_1
"Bahkan anak kami belum memiliki nama Ayah, dia masih berhutang nama pada anak kami. Mana bisa aku membiarkan dia pergi sendirian." Ucap Gerry masih dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya.
Sesak menyelimuti rongga dadanya. Nafas yang dia tarik untuk mengisi paru-parunya saja terasa sangat menyakitkan. Bayangan tentang kepergian Keyla dari kehidupannya seakan menjadi mimpi buruk di setiap harinya. Hanya sekedar membayangkan saja membuat hidupnya sekacau ini, bagaiman jika wanita berharga ini benar-benar pergi meninggalakannya, mungkin dia akan benar-benar mati perlahan.
Ayah Han memilih keluar dari ruangan, dia tidak tahan lagi melihat penampakan yang ada di dalam rungan itu. Putrinya yang terbaring di ranjang juga menantunya yang begitu kacau. Ujian seberat ini seakan tidak pernah beranjak dari kehidupan Gerry dan Keyla.
Gerry kembali mengecup tangan kurus itu dengan penuh kasih sayang. Lalu membenamkan wajahnya di atas ranjang samping tubuh Keyla sambil menggenggam pelan tangan yang tertancap sepang infus itu.
Tangan kurus yang masih berada di dalam genggamannya terasa seperti bergerak, dadanya berdetak cepat lalu menatap ke arah ruas jari yang tadi terasa bergerak di dalam genggamannya. Namun Gerry menghela nafas sesak, mungkin dia sudah mulai berhalusinasi. Dengan hati-hati Gerry kembali mengecup punggung tangan itu dan benar salah satu jari Keyla bergerak.
Gerry begitu terkejut dan langsung menekan tombol yang ada di dalam ruangan agar dokter segera datang saat melihat dua ruas jari Keyla yang kini kembali bergerak.
Anggun dan satu dokter wanita terburu-buru masuk kedalam ruangan dimana Keyla berada. Jari yang mulai bergerak aktif masih terus di genggam oleh Gerry. Anggun dan dokter wanita itu membiarkan saja dan memeriksa tanda-tanda vital yang ada di monitor.
Anggun bernafas lega, adik iparnya akan segera kembali pada mereka. Kini dia berani menanatap Gerry lagi karena wanita terbaik dalam hidup adiknya ini bisa dia bawa kembali.
"Semuanya sudah baik-baik saja Gerry, sebentar lagi dia akan segera sadar." Ujar Anggun sambil menepuk bahu adiknya.
__ADS_1
Gerry mengangguk tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Keyla. Dia kembali mengecup punggung tangan yang mulai membalas genggaman tangannya, hanya saja mata indah yang dulu selalu menatapnya sendu belum juga terbuka. Dia merindukan mata bulat itu, sungguh dia bahkan tidak ingin berkedip agar tidak melewatkan sedetikpun waktu saat Keyla membuka matanya nanti.