Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Cinta pertama dan Kedua


__ADS_3

Di sebuah ruangan dengan suhu yang sudah di atur sedemikian rupa, bayi mungil itu kembali menggeliat pelan membuat tiga wanita yang sudah bergelar ibu begitu sangat terharu. Bayi mungil itu seperti mengecap pelan bibirnya membuat Rosa gemas.


Mama Nia, Bunda Ratih dan Rosa kini sedang berada di dalam ruangan khusus yang di sediakan rumah sakit untuk merawat putra dari wanita yang selalu menjadi orang istimewah dalam hidup mereka.


Tiga wanita berbeda usia itu ikut beranjak dari tempat duduk mereka tadi, saat suster mendorong kotak kaca itu dari dalam ruangan operasi. Mereka terus mengikuti inkubator tempat cucu dan keponakan mereka berada. Bayi itu terlihat sangat kecil dari bayi biasanya, namun kata suster bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu selamat dan sehat.


Rosa memandang lekat pada Bayi sambil mengusap kaca inkubator dengan penuh kasih sayang. Keyla akan sangat bahagia, wanita itu berhasil membawa putranya selamat kedunia dengan taruhan nyawanya.


"Kamu akan menjadi anak yang paling beruntung karena memiliki ibu sebaik dan sehebat Keyla. Dan jika Tuhan maaih mengizinkan ibumu kembali, maka kamu sendiri yang harus memastikan kebahagiaan untuknya kelak." Ucap Rosa seakan mengajak putra sahabat terbaiknya itu berbicara.


"Mam," Panggi Gerry saat membuka pintu ruangan tempat putranya berada.


Tiga wanita berbeda usia yang ada di dalam ruangan serentak menoleh pada Gerry yang kini sudah berdiri di depan pintu.


"Sini nak, kamu harus melihat putramu." Ajak mama Nia.


Gerry melangkah menuju kotak kaca dimana bayi mungilnya itu berada. Rosa melangkah menjauh, memberikan ruang untuk laki-laki yang masih di liputi kesedihan itu untuk mendekati putranya. Mungkin saja, bayi kecil itu bisa memberikan Gerry kekuatan untuk menjalani semua ini.


"Hei, kamu harus kuat biar bisa menjaga ibumu saat dia bangun nanti." Ujar Gerry sambil mengusap pelan kaca inkubator. "Maaf Ayahmu ini tidak menyediakan nama untukmu, kita tunggu ibumu bangun biar dia yang akan memberikanmu nama. Bukankah dia tidak boleh pergi karena masih berhutang nama padamu." Sambungnya.

__ADS_1


Mama Nia mendekati putranya, memberikan usapan lembut pada bahu putranya yang tidak lagi terlihat tegap seperti biasanya. Bukan hanya menantunya yang menderita, anak laki-lakinya ini ikut sakit saat melihat wanitanya itu menderita.


"Kita semua sedih, namun jangan mengabaikan cinta lain yang Tuhan titipkan nak." Ujar Mama Nia.


"Iya Mam, aku titip putraku." Ucap Gerry namun masih tetap menatap ke dalam inkubator. Bayi kecil itu menggeliat seakan bisa merasakan kehadiran sang Ayahn dan Gerry tersenyum teduh. Ah wajah bayi mungil itu mirip sekali dengannya. Gerry penasaran dengan mata kecil yang masih tertutup rapat, dia berharap mata itu akan seindah mata Keyla nanti.


"Tentu nak, temani istrimu. Beri dia semangat untuk bertahan demi kalian berdua." Ucap mama Nia lagi.


Gerry mengangguk lalu keluar dari dalam ruangan tempat putranya berada.


Kita boleh sedih, kita boleh merasa terpuruk itu manusiawi, apalagi itu menyangkut orang yang kita cintai. Namun jangan sampai kesedihan dan keterpurukan menjadikan kita orang yang tidak lagi memiliki hati. Satu cinta yang membuatmu sedih, jangan sampai membuatmu mengabaikan sejuta cinta yang ada di sekelilingmu. Percayalah saat kamu menyadari, dan terlambat karena cinta yang ikut kamu abaikan itu pun sudah mulai memilih melangkah menjauh darimu.


Langkah kakinya kini berhenti di ruangan Intensif Care, Gerry masih mematung berdiri melihat dari balik kaca pembatas, Ayah mertuanya sedang berada di dalam dan terlihat sesekali menyapi pinggiran mata tuanya.


Benar kata mama Nia, semua orang sedih. Tidak hanya dia yang mengalami ini, namun kesedihan mereka tidak nampak karena masih memikirkan cinta di sekeliling mereka.


Keyla bukan hanya wanita terbaik dalam hidupnya, namun juga putri dan adik juga sahabat yang di cintai oleh keluarganya.


Di dalam ruangan yang terasa begitu mencekam, laki-laki yang seharusnya menjadi raja pertama di hati istrinya itu sedang sesegukan, kesedihan Ayah Han sama besarnya dengan Gerry. Namun laki-laki paruh baya itu masih berusaha untuk tetap terlihat kuat, karena masih ada istri dan putranya yang harus dia kuatkan.

__ADS_1


Ayah Han kini sedang melihat dengan sedih ke arah wajah putrinya. menggenggam tangan kurus yang kini kembali tertancap jarum infus. Dadanya sesak, keadaan mengenaskan kembali di alami oleh putrinya. Tubuh kurus memucat itu kembali terbaring dengan berbagai alat yang terpasang di bagian tubuhnya.


"Maafkan Ayah yang tidak bisa memberimu hidup yang baik, dari dulu Ayah hanya memberimu kesedihan. Jika saja Ayah bisa bernegosisasi dengan Tuhan, Ayah akan meminta untuk menggantikan deritamu." Ujar Ayah Han penuh sesak dengan cairan bening mulai menetes dari sudut mata tuanya.


Sungguh kali ini dia benar-benar tidak lagi bisa menahannya, gadis kecil yang dulu di bawa istrinya dari pelarian karena tidak lagi mampu menjalani pernikahan yang begitu menyesakkan, di tolak mentah-mentah olehnya. Dan kini dia menyesalinya, sungguh sangat menyesal apalagi saat mengingat nasib buruk yang seakan tidak mau beranjak dari kehidupan putrinya ini. Baru saja setahun yang lalu putrinya ini berada di ruangan ini, dan kini kembali lagi disini dengan keadaan yang jauh lebih mengenaskan dari kecelakaan dulu.


Tubuh kurus yang kini sedang terbaring di atas bed pasien, menanggung kesakitan selama tujuh bulan lebih sambil membawa dua nyawa di dalam tubuhnya bersamaan dengan penyakit mematikan. Tidak semua orang bisa bertahan dengan rasa sakit itu, namun entah terbuat dari apa tubuh putrinya ini hingga masih bisa bertahan sampai memastikan cucunya terlahir selamat kedunia.


Ayah Han mengusap dahi pucat Keyla lalu mengecupnya dengan sayang. Cinta pertama dari seorang anak perempuan adalah Ayahnya. Mungkin cinta pertama Keyla akan jatuh pada Ayah Adrian, dan itu bukanlah masalah baginya. Rivalnya itu berhak mendapatkan itu, karena sudah bersedia merawat dan membesarkan putrinya dengan baik.


"Ayah." Panggil Gerry sudah memasuki ruangan tempat istrinya berada. Sudah memakai baju khusus yang di sediakan untuk maauk kedalam ruangan ini.


Ayah Han menoleh dan tersenyum teduh pada menantunya, namun Gerry bisa melihat mata tua itu memerah.


"Kamu sudah datang nak, bagaimana putramu ? Apa dia mirip gadis keras kepala ini ?" Tanya Ayah Han yang kini sudah mengarahkan kembali tatapannya pada Keyla.


Gerry tersenyum lalu menggeleng tegas.


"Wajah putraku sangat mirip denganku Ayah. Mungkin hanya matanya saja yang akan seindah mata istriku, sayangnya bayi mungil itu masih setia menutup matanya sama seperti gadis keras kepala ini ." Ucap Gerry.

__ADS_1


Ayah Han sudah beranjak dari tempat duduknya lalu meminta Gerry untuk ada disana. Menepuk pelan bahu menantunya sembari memberikan semangat lalu keluar dari dalam ruangan itu.


__ADS_2