
** Selamat membaca semuanya 😊 jangan lupa like dan komentarnya ya 🤗🤗 **
Setelah tangisan menyayat hati Keyla dengan air mata yang hampir membuat seluruh bagian depan kemeja Gerry basah, kini Gerry sedang membantu Keyla makan siang di dalam Ruangan VVIP. Keyla sedang duduk bersandar di ranjang, sedangkan Gerry menyuapakan sedikit demi sedikit makanan pada Keyla.
Sebelumnya Anggun sudah mengabarkan pada atasannya Bagas, bahwa Keyla sudah sadar dan meminta izin untuk di pindahkan ke ruangan perawatan. Bagas menyetujuinya dan meminta Anggun untuk memindahkan Keyla ke ruangan VVIP yang sudah di sediakan khusus untuk Keyla.
Sedangakan Bagas segera memberitahukan pada Rosa bahwa Keyla sudah sadar, tidak menunggu waktu lebih lama Rosa langsung berangkat dari toko perhiasan miliknya menuju Rumah Sakit tempat Keyla berada. Tidak lupa juga Rosa mengabari sang suami yang berada di kantor untuk segera menyusulnya ke Rumah Sakit.
Rosa sangat senang hari ini, Keyla adalah bagian terpenting di kehidupannya. Mendapat kabar dari kaka sepupunya jika Keyla sudah sadar membuat Rosa bahagia, hampir satu bulan lamanya dia tidak berbincang dengan gadis pendiam yang selalu dia ikuti waktu masuk SMA. Keyla gadis sederhana dan pendiam dengan IQ di atas rata - rata membuat Rosa jatuh hati dan ingin lebih dekat dengan gadis itu. Mengikuti kemana langkah Keyla, beberapa kali Keyla memintanya menjauh karena kehidupan mereka yang jauh berbeda, namun Rosa sama sekali tidak mengindahkan semua yang Keyla katakan hingga akhirnya Keyla luluh juga dan akhirnya persahabatan mereka bertahan hingga sekarang.
Tidak berapa lama Rosa sudah memarkirkan Mobil mewahnya di tempat parkir khusus pengunjung dan berjalan meuju ruangan yang sudah di sediakan khusus oleh bagas untuk Keyla tempati.
Dengan langkah hati - hati Rosa masuk kedalam, namun sedikit terkejut mendapati Gerry sedang menyuapkan makanan pada Keyla yang sedang duduk di sambil bersandar di ranjang. Rosa terus melangkah masuk sampai di dekat ranjang tempat Keyla berada, seakan tidak ingin merusak suasana Rosa diam saja meihat Gerry sudah lebih dulu berada di ruangan Keyla. Meskipun ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada laki - laki yang tetap tenang sejak kedatangannya ini.
Rosa menarik nafasnya kemudian ikut duduk di ranjang di samping Keyla, membawa tangan pucat milik Keyla yang masih terpasang selang infus kedalam genggamannya.
" Key, bagaimana perasaan kamu ?" Tanya Rosa.
" Aku sudah merasa lebih baik Sa, sepertinya aku ingin segera pulang ke Apartemen." Jawab Keyla sambil tersenyum pada Rosa.
" Tinggal bareng aku sama Bram di rumah Bunda ya Key ? " Pinta Rosa memohon.
Namun seperti dugaan Rosa, Keyla menggeleng pertanda Keyla tidak menyetujui permintaan Rosa.
" Aku sudah merasa lebih baik Sa, sepertinya bukan masalah jika aku kembali ke Apartemenku. " Jawab Kelya.
__ADS_1
Dan Rosa tidak lagi membahas apapun, karena jika Keyla sudah memberi keputusan seperti ini akan sangat percuma memaksa.
" Aku sudah kenyang Gerry, dan aku ingin istirahat sekarang." kata Keyla seakan belum ingin membahas apapun tentang masalah rumit yang kini menimpa kehidupannya.
Gerry hanya mengangguk dan menyudahi semua yang dia lakukan ketika melihat Keyla kembali membaringkan tubuhnya.
" Rosa ada yang ingin aku katakan padamu. " kata Gerry, Seakan mengerti apa yang diinginkan Keyla dan berharap Rosa mengikutinya dan membiarkan Keyla untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.
" Aku tinggal sebentar Key, istirahatlah." Kata Rosa kemudian mengikuti Gerry menuju sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.
" Apa Keyla tahu jika papa kamu yang menyebabkan semua ini ?" Tanya Rosa.
" Dia tahu " Jawab Gerry jujur.
" Omong kosong Gerry, nggak mungkin Keyla masih tetap seperti itu setelah mengetahui apa yang sudah papa kamu perbuat padanya." kata Rosa sinis.
" Cinta tidak akan cukup untuk melangkah lebih jauh Gerry, dukungan keluarga sangat di perlukan untuk sebuah hubungan yang serius dan ketika melihat apa yang telah papa kamu lakukan padanya, aku sangat yakin jika orang tuamu sama sekali tidak menginginkannya." kata Rosa panjang lebar.
Gerry terdiam ketika mendengar kata - kata yang keluar dari mulut Rosa. Semua benar adanya, dari pihaknya ataupun pihak Keyla tidak ada yang mendukung perasaan mereka kecuali Anggun.
" Tapi aku sungguh sangat mencintainy." kata Gerry lirih.
" Dan cintamu hanya akan membuatnya terluka Gerry." kata Rosa
Dari balik pintu yang baru saja terbuka lebar, Bram sudah berdiri dengan tangan yang terkepal juga rahang yang mengeras ketika melihat laki - laki yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
" Beraninya kamu menampakkan wajahmu dihadapanku setelah apa yang sudah Sanjaya brengsek itu lakukan pada adikku." Kata Bram langsung mendekati Gerry.
Dan bugghhh, satu pukulan mengahantam tepat di pipi Gerry.
" Bram.. Apa yang kau lakukan ?" Teriak Keyla dari ranjang tempatnya berbaring tadi. Kini Keyla sudah turun dari ranjang dengan darah segar menetas dari atas tangannya karena jarum infus yang tertarik keluar paksa dari kulitnya berjalan menuju sofa tempat dimana orang - orang penting dalam hidupnya berada.
" Ya Tuhan Key tangan kamu berdarah." teriak Bram panik dan segera meraih tangan Keyla kemudian membawa adiknya itu untuk kembali ke ranjang.
Gerry tidak lagi memperdulikan sedikit darah segar di sudut bibirnya langsung keluar mencari Anggun. Sungguh dia juga sangat panik ketika melihat darah di tangan Keyla sudah menetes ke lantai.
" Jangan sakiti Gerry, Bram. Dia sudah cukup sakit ketika membawa papanya sendiri ke penjara hanya karena aku." kata Keyla dengan air mata yang menetes membashi pipinya.
Bram masih menekan tangan Keyla agar darah tidak lagi menetes keluar, sedangkan Gerry sudah masuk kembali bersama Anggun untuk memasangkan kembali infus yang tadi terlepas.
Setelah Anggun selesai memasangakn kembali infus tersebut dan Keyla sudah kembali berbaring Bram sama sekali belum beranjak dari ranjang tempat Keyla berada. Anggun segera berlalu meninggalkan ruangan tempat Keyla dirawat. Melihat sedikit darah segar di sudut binir adiknya, Anggun memilih untuk tidak ikut campur. Membiarkan Gerry menyelesaikan semuanya sendiri karena memang seharusnya seperti itu.
" Bram, aku mencintainya." Kata Keyla pelan agar Rosa dan Gerry yang masih berada di sofa tidak bisa mendengar apa yang dia katakan.
"Cih, aku bisa melihatnya sejak malam itu Key, dan itu mebuatku sangat kesal." kata Bram. "Tatapan yang tidak pernah kamu berikan pada siapapun, aku mendapatinya ketika kamu menatapnya." Sambung Bram.
" Maafkan aku tidak mendengarkan semua yang kamu katakan, aku tidak bisa menahannya Bram, aku mencintainya sejak lima tahun lalu." Ucap Keyla lirih.
" Siapapun itu, Aku hanya ingin kamu bahagia Key. Aku tidak ingin melihamu terluka, sudah cukup penderitaanmu selama ini." kata Bram tidak kalah lirih.
" Apa tidak ada yang ingin kamu ceritakan padaku ? " Tanya Keyla yang kini sudah meraih tangan kakak laki - lakinya yang selama ini selalu melindunginya.
__ADS_1
" Ada banyak hal yang harus kamu tahu, tapi itu bukanlah tugasku. Ayah dan Bunda akan sampai sebentar lagi dana kan menceritakan semuanya padamu tanpa terkecuali." Kata Bram tenang. " Jangan terlalu memikirkan banyak hal, istirhatlah. Kami hanya akan duduk disana." kata Bram yang kemudian beranjak dari ranjang, merapikan selimut pada tubuh Keyla lalu berjalan menuju tempat dimana istri dan laki - laki yang di cintai adiknya berada.