
**Othor kasih bonus malam ini, dan ini akhir dari bab bonus. Jangan ikut beranjak bersama Gama, jangan di unfavorite karena di sini akan othor kasih tahu jika kelanjutan kisah Kevin dan Flora sudah siap. Dan satu lagi, kuu mohon tinggalkan jejak saat mampir 😁😁 Love kalian semua**
*** Happy Reading ***
"Mam.. Ana terluka, harusnya aku tidak meninggalkannya tadi" Ujar Gama lirih. Seandainya dia mengantar gadis itu masuk sampai rumah, mungkin saja gadis itu tidak akan di lukai dan di lecehkan oleh laki-laki brengsek itu.
Keyla meraih tubuh putranya yang sudah beranjak remaja itu lalu mendekap erat. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, dia tidak mengenal orang yang sedang di bicarakan putranya, namun dia tahu jika gadis yang menjadi pembahasan itu berada di dalam ruangan di depannya yang kini sedang mereka tunggu pintunya terbuka.
Putranya yang jarang sekali menghabiskan waktu bersamanya, kini sudah mulai terisak dalam dekapannya, namun tidak ada yang bisa dia lakukan. Hanya berharap tepukan lembut tangannya di punggung putranya bisa membantu memberikan ketenangan pada laki-laki mudah yang begitu mirip dengan suaminya itu.
Di sudut dekat pintu ruangan yang tidak jauh dari tempat Keyla dan putranya duduk, Kevin masih berbicara melalui benda pipih yang menempel di telinganya.
"Bereskan semuanya, jangan meninggalkan sedikitpun jejak Gama di rumah itu." Ujar Kevin tegas.
"Hancurkan saja." Jawabnya lalu mengakhiri panggilan.
Kevin bisa bernafas lega, sungguh dia khawatir jika adiknya akan terseret dan berurusan dengan kepolisian. Bukan karena takut dengan pihak penegak hukum itu, untuk ukuran keluarga seperti mereka akan sangat mudah menyelesaikan kasus namun jika kejadian ini bisa sampai terdengar di telinga tua yang ada di Jakarta, bisa di pastikan gadis sebatang kara yang belum selamat di dalam ruangan operasi ini akan semakin menderita.
"Apa yang terjadi ?" Tanya Gerry setelah melihat keponakannya bernafas lega.
"Gadis yang ada di dalam ruangan operasi ini adalah gadis yang aku ceritakan Om, namanya Briana dan Gama menyukainya." Ucap Kevin. "Papa sambungnya memukuli lalu melecehkannya dan Gama memukul laki-laki itu menggunakan balok hingga tewas." Sambung Kevin.
Gerry begitu terkejut mendengar cerita dari keponakannya, tatapannya langsung mengarah pada putra dan istrinya berada. Dadanya berkecamuk, sungguh dia tidak ingin putranya akan menjadi terpidana dengan umur yang masih begitu mudah.
"Jangan mengkhawatirkan apapun, aku sudah menyuruh orang ku untuk membereskan semuanya." Ucap Kevin seakan mengerti apa yang sedang di pikirkan pamannya ini.
Ceklek....
Pintu ruangan terbuka, Anggun sudah berada di depan pintu tepat di depan Gerry dan Kevin berdiri.
"Kita bicara di ruangan ku." Ajak Anggun lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Ana Ibu ?" Tanya Gama sambil menahan lengan tantenya.
Anggun tersenyum, lalu tangannya mengusap puncak kepala keponakannya. Melihat wajah cemas Gama, kembali mengingatkan dia pada adiknya dulu saat Keyla berulang kali masuk rumah sakit.
"Dia baik-baik saja, ayo ikut ibu ke dalam ruangan." Ucap Anggun lalu menggenggam tangan Gama dengan erat. Keponakan yang sudah lama menghabiskan hidup bersamanya, kini sudah remaja dan mulai merasakan menyukai seseorang.
Gama masih berdiri mematung di tempatnya. Sungguh dia belum puas dengan jawaban ibunya ini karena gadis yang sedang dia khawatirkan belum juga keluar dari dalam ruangan di depannya ini.
"Suster sedang menyiapkan dia, sebentar lagi akan di bawa ke ruangan perawatan. Jangan terlalu khawatir" Sambung Anggun.
Gama mengangguk lalu mengikuti langkah ibu kedua dalam hidupnya menuju ruangan lain di rumah sakit ini.
***
"Apa yang terjadi ?" Tanya Anggun. Tangannya masih menggenggam tangan keponakannya yang begitu dingin. "Bagaimana bisa gadis itu sampai terluka parah ?" Sambungnya lagi. Tatapannya mengarah pada putranya yang kini sudah duduk di sofa tunggal di depannya.
"Gadis itu di pukuli oleh ayahnya." Jawab Kevin.
"Lalu apa hubungannya dengan kalian ?" Tanya Anggun lagi.
"Dan Ayah Briana tewas karena hantaman kamu Gama." Ujar Kevin membuat Keyla terkejut. Gerry yang berada di samping istrinya itu langsung menenangkan Keyla.
"Bagaimana bisa aku membiarkan laki-laki itu melecehkan Briana bang." Ujar Gama memelas. Sungguh dia tidak perduli dengan laki-laki brengsek itu mati atau tidak.
"Tapi kamu sudah melewati batas mu, aku sudah memperingatkan kamu berulang kali untuk jangan masuk terlalu dalam pada kehidupan gadis itu namun kamu terlalu keras kepala." Ucap Kevin lagi, kali ini suaranya sudah terdengar meninggi membuat Gama terdiam. "Jika semua ini akan sampai di telinga Opa, kamu akan selamat namun gadis itu akan semakin menderita." Sambung Kevin lagi, berharap anak mudah yang tidak tahu apa-apa di hadapannya ini mengerti.
"Jangan terlalu khawatir Aunty, laki-laki itu sudah menjadi buronan polisi sejak pagi tadi karena membunuh ibu dari gadis itu. Dan Kevin sudah menyuruh orang untuk membereskan semuanya." Ucap Kevin kini sudah menatap ke arah tante kesayangannya. "Namun Gama tidak boleh lagi tinggal di kota ini." Sambungnya membuat Gama segera menatap Kevin.
"Aku akan tetap disini Bang." Ucap Gama cepat. Sungguh dia tidak akan mau meninggalkan Briana yang sedang terluka seorang diri, gadis itu sudah tidak memiliki siapapun lagi.
"Papa tidak perlu pendapatmu, kita akan berangkat ke Prancis besok." Tegas Gerry membuat Gama terdiam. pikirannya semakin kacau, bagaiman bisa dia pergi sejauh itu saat Briana sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Pa...."
"Pikirkanlah nak, ini bukan hanya tentang kamu namun juga demi Briana." Ucap Anggun. "Kita semua tahu bagaiman egoisnya Opa, dia tidak akan perduli dengan pendapat kita saat ingin menghancurkan siapa saja yang berani membuat masalah dalam keluarga." Sambungnya memberi pengertian pada keponakannya.
"Jika soal Briana yang kamu khawatirkan, aku sendiri yang akan memastikan dia baik-baik saja." Ucap Kevin. Dia mengerti kegundahan adiknya ini, namun jika ini di biarkan maka masalah yang melibatkan adiknya ini akan semakin membesar.
Keluarga mereka sangat di kenali di kota ini, jika ada orang yang mengetahui kedekatan Gama dengan Briana maka akan sangat cepat juga berita keterlibatan Gama mencuat di permukaan.
Keyla sudah beranjak dari samping suaminya menuju putranya. Sungguh dia begitu terkejut dengan kenyataan yang dia dapati hari ini. Demi seorang gadis, putranya ini rela menghilangkan nyawa seorang manusia. Sedikit rasa bersalah kini mulai menyeruak dalam hatinya karena tidak menghabiskan waktunya dengan Gama, dan sibuk mengikuti Gerry kemana-mana hingga tidak mengetahui apa yang sedang di rasakan putranya.
"Apa dia gadis yang berharga ?" Tanya Keyla pada putranya.
Gama tertunduk lalu mengangguk. Yah Briana adalah satu-satunya gadis yang dia anggap berharaga selama dua tahun ini.
"Apa kamu ingin dia bahagia dan punya kehidupan yang baik ?" Tanya Keyla lagi.
"Tentu saja Mam." Jawab Gama. Tatapannya kini sudah mengarah pada mata sang mama yang begitu mirip dengan matanya.
"Kalau begitu ikuti saran Abang kamu." Ucap Keyla, namun Gama kembali menggeleng.
"Hei, jangan jadi egois sayang, tidak semua hal yang kita inginkan harus kita paksakan. Bagaiamana jika saat kepergianmu justru akan memberikan Briana kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik." Ucap Keyla pelan namun bisa di dengar dengan jelas oleh Gama. "Abang kamu kan sudah janji, dia sendiri yang akan memastikan gadis berharga itu akan baik-baik saja." Sambungnya.
Gama terdiam, kini dia bimbang. Kalimat sang mama memang benar adanya.
"Baiklah, tapi abang harus janji untuk memastikan dia baik-baik saja." Ucap Gama sambil menatap lekat ke arah Abangnya.
Kevin mengangguk dan tiga orang dewasa yamg ada di dalam ruangan itu bernafas lega.
***
Setiap pertemuan akan selalu ada perpisahan, dua kata ini akan selalu berjalan beriringan. Namun ketahuilah, tidak ada yang bisa menebak akhir dari sebuah kisah, mungkin saja perpisahan hari ini akan menjadi awal takdir yang akan kembali mempertemukan di kemudian hari.
__ADS_1
Selama bumi masih berputar pada porosnya lalu mengitari matahari, selama itu pula waktu di dunia masih terus berjalan. Jangan takut untuk beranjak demi sebuah kehidupan yang lebih baik. Memberikan kesempatan untuk orang yang kita cintai agar bisa memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari hari ini adalah kewajiban, meskipun itu harus dengan perpisahan.
*****BONUS END********