Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Perjuangan Anggun


__ADS_3

Bunyi dari roda besi yang menggesek di lantai rumah sakit mengisi keheningan lorong rumah sakit yang mereka lewati menuju ruangan operasi. Keyla terbaring lemah di atas bed tersebut dengan para dokter yang terus berusaha mendorong agar bisa segera mencapai ruangan tersebut. Matanya semakin sayu dan ingin segera menutup, namun Keyla masih terus menahannya dengan sekuat tenaga agar tetap terjaga dan dia bisa memastikan sendiri putranya selamat melihat dunia.


"Jangan tidur Key, tetaplah tejaga." Ujar Anggun lagi saat melihat adik iparnya seperti orang yang sedang menahan kantuk. Namun tidak ada lagi jawaban dari bibir yang sudah sangat pucat itu. Bahkan rintihan kesakitan dari bibirnya tidak lagi terdengar, membuat Anggun semakin sesak.


Untuk yang ketiga kalinya dia harus membawa dan memastikan wanita ini selamat. Meskipun dia sangat tahu keadaan kali ini jauh lebih kecil kemungkinanya, namun Anggun terus saja menyakinkan dirinya bisa membawa Keyla dan keponakannya kembali dengan selamat.


Dokter ahli yang di datangkan langsung oleh pimpinan rumah sakit dari negeri dengan ikon kepala singa, akan saling membantu menyelematkan wanita terbaik yang pernah datang di kehidupan keluarganya ini. Wanita yang pernah di buat menderita oleh adik dan ayahnya sendiri, lalu takdir membawanya bertemu dan menyelamatkan gadis dengan wajah datar namun memiliki hati bak malaikat ini.


Gadis dengan wajah datar khasnya, kini pucat pasi sudah terganti wajah yang memilukan. Wajah yang sudah terlihat seperti tidak lagi ada darah yang mengalir disana. Gadis datar namun tetap saja terlihat cantik di pandang, kini sedang berusaha untuk tidak menutup mata indah tersebut agar bisa membawa putranya selamat melihat dunia.


Gerry yang ikut mendorong bed itu tidak lagi berkata apapun hingga sampai di depan ruangan operasi dan berhenti disana. Menahan tangan kaka perempuannya yang hendak ikut masuk kedalan ruang operasi.


"Kak ku mohon, selamatkan istriku apapun resikonya. Bawa Keyla kembali padaku." Ucap Gerry dengan wajah kacaunya yang sejak tadi diam seribu bahasa.


Anggun mengangguk mengerti, lalu masuk ke dalam ruang Operasi menuju adik iparnya yang sedang di persiapkan oleh para suster yang bertanggung jawab.


"Jangan dengarkan kata Gerry kak, bawa putraku melihat dunia dengan selamat apapun resikonya." Ucap Keyla pelan. Anggun mengangguk mengiyakan. Dia tidak bisa memilih antara keselamatan adik ipar dan keponakannya, dia akan mengusahakan keduanya selamat. Keduanya sangat berarti untuk kehidupan adiknya, dan dia akan memastikan itu. Bukankah dia hanya kembali berusaha sekuat tenaga, lagi pula kali ini dia tidak sendirian. Dokter-dokter yang kini bersamanya adalah dokter-dokter ahli berbakat.


Serangkaian prosedur sebelum opersai itu di lakukan pada tubuh kurus Keyla. Induksi di tulang belakang membuat Keyla semakin ingin terlelap. Para dokter mulai melakukan tugas mereka masing-masing, berusaha tetap tenang saat Keyla menutup matanya rapat yang seharusnya itu tidak boleh terjadi. Obat bius itu hanya mampu membuat tubuh bagian bawah Keyla yang terbius, namun kini seluruh tubuh Keyla okut terbius.


Dokter kandungan yang menanganinya sedang berusaha membawa bayi yang masih hidup terlebih dahulu keluar dari dalam rahim yang sudah menganga dengan selamat. Lalu menyerahkan pada suster agar segera membungkus Bayi tersebut lalu membaringkannya ke sebuah kotak kaca yang sudah tersedia disana untuk membantu bayi mungil yang belum cukup bulannya itu agar tetap bertahan.


Anggun dan sahabatnya kini sedang berusaha mengangkat penyakit mematikan itu bersama rahim Keyla dengan cepat. Denyut nadi semakin menurun dan tekanan darah yang tidak lagi stabil. Keyla sudah banyak kehilangan darah sejak Gerry membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


Di luar ruangan seluruh keluarga kini sudah berkumpul di depan ruangan tempat Keyla sedang berjuang. Sama seperti pernikahannya, empat keluarga besar itu kini sedang menunggu dengan perasaan yang berkecamuk.


Rachel yang sudah di larang Bagas untuk ikut datang karena kehamilan istrinya itu tetap saja memaksa ikut bersama papi dan mami mertuanya agar bisa melihat wanita yang dulu pernah di buat sakit olehnya sedang berjuang. Kini kepalanya sedang bersandar di bahu suaminya yang ikut menunggu kabar dari dalam ruangan yang sedari tadi masih saja tertutup rapat.


Berbeda dengan bahagia di hari pernikahan Di Prancis hampir setahun yang lalu, kini duka yang membawa mereka berkumpul disini. Saat mendengar salah satu bayi Keyla tidak bisa bertahan membuat orang-orang di sana semakin merasa prihatin dengan nasib tragis yang seakan tidak pernah pergi dari kehidupan Keyla.


Ayah Han dan Bunda Ratih kini sudah duduk di samping Gerry. Bunda Ratih terus memberikan usapan lembut pada punggung menantunya itu agar tetap tenang dan sabar.


Mereka sudah mengikhlaskan segalanya, meskipun kesedihan kini masih tetap menguasai perasaan mereka. Apalagi dokter-dokter yang membawa wanita itu masuk kedalam ruang operasi sama sekali belum keluar dari ruangan itu.


Hampir satu jam setelah kedatangan empat keluarga besar itu, seorang suster kini mendorong inkubator yang di dalamnya sudah ada bayi yang masih menutup rapat mata kecilnya. Lalu beberapa dokter yang ada didalam tadi termasuk Anggun di bantu beberapa suster ikut mendorong bed pasien dengan Keyla yang kini terlelap di atasnya.


Gerry segera berdiri lalu melangkah dengan cepat menuju istrinya.


"Biarkan Keyla istirahat dulu, kamu ikut aku ke ruangan sebentar." Ujar Anggun.


"Sebentar ka, aku masih ingin menemaninya." Jawab Gerry masih terus mengikuti kemana bed pasiaen yang membawa istrinya di dorong.


"Jika kamu ingin Keyla kembali dalam hidup kamu, biarkan suster membawanya, dia memerlukan perawatan intensif." Ujar Anggun lagi saat melihat adiknya itu terus saja mengikuti bed yang sedang di dorong oleh beberapa orang dokter juga suster yang ada disna.


Gerry mengangguk patuh, lalu mengikuti langkah kaki kaka perempuannya itu menuju ruangan. Sungguh dia hanya ingin Keylanya kembali, dia tidak butuh apapun di dunia ini asalkan Keyla bersamanya.


Anggun membuka pintu ruangannya, dan seperti perkiraannya, sang suami juga sudah berada disana. Dengan langkah yang masih di ikuti Gerry, anggun berjalan menuju sofa tempat suaminya berada dan meminta Gerry untuk ikut duduk disana.

__ADS_1


"Apa dia koma ?" Tanya Robby pada istrinya. Anggun mengangguk membuat Gerry menegang


"Ini maksudnya apa ka ?" Tanya Gerry risau.


Anggun dan Robby hanya diam saja, masih memikirkan bagaimana menjeleskan pada adik mereka ini.


"Ka Anggun mengatakan padaku dia baik-baik saja dan hanya butuh istirahat, lalu apa ini ?" Ucap Gerry lirih dengan mata yang sudah memerah menahan cairan bening agar tidak terjatuh.


"Ini hal yang biasa Gerry, mungkin saja sudah menjadi kelainan pada tubuh Keyla pasca melahirkan. Karena dulu di Prancis, setelah abortus dia juga sempat koma selama hampir dua minggu." Jelas Robby memberi ketenangan pada adik iparnya.


"Kata kak Robby benar Gerry, putramu selamat dan kami berhasil mengangkat sel kanker dari dalam rahimnya, kita tunggu saja sampai dua minggu kedepan."Ucap Anggun sambil menepuk bahu adiknya.


"Aku hanya ingin Keyla kak, aku tidak ingin yang lain." Ucap Gerry lagi.


"Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, jangan berani mengabaikan putramu yang sudah bersusah payah di selamatkan oleh istrimu dengan taruhan nyawanya. Kamu yang paling tahu sikapmu ini akan membuat istrimu sedih." Kata Anggun tegas.


Gerry kini terdiam, hatinya tetap seperti itu. Keyla adalah bagian terpenting dalam hidupnya yang tidak akan bisa di tukar dengan apapun. Dia menginginkan malaikat kecil dalam hidupnya, namun apa itu penting jika Keyla tidak akan bisa bersamanya. Sungguh semua itu tidak berguna, jika wanita itu tidak lagi bisa bersamanya.


"Dia adalah bagian terpenting dalam hidup aku kak, kamu sangat tahu itu. Aku mohon bawa dia kembali padaku, ka Anggun sudah mengangguk mengiyakan tadi saat aku meminta untuk menyelamatkan Keyla dalam kedaan apapun." Ujar Gerry. Kini air mata yang sedari tadi di bendunhgnya mulai menetes di sudut matanya.


"Aku mencintainya, sangat mencintainya kak." Ucap Gerry lagi dengan suara tertahan.


Anggun kini sudah terdiam dengan air mata yang ikut mengalir di pipinya. Sungguh ini hari yang sangat menyedihkan untuknya. Tidak hanya kali ini dia harus bertaruh di meja operasi dengan pasien wanita yang sama, dan lebih membuatnya sedih wanita itu adalah wanita terpenting dalam kehidupan adiknya.

__ADS_1


Bagaimana bisa dia menatap Gerry kedepannya jika Keyla tidak akan pernah bangun lagi dari tidur panjangnya. Sungguh dia tidak akan pernah mampu membayangakan jika itu benar terjadi.


__ADS_2