Gadis Satu Malam

Gadis Satu Malam
Curiga


__ADS_3

"Iya ma ?" Jawab Gerry pada ponsel yang dia letakkan di atas meja.


"Mama ada di rumah kalian, tapi Keyla ngga dirumah." Ucap suara wanita paruh baya di ujung ponsel sana.


"Keyla lagi sama aku ma" Jawab Gerry sambil menatap ke arah istrinya yang selalu saja tidak terpengaruh dengan apapun jika sedang menikmati makanannya.


"Oh syukurlah, mama merasa lega. Tadi kata satpam Robby menjemputnya di rumah kalian. Mama sedikit khawatir tadi, namun sekarang mama merasa lega karena dia sedang bersamamu. Mama ikut bahagia dengan kabar baik ini nak, jaga dia dengan baik." Ucap mama Nia lagi di ujung telfon.


"Iya mam, terimakasih. Aku sudahi dulu ya ? aku dan Keyla sedang makan siang." Kata Gerry lalu mematikan sambungan telfon setelah mama mengiyakan permintaannya.


Gerry kembali meletakkan ponselanya di atas meja, lalu membawa tubuhnya duduk di samping istrinya yang terlihat begitu lahap menikmati makan siangnya.


"Apa kedua anakku membuatmu kelaparan hm ?" Tanya Gerry lembut sambil merapikan rambut istrinya, agar tidak mengganggu Keyla. Dan seperti biasanya, tidak ada jawaban dari mulut yang asik mengunyah makanan yang entah mengapa terasa begitu nikmat di lidah Keyla.


Gerry tidak melanjutkan makannya, hanya terus memandangi wajah cantik Keyla sambil menggenggam rambut panjang cokelat kemerahan itu agar tidak kembali mengganggu aktivitas istrinya itu.


"Air." Ucap Keyla saat sudah selesai dengan makannya. Gerry segera mengambil segelas air dan memberikan pada istrinya.


"Sudah kenyang ?" Tanya Gerry sambil mengusap lembut beberapa butir keringat di dahi istrinya. Keyla mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Apa mama ke rumah kita ?" Tanya Keyla.


"Hm." Jawab Gerry singkat.


"Key" Panggil Gerry lembut. Sejujurnya saat mama Nia mengatakan Keyla di jemput Robby tadi, sedikit rasa khawatir kini muncul di dalam hatinya, pasalnya Keyla belum mengatakan apapun padanya sejak pagi tadi, hingga siang ini Keyla sama sekali belum membicarakan soal pergi dengan kaka iparnya itu.


Keyla masih menatap lekat pada suaminya, masih menunggu apa yang ingin Gerry katakan padanya.

__ADS_1


"Kamu ke klinik Kak Robby ?" Tanya Gerry pelan.


Keyla sedikit terkejut, namun dia kembali menguasai dirinya dan terlihat biasa -biasa. Masih tetap diam menunggu Gerry melanjutkan pertanyaannya.


"Mama tadi mengatakan, satpam melihatmu di jemput Kak Robby pagi tadi." Sambung Gerry. "Tidak ada masalah bukan ? Aku sangat takut jika sesuatu terjadi padamu dan aku tidak mengetahui apapun. Aku mohon masalah sekecil apapun itu beritahu padaku, jangan menyembunyikan apapun dariku." Kini Gerry sudah menunduk dalam. Dia merasa ada yang sedang Keyal sembunyikan darinya.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, aku hanya ingin rajin mengecek mereka berdua. Tadi hanya konsultasi biasa Gerry." Ucap Keyla sambil mengelus lembut pipi suaminya.


Gerry mengangkat kepalanya lalu memandang wajah cantik istrinya, menatap lekat pada netra yang kini tidak lagi sama seperti biasanya. Ada keraguan disana, dan dia tahu istrinya kini sedang menyembunyikan sesuatu padanya. Namun dia tidak ingin memaksakan apapun, sungguh dia tidak berani jika apa yang dia tanyakan hanya akan menyakiti istrinya. Gerry membiarkan istrinya yang akan menceritakan padanya nanti.


Keyla segera menghambur memluk suaminya erat, dadanya bergemuruh saat Gerry memandangnya dengan tatapan seperti itu. Keyla yakin Gerry tidak puas dengan jawabannya, namun dia belum punya keberanian untuk jujur pada suaminya ini.


"Maafkan aku tidak sempat memberitahu padamu tadi pagi". Ucap Keyla masih dalam dekapan Gerry.


"Bukan masalah Key, aku hanya ingin kamu baik-baik saja. Hanya kamu Key, aku tidak butuh yang lain lagi. Tidak ada hal yang paling aku syukuri saat ini selain memiliki kamu dalam hidupku." Ucap Gerry tulus dan semakin memeluk erat tubuh mungil sambil berulang kali mengecup puncak kepala istrinya.


Dia beruntung, sangat beruntung. Dia ingin memberikan kebahagiaan untuk laki-laki ini meskipun dengan nyawanya sendiri sebagai bayaran.


"Aku bahagia, akan selalu bahagia bersamamu. Jangan khawatirkan apapun." Ucap Keyla sambil mengecup bibir suaminya itu.


"Mau pulang sekarang ?" Tanya Gerry dengan senyum mesumnya.


"Kenapa ? ini masih siang. Kerjaan kamu masih banyak." Ucap Keyla.


"Habisnya ciuman kamu buat aku ngga tahan Key dan pekerjaanku sudah selesai kok, nanti Manda yang akan mengurus sisanya." ucap Gerry memaksa.


"Disini saja." Ucap Keyla.

__ADS_1


"Benarkah ?" Tanya Gerry antusias dan di angguki Keyla.


"Baiklah, tunggu sebentar." Ucap Gerry lalu beranjak menuju pintu ruangannya.


Gerry embali menutup pintu setelah memberitahukan pada Amanda untuk tidak membiarkan siapapun masuk kedalam ruangannya lalu berjalan menuju istrinya berada.


***


Gerry masih terus mengusap dengan lembut punggung polos istrinya sambil membungkam mulut mungil itu dengan bibirnya. Di sofa panjang yang ada di ruangan, Keyla kini duduk di pangkuan suaminya. Lenguhan dan geraman mereka terus terdengar di dalam ruangan mewah itu. Untung saja ruangan presiden direktur ini sudah di desain kedap suara, jika tidak suara mereka pasti akan terdengar di telinga Amanda.


Dress berwarna cokelat yang membalut tubuh Keyla sudah tidak berbentuk lagi, kancing yang sudah terlepas, memperlihatkan dada mulus yang sudah penuh dengan tanda kepemilikan Gerry karena kain brenda yang menutupi kedua puncak kenikmatan Keyla sudah tjdak lagi pada tempatnya. Tangan dan bibir lihai Gerry mengabsen dua gundukan sintal milik istrinya dengan sensual membuat Keyla semakin menggila.


"Hati-hati sayang." Ucap Gerry di sela-sela ******* yang keluar dari mulutnya saat Keyla sudah mulau menghujam dengan kasar. Ini nikmat namun dia khawatir akan menyakiti dua malaikat yang masih berusaha untuk tumbuh di rahim istrinya ini.


"Ini nikmat Gerry aku ngga bisa berhenti." Ucap Keyla bersamaan dengan lenguhan yang meluncur indah dari mulutnya.


Entah sudah berapa puluh menit terlewati, di dalam ruangan hanya ada suara ******* yang saling bersahutan dan bunyi decitan sofa yang terdengar.


Kini tubuh mungil Keyla sudah terbaring pasrah di atas sofa. Gerry sudah mengurung tubuh mungil istrinya iu di antara kedua lengan kokoh miliknya. Gerakannya semakin cepat, ingin segera meraih puncak kenikmatan dari aktivitas yang menyenangkan ini.


Berbeda dengan Keyla, kini bukan lagi kenikmatan yang dia rasakan, perutnya terasa sakit, dia ingin menyudahinya namun merasa tidak tega karena Gerry sudah hampir mencapai puncaknya dan membiarkan saja sambil menahan sakit yang semakin melilit di perutnya. Hingga akhirnya Gerry mengeram dan diiringi rintihan tertahan dari mulut Keyla. Sungguh perut bagian bawah miliknya terasa sangat sakit dan dia tidak lagi bisa menahannya.


Aktivitas menyenangkan itu sudah berakhir, Keyla masih berusaha meraup udara untuk mengisi paru-parunya. Menghirup dalam-dalam udara yang ada di sekelilingnya lalu kembali menghembuskannya perlahan. Sedikit demi sedikit rasa sakit di perutnya berangsur mereda.


Gerry masih memberikan ciuman di atas perut yang masih rata milik istrinya, seakan meminta maaf pada kedua anaknya karena sudah membuat mereka tidak nyaman sekitar satu jam lalu.


"Bawa aku kekamar mandi Gerry." Pinta Keyla saat merasa nafasnya sudah kembali normal dan rasa sakit di perutnya sudah sedikit mereda. Gerry mengangguk lalu membawa tubuh istrinya itu kedalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2